Bab Tiga Puluh Satu: Anomali Daging Dan Tulang
Sementara itu di dalam istana, pesta sang tiran mencapai puncaknya ketika di aula utamanya yang dipenuhi permadani sutra dan piala-piala emas, para prajurit yang tidak bertugas terus menuangkan botol-botol rum ke dalam cangkir mereka.
Beberapa dari mereka, yang sudah terlalu mabuk untuk berdiri tegak dan dengan kikuk meniru gerakan para penari di atas panggung yang tawa kasar mereka bercampur dengan alunan musik yang sensual.
Mereka memamerkan diri di hadapan para penari perempuan yang baru saja menyelesaikan penampilan mereka di atas panggung dan berharap bisa menarik perhatian mereka dalam memuaskan hasrat mereka.
Sedangkan sang raja sendiri yang berada di dalam kamarnya yang megah, Goulash tidak memedulikan semua itu yang di mana dirinya telah dikelilingi oleh para dayangnya yang paling cantik dan tenggelam dalam pesta seks pribadi dalam kamarnya.
Tawa beratnya yang serak dan desahan para wanita bergema pelan di balik pintu kamarnya yang tebal.
Baginya, kerajaan yang dikuasainya itu adalah mainannya dan sedangkan rakyatnya merupakan budak hiburannya yang bisa ia gunakan untuk dirinya sendiri dan melakukan apapun yang ia inginkan.
Lalu, tiba-tiba sebuah suara memotong semua kebisingan pesta tiran itu yang suaranya itu bagaikan desakan darurrat di tengah pesta yang diadakannya.
Itu adalah suara lonceng dari penjara yang berdentang dengan keras, mendesak, dan penuh dengan kepanikan.
Meskipun penjara itu jauh dari istana, suaranya terdengar hingga ke dalam kamarnya dan berhasil menarik perhatian sang raja melalui dinding-dinding tebal kamarnya dan kemeriahan pestanya.
Musik pesta yang dimainkan itu langusng dihentikan dan tak ada lagi tawa dari para hadirin maupun para prajurit di sana.
Para prajurit yang sudah mabuk itu mencoba bangkit dan berdiri dari tempat duduknya, tetapi kaki mereka tidak menurut dari kondisi badan mereka yang sudah terkena dampak dari alkohol.
Mereka saling bertabrakan, terjatuh ke lantai tanpa adanya kekuatan yang menumpu bagian kaki mereka, dan mengumpat karena akibat efek alkohol itu dalam kebingungan total.
Yang lainnya yang baru saja kelelahan setelah memamerkan diri mereka di panggung, hanya bisa terduduk lesu dan kelelahan dengan napas terengah-engah dan terlalu lelah untuk bereaksi pada panggilan dari alarm penjara.
Pintu kamar raja terbuka seketika dan Goulash melangkah keluar dari kamarnya itu dengan jubahnya dikenakan tubuhnya yang gemuk dan wajahnya terlihat memerah padam karena amarah yang mengganggu pesta yang diadakannya itu dengan panggilan mendesak seperti itu dari penjaranya.
\"APA YANG KALIAN TUNGGU, PRAJURIT PEMALAS TIDAK TAHU DIRI?! LAKUKANLAH SESUATU TERHADAP LONCENG ITU, BANGSAT!\" bentak Goulash dengan suara yang menggelegar di sekitar aula yang kini menjadi sunyi dengan mengumpat perwiranya yang sudah mabuk dan kelelahan karena pestanya.
Para prajurit kerajaan kini hanya terduduk lesu bahkan badan mereka terkapar di lantai akibat terkena efek alkohol yang sudah linglung dan terlalu mabuk untuk bangkit dari tempatnya dan menjawab panggilan darurat dari penjara itu yang loncengnya sudah berdentang berulang kali.
Tiba-tiba, sebuah sosok yang memiliki postur besar, tinggi, dan keluar dari gelapnya bayangan yang menyelimuti di sudut ruangan aula itu melangkah maju dengan melewati kerumunan prajurit kerajaan yang tak berguna itu.
Langkahnya membuat seluruh orang tidak berani melihat sosok itu yang di punggungnya sudah tersandang senjata kebanggannya, halberd raksasa yang tampak lebih berat dari manusia biasa untuk menggunakannya.
Dia adalah Vorlag, sang Anomali Daging dan Tulang yang ditakuti oleh para prajurit, perwira, bahkan jenderal terbaik dari kerajaan manapun ketika mendengar namanya yang membuat satu batalion mendapatkan lebih dari sekedar mimpi buruk dan menyamai kedatangan atau kehadirannya seperti lagu pemakaman bagi mereka.
Vorlag berjalan melewati Goulash tanpa meliriknya sedikit pun untuk menjawab panggilan mendesak dari penjara.
\"Biar aku yang menangani ini, aku terlalu bosan di tempat ini yang di mana aku membutuhkan sedikit udara segar untuk menyegarkan isi pikiranku saat ini daripada meladeni pestamu ini.\" Kata Vorlag yang suaranya dingin dan datar kepada Goulash dan para prajurit di sekitar aula itu.
Goulash yang tadinya marah, kini menatap punggung pengawal terkuatnya itu yang mengesankan dan terdapat kepercayaan di matanya yang begitu serakah dan mengandalkan pengawal pribadinya itu untuk menyelesaikan masalahnya.
\"Bagus! Jangan biarkan mereka lolos, Vorlag!\"
Vorlag tidak peduli dengan apa yang dikatakan Goulash kepada dirinya bahkan ia sendiri tidak menggubris atau menjawab perkataan Goulash yang memanfaatkannya.
Ia terus melangkah maju dengan tujuan yang dingin menuju gerbang utama istana dan di depan gerbang utama istananya itu, seekor kuda perang besar berwarna merah gelap dengan otot-otot kakinya yang menonjol telah menunggu Vorlag yang sebagai pemiliknya itu dengan sabar ditunggangi tuannya.
Saat Vorlag menaiki kudanya itu, seketika kudanya tanpa perlu hentakan atau arahan dari Vorlag langsung pergi dengan kencang menuju penjara yang bayangan keduanya ditelan oleh kegelapan malam pada saat itu.
Melihat perwira terkuatnya itu telah bergerak, Goulash hanya tertawa terbahak-bahak dan ancaman yang membuat penjaranya itu membunyikan alarm kini terasa seperti hiburan lain baginya.
Goulash lantas berbalik dan kembali menuju kamarnya itu dengan puas dan melanjutkan kembali pestanya yang sempat tertunda itu dengan para wanitanya yang sudah menunggu dirinya di atas kasurnya yang mewah.
Sementara itu dari dalam markas pasukan revolusi yang mendengar lonceng penjara terus berbunyi, jauh dari tempat mereka hingga membuat seluruh area markas bisa mendengar dentangan lonceng itu dari tenda-tenda mereka.
Api unggun yang berada di tengah-tengah markas pasukan revolusi itu berderak lebih pelan dan bilah pedang dari pasukan yang akan menahan datangnya hal yang terburuk dari misi penyusupan untuk membebaskan teman-teman mereka, mulai mempersiapkan diri mereka dan keluar dari tenda mereka untuk menanggulangi bencana yang akan datang ke arah penjara itu.
Veyla yang mendengar alarm penjara telah dibunyikan itu, hanya bisa berdiri membeku di dalam tenda komandonya dengan memikirkan hal terburuknya itu adalah Anomali daging dan tulang akan mendatangi tim penyusup dan menggagalkan rencana mereka yang dibuat.
Matanya menyipit, lalu melebar karena sadar tidak ada pilihan lagi selain menghadapi bencan tersebut.
\"Tidak boleh mundur di saat-saat seperti ini, ini sudah dimulai.\" Bisik Veyla pada dirinya sendiri dan dia keluar dari tendanya itu dengan tergesa-gesa yang menarik jubahnya erat-erat.
\"DOUGLAS!\" teriak Veyla memanggil salah satu perwira yang bernama Douglas itu yang suaranya bergema di sekitar area pasukan revolusi itu yang suaranya seperti menyambar ke seluruh tenda dan terowongan seperti guntur.
Dari dalam tenda, seorang veteran perang tua itu bergerak dan keluar dari tendanya dengan perlahan yang seolah-olah dirinya telah dipanggil oleh takdir untuk menyelesaikan misi kali ini.
Sebuah geraman pelan dari mulutnya berkata, \"Jadi... sudah waktunya bagiku untuk menemuinya lagi.\"
Lelaki tua itu berdiri dengan meraih palu perang bajanya yang sebagai senjatanya mampu untuk mematahkan bahkan dapat meremukkan tulang seseorang sekalipun dan menghancurkan seseorang dalam medan peperangan sekalipun.
Douglas melangkah keluar dengan rambutnya yang sudah berwarna abu-abu itu dengan rambutnya yang diikat ke belakang seperti ekor kuda dan bekas luka pertempuran terlihat di wajahnya itu.
Dia bukan lagi seorang prajurit veteran tua yang berhenti bertarung, melainkan dia adalah seseorang yang diperhitungkan untuk menyelesaikan misi kali ini dengan pengalamannya di medan perang yang telah ia ikuti.
Dia berjalan melalui tenda-tenda hingga dirinya sampai di hadapan Veyla untuk memenuhi panggilannya itu.
\"Apakah misi kali ini milikku sekarang?\" tanya Douglas sambil menyeringai dengan meletakkan palu besarnya itu bersandar ke bahunya.
Suara Veyla tajam dan tegas untuk menjawab Douglas. \"Ya. Kali ini, dia milikmu. Jangan biarkan Vorlag meninggalkan penjara itu hidup-hidup.\"
Douglas hanya mengangguk sekali. \"Kalau begitu, aku akan mengubur monster itu beserta penjaranya juga.\"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Douglas berjalan menuju kandang kuda yang di mana tempat kuda hitamnya menunggu untuk menghentakkan kakinya dengan penuh harap menuju medan pertempuran.
Ketika Douglas keluar dari kandang kuda dengan menaiki kudanya itu, di sekelilingnya kini berkumpul selusin prajurit beruban lainnya yang sama tuanya dengan dirinya itu bersiap mengikuti Douglas tanpa ragu-ragu.
Douglas menatap anggotanya itu dan mengangkat palu besarnya tinggi-tinggi.
\"Ini satu-satunya kesempatan kita untuk menunjukkan diri kita di hadapan orang yang tak terkalahkan katanya dan kali ini, tidak ada kata mundur bagi veteran perang seperti kita. Vorlag milik kita malam ini, majulah seperti banteng yang mengamuk dan seranglah dia seperti badai yang membuatnya tak melupakan siapa sebenarnya kami ini!\" seru dari Douglas yang membuat raungan dari para veteran yang mengikuri Douglas itu kini serempak menjawab seruannya.
Kemudian, derap kaki kuda mulai bergemuruh keluar dari markas pasukan revolusi dan berjalan melalui jalan-jalan gua saat para prajurit veteran itu melaju menuju takdir mereka ke arah penjara sekarang berada dan takdir telah menanti mereka dalam menyelesaikan misi kali ini.
Kembali ke kamp markas pasukan revolusi, Veyla mengepalkan tinjunya ketika melihat Douglas telah pergi untuk menghentikan Vorlag dan bisikannya hanya diucapkan untuk dirinya sendiri sebagai pengingat dirinya.
\"Jangan biarkan satu pun dari kalian mati malam ini, kumohon kembalilah dengan selamat.\"
Sementara itu di dalam penjara, tim penyusup mulai bergerak dengan cepat yang gema dari sepatu bot mereka terdengar di atas lantai batu hingga dentingan baju zirah para penjaga penjara mulai jatuh ke lantai yang baru saja dikalahkan tim penyusup dengan napas mereka terengah-engah.
Para penjaga penjara yang babak belur memenuhi isi koridor saat menutupi jalan keluar mereka yang tengah mendekati pintu masuk dan keluar satu-satunya penjara itu.
Sora dan Lyra dengan cepat menerobos barikade pertahanan para penjaga yang menghalangi mereka itu. Setiap gerakan musuh dalam menghalangi pelariannya itu diperhitungkan oleh Lyra dengan menyerang dari bayang-bayang yang mematikan.
Sementara Sora yang terus bertarung dan membukakan jalan itu dengan pedang yang sudah digenggam tangannya, mulai menari-nari seperti api yang menyala dengan tujuan.
Di belakang mereka, Vael bergerak dengan tertatih-tatih maju yang pakaiannya compang-camping itu menutupi tubuhnya yang memar.
Namien dengan wajahnya penuh darah dan bengkak, mengikuti Arelan dari belakang yang mengenakan kainnya robek untuk menutupi wajahnya saat pearian itu.
Silas yang bergerak di belakang Namien masih menyenandungkan lagu kebebasannya dengan setengah tersenyum di bibirnya yang pecah-pecah.
Di koridor utama sebelum pintu keluar, sisa-sisa tim penyusup Lyra yang tersebar berkumpul kembali ketika melihat Lyra telah sampai di titik kumpul mereka.
Tiga anggota tim penyusup datang menghampiri Sora dab Lyra yang membawa beberapa perlengkapan Namien, Vael, Arelan, Kaelith, dan Silas itu untuk diserahkan kepada mereka untuk dibawa mereka dengan baju mereka hingga senjata mereka.
\"Ini milikmu, ksatria Borreal.\" Ujar salah satu dari mereka sambil menyerahkan pedang dan perlengkapan milik Vael.
Yang lainnya mengembalikkan perlengkapan milik Namien dengan tasnya yang berisikan barang-barangnya dan Arelan mengambil kapak kembarnya dengan tangannya yang gemetar.
Bahkan perlengkapan Kaelith pun dibawa dan salah satu dari mereka yang membawa perlengkapan dan panahnya itu, meskipun Kaelith sendiri berada di markas revolusioner saat ini yang mungkin beristirahat di markas sekarang karena tubuhnya yang katatonik itu.
Mereka semua saat ini menghembuskan napas kelegaannya hanya sekali yang melihat bagian terakhir dari pelarian itu kini melihat pintu keluar berada di hadapan mereka saat ini.
Lalu, sosok besar terlihat dari kejauhan di pintu keluar penjara yang terbuka lebar itu dengan menggenggam senjata halberdnya itu perlahan mendekat ke arah mereka saat ini.
Suara derap kaki kuda merah gelap itu terdengar jelas setiap langkahnya mendekat ke arah pintu itu dan mereka yang melihat sosok itu mulai berpaling ke belakang mereka namun, kaki mereka tak dapat digerakkan karena sosok itu membuat mereka membeku di tempat karena kengeriannya itu terlihat jelas akan kehadirannya saja.
Dari kabut malam yang diterangi obor, sosok besar itu turun dari kudanya dengan berpakaian baju besi hitam dan halberd besarnya bersandar santai di bahunya dengan digenggam di tangan kanannya.
Tanpa kata-kata, sosok itu hanya melangkah mendekat dengan suara sepatu botnya itu yang menyentuh lantai batu penjara. Vorlag sang anomali daging dan tulang kini melihat sumber masalah yang ada pada penjara itu hingga alarm dibunyikan.
Kehadiran Vorlag membuat situasi di sekitarnya seperti ngeri bahkan udara di sekitarnya terasa mencekik.
Tidak ada sihir, tidak ada kekuatan ilahi diberikan dari para dewa, atau tidak ada kekuatan dari rune yang seperti Sora.
Tapi ada sesuatu yang lebih mengerikan dari semua itu, yaitu kekuatan brutal murni seperti hewan buas dan mengerikan seperti malaikat maut yang mencabut jiwa seseorang dengan senjatanya.
Mata Lyra membelalak panik ketika melihat Vorlag berada di hadapan pintu keluar penjara saat ini dan berteriak ke yang lainnya.
\"PERGI! Lari sekarang dan sekali-kali jangan lawan dia seorang diri!\" bentaknya dengan tegas.
Mereka semua ketika melihat Vorlag tampak begitu ragu-ragu dan kaki mereka tak mau menuruti apa yang dikatakan Lyra untuk pergi dari sana saat itu walau keinginan mereka ingin kabur dari ancaman Vorlag itu.
Bahkan Silas sendiri pun, untuk pertama kalinya tidak punya kata-kata yang cerdas untuk bercanda atau memberikan nasehat yang berarti melainkan kini ia hanya diam seribu bahasa terhadap orang yang lahir dengan bahasa medan peperangan dan hidup di dalamnya dengan kebrutalan yang ada.
Namien berbisik ketika melihat penampakkan Vorlag untuk pertama kalinya, \"Ya Tuhan… Itu bukanlah manusia, melainkan sosok yang lebih berbahaya dari makhluk hidup yang pernah ada di bumi ini dan itu benar-benar dia saat ini yang pernah kulihat.\"
Arelean hanya bisa menelan ludahnya karena ia mengetahui seberapa kuatnya Vorlag tanpa harus bertarung dengannya itu yang hanya melihat Vorlag itu sendiri di hadapannya saat ini,
\"Cerita itu memang benar-benar nyata akan sosok Vorlag ini…\"
Vael hanya mengencangkan cengkeramannya pada pedangnya tetapi dia tahu bahwa hal ini bukanlah pertempuran yang bisa dimenangkannya sekalipun.
Namun… ketika semua meragukan diri mereka masing-masing dan beberapa juga hanya bisa pasrah menunggu waktu ajalnya saja di tangan Vorlag.
Sora melangkah maju ke hadapan Vorlag tanpa memikirkan apapun risiko yang bakal diterimanya saat melawan anomali daging dan tulang itu dengan sendirian.
Satu langkah lambat demi satu langkah untuk menghadapi monster berwujud manusia itu dengan pedangnya di tangannya yang tergenggam erat dan napasnya yang stabil untuk membantunya tenang dan fokus untuk menghadapi Vorlag yang menjadi ancamannya.
Teman-temannya mulai meneriakkan namanya dari belakang Sora untuk tak melawannya tetapi dia menghiraukan seluruh perkataan teman-temannya itu dan tidak berniat untuk membalikkan badannya untuk lari dari ancamannya.
Sora sendiri mengetahui bahwa jika lari dari Vorlag pun, dirinya dan yang lainnya akan tertangkap seiring waktu berjalan dalam mengulur waktu saja dan pasukan kerajaan pastinya akan mengepung seluruh penjara ini yang membuat rencana pelarian ini gagal keseluruhannya.
Oleh karena itu, Sora memilih menghadapi Vorlag untuk memberikan waktu bagi teman-temannya lari melewati Vorlag saat dirnya menyibukkan Vorlag bertarung itu walau nyawanya yang menjadi taruhannya.
Vorlag melihat Sora yang maju untuk menghadapinya itu, mulai terlihat kebingungan akan tindakannya itu hingga senyuman terbentuk perlahan di wajahnya yang melihat aksi Sora itu dan bergumam,
“Cobalah untuk menghiburku…”
Halberd besar itu berputar di tangan Vorlag seperti seseorang yang siap menghadapi pertarungannya itu yang mengartikan waktu untuk berburu mangsanya.
Lalu setelah itu, Vorlag langsung menerjang Sora dengan serangan brutal langsung ke hadapan Sora yang membuat pedang Sora beradu dengan baja dari halberd Vorlag itu. Sora menangkis serangan pertama dari Vorlag yang langsung mengarahnya itu dengan susah payah.
Kekuatan Vorlag terlihat sangat menakutkan hingga membuat Sora terpukul mundur saat Vorlag mendorongnya mundur tiga langkah dari pijakan Sora. Tapi Sora berusaha bertahan dengan mengaktifkan rune merah dan putihnya yang mulai menyala dari tubuhnya hingga ke bilah pedangnya.
Vorlag bergerak menyerang Sora tanpa harus bertanya tentang keuatan rune Sora itu lagi dengan cepat dan serangannya itu sangat tidak wajar untuk dilakukan oleh seorang manusia yang membuat Sora dan lainnya melihat hal itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan serangan Vorlag dan Sora hanya bisa menghindar, menangkis, dan menahan segala serangan yang mengarah ke arahnya dengan brutal itu.
Semua yang tengah menyaksikan pertarungan itu begitu tercengang antara ketakutan dan teror saat pertempuran yang tidak dimaksudkan untuk melihat dengan mata mereka yang pertarungannya sendiri itu tak wajar.
Seorang anak laki-laki yang bisu tapi membara dengan kekuatan runenya dan seorang pria yang diberi julukan seperti monster dari seluruh sejarah dan peperangan yang membuat namanya ditakuti oleh pihak lawan.
Mereka berdua saling bertarung yang membuat seluruh situasi dan kondisi di penjara terasa bergetar. Mereka yang menyaksikan pertarungan keduanya itu sekarang… hanya berharap Douglas tiba sebelum terlambat.
Lonceng alarm yang memekakkan telinga adalah genderang perang bagi Vorlag yang masih bertarung dengan Sora di depan pintu penjara yang terbuka, kudanya yang berwarna merah tua itu mendengus di luar penjara dengan matanya menyala seolah mencium bau pertarungan dari dalam penjara.
Di hadapannya, sekelompok kecil pemberontak yang membebaskan teman-temannya babak belur mencoba melarikan diri dari dalam penjara dan di antara mereka, berdiri satu sosok yang sunyi dengan pedangnya beradu dengan halberd yang ditakuti oleh semua orang di kerajaan Jargmund itu.
Tanpa menunggu jawaban, Vorlag mulai menyerang Sora ketika melihat Sora bertahan dari semua serangannya yang ia lancarkan sebelumnya. Vorlag bergerak bukan dengan kecepatan kekuatan sihir atau apapun yang lainnya, melainkan dengan kekuatan murni yang pernah dilakukannya dengan setiap langkahnya membuat tanah pijakannya bergetar.
Vorlag mulai mengayunkan halberdnya dalam satu lengkungan yang brutal ditujukan untuk membelah kelompok itu menjadi dua. Sora tanpa pikir panjang langsung melesat maju dan pedangnya menahan serangan lengkungan Vorlag itu ketika mengincar ke kawanannya.
Suara baja yang beradu dengan baja meledak di koridor sempit itu, begitu keras terdengar hingga membuat Vael dan Arelan tersentak ketika melihat serangan itu.
Sora terhempas ke belakang beberapa langkah, lengannya bergetar hebat karena menahan benturan serangan Vorlag itu. Kekuatan di balik ayunan Vorlag itu sangat tidak masuk akal untuk dicerna oleh akal sekali pun dan itu bukanlah kekuatan manusia biasa untuk melakukannya.
Vorlag tidak memberi Sora waktu untuk bernapas sedikit pun dan ia langsung melancarkan serangan berikutnya dengan sebuah tusukan lurus yang secepat kilat.
Sora berhasil menangkisnya, tetapi kekuatan di baliknya mendorongnya mundur lagi. Ayunan, tusukan, hingga tebasan Vorlag menyerang tanpa henti ke arah Sora yang setiap gerakannya adalah badai dari kekuatan murninya.
Sora kini sepenuhnya dalam posisi bertahan. Ia tidak dapat melihat titik celah sedikit pun untuk melancarkan serangan balik. Setiap kali ia mencoba mencari sudut untuk menyerang atau keluar dari jangkauan Vorlag, ayunan halberdnya yang lebar itu memaksanya untuk kembali fokus pada pertahanannya.
Pedangnya yang ditempa ulang bernyanyi saat menahan setiap serangan Vorlag, tetapi getarannya merambat ke tulang-tulangnya.
Melihat pertarungan sepihak itu, Lyra, yang telah memandu yang lain menuju jalan keluar, berteriak dari kejauhan.
\"LARI, SEKARANG! Dia memberi kita kesempatan! PERGI!\"
Vael dan Arelan sama-sama menoleh satu sama lain dan mata mereka dipenuhi amarah dan rasa frustrasi ketika naluri ksatria mereka menjerit untuk bergabung dalam pertarungan dihadapannya itu untuk membantu rekan mereka yang sedang bertarung demi mereka.
Tetapi saat mereka melihat bagaimana Sora yang kekuatannya mereka tahu luar biasa, berjuang hanya untuk menahan serangan Vorlag dan mereka mengerti hal itu.
Ini bukan pertarungan yang bisa mereka menangkan. Kekuatan Vorlag berada di level yang sangat berbeda.
\"Percayalah kepadanya untuk saat ini.\" Kata Silas dengan suara tegang, sambil memegangi rusuknya yang sakit.
Dengan berat hati, Vael dan Arelan mengangguk. Mereka berbalik dan membantu Namien yang terluka untuk berlari, meninggalkan Sora untuk menghadapi sang Anomali sendirian.
Vorlag yang melihat Sora hanya terus menerus menghalangi, menahan, dan menghindari serangannya tanpa membalas sedikit pun itu, akhirnya menghentikan serangannya. Ia mundur selangkah dan halberdnya kini bersandar di bahunya.
\"Hmph, kau benar-benar cukup kuat untuk menahan seluruh seranganku, bocah kecil.\" Dengusnya dengan nada kekecewaan yang terdengar jelas dalam suaranya yang dingin.
Sora yang terengah-engah itu dengan keringat membasahi dahinya dan lengannya kini terasa seperti akan putus dari bahunya hanya bisa melakukan apa yang ia dapat lakukan saat ini untuk menghadapi Vorlag dan memberikan waktu untuk teman-temannya kabur dari penjara.
\"Tetapi tetap saja, kau tidak memuaskanku dalam pertarungan kali ini.\" Lanjut Vorlag yang tanpa memberikan Sora waktu untuk beristirahat.
Vorlag melancarkan serangannya lagi dan kali ini, sebuah tebasan vertikal yang kuat dari atas. Sora dengan sisa-sisa kekuatannya, mengangkat pedangnya untuk menahan serangannya itu.
Namun, itu adalah tipuannya.
Sementara pedang Sora terkunci untuk menahan serangan Vorlag, Vorlag melepaskan satu tangannya dari genggaman halberdnya itu dan meluncurkan tinjunya dengan kekuatan penuh. Pukulan Vorlag bergerak bebas yang tidak diperkuat oleh sihir apa pun selain otot dan tulangnya yang ditempa dalam pertempurannya itu, menghantam dada Sora dengan telak.
Sora merasakan tulang rusuknya patah seketika ketika tinju Vorlag mengenainya. Seluruh badan Sora terdorong ke belakang hingga rasa sakit dari paru-parunya itu membuat dirinya mengeluarkan darah dari mulutnya saat ia terpental jauh ke belakang seperti mainan yang dilemparkan.
Tubuhnya menghantam sebuah pilar batu penjara dengan keras dan menghancurkannya menjadi puing-puing ketika menghantam bagian belakang tubuh Sora.
Sora jatuh ke tanah dalam keadaan sekarat, darah segar menyembur dari mulutnya dan mulai membasahi pakaiannya. Ia mencoba untuk berdiri untuk mengangkat kepalanya, tetapi tubuhnya tidak mau menurut dan perlahan, pandangannya mulai kabur hingga rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan setiap serat ototnya itu untuk tetap terbaring di tanah.
Vorlag hanya menyeringai dan sebuah senyuman yang bukan kegembiraan, melainkan penghinaan murni terhadap Sora dengan apa yang dilakukannya itu untuk memperlihatkan seberapa kuatnya dirinya tanpa memakai senjatanya itu.
\"Sangat lemah dan tidak memuaskan.\" Kata Vorlag yang ia sendiri tidak melirik Sora lagi.
Dengan rasa bosannya, Vorlag berbalik dan berjalan dengan santai untuk memburu mangsa berikutnya dengan meninggalkan Sora yang terkapar di antara reruntuhan pilar.
Vorlag tidak pernah mengampuni musuh-musuhnya dengan membiarkan mereka hidup karena belas kasihan. Terkadang, ia membiarkan mereka tetap hidup karena mereka sendiri yang menghadapinya itu tidak layak untuk dibunuh olehnya.
Vorlag melangkah keluar melewati gerbang penjara dibelakangnya, matanya menatap seperti besi dingin untuk mengamati di sekitarnya. Bau darah masih menempel di angin, dan tidak jauh di depan, sekelompok buronan berlari dengan putus asa di mata Vorlag.
Tanpa sepatah kata pun, Vorlag mengangkat dua jari ke bibirnya dan bersiul. Seketika, kuda merahnya itu menjawab panggilan siulannya. Bergemuruh melalui jalan keluar dari penjara Jargmund, kuda itu berlari ke arahnya dan berhenti tepat dihadapannya. Bagi Vorlag, kudanya itu melambangkan keanggunan yang mematikan untuk menaikinya dan Vorlag menaiki kudanya dengan santai.
Dengan satu tarikan pada tali kekang kudanya itu, Vorlag melesat maju dan tanah bergetar di bawahnya saat tombaknya berkilauan di bawah sinar bulan pucat itu siap untuk memutuskan napas terakhir dari mereka yang berani lari dari hadapannya. Namun saat tombaknya menyapu ke depan untuk menebas para pemberontak yang melarikan diri itu, dentang yang memekakkan telinga menghentikan pukulan Vorlag di udara.
Beban palu besar menghantamnya. Percikan api meledak seperti kunang-kunang saat tombak Vorlag terkunci oleh baja palu perang Douglas. Kedua pria itu saling menatap dalam keheningan yang muram.
Lyra yang melihat ke belakang kelompoknya yang tengah mundur itu, menyadari waktu yang dipunyainya itu dan berteriak, \"Sekarang! Lari! Selagi mereka bertarung!\"
Para revolusioner yang baru saja datang sebagai pasukanpembantu itu melihat kawan-kawan mereka yang dari penjara itu kini berlumuran darah dan terengah-engah, berlari lagi ke arah mereka yang baru datang dan beberapa anak buah Douglas mengarahkan kuda mereka ke arah kelompok itu untuk menawarkan tangan untuk membantu bagi mereka yang terluka, naik dengan cepat.
Silas, Vael, Namien, dan Arelan diangkat ke pelana, diapit oleh pengawal bersenjata. Jalan pulang masih panjang tetapi untuk saat ini, pelarian ada dalam genggaman mereka.
Kembali ke garis depan, Vorlag menyipitkan matanya dan berkata. \"Kau lagi, orang tua.\" Gerutunya.
Douglas menyeringai dengan palunya bersandar di bahunya. \"Apakah kau masih ingat atau kaget dengan kehadiranku? Mungkin aku mati sebagaimana yang kau lihat sebelumnya di pertarunganmu itu. Tetapi, apa yang kupelajari dalam perang masih belum terkubur untuk mengubur jasadmu itu, Vorlag.\"
\"Kalau begitu, biar aku yang mengubur dirimu terlebih dahulu, orang tua.\"
Kuda mereka berdua melesat maju serempak dengan senjata mereka mulai beradu dengan kekuatan yang dapat membuat situasi dan kondisi di sekitar itu menjadi tegang.
Satu serangan demi serangan berikutnya dari mereka berdua lancarkan. Setiap benturan senjata mereka yang mengguncang batu pijakan kaki kuda mereka saat mereka berdua hendak turun dari tunggangan kudanya dan bertarung di atas tanah.
Vorlag memutar tombaknya dengan kecepatan brutal, mengiris udara seperti kilat, tetapi Douglas membalasnya dengan ayunan palunya untuk menangkis serangan Vorlag itu dengan kekuatan seseorang yang telah bertahan lebih dari seratus pertempuran atau lebih dari medan perang yang pernah Douglas lalui.
Sementara itu, Lyra yang meminjam kuda dari orangnya Douglas itu, menaiki kudanya dan membalikkan kudanya ke arah penjara hingga maju dengan kecepatan kudanya itu melalui kedua orang yang tengah bertarung itu.
Lyra mengamati dalam penjara yang pilarnya itu sudah menjadi reruntuhan dan puing-puing hingga dia melihatnya setengah tangan dari arah puing-puing itu dengan memar dan darah yang mengalir di pilar yang runtuh.
Jantungnya berdegup kencang ketika melihat sosok itu tak sadarkan diri. \"Sora!\"
Dia melompat dari pelana kuda dan menyingkirkan puing-puing dengan tergesa-gesa dan menemukan Sora tak sadarkan diri dalam kondisi yang tak bisa dijelaskan namun ketika Lyra mengecek kehidupannya, Sora masih hidup namun kondisinya sangat kritis untuk saat ini.
Lyra mencoba untuk membawa Sora dengan sekuat tenaga ke atas kudanya dengan susah payah dengan berbisik,
\"Dasar idiot keras kepala... kenapa kau melawannya sendirian yang pertarungan itu tak bisa kau menangkan sekalipun.\"
Lyra menaiki kudanya saat Sora sudah berada di pelana kuda dalam keadaan tak sadarkan diri itu dan tali kekang kuda dilesaatkan oleh Lyra yang membuat kudanya itu melesat berlari kencang untuk keluar dari misi pelarian dan pembebasan yang berubah menjadi medan pertarungan yang mematikan.
Di belakangnya, suara senjata dari Vorlag dan Douglas yang masih bertarung dengan dahsyat dan senjata mereka terus berdentingan.
Namun Lyra tidak menoleh ke belakang saat melewat mereka berdua dan satu-satunya tujuannya saat ini adalah mengeluarkan Sora dari area berbahaya itu dari kondisi kritisnya.
Tepat saat dia melewati gerbang penjara yang rusak sekali lagi, Douglas mengeluarkan teriakan perang yang dahsyat yang bergema bahkan melalui perut kota.
Palu itu bernyanyi lagi saat menghantam tombak. Vorlag terhuyung mundur karena terkejut akan hal itu dari Douglas yang setelah melakukan serangannya itu meludahkan darahnya ke samping dan berkata kepada Vorlag dengan meletakkan palu besarnya itu di atas bahunya.
“Kau kuat, Nak. Namun, aku telah berdarah lebih lama daripada semasa hidupmu itu tahu.”
Vorlag menyeringai dengan memutari halberdnya itu sembari berkata. “Kalau begitu, berdarahlah untuk terakhir kalinya, tua bangka.”
Duel mereka berlanjut dan rentetan serangan yang berbenturan di bawah bintang-bintang malam itu, kedua prajurit sedang bertarung yang satunya ditakuti oleh semua orang yang pernah mendengar atau melihatnya dan yang satunya lagi sudah tua namun gaya bertarungnya masih belum tumpul untuk disebut veteran perang yang sudah lapuk itu.
Di sisi lainnya yang di suatu tempat di jalanan kota, Lyra memeluk Sora lebih erat dan matanya menatap jalanan kota yang kosong itu hingga Lyra berbisik pelan kepada Sora yang tak sadarkan diri, \"Jangan mati lebih dulu! Kau masih punya janji yang harus ditepati.\"
Kuda Lyra tunggangi itu melesat maju ke arah markas pasukan revolusi secepat mungkin yang ia bisa sebelum Sora mati di tangannya itu.
Sedangkan di lain sisi, bukan lagi suara yang terdengar biasa namun itu adalah suara dua kekuatan alam yang saling beradu di depan pintu keluar penjara saat ini antara palu besar Douglas yang berat bertemu dengan halberd Vorlag yang mematikan itu, menimbulkan percikan api setiap saat beradu seperti bintang kecil di antara mereka.
Kuda-kuda mereka meringkik ngeri saat keduanya turun dari tunggangannya dan mereka lebih memilih untuk menyelesaikan ini di atas tanah yang retak.
Anak buah Douglas, para veteran yang telah melihat seratus pertempuran, hanya bisa menatap tak percaya. Mereka tahu komandan mereka kuat, tetapi ini... ini adalah sesuatu yang lain. Mereka belum pernah melihat Douglas bertarung dengan amukan seperti itu.
\"Demi para dewa yang menyaksikan... dia bisa menandinginya.\" Bisik salah satu dari mereka.
Vorlag menyerang lagi dan lagi, setiap ayunan halberdnya adalah badai yang dirancang untuk membelah gunung yang begitu cepat, brutal, dan tak kenal ampun.
Tetapi Douglas menahan semuanya dan palu perangnya menjadi perpanjangan dari lengannya, menangkis setiap serangan dengan tekad seseorang yang telah menatap lebih dari kematian di mata dan tertawa saat menghadapinya.
\"UNTUK MEREKA YANG TELAH TUMBANG!\" teriak Douglas dengan suaranya yang seperti teriakan perang ditempa oleh puluhan tahun pertempuran pengalamannya.
Namun, di dalam pikirannya, Vorlag hanya merasakan kebosanan saat bertarung melawan Douglas yang melancarkan serangan balik itu.
Vorlag berpikir Douglas memanglah kuat dengan pikirnya, yang Douglas sendiri menangkis beberapa serangan darinya menggunakan palunya yang hampir meremukkan tulang rusuknya.
Tapi, tetap saja semua itu tidak cukup bagi Vorlag untuk menghilangkan rasa kebosanannya itu.
Vorlag melihat mata Douglas yang membara karena semangat pertarungannya itu karena tujuannya dan Vorlag membencinya. Baginya, itu adalah kelemahan yang dimiliki setiap pejuang seperti diirnya itu.
Douglas terus menyerang Vorlag yang membuat tatapan mata Vorlag yang kini datar dan kosong selagi menangkis semua serangan Douglas dengan mudah.
Vorlag tidak lagi menikmati pertarungannya ini dan dalam benaknya hanyalah hal ini berakhir dan ia ingin tidur akan Douglas tak bisa memberikannya hiburan yang layak.
Douglas, di sisi lain, mulai merasakan batasannya. Setiap serangan yang ia lancarkan itu membuat lengannya kini terasa menyakitkan yang sudah tua itu untuk mengayunkan palunya.
Napasnya menjadi lebih berat dan keringatnya bercampur dengan darah dari luka kecil di pelipisnya.
Teriakan perangnya mungkin masih menggema, tetapi kini ada nada keputusasaan di dalam gerakannya itu yang Douglas sendiri tahu ia tidak bisa menang melawan Vorlag kali ini namun, ia hanya bisa mengulur waktu bagi mereka yang membebaskan tawanan itu.
Melihat lawannya yang mulai lelah, Vorlag akhirnya melihat sebuah celah. Saat Douglas mengangkat palunya untuk satu ayunan putus asa terakhirnya.
Vorlag tidak menangkisnya tapi, ia bergerak masuk ke area jangkauan serangan Douglas lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan oleh pria sebesar itu dan Vorlag membiarkan sisi palu itu menyerempet bahunya.
Sebagai gantinya, Vorlag mengayunkan halberdnya dari samping dengan presisi yang mematikan. Bukan ke arah dada atau kepala Douglas melainkan mengincar tangannya.
Darah menyembur dari arah bahu Douglas kini terputus tangannya setelah menerima serangan balik Vorlag dan palu perangnya itu jatuh dari tangan yang kini telah terpotong.
Mendarat di tanah dengan bunyi yang memuakkan. Douglas jatuh berlutut dan matanya terbelalak ngeri ketika menatap lengannya yang kini buntung.
Vorlag berdiri di dekatnya yang sosoknya itu menjulang tinggi menutupi cahaya bulan.
\"Kau telah berdarah lebih lama dariku, tapi kau tak bisa menghiburku. Sebagai gantinya, berdarahlah untuk terakhir kalinya, orang tua.\" Kata Vorlag yang mengulangi kata-kata Douglas sebelumnya dengan datar dan nada mengejek.
Sebelum Douglas bisa mengucapkan kata-kata terakhirnya, halberd Vorlag bergerak dalam satu lengkungan yang bersih dan mengerikan.
Kepala Douglas terpisah dari tubuhnya, jatuh ke tanah dengan tatapan kaget dari anak buah Douglas yang membuat semuanya itu membeku di tempatnya dan keheningan total terjadi saat pertarungan keduanya telah berakhir.
Anak buah Douglas hanya bisa menatap ngeri pada pemandangan itu dan panglima mereka, legenda mereka itu bukanlah tandingan bagi Vorlag sang anomali daging dan tulang.
Vorlag berbalik badan dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi kemenangan, menatap sisa-sisa pasukan Douglas.
Mereka semua membeku, lalu panik mengambil alih untuk kabur dari hadapan Vorlag yang menatap mereka itu. Mereka berbalik dan berlari dengan cepat meninggalkan area itu seperti tikus yang melarikan diri dari kucing raksasa dan menghilang ke dalam selokan dan gang-gang gelap kota.
Vorlag tidak mengejar mengejar mereka yang kabur itu, melainkan ia tidak peduli pada mereka semua itu. Vorlag hanya berdiri diam di sana, di tengah medan perang yang telah sunyi, di bawah cahaya bulan purnama yang pucat.
Vorlag mengangkat kepalanya ke langit yang kini bersih tanpa bintang dengan rasa bosannya luar biasa itu kembali menyelimutinya. Ia masih mencari seseorang atau siapa pun itu yang bisa menandinginya dan bisa membuatnya merasa hidup lagi.
Other Stories
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Gm.
menakutkan. ...
Liburan Yang Menelanjangi Kami
Tujuh mahasiswa BAKOR-UNAS memilih merayakan kebebasan selepas UAS dengan cara yang tampak ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...