The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
930
Votes
0
Parts
46
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Tiga Puluh Dua: Harga Dari Sebuah Kebebasan

Udara malam dipenuhi keringat, darah, dan asap saat sisa-sisa penjara kembali ke markas bawah tanah. Kuda Lyra berlari kencang ke dalam terowongan pintu masuk, lengannya mencengkeram erat tubuh Sora yang tak sadarkan diri, dadanya naik samar, berlumuran darah, tetapi masih hidup.

Sorak-sorai meletus dari para revolusioner yang berkumpul di dalam. Teriakan kemenangan, pembebasan, harapan. Silas, Namien, Vael, dan Arelan telah diselamatkan. Kepulangan mereka menyalakan api yang telah lama meredup.

Veyla muncul dari tenda komandonya, matanya tajam, dan jantungnya berdebar kencang. Dia mengamati kerumunan dan melihat Lyra turun dari kudanya, tubuhnya bungkuk karena kelelahan, matanya kosong karena apa yang baru saja dilihatnya. Di belakangnya, Sora diangkat dengan hati-hati oleh para medis dan dilarikan ke tenda dokter.

Veyla mendekat dengan cepat.

\"Lyra,\" panggilnya.

Lyra berbalik. \"Misi berhasil. Tahanan sudah keluar. Silas aman.\"

\"Dan dia?\" Veyla bertanya, sambil mengangguk ke arah tenda tempat Sora baru saja menghilang.

“…Dia melawan Vorlag,” kata Lyra pelan.

Mata Veyla membelalak. “Sendirian?”

Lyra mengangguk pelan. “Menahannya. Memberi kami waktu untuk melarikan diri. Jika aku datang semenit kemudian…dia tidak akan selamat. Tulang rusuknya patah. Pendarahan dalam. Tapi dia masih hidup.”

Sebelum Veyla sempat menjawab, suara langkah kaki tergesa-gesa bergema di pangkalan. Salah satu anak buah Douglas terhuyung masuk, napasnya tersengal-sengal, wajahnya pucat. Semua orang menoleh ke arahnya.

“Dia…Dia sudah tiada,” kata prajurit itu, nyaris berbisik.

“Komandan Douglas…tewas dalam pertempuran.”

Sorak-sorai langsung mereda dan keheningan menyelimuti perkemahan seperti angin dingin. Kehangatan kemenangan lenyap dalam sekejap, hal ini membuat wajah Veyla membeku hingga bibirnya bergetar tetapi tidak ada kata yang keluar. Dia berbalik, cepat, dan berjalan ke tendanya tanpa sepatah kata pun.

Di dalam, sendirian, tangannya yang terkepal gemetar saat dia menahan teriakan yang naik ke tenggorokannya. Kukunya menancap di telapak tangannya saat beban kepemimpinan, kehilangan, dan perang menimpanya. Namun dia tidak membiarkan air matanya jatuh.

Hingga, langkah kaki mendekat di belakangnya. Silas, yang diperban dan sedikit bersandar pada tongkat, berdiri di ambang pintu.

\"Kau dengar?\" tanya Veyla tanpa menoleh.

\"Ya,\" katanya.

Suara Silas pelan dan berkata. \"Dia mati agar kita bisa hidup. Agar kita bisa melarikan diri dari sana.\"

Veyla akhirnya berbalik menghadapnya, rasa sakit terlihat jelas di matanya. \"Bagaimana kita bisa terus maju? Kita kehilangan Douglas. Prajurit terbaik kita. Tembok kita.\"

Silas tidak langsung berbicara.

Dia berjalan mendekat, matanya tertarik ke penutup tenda tempat cahaya redup tenda dokter bersinar samar.

“Karena ada satu orang yang menentang anomali itu,” katanya, pelan.

“Orang yang tidak punya pangkat. Yang tidak berbicara sepatah kata pun. Yang menanggung beban kematian yang terlalu banyak.”

Ia menunjuk ke arah Sora melalui tenda.

“Anak itu masih berdiri. Begitulah cara kita melangkah maju.”

Nafas Veyla tercekat.

Ia mengangguk dengan pelan dan sedikit ada harapan dari perlawanan ini.

“Kuharap... Kuharap kau benar,” bisiknya.

Silas, dengan seringai khasnya yang kembali sedikit menjawab, “Biasanya begitu.”

Dan di luar, kubu revolusioner, meskipun sunyi, berdiri lebih kuat dari sebelumnya. Berduka atas yang satu... tetapi menyaksikan kebangkitan yang lain.

Sementara itu, di jalanan Jargmund yang diselimuti kabut malam, derap kuku kuda merah Vorlag menggema seperti detak jantung kematian. Ia mengendarai kudanya dengan kecepatan yang terkendali namun tak terbendung.

Bayangannya yang besar meluncur melewati gang-gang sempit dan bangunan-bangunan yang runtuh. Saat ia mendekati gerbang utama istana, para penjaga yang tadinya mabuk dan bersandar di dinding langsung menegakkan tubuh, wajah mereka pucat karena takut dan hormat.

\"BUKA GERBANGNYA!\" teriak salah satu penjaga kepada rekan-rekannya, suaranya bergetar.

\"VORLAG TELAH KEMBALI!\"

Dengan sisa-sisa kekuatan mereka, para penjaga itu dengan tergesa-gesa membuka gerbang besi yang berat, memberikan jalan bagi sang Anomali untuk masuk tanpa memperlambat langkah kudanya sedikit pun.

Di dalam, di aula utama istana, pesta pora telah mereda menjadi dengungan kemewahan yang malas. Goulash, setelah menyelesaikan urusan-nya, kini kembali duduk di singgasananya yang megah. Ia tidak sendirian. Tiga orang gadis muda dengan gaun sutra tipis duduk di pangkuannya dan di sandaran tangannya, masing-masing bersaing untuk mendapatkan perhatiannya.

\"Oh, Raja,\" kata salah satu gadis dengan nada manja, jarinya menelusuri janggut Goulash yang kotor. \"Permata yang kau berikan padaku sangat indah. Aku ingin satu lagi.\"

\"Dan kain dari pedagang selatan itu,\" tambah yang lain. \"Apakah benar terbuat dari benang emas?\"

Goulash tertawa, suara beratnya yang serak memenuhi ruangan. Tangannya yang gemuk meraba-raba paha salah satu gadis dengan mesum.

\"Semuanya itu milikku,\" katanya. \"Dan semua yang menjadi milikku, akan menjadi milik kalian juga, selama kalian tahu bagaimana cara memintanya dengan benar.\"

Gadis-gadis itu tertawa pelan dengan nada menggoda. \"Tentu saja, Yang Mulia. Kami hanyalah milikmu, karena kau telah memberikan semua ini kepada kami.\"

Tawa Goulash kembali meledak, puas dengan pemujaan yang ia terima. Namun, tawa itu terhenti saat pintu besar di ujung aula terbuka.

Vorlag melangkah masuk, baju zirahnya yang hitam masih berbau asap dan darah. Ia berjalan lurus melewati singgasana tanpa menoleh, seolah-olah raja dan para dayangnya hanyalah perabotan lain di dalam ruangan. Tujuannya hanya satu: area latihan pribadi di belakang istana.

\"Vorlag!\" panggil Goulash, sedikit kesal karena diabaikan. \"Tunggu! Apakah kau menghabisi mereka semua?\"

Vorlag berhenti, tetapi tidak berbalik. \"Tikus-tikus itu membuatku bosan,\" jawabnya dengan nada dingin yang datar.

\"Kau bisa melihat kepala pemimpin mereka di depan penjara jika kau mau.\"

Sambil mengatakan itu, ia terus berjalan, tombak besarnya di tangan, meninggalkan Goulash di belakangnya.

Goulash menatap punggung Vorlag, lalu kembali tertawa terbahak-bahak. Ia menoleh kepada para gadisnya.

\"Lihat? Bahkan binatang buasku pun punya selera humor.\"

Ia melanjutkan pestanya, kembali tenggelam dalam dekadensi dan nafsu, tidak menyadari atau mungkin tidak peduli pada kebosanan yang mematikan di mata prajurit terkuatnya.

Sementara itu, Vorlag telah tiba di area latihannya, sebuah lapangan berpasir yang dikelilingi oleh patung-patung batu yang hancur oleh tangannya sendiri.

Di sana, di bawah cahaya bulan yang pucat, ia mulai berlatih, mengayunkan halberd raksasanya dengan kekuatan yang mampu membelah angin, terus mencari kesempurnaan dalam kekerasan, masih menunggu lawan yang benar-benar layak.

Di markas revolusioner, keheningan yang pekat menyelimuti udara bagai kain kafan. Orang-orang yang kembali dari misi penyelamatan memasang ekspresi kosong, mata mereka diliputi duka.

Kabar kematian Douglas menyebar bagai angin pahit yang tiba-tiba dan menusuk. Bagi banyak orang, ia bukan sekadar komandan, ia adalah tembok harapan terakhir, suara keberanian di hari-hari tergelap mereka.

Beberapa membisikkan doa, yang lain duduk dengan tangan terkepal, mata tertunduk. Sebagian besar hanya berduka dalam diam, air mata berjatuhan bagai abu dari hati yang membara.

Di dalam tenda rumah sakit yang remang-remang, suasana terasa lebih khidmat. Vael, Namien, dan Arelan berbaring di ranjang darurat terpisah, diperban dan babak belur, bekas-bekas penyiksaan brutal terukir di daging mereka. Namun, tak satu pun dari mereka menyuarakan rasa sakit, bukan dari luka-luka mereka.

Di seberang mereka, Kaelith berbaring tak bergerak di ranjangnya, rambut pirangnya kusut seperti kerudung menutupi pipi pucatnya. Dia tampak seperti putri yang sedang tidur, tak tersentuh oleh waktu, namun di balik mata yang tertutup itu tidak ada mimpi, hanya jurang yang terlalu dalam untuk dijangkau.

Tangannya diam. Napasnya pendek. Kehadirannya terasa seperti bisikan yang berusaha untuk tidak didengar.

Di sampingnya, Sora terbaring tak sadarkan diri, dadanya naik perlahan, balutan di tubuhnya berlumuran darah. Belat menahan tulang rusuknya di tempatnya, dan buku-buku jarinya masih memar karena pukulan yang dia lakukan dengan Vorlag. Dia tidak berbicara sepatah kata pun sejak dibawa masuk. Dia tidak membuka matanya.

Namien, meskipun kesakitan, menoleh ke arah Kaelith. Dengan memar di wajahnya, gerakan sekecil apa pun terasa seperti api, tetapi dia tidak peduli.

\"Bagaimana... keadaannya?\" dia bertanya kepada dokter dengan lemah, suaranya serak.

Dokter, yang telah merawat luka Sora, terdiam. Dia tidak langsung menjawab melainkan tangannya berhenti bergerak dan matanya menunduk.

\"Dia masih hidup,\" katanya akhirnya dengan lirih. \"Secara fisik... dia stabil. Tapi secara mental...\"

Dia tak perlu menyelesaikan kalimatnya dan beban dari beberapa kata itu sudah cukup untuk menjelaskannya.

Namien memejamkan mata dengan penyesalan. Vael memalingkan wajahnya, rahangnya terkatup rapat hingga bergetar. Arelan menatap langit-langit tenda seolah menyimpan jawaban yang tak bisa ia temukan.

\"Dia memercayai kita,\" gumam Namien. \"Dan kita mengecewakannya.\"

Tangan Arelan mengepal. \"Aku bersumpah akan melindunginya. Sumpah macam apa itu... ketika aku membiarkan ini terjadi?\"

Vael yang selalu menahan diri, hanya bisa membisikkan satu kata, kata yang diliputi rasa bersalah. \"Kaelith...\"

Keheningan di antara mereka semakin berat. Satu-satunya suara hanyalah derak lembut api lentera di sudut tenda dan napas rekan-rekan mereka yang nyaris tak terdengar.

Di luar, pangkalan itu tetap sunyi, terombang-ambing antara duka dan tekad. Mereka berhasil membebaskan rakyat mereka, tetapi apa pengorbanannya?

Dan di suatu tempat, jauh di lubuk hati mereka yang selamat... dendam mulai bersemi. Bukan karena amarah, melainkan karena janji suci yang diam-diam untuk tidak membiarkan hal ini terjadi lagi.

Sementara tenda dokter di markas bawah tanah itu dipenuhi dengan keheningan yang tegang, di bengkelnya yang remang-remang, Feron duduk tak bergerak. Api di tungkunya telah meredup menjadi bara api yang pucat.

Palunya tergeletak diam di atas meja kerja, dingin. Tangannya yang kapalan dan kuat kini menutupi mulutnya, menyembunyikan ekspresi yang merupakan campuran antara kelelahan, kesedihan, dan kemarahan yang tertahan.

Dari bengkelnya, ia telah mendengar semuanya bersorak-sorai kemenangan yang singkat dan kemudian dengan cepat ditelan oleh keheningan duka.

Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di ambang pintu bengkelnya yang terbuka.

\"Hei, Orang tua...\" Suara Lyra terdengar serak, tanpa nada dinginnya yang biasa.

Feron tidak langsung menoleh. Ia hanya menghela napas panjang dan berat. \"Senang melihatmu masih hidup, kucing kecil,\" katanya dengan suara rendah. \"Ceritakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi di neraka itu?\"

Lyra melangkah masuk, bersandar di salah satu pilar kayu. Ia menjelaskan semuanya dengan nada datar yang berusaha menyembunyikan emosinya tentang misi awal yang berjalan mulus, bagaimana mereka melenyapkan para penjaga, membebaskan Silas dan teman-teman Sora.

Lalu, ia menceritakan tentang lonceng yang berbunyi, tentang pelarian mereka yang putus asa, dan bagaimana Vorlag datang seperti malaikat maut.

\"Sora...\" lanjut Lyra, suaranya sedikit bergetar,

\"...ia menghadapi Vorlag sendirian. Hanya untuk memberi kami waktu. Aku tidak pernah melihat orang bertarung seperti itu. Dia pingsan, luka-lukanya sangat parah. Tapi kemudian Douglas datang dan menahan Vorlag.\"

Ia berhenti, menelan ludah. \"Aku membawa Sora dan kembali secepat yang kubisa. Dan aku... aku mendengar kabar tentang Douglas setelah itu.\"

Feron mengerti. Ia tidak perlu bertanya lebih lanjut. Ia bangkit dari kursinya, berjalan kembali ke meja kerjanya, dan mengambil beberapa lembar kertas perkamen yang tergulung rapi. Ia membukanya di atas meja. Itu adalah cetak biru dari sebuah senjata yang sangat rumit—sebuah palu perang mekanis.

\"Aku merancangnya untuk Vorlag,\" gumam Feron, lebih pada dirinya sendiri. \"Bertahun-tahun yang lalu. Saat aku masih naif dan berpikir kekuatan bisa dikendalikan. Tapi sekarang... tidak ada gunanya. Hanya Douglas yang bisa menggunakan desain ini.\"

Tiba-tiba, langkah kaki yang pelan terdengar di belakang mereka. Silas Verne, dengan perban di kepalanya dan bersandar pada tongkat darurat, masuk ke dalam bengkel.

Feron, melihatnya, secara naluriah menegakkan tubuhnya dan memberikan anggukan hormat yang kaku.

Silas hanya tertawa pelan. \"Tidak perlu formalitas seperti itu, Tuan Penempa. Bagaimana keadaanmu?\"

\"Tidak baik,\" jawab Feron jujur.

Silas berjalan-jalan pelan di sekitar bengkel, matanya mengamati setiap detail. Ia berhenti di dekat tungku, lalu duduk di kursi yang tadi diduduki Feron.

Ia menatap sang pandai besi. \"Ceritakan padaku tentang anak laki-laki itu. Yang pendiam. Aku bertemu dengannya di penjara, tapi aku ingin tahu lebih banyak.\"

Feron menceritakan semuanya: bagaimana Sora pertama kali bertemu dengannya, lalu datang dengan amarah yang membara setelah melihat kondisi Kaelith yang diselamatkan dari kastil, bagaimana ia menolaknya, dan bagaimana Sora kembali dengan surat permintaan maaf yang tulus, dengan tujuan yang telah dimurnikan.

Silas mendengarkan dengan saksama, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Setelah Feron selesai, ia bertanya,

\"Dan kau... apa kau percaya padanya? Percaya bahwa ia bisa mengakhiri penderitaan kita di sini?\"

Feron menoleh, matanya menatap ke luar bengkel yang gelap, ke arah tenda dokter yang memancarkan cahaya redup.

\"Ada cahaya yang tidak akan pernah padam, kawan,\" kata Feron dengan suara rendah dan penuh keyakinan. \"Terkadang, ia hanya butuh diingatkan cara untuk bersinar.\"

Silas tertawa pelan, tawa yang tulus dan Lyra, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, tidak bisa menahan senyum tipisnya. Di tengah kehilangan dan duka, percakapan sunyi di bengkel itu terasa seperti bara api kecil yang menolak untuk mati.

Setelah satu minggu berselang, Sora membuka matanya perlahan, kanvas kusam langit-langit tenda mulai kabur.

Udara berbau obat-obatan, darah, tanah, dan rasa sakit. Dadanya terasa sakit seperti api. Perban membalutnya erat-erat, tetapi denyutan di bawahnya memberitahunya bahwa kerusakannya semakin dalam.

Tulang rusuk patah, daging terkoyak. Setiap tarikan napas adalah perang yang sunyi. Sora mencoba untuk duduk.

\"Jangan,\" kata dokter dengan cepat, sambil meletakkan tangannya yang kuat di bahunya. \"Kau sudah pingsan selama seminggu. Sebagian besar tulang rusukmu remuk. Jika kau merobek jahitan itu sekarang, kau akan menghancurkan semua yang kau perjuangkan.\"

Sora mengerjap perlahan, lalu merebahkan tubuhnya di atas selimut. Ia menatap ke atas, matanya menelusuri garis-garis samar pada kain di atasnya.

Pikirannya bergema dengan pecahan-pecahan ingatan yang membekas mulai dari serangan dahsyat Vorlag, tatapan kosong Kaelith, teman-temannya mendapat waktu untuk melarikan diri sementara ia menahan Vorlag sendirian, dan bel yang berdering untuk memperingatkan mereka.

Kemenangan dengan harga berapa tepatnya?

Beberapa jam berlalu sebelum pintu tenda berdesir. Vael melangkah masuk lebih dulu, langkahnya tertatih-tatih.

Arelan mengikutinya, lebih tenang dari biasanya, bekas luka di wajahnya masih merah namun mulai pulih. Namien masuk terakhir, mulutnya membentuk semacam senyum setengah, meskipun senyum itu memudar saat ia melihat Sora sadar.

\"Kau sudah bangun,\" kata Namien sambil berjalan mendekat. \"Kau merindukan semua makanan rumah sakit yang mendebarkan.\"

Bibir Sora sedikit melengkung, tidak sepenuhnya tersenyum, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar.

Namun, Namien tak membuang waktu sebelum melirik ke sisi lain tenda, tempat Kaelith berbaring. \"Kau sudah bicara dengannya?\"

Sora menoleh perlahan.

Kaelith sudah bangun. Disangga bantal, rambut pirangnya yang panjang tergerai, tangannya diletakkan di pangkuannya. Matanya terbuka... dan kosong. Seperti dua pecahan kaca yang menangkap cahaya, tidak memantulkan apa pun.

Namien melangkah mendekat.

\"Kaelith?\" tanyanya lembut. \"Ini aku... Namien.\"

Kaelith mengerjap dan bibirnya bergerak. \"Namien.\"

Tidak ada kehangatan di dalamnya. Tidak ada senyum. Tidak ada nada naik atau turun. Hanya... sebuah nama, diucapkan seolah membacanya dari dinding.

Vael mendekati tempat tidurnya dengan langkah ragu-ragu. \"Kaelith... kau ingat aku?\"

Dia perlahan mengalihkan pandangannya ke arahnya. \"Vael,\" katanya, dengan nada dingin datar yang sama dan tidak lebih.

Tangan Vael gemetar di sampingnya, mengepal. Dia tidak bisa menatapnya lebih lama lagi. Arelan berdiri di dekat pintu masuk, menatap kosong, hampa.

Namien menelan ludah. \"Dia... dia masih di dalam sana,\" katanya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada orang lain.

Sora tidak mengatakan apa-apa. Matanya tertunduk, kepalanya tertunduk. Dia sudah melihat ini. Ia sudah hancur sekali. Dan kini teman-temannya juga merasakannya ketidakberdayaan yang sama dan duka yang sama.

Tak satu pun dari mereka bicara lagi. Mereka tak perlu bicara. Keheningan di antara mereka sudah cukup keras, penuh penyesalan, kegagalan, dan beban atas apa yang telah hilang. Mereka semua menyalahkan diri sendiri.

Dan Kaelith… tetap di tempat tidurnya, menatap menembus mereka, mengulang nama-nama seolah gema dunia yang tak lagi ia tinggali.

Tak ada keajaiban yang bisa mengembalikannya.

Namun sesuatu di dalam diri mereka, di dalam diri mereka semua, berbisik bahwa akan tiba saatnya mereka akan kembali. Saat keadilan sejati akan dipahat di dinding-dinding para tiran yang membiarkan ini terjadi.

Mereka tak akan membiarkannya tetap hancur.

Setelah momen hening dan duka di dalam tenda, ketiga prajurit Vael, Namien, dan Arelan melangkah ke tempat terbuka.

Matahari mulai terbenam, menebarkan bayangan panjang di tanah lapang kamp revolusioner yang usang. Cahaya keemasannya tidak menghangatkan mereka. Cahaya itu hanya memperlihatkan beban yang mereka pikul.

Sepatu bot Vael berhenti tepat di luar penutup tenda. Bahunya naik turun, lalu menegang. Ia mengatupkan rahang dan menatap cakrawala seolah mencoba menemukan sesuatu yang jauh di baliknya. Namun, tak ada cakrawala yang dapat merampas kebenaran.

\"Ini semua salahku,\" gumamnya.

Namien sedikit menoleh. \"Apa?\"

Suara Vael bergetar, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. \"Ini salahku. Aku bersumpah untuk menjadi perisai. Seharusnya aku melindunginya. Aku gagal. Aku mengecewakannya, kalian semua.\"

Namien menggelengkan kepalanya, suaranya getir. \"Jangan bertingkah seolah kau menanggung semua ini sendirian.\"

Ia menunduk menatap tangannya yang penuh luka. “Akulah yang bersuara. Yang membuat kita semua masuk ke dalam lubang penyiksaan itu. Lidahku hampir membuatnya terbunuh. Kelemahankulah yang menempatkannya di sana.”

Arelan belum berbicara. Ia menatap ke depan, tak bergerak, seolah terbuat dari batu. Namun kemudian jari-jarinya berkedut… dan bendungan air matanya itu tak bisa menahannya lagi.

“Aku—” Suaranya tercekat, rendah dan serak. “Aku seharusnya yang menjadi penjaganya.” Kakinya gemetar saat mengucapkannya.

Arelan bersandar di tiang di luar tenda. “Akulah yang selalu berdiri di depan. Yang menahannya. Yang berjalan di depan dengan pedang terhunus.”

Ia membenamkan wajahnya di telapak tangannya. “Dan aku tidak ada di sana.”

Namien menelan ludah dan melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Arelan.

“Dia hancur,” bisik Namien. “Tapi belum hilang seutuhnya.”

Tangan Arelan terkulai, memperlihatkan air mata yang mengalir deras di pipinya, mentah dan tanpa suara.

“Kita semua telah mengecewakannya,” kata Namien. \"Tidak ada satu pun di antara kita yang lebih kuat dari yang lain.\"

Vael berbalik menghadap mereka, pipinya juga basah.

\"Apa gunanya sumpah,\" geramnya pelan, \"kalau aku tak bisa memegang pedang dengan mantap di saat-saat yang paling penting?\"

Suara Namien lirih. \"Bukan sumpah yang kita ingkari... melainkan janji di baliknya.\"

\"Dan itulah yang membuatnya sakit,\" tambah Arelan sambil menyeka wajahnya. \"Bukan sumpah yang diingkari, melainkan kebenaran yang tak bisa kita ubah.\"

Ketiganya berdiri diam, udara di antara mereka terasa berat karena duka yang sama. Di belakang mereka, tenda dokter berkibar pelan tertiup angin sepoi-sepoi, dan di dalamnya, Kaelith tetap tak bergerak, tak mendengar, tak tersentuh oleh kata-kata yang terucap di luar. Namun matahari menjadi saksi semua itu.

Cahayanya yang meredup menjangkau seluruh perkemahan, menyinari tiga prajurit yang patah hati dan hati mereka yang berdarah karena penyesalan.

Dan meskipun mereka tak berbicara lagi untuk saat itu, sesuatu yang tak terucapkan terjadi di antara mereka.

Kegagalan mereka tidak akan berakhir di sini. Di sinilah penebusan mereka akan dimulai.

Setelah momen duka yang sama itu, mereka bertiga itu perlahan berpisah, masing-masing dengan beban yang harus dipikul.

Vael berjalan dalam diam menuju bengkel Feron, sepatu botnya terasa berat di setiap langkah, hatinya semakin berat.

Arelan kembali ke tendanya, bukan untuk beristirahat, melainkan untuk duduk sendirian dalam kegelapan, membiarkan keheningan menyelimutinya bagai baju zirah yang tak lagi melindungi apa pun.

Dan Namien…

Namien duduk sendirian di dekat api unggun, nyala api berkelap-kelip di pantulan matanya yang lelah. Ia menatap api unggun itu bagai cermin. Namun yang ia tunjukkan hanyalah hantu. Hantu-hantu Azure College, sekolahnya, kini lenyap dalam asap dan abu oleh tangannya sendiri.

Wajah mentor lamanya, Solhen, yang telah mengorbankan nyawanya untuk memanggil Bahamuth ketika para naga mayat hidup menyerbu Elarion dalam pertempuran itu. Wajah yang dulu tersenyum penuh kebijaksanaan, kini terkubur dengan damai di bawah tanah yang di mana tempat itu sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.

Namien mengepalkan tinjunya, dan riak kecil sihir bergetar di telapak tangannya, amarah yang berkelap-kelip dan tak terfokus. Ia melepaskannya perlahan, tetapi ketegangan itu tetap ada.

Dan sekarang, pikirnya getir, aku bahkan tak bisa melindungi mereka dari rantai dan memar ini.

Sora, Kaelith, Vael, Arelan yang sudah dianggap keluarga bagi dirinya dan dirinya itu hanya mempunyai keahlian bertutur kata-kata saja, merancang strategi, dan memiliki pandangan ke depan. Tetapi, pandangan ke depan itu tak berarti apa-apa dalam cengkeraman kegagalannya yang fatal kali ini.

Ia begitu tenggelam dalam pikiran itu sehingga ia tak menyadari langkah kaki pelan yang mendekat dari belakang hingga Lyra berbicara.

\"Masih ada sesuatu yang membara di pikiranmu, penyihir?\"

Namien menoleh cepat, terkejut. Itu Lyra, tatapan dinginnya yang biasa hanya melembut oleh cahaya redup api. Lengannya disilangkan, dan jubahnya melilit lebih erat saat angin sepoi-sepoi membelai ujung rambutnya.

Namien tersenyum tipis, getir dan lelah. \"Hanya apa yang seharusnya kubakar lebih awal.\"

Lyra duduk di sampingnya, satu lutut ditekuk sambil menghangatkan tangannya di dekat api. \"Kau tidak terlihat seperti orang yang hanya meratapi kekalahan dalam pertempuran,\" katanya.

\"Apa rencanamu sekarang?\"

Namien terdiam sejenak, lalu menjawab dengan tekad yang perlahan, \"Untuk mencari tahu siapa sebenarnya dalang kegilaan ini. Di balik tirani Jargmund. Di balik apa yang terjadi pada Sora... pada Kaelith. Pada kita semua.\"

Ia menatap api. \"Dan saat aku menemukan mereka...\" Suaranya semakin gelap,

\"Aku akan menghancurkan semua yang mereka bangun menjadi abu. Jika aku harus membakar kerajaan ini hingga ke tulang belulangnya, aku akan melakukannya.\"

Lyra awalnya tidak menjawab dan membiarkan kata-katanya terngiang-ngiang di tengah panasnya. Lalu, dengan ketenangan seseorang yang pernah melihat seseorang yang hampir berjalan yang sama, ia akhirnya berbicara.

\"Aku pernah kenal orang sepertimu.\"

Namien meliriknya dan dia tidak hanya menatapnya, tetapi juga pada api.

\"Dia juga ingin balas dendam. Seorang temannya yang masih hidup namun mati di dalam dirinya, dalam sumpah dan perasaannya itu. Sedangkan teman-temannya yang lain dibawa oleh para penjaga kerajaan ini ke dalam penjara. Dia bersumpah hal yang sama sepertimu untuk membakar semuanya. Untuk membunuh sampai tak tersisa. Dan terlebih lagi, tujuannya untuk balas dendam\"

Dia perlahan menoleh untuk menatap matanya. \"Tapi kemudian dia menyadari bahwa membakar semuanya tidak membawa apa yang dia inginkan dari tujuannya dan sumpahnya kepada mereka yang pernah berjanji dengannya. Itu hanya membuatmu lebih dari seperti mereka. Dan dari situ... dia bertanya pada dirinya sendiri, apa bedanya antara mereka dan aku jika aku melakukan hal itu pada mereka? Tidak masuk akal, bukan? Bukankah hal itu yang mereka inginkan darinya? Melakukan hal yang sama seperti mereka lakukan pada diriku, teman-temanku, atau yang lainnya?\"

Namien merasakan kata-katanya menyentuh sesuatu yang terpendam dalam dadanya. Dia tidak menyela.

Lyra berdiri, membersihkan abu dari jubahnya.

\"Tanyakan pada dirimu sendiri,\" katanya. \"Ketika api telah padam... akankah kau masih menyadari bahwa kau tertinggal berdiri di tengah asap itu?\"

Dan dengan itu, dia berbalik dan berjalan masuk ke tendanya. Namien duduk diam, menatap api. Kata-katanya bergema di dalam dirinya lebih keras daripada seruan perang apa pun. Apakah ia masih Namien sang ahli strategi... atau hanya hantu lain yang menunggu untuk dibakar?

Api berderak pelan saat ia duduk diam, kobaran api menari-nari di wajahnya, mencerminkan perang antara dendam dan tujuan yang kini membara dalam jiwanya.

Sementara Namien tetap di dekat api unggun, diam dan merenung, Vael berjalan menembus malam menuju bengkel Feron.

Tempat itu, yang remang-remang diterangi cahaya lembut bara api dan satu lentera gantung, terasa sunyi hingga irama tangan Feron yang menggosok perkakasnya bergema di udara.

Saat Vael melangkah masuk, Feron tidak menoleh. \"Api bengkel sudah padam untuk malam ini,\" kata Feron tenang, sambil membersihkan jelaga hitam dari palu besar.

\"Kembalilah besok pagi.\"

Awalnya Vael tidak berkata apa-apa, hanya melangkah maju dan meletakkan pedang usang di meja kerja dengan penuh hormat.

Mata Feron tertuju ke arah pedang itu.

Pedang itu dulunya dipegang oleh Komandan Thelan, seorang rekan Borreal di masa lalu. Pedang itu diwariskan dari satu saudara ke saudara lainnya, dari liang kubur ke tangan lainnya, hingga akhirnya diberikan kepada Vael oleh Thramund di Elarion.

Sigil Borreal yang masih samar terukir di gagangnya menarik perhatian Feron. Ia mengalihkan pandangannya dari pedang ke Vael sendiri, memperhatikan lambang yang senada masih menempel di baju zirahnya yang usang.

Feron mundur selangkah dan mengangkat tangannya dengan gestur hormat yang khidmat, sama seperti yang digunakan para prajurit The Profaned Capital.

\"Kepada perisai yang tak pernah berpaling,\" gumamnya.

Vael menundukkan kepalanya pelan sebagai balasan.

\"Kau saudara Thramund?\" tanyanya, setelah hening sejenak.

\"Kau mirip dengannya.\"

Feron berbalik dan membuka pintu besi tungku, perlahan menyalakan kembali api dengan tangan yang terlatih.

\"Kakak tertua,\" katanya. \"Lidah lebih tajam dan rambut lebih bagus darinya.\"

Vael hampir tersenyum. \"Kalau begitu kau tahu pedang apa ini,\" katanya, sambil menunjuk pedang itu. \"Bisakah kau membuatnya seperti seharusnya lagi?\"

Feron tidak menyentuh pedang itu. Sebaliknya, ia mengamati Vael. \"Untuk tujuan apa?\" tanyanya lugas. \"Aku tidak menajamkan baja tanpa tahu apa yang seharusnya dipotong.\"

Vael terdiam sesaat dan menjawab. \"Untuk memenuhi sumpah yang telah diingkari,\" katanya.

\"Untuk memikul beban yang gagal kutahan. Aku ingin pedang itu ditempa ulang... bukan untuk kejayaan, atau balas dendam, melainkan untuk penebusan. Untuknya. Untuk mereka. Dan untuk diriku sendiri.\"

Ekspresi Feron sedikit berubah. Ia mengambil pedang itu dengan hati-hati, menimbangnya di tangannya, lalu mengarahkannya ke arah cahaya redup bengkel.

\"Aku menanyakan pertanyaan yang sama kepada yang lain,\" kata Feron. \"Seorang anak laki-laki dengan mata penuh api. Belum lama ini, ia memintaku menajamkan pedangnya untuk membunuh karena amarah.\"

\"Sora...\" kata Vael pelan.

Feron hanya mengangguk. \"Ia tampak kebingungan saat itu. Aku melempar pedangnya ke tanah. Bertanya kepadanya, Apakah kau menginginkan penebusan... atau keadilan bagi orang-orang ini?\"

Ia berbalik ke arah tungku, menyalakan bara api.

“Ada bedanya, kau tahu itu. Penebusan itu personal dan tentangmu sendiri. Tapi keadilan... keadilan adalah tentang mereka. Mereka yang kau gagalkan. Mereka yang masih punya waktu untuk kau lindungi.”

Vael menurunkan pandangannya, kata-kata itu menusuk tajam.

“Kupikir aku tahu bedanya,” katanya. “Tapi aku tidak tahu ketika sampai di penjara itu. Tidak sampai aku melihat seperti apa yang telah dialami.”

Ia menatap mata Feron. “Kalau begitu, tempalah pedang ini untuk keadilan. Biarkan ia menjadi apa yang selalu dimaksudkannya, seperti sebuah perisai bagi mereka.”

Feron akhirnya tersenyum. “Itulah suara seorang ksatria Borreal yang kukenal,” katanya, dan tanpa sepatah kata pun, ia mengangkat pedang itu ke landasannya.

Suara logam bertemu api, dan irama palu dimulai. Suara Feron menyenandungkan nyanyian rendah, tua dan penuh kenangan.

Sumpah seorang pandai besi untuk Persaudaraan. Vael berdiri dalam diam, membiarkan alunan palu mengingatkannya tentang siapa dirinya dan siapa dia harus menjadi.

Keesokan paginya, istana Jargmund terasa hening dengan cara yang salah. Bukan keheningan damai, melainkan keheningan setelah pesta pora yang berlebihan. Botol-botol rum yang kosong, piring-piring sisa makanan, dan beberapa prajurit yang masih tertidur di sudut-sudut aula adalah saksi bisu dari malam dekadensi yang baru saja berlalu.

Namun, keheningan itu pecah oleh derap langkah sepatu bot baja yang tergesa-gesa. Seorang jenderal dengan pangkat tertinggi, wajahnya keras dan penuh kekhawatiran, berjalan cepat melewati koridor-koridor mewah menuju kamar pribadi Raja Goulash. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu kayu ek yang berat itu hingga terbuka.

Di dalamnya, bau anggur dan parfum yang memuakkan menyambutnya. Goulash tertidur mendengkur di atas tempat tidurnya yang besar, tubuhnya yang gemuk dikelilingi oleh para dayang yang juga tertidur lelap, selimut sutra mereka tersingkap berantakan.

\"Yang Mulia!\" kata sang jenderal, suaranya tajam dan tidak sabar.

Goulash hanya menggumam dalam tidurnya.

\"RAJA GOULASH!\" bentak sang jenderal, kali ini lebih keras. \"Bangun, Paduka! Ada situasi darurat!\"

Goulash akhirnya bergerak. Ia membuka matanya yang bengkak dengan malas, menyipitkan mata pada cahaya pagi yang menyelinap masuk.

\"Berisik sekali...\" gerutunya dengan suara serak dan setengah mabuk. \"Ada apa?\"

\"Penjara telah diserang, Yang Mulia. Para tahanan revolusioner telah kabur. Douglas dan pasukannya bentrok dengan Vorlag di dekat gerbang.\"

Sang jenderal berhenti, menarik napas. \"Anda harus tahu situasi ini lebih jauh. Pertemuan darurat telah diadakan di ruang konferensi. Para jenderal lain dan Kepala Sipir menunggu kehadiran Anda.\"

Goulash menguap lebar, sama sekali tidak terkesan dengan urgensi di suara jenderalnya.

\"Hmm, begitu ya...\" katanya dengan nada mengantuk. \"Baiklah, aku akan datang, tapi...\" ia melirik ke arah para wanita yang masih tertidur di sampingnya,

\"...beri aku waktu sebentar.\"

Mendengar perintah itu, rahang sang jenderal mengeras karena frustrasi, tetapi ia tahu tidak ada gunanya berdebat. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia membungkuk hormat dengan kaku, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan sesegera mungkin.

Dengan gerakan yang sangat lambat, Goulash menurunkan kakinya dari tempat tidur, berhati-hati agar tidak membangunkan para wanitanya. Ia mengenakan jubahnya yang paling mewah, memasang cincin-cincin emas di jari-jarinya yang gemuk, dan menyisir janggutnya yang kotor dengan tangannya. Setelah ia merasa penampilannya cukup seperti seorang raja, ia berjalan keluar, tongkat berliannya berdentang di lantai marmer.

Bersama beberapa stafnya yang tampak sama lelahnya, ia berjalan dengan angkuh menuju ruang konferensi. Saat ia tiba, ia mendorong pintu hingga terbuka dan melihat para jenderalnya serta Kepala Sipir yang babak belur telah menunggunya dengan wajah tegang.

\"Baiklah,\" kata Goulash, sambil menjatuhkan dirinya ke kursi utama di ujung meja.

\"Aku sudah berada di sini. Berikan aku laporan kalian tentang tikus-tikus kecil yang mencoba bermain-main di kerajaanku ini, cepat!\"


Other Stories
Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Ngidam

Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma