Bab Tiga Puluh Empat: Percakapan Dua Wanita Di Tepi Danau
Di markas revolusioner bawah tanah, hiruk pikuk persiapan perang yang sunyi terus berlanjut. Namien yang sibuk memikirkan tentang strategi di atas peta yang usang, Veyla yang mencoba mengatur pergerakan taktis peperangan yang akan datang itu, sementara Feron menempa baja di bengkelnya dengan irama yang mantap untuk mempersiapkan kebebasan mereka yang hanya bisa dihitung mundur oleh waktu saja.
Namun, di dalam keheningan tenda dokter, waktu seakan berhenti. Kaelith yang terbaring di atas ranjangnya dengan matanya terpejam. Napasnya teratur, tetapi itu adalah napas dari sebuah tubuhnya yang bukan dari jiwanya. Di permukaan, ia tampak tertidur, tetapi di dalamnya di dunia yang tak terjangkau oleh teman-temannya sekalipun, ia terjebak.
Di dalam mimpinya, Kaelith duduk di tepi sebuah danau yang luas dan sunyi. Airnya tenang seperti cermin hitam, memantulkan langit kelabu yang tak berujung. Di sampingnya, berdiri sebatang pohon mati yang ranting-rantingnya yang kering dan hitam mencakar udara seperti jari-jari yang putus asa. Ia hanya duduk di sana, memeluk lututnya, matanya terpaku pada satu titik di seberang danau.
‘Apa yang ada di sana? Di tepi ujung danau itu?’
Pertanyaan itu terus berulang di dalam benaknya seperti gema yang tak pernah pudar, sebuah lingkaran tanpa akhir. Ia tidak mencari jawaban dan hanya terus mengulang pertanyaan itu dalam benaknya terus menerus.
Setelah momen yang terasa seperti keabadian, langkah kaki yang lembut terdengar di atas rerumputan di belakangnya.
Sesosok wanita mendekat. Penampilannya begitu elegan dan agung: sebuah mahkota yang ditempa dari baja dan perak menghiasi kepalanya, rambut merahnya yang panjang tergerai seperti api cair, dan gaunnya yang megah seolah ditenun dari cahaya bintang dan malam.
Sosok itu adalah seorang ratu yang tengah menghampirinya yang sedang duduk di ujung danau sambil memikirkan pertanyaannya yang berulang-ulang.
Kaelith tidak menoleh dan ia tidak peduli dengan kehadirannya yang menghampirinya itu karena dunianya kini hanyalah sebatas apa yang ia lihat di hadapannya, danau dan pertanyaannya yang tak berujung itu.
Wanita itu duduk dengan anggun di samping Kaelith, gerakannya tidak mengusik keheningannya dan wanita itu menatap ke arah yang sama dengan Kaelith memandang.
\"Apa yang sedang kau lihat di sana?\" tanya wanita itu dengan suaranya tenang seperti permukaan danau itu sendiri.
Kaelith tidak menjawab pertanyaannya hingga membuat wanita itu tersenyum tipis yang melihat tidak ada reaksi dari Kaelith sama sekali hingga, wanita itu memperkenalkan dirinya.
\"Namaku Calyra Flamearrow. Dan aku rasa, busur yang selalu kau bawa itu mengenaliku dan aku adalah pemilik pertamanya. Aku selalu tahu tentang dirimu, Kaelith.\" Katanya dengan lembut.
Masih tidak ada jawaban dari Kaelith yang terus menatap tepi danau. Calyra tidak menyerah ketika dirinya melihat Kaelith tak membalas atau memerhatikannnya itu hingga ia bertanya lagi, kali ini suaranya lebih personal.
\"Ceritakan padaku tentang anak laki-laki itu yang punggungnya selalu kau jaga dari belakang. Mengapa kau mengikutinya?\"
Mendengar hal itu, sesuatu di dalam diri Kaelith akhirnya tergerak. Kekosongan di matanya sedikit bergetar dan ia menoleh ke arah Calyra itu dan saat ia menatap wanita di sampingnya, ia terkejut. Wajah Calyra kini adalah cerminan dari wajahnya sendiri. Dua pasang mata biru yang telah melihat terlalu banyak kesedihan kini saling menatap.
\"Namanya Sora.\" Jawab Kaelith dengan suaranya yang dingin dan datar saat menatap Calyra yang memerhatikannya itu.
Kaelith mulai bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Sora yang penuh ancaman dan kewaspadaan.
Tentang bagaimana Vael dan Namien bergabung dengannya dan Sora hingga membentuk sebuah kelompok yang aneh.
Lalu, suaranya sedikit menghangat saat Kaelith mulai menceritakan momen-momen di mana ia melihat Sora yang pendiam itu berulang kali melangkah maju untuk melindungi mereka semua dan dirinya yang bahkan dengan mengorbankan nyawanya sendiri untuk melindungi.
Sejak saat itu, Kaelith merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya takut sekaligus memberinya kekuatan.
Calyra yang mendengarkan cerita Kaelith itu dengan penuh kesabaran mulai bertanya lagi mengenai ceritanya itu.
\"Dan... apa perasaanmu terhadapnya, Kaelith?\"
Kaelith terdiam sejenak, menatap kembali ke danau.
\"Aku tidak tahu, tetapi... aku tahu bahwa jika aku melihatnya hilang dari pandanganku, hatiku pasti akan hancur.\" Jawabnya dengan jujur.
Calyra tersenyum lembut mendengar jawaban itu.
\"Itulah yang namanya cinta, rasa takut akan kehilangan seseorang yang melindungimu dan dari keinginan yang tak terbendung untuk melakukan apa pun demi melindunginya bahkan dari belakang untuk menjadi bayangannya, bahkan jika ia tidak pernah memintanya.\" Bisiknya.
Dua wanita yang satu seorang pemanah dari dunia yang hancur dan yang satu lagi arwah seorang ratu dari masa yang terlupakan duduk di sana, saling berbagi cerita dalam keheningan alam mimpi.
Dan percakapan itu, seperti riak air di danau, mulai mengubah sesuatu di dalam diri Kaelith, mempersiapkannya untuk kebangkitan yang akan datang.
Dua wanita itu kini duduk berdampingan di tepi danau yang sunyi, cerminan dari jiwa mereka terpantul di atas air yang gelap. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang penuh dengan pemahaman.
Ratu Calyra Flamearrow, setelah mendengar pengakuan Kaelith yang menyakitkan, kini menatap ke kejauhan, seolah menarik kenangan dari dasar danau itu sendiri.
\"Cinta yang kau rasakan, aku juga pernah merasakannya. Sama sepertimu, lahir dari abu dan penderitaan.\" Kata Calyra yang suaranya lembut seperti bisikan angin.
Untuk pertama kalinya, Kaelith tidak menatap ujung danau lagi yang tak bertepi itu. Ia menoleh, wajahnya yang kini tertarik pada sosok Ratu di sampingnya, tertarik pada gema kesedihan yang ia rasakan dalam suara itu. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar ingin mendengarkan cerita orang lain.
Calyra memulai ceritanya dengan matanya menerawang kepingan-kepingan memori yang penuh kenangannya itu.
\"Aku tidak tahu untuk tujuan apa aku dilahirkan di dunia yang rusak ini. Aku tidak pernah mengenal kedamaian. Sejak aku bisa berjalan, aku hanya mengenal wabah, kutukan, dan kelaparan. Aku tinggal di desa-desa yang putus asa, berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang sama-sama hancur.\"
\"Saat aku baru berusia lima tahun, aku sudah melihat semua yang seharusnya tidak pernah dilihat oleh seorang anak. Aku melihat kegilaan manusia saat mereka memperebutkan sepotong roti busuk. Aku melihat kematian saat wabah mengambil tetanggaku dalam tidur mereka. Dan ya... aku bahkan melihat pengkhianatan, seorang ayah yang menjual anaknya sendiri hanya untuk beberapa koin tembaga.\" Lanjutnya dengan suaranya sedikit bergetar.
Calyra berhenti sejenak, menatap danau dengan tenang, membiarkan kenangan pahit itu lewat.
\"Aku dipaksa untuk bertahan hidup dalam kondisi itu. Mencuri, bersembunyi, dan melupakan cara untuk percaya pada siapa pun. Hingga aku berusia tujuh belas tahun, saat dunia terasa seperti sudah di ambang ajalnya.\"
\"Di hari itu, sebuah keajaiban datang. Pasukan besar dari kerajaan The Profaned Capital, yang dipimpin oleh pangeran mereka, melewati desa kami yang kumuh. Penduduk desa, seperti biasa, langsung berlutut, mengemis makanan dan uang untuk bisa bertahan hidup satu hari lagi.\" Kata Calyra yang ceritanya itu memiliki secercah cahaya muncul di matanya.
\"Tetapi pangeran itu... ia berbeda. Aku melihatnya dari kejauhan. Ia duduk tenang di pangkuan kudanya yang berwarna putih elegan itu, dan alih-alih menunjukkan kejijikan, ia justru memberi perintah kepada jenderalnya untuk memberikan apa pun yang mereka miliki kepada kami. Stok suplai mereka, bahkan sebagian dari uang mereka untuk warga desa.\"
\"Saat itu, semua penduduk desa menangis, mengucapkan terima kasih kepada pangeran itu. Dan saat itulah, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat seorang pria dengan hati yang begitu murni di tengah dunia yang begitu rusak ini. Seseorang yang masih peduli untuk menyelamatkan manusia lain dari penderitaan mereka.\"
Calyra terdiam, senyum tipis terukir di bibirnya. \"Dan di satu momen setelah itu, di tengah keramaian itu, pangeran itu menatapku yang mengintipnya dari balik tembok hampir runtuh. Ia turun dari kudanya, mendekatiku, dan bertanya dengan suara yang lembut, \'Apakah kau sudah makan hari ini?\'\"
\"Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dengan pelan, terlalu terkejut untuk berbicara pada awalnya. Namun pada akhirnya aku berkata padanya bahwa aku sudah tiga hari tidak makan apa pun. Tepat saat aku selesai berbicara, perutku berbunyi dengan sangat keras di depannya, membuat wajahku memerah karena malu.\"
\"Ketika ia mendengar perutku yang berbunyi, ia tidak tertawa. Ia hanya tersenyum, lalu memberiku sebuah apel dari kantongnya. Untuk pertama kalinya, aku tertegun. Lalu ia berkata kepadaku, \'Ambillah. Kau lebih membutuhkannya daripada aku.\'\"
Calyra menoleh ke Kaelith, dan kini air mata samar berkilauan di matanya. \"Dan sejak saat itu... aku jatuh cinta pada pangeran itu. Jauh sebelum aku menjadi istrinya, jauh sebelum aku menjadi ratunya yang menemaninya kelak di sampingnya yang nantinya ia menjadi seorang raja dari kerajaannya itu.\"
Kaelith menyimak setiap kata dari cerita Calyra dengan napas tertahan. Ia melihat gema dari ceritanya sendiri pertemuan pertama dengan Sora yang penuh kecurigaan, momen berbagi makanan yang sederhana namun mengubah segalanya.
Ia merasakan resonansi yang kuat, sebuah ikatan tak terlihat yang terjalin antara dirinya dengan Ratu Calyra dari masa lalu ini.
Kaelith ingin terus mendengarkan kisahnya yang ingin tahu lebih banyak. Sementara itu, Ratu Calyra berhenti sejenak dengan mengalihkan pandangannya kembali ke seberang danau, ke titik yang sama dengan Kaelith perhatikan dengan penuh tanya, seolah di sanalah sisa dari ceritanya menunggu untuk diungkapkan.
Ratu Calyra Flamearrow, yang sejak tadi berhenti sejenak dan memandang ujung tepi danau yang berkabut, kini mengalihkan pandangannya yang bijaksana ke arah wajah Kaelith. Sebuah senyum tipis yang penuh dengan kenangan terukir di bibirnya.
\"Setelah aku menerima apel itu, seorang jenderal memanggil pangeran itu dan mengatakan bahwa mereka harus bergegas melanjutkan perjalanannya. Sebelum pergi, pangeran itu menatapku sekali lagi, matanya yang biru setajam baja namun penuh dengan kebaikan.\" Lanjutnya dengan suaranya tenang seperti riak air itu.
\"Dia berkata kepadaku, \'Teruslah bertahan hidup, bahkan jika dunia ini sudah hancur. Dan jangan pernah meragukan bahwa di dunia ini tidak ada kebaikan. Percayalah padanya, bahkan jika itu hanyalah secercah cahaya yang paling kecil sekalipun.\' Kata-kata itu... adalah pertama kalinya seseorang memberiku harapan.\"
\"Kemudian, pangeran itu berjalan ke arah kudanya dan memimpin pasukannya pergi, menuju tujuan yang tidak ia sebutkan kepada kami. Aku hanya bisa menatapnya pergi, menggenggam apel itu erat-erat seolah itu adalah permata paling berharga di dunia.\" Calyra melanjutkan ceritanya.
\"Selang beberapa hari kemudian, saat aku sedang menjelajahi hutan yang cukup jauh dari desaku untuk mencari makanan yang tersisa, tiba-tiba aku mendengar suara ringkikan kuda yang berlari tak menentu ke arahku. Seketika, aku bersembunyi di balik semak-semak yang lebat. Betapa terkejutnya aku saat mengenali kuda putih elegan yang sama, yang ditunggangi oleh pangeran itu.\"
\"Dan di atas pelananya, aku melihat seseorang yang hampir mati. Pangeran itu, tak sadarkan diri, dengan darah membasahi hampir seluruh tubuhnya. Kuda itu akhirnya berhenti saat pohon-pohon hutan menghalangi jalannya, ia tampak kelelahan dan ketakutan.\"
Suara Calyra sedikit bergetar membuatnya berhenti sejenak, ia menoleh ke Kaelith yang kini sepenuhnya tenggelam dalam ceritanya, lalu ia melanjutkan.
\"Aku langsung keluar dari tempat persembunyianku dan mendekati kuda itu. Aku melihat pangeran itu terluka sangat serius, tubuhnya dipenuhi sayatan pedang dan bekas cakaran yang tidak masuk akal. Tanpa berpikir panjang, aku menaiki kuda itu untuk pertama kalinya dalam hidupku dan mencoba membawanya kembali ke desaku untuk kurawat.\"
Ratu Calyra tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti denting lonceng yang telah lama hilang.
\"Dan aku, yang tidak pernah tahu cara mengendarai kuda, terus-menerus menarik tali kekangnya ke arah yang salah. Kuda itu terus meringkik frustrasi karena aku tidak bisa menuntunnya melewati jalan setapak yang sempit. Entah bagaimana, dengan keajaiban atau keberuntungan, kami akhirnya sampai di desaku.\"
\"Aku membawanya ke dalam gubukku yang hampir roboh itu,\" lanjutnya, kini dengan nada yang lebih serius.
\"Aku mencoba segala cara yang kubisa. Aku membersihkan lukanya, menutupi bekas sayatan itu dengan obat-obatan herbal yang kupunya, dan merobek kain bajuku sendiri untuk menjadi perbannya setelah dengan susah payah aku melepaskan zirahnya yang berat.\"
\"Dan sejenak setelah selesai mengobatinya, saat ia terbaring di sana... aku terpana akan pesonanya. Wajahnya yang begitu tampan, bahkan dengan luka dan darah, sangat kontras dengan diriku yang lusuh dan kotor. Saat itulah aku sadar akan strata kami. Dia adalah seorang bangsawan yang terhormat, pewaris sebuah ibu kota yang megah. Sedangkan aku... aku hanyalah seorang gadis yatim piatu dari desa yang terlupakan, yang bahkan tidak tahu dari mana aku berasal.\"
Ratu Calyra berhenti lagi dalam ceritanya. Kali ini, ia memejamkan matanya cukup lama, seolah sedang menghidupkan kembali sebuah kenangan yang sangat berharga.
Kaelith, yang mendengarkan dengan napas tertahan, melihat sang ratu terdiam.
\"Ada apa?\" tanyanya pelan.
Seketika, Ratu Calyra tersadar dari lamunannya. Ia membuka matanya, dan di dalamnya ada kehangatan yang belum pernah Kaelith lihat sebelumnya.
\"Tidak, aku hanya butuh waktu sebentar untuk mengingat memori yang begitu hangat setelah semua penderitaan itu.\" Jawabnya dengan senyum lembut.
Ia berhenti sejenak, mengumpulkan pikirannya, sebelum kembali melanjutkan ceritanya yang akan mengubah segalanya.
\"Beberapa hari berselang, pangeran itu terbangun dengan batuk-batuk. Aku pada saat itu hanya menatap api unggun yang kubuat dalam gubukku untuk menghangatkan diriku dan dia. Aku terkejut melihat pangeran itu sudah siuman dari pingsannya yang selama beberapa hari itu.\"
\"Pangeran itu kaget mendapati dirinya saat ini di mana dan mencoba menggerakkan tubuhnya yang sudah kuobati itu. Dengan sigap, aku menghampirinya dan mencoba menenangkannya sambil berkata dengan pelan dan lembut kepadanya, \'Jangan banyak bergerak agar lukamu tidak terbuka kembali.\'\"
\"Pangeran itu melihatku dan berusaha untuk tenang di kondisinya itu. Ia merebahkan kembali badannya itu dan bertanya padaku siapakah aku dan di mana keberadaannya sekarang ini. Aku menjawab pertanyaannya dengan pelan dan menyebutkan namaku dan mengatakan ia berada di desa yang beberapa hari sebelumnya ia selamatkan dengan membagikan beberapa suplainya dan hartanya itu.\"
\"Pangeran itu sekejap bertanya lagi kepadaku setelah mengetahui sesuatu, \'Bukankah engkau gadis yang kuberikan apel itu?\' Aku hanya bisa mengangguk pelan terhadap jawabannya itu dan ia berkata lagi dengan nada pelan dan lega, \'Terima kasih telah menolongku, dan jasamu tak akan kulupakan.\'\"
Ratu Calyra hanya bisa tersenyum ketika mengingat momen itu, seakan itu masih terasa baru kemarin saja terjadi.
Calyra melanjutkan ceritanya lagi,
\"Aku yang mendengarkan perkataannya yang tulus itu langsung membuat jantungku terasa berdegup kencang ketika ia berterima kasih kepadaku. Pangeran itu berkata lagi kepadaku, \'Namaku Lysander Thorne. Aku harap kau bisa mengingatku, Calyra.\' Aku yang saat itu hanya bisa menundukkan kepalaku saja sambil menyembunyikan ekspresiku darinya yang lusuh itu. Aku berusaha untuk tidak menatapnya terlalu lama, yang di mana pada saat itu aku takut dia merasa jijik melihat tampangku yang lusuh itu.\"
\"Lysander berkata kepadaku, \'Ada apa? Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu tak nyaman?\' Seketika aku menjawabnya dengan pelan, \'Tidak, hanya saja aku merasa malu dengan kondisiku yang hanya bisa mengobatimu seperti ini, Yang Mulia.\' Lysander yang mendengarkan perkataanku ini membuatnya terdiam dan mengatakan, \'Aku tetap akan berterima kasih kepada seseorang yang telah menyelamatkan nyawaku. Dan itu cukup bagiku untuk menghormatinya sebagai penyelamat.\'\"
Ratu Calyra kini tersenyum ketika hendak melanjutkan ceritanya itu,
\"Dan aku pada saat itu terpesona sekali lagi terhadapnya. Karena aku tidak pernah menemui bangsawan yang sepertinya itu selama hidupku, dengan kondisi dunia yang hancur seperti ini sekalipun.\"
Calyra menghentikan ceritanya itu dan mengingat-ingat lagi memori itu yang terasa sangat hangat dan nyata, seakan-akan kemarin baru saja terjadi.
Kaelith mengerti mengapa ia tersenyum juga, karena Kaelith juga merasakan hal yang sama seperti yang Calyra rasakan saat ini.
Ratu calyra melanjutkan ceritanya lagi setelah merasakan memorinya yang telah menjadi kenangan tersendiri baginya.
\"Beberapa minggu setelahnya, aku merawat pangeran itu dengan mencari makanan yang susah kudapati dan mengganti perbannya ketika lukanya kembali terbuka. Hingga pada akhirnya, pangeran itu merasa dirinya cukup merepotkan diriku dan merasa fisiknya kini jauh lebih baik dari sebelumnya, hendak pergi meninggalkan gubukku.\"
Ratu Calyra diam sebentar dan mencoba untuk tidak meneteskan air matanya itu hingga Kaelith bertanya kepadanya,
\"Apa yang terjadi? Apakah kamu kehilangannya?\"
Ratu Calyra dengan pelan membersihkan air matanya yang hendak menetes itu menjawab,
\"Tidak, hanya saja itu adalah momen yang mengharukan bagiku. Bolehkah aku melanjutkan ceritaku?\"
Kaelith mengangguk pelan dan dengan seksama mendengarkan kembali cerita Calyra itu dan Ratu Calyra melanjutkan ceritanya,
\"Aku yang melihat dirinya telah bangun dan berdiri sepenuhnya tengah mengemasi barang-barangnya itu, dan aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya apakah ia akan meninggalkan desa ini. Lysander menjawab, \'Ya, namun aku tidak akan berjalan sendiri dalam perjalananku.\' Aku yang pada saat itu hanya bisa menatapnya kebingungan, dan Lysander melihat ekspresiku itu, tertawa dan mengatakan, \'Aku akan mengajakmu ke kerajaanku dan aku ingin memberi imbalan kepadamu setelah apa yang kamu lakukan terhadapku. Dan itu adalah cara seorang ksatria dari The Profaned Capital kepada penyelamatnya.\'\"
\"Aku yang bisa mendengar perkataannya yang sambil tertawa dan tersenyum itu membuatku terdiam seperti patung, dan aku mulai membayangkan cemoohan rakyat kerajaan bila mendapatiku bersama pangerannya itu dan mulai membuat gosip yang akan menjadi masalah internal keluarga kerajaannya itu. Aku hanya tertunduk lesu dan tidak bisa mengatakan tidak karena aku rakyat sipil yang tak tahu asal-usulku sendiri.\"
Ratu Calyra berhenti dan menarik napasnya,
\"Dan kami melakukan perjalanan menuju kerajaan The Profaned Capital hingga memasuki gerbang besi besar itu dan melewati pemukiman warga setempat menuju kastil.\"
Calyra tersenyum sejenak dan melanjutkannya lagi,
\"Dan dugaan yang selama ini kubayangkan semuanya salah. Semua warga di sana sangatlah ramah, dan mereka menyapa kami seakan-akan Lysander bukanlah bangsawan yang angkuh, namun ia dikenal dalam hati rakyat hingga ada satu warga yang mengenalnya menghampiri kami dan memarahi Lysander karena ia tak berkunjung ke kedainya itu.\"
\"Lysander hanya bisa tertawa kecil dan mengucapkan maaf kepadanya karena kesibukannya itu, namun warga itu tertawa mendengar jawabannya dan mengatakan, \'Jangan sampai mati dulu sebelum mampir ke kedainya itu.\' Lysander hanya mengacungkan sebuah isyarat jempol tangannya di atas untuk mengatakan \'ok\'.\"
Ratu Calyra berhenti sejenak dan hanya bisa tertawa kecil dan tersenyum setelah itu, dan Kaelith bertanya lagi kali ini,
\"Apa lagi?\"
Calyra hanya menjawab, \"Kau tahu, apa yang akan kamu bayangkan jika bertemu seorang raja yang kelak menjadi ayah mertuamu nanti?\"
Kaelith tidak bisa menjawab pertanyaan itu, dan Calyra hanya bisa tertawa kecil dan tersenyum ketika mengingat kenangannya itu.
Ratu Calyra tertawa kecil mengingatnya, lalu senyumnya memudar. \"Tetapi ketakutanku yang sebenarnya menanti di balik gerbang istana. Pertemuan dengan seorang raja. Ayahnya.\"
Kaelith yang masih duduk memeluk lututnya, matanya menatap pantulan kelabu di permukaan air danau yang tenang. Di sampingnya, Ratu Calyra tersenyum tipis, seolah sedang melihat sesuatu yang jauh lebih indah daripada langit mendung di alam mimpi itu.
\"Kau sebelumnya bertanya tentang keberanian, Kaelith. Keberanian bukan hanya saat kau menarik tali busurmu untuk membunuh musuh. Keberanian terbesar adalah saat kau berani membuka hatimu untuk seseorang, meski kau tahu dunia ini bisa merenggutnya kapan saja.\" Kata Calyra dengan lembut yang jarinya menyentuh permukaan air hingga menciptakan riak yang perlahan mengubah bayangan di danau menjadi sebuah gambaran masa lalu.
Air danau seketika bergetar dan kabut di sekitarnya mulai membentuk sebuah adegan. Bukan lagi danau yang sunyi, melainkan sebuah gubuk tua yang diterangi api unggun.
Adegan berubah cepat, seperti halaman buku yang dibalik oleh angin. Kaelith melihat gadis lusuh itu kini berada di istana megah, berdiri canggung di hadapan seorang Raja yang bijaksana, Raja Thorne. Namun, yang paling menarik perhatian Kaelith bukanlah kemegahan istana itu, melainkan cara sang Pangeran menatap gadis itu.
\"Aku takut, aku takut karena aku hanyalah seorang gadis yang tak mempunyai apapun dan tinggal di tempat kumuh. Tapi, Raja Thorne... dia tidak melihat asal-usulku. Dia melihat nyala api yang sama sepertimu.\" Lanjut Calyra.
Bayangan di air danau bergeser lagi ke sebuah taman di malam hari. Kaelith melihat Lysander dan Calyra berdiri di bawah sinar bulan. Tidak ada pedang, tidak ada baju zirah.
Hanya seorang pria yang berlutut di hadapan wanita yang dicintainya. Di tangannya bukan cincin berlian, melainkan sebuah apel merah yang sederhana.
Kaelith mendengar suara Lysander dari ingatan itu, samar namun jernih: \"Apakah kau bersedia menjadi pasanganku? Bersama apel ini, yang menjadi awal pertemuan kita, aku menyerahkan hatiku.\"
Calyra di samping Kaelith tertawa pelan, tawa yang terdengar rapuh namun bahagia. \"Terlihat sangat tidak masuk akal, bukan? Seorang pangeran melamar dengan sebuah apel. Tapi bagiku, itu lebih berharga dari seluruh emas yang berada dan dimiliki di kerajaan The Profaned Capital.\"
Adegan terakhir muncul di permukaan air. Sebuah gereja istana yang megah. Lonceng berdentang riang.
Anvil, sang penempa besi legendaris, tertawa terbahak-bahak di barisan depan, sementara Raja Thorne tersenyum bangga. Lysander dan Calyra berdiri di altar, mengucapkan janji suci mereka.
\"Dalam suka dan duka, hingga akhir hayat memisahkan.\"
Itu adalah momen kebahagiaan murni. Sebuah bukti bahwa di dunia yang hancur dan kejam sekalipun, cinta bisa tumbuh mekar, melampaui status, melampaui perang, dan melampaui ketakutan.
Bayangan di air danau perlahan memudar, kembali menjadi cermin hitam yang sunyi. Lalu, Calyra menoleh ke arah Kaelith yang matanya bersinar dengan kebijaksanaan dan dipenuhi oleh rasa yang begitu menyedihkan di satu sisi lainnya.
\"Aku menceritakan ini kepadamu bukan untuk memamerkan apa yang terjadi di masa laluku, Kaelith. Tapi, hal ini untuk memberitahumu satu hal yang terpenting untukmu yang kau tinggalkan saat ini.\"
Kaelith akhirnya menatap mata sang Ratu.
\"Apa itu?\" suara Kaelith yang terdengar parau dengan keheranan saat mendengar pertanyaan dari Calyra kepadanya.
\"Bahwa rasa sakit yang kau rasakan sekarang... adalah bukti bahwa kau pernah memiliki sesuatu yang nyata dan kau hancur karena kau peduli. Hal itu...\" Calyra menyentuh dada Kaelith tepat di mana jantungnya berdetak,
\"Hal itu yang membuatmu tetap menjadi seorang manusia yang seutuhnya. Karena aku dan Lysander... kami memiliki waktu yang begitu singkat. Perang merenggutnya dariku, dan akhirnya merenggutku juga. Tapi, aku tidak pernah menyesali satu detik pun saat aku memilih untuk tetap mencintainya.\"
Calyra kini mendekatkan wajahnya dengan tatapannya menembus kekosongan di mata Kaelith saat menatapnya.
\"Kau memiliki seseorang yang menunggumu di luar sana, bukan? Seseorang yang pendiam, namun teriakannya untukmu lebih keras dari siapa pun. Seseorang yang rela menghadapi monster sendirian hanya untuk memberimu waktu bernapas.\"
Sektika wajah Sora terlintas di benak Kaelith. Bayangan Sora yang babak belur, berdiri di hadapannya saat menyelamatkannya itu dengan tangannya yang terasa hangat ketika tanggannya menggenggam tangan Kaelith kini yang berada di tenda medis.
\"Jangan biarkan dirinya berjuang sendirian, Kaelith. Bangunlah, karena cintamu saat ini yang kau rasakan begitu layak untuk diperjuangkan, bahkan di dunia yang hancur saat ini.\" Bisik Calyra yang sosoknya mulai memudar menjadi kabut seperti mimpi yang harus berakhir saat fajar tiba.
\"Tunggu...\" Kaelith mencoba meraih tangan Calyra, tetapi ratu itu telah menghilang, menyisakan riak di air danau dan gema lonceng pernikahan yang samar.
Di dunia nyata, di dalam tenda dokter yang sunyi, jari Kaelith yang berada di dalam genggaman Sora berkedut pelan.
Sebuah air mata tunggal menetes dari sudut mata Kaelith yang masih terpejam, jatuh membasahi punggung tangan Sora yang tertidur di sampingnya.
Dan sontak Kaelith terbangun dari tidurnya dengan mengatur napasnya yang tak beraturan itu melihat dirinya berada di suatu tempat yang tak dikenalinya itu. Namun, Kaelith mendapati dirinya bersama Sora yang sedang tertidur di sampingnya dalam keadaan duduk di samping ranjangnya yang menggenggam tangannya dan busur miliknya itu berada di sampingnya.
Di dalam kegelapan pikirannya, sebuah cahaya kecil mulai menyala kembali. Bukan karena ia telah melupakan rasa sakitnya, tetapi karena ia ingat... bahwa dirinya memiliki alasan untuk kembali tetap hidup walau kehidupannya itu terasa begitu tak adil terhadap dirinya.
Namun, hal itu yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup setelah apa yang terjadi kepadanya dan orang yang menggenggam tangannya di sebelahnya yang menunggunya untuk terbangun sambil tertidur, Sora yang senantiasa menunggunya untuk terbangun dari katatoniknya itu.
Sora yakin bahwa Kaelith akan kembali walau seberapa berat apa pun halangan yang menjadi tantangannya. Sora akan selalu berusaha menemaninya bahkan melindunginya.
Di depan meja strategi yang hanya diterangi oleh satu lentera minyak yang berkedip-kedip di tengah-tengahnya, Namien Solis masih menatap sketsa kasar bendungan yang baru saja diberikan Lyra kepadanya.
Jari telunjuk Namien mengetuk-ngetuk peta itu yang menandakan sebuah ritme tidak sabar namun penuh dengan perhitungannya.
\"Kau sadar apa yang sedang kau pikirkan itu adalah definisi dari kegilaan, bukan?\" suara Lyra memecah keheningan, matanya menyipit tajam menatap penyihir itu.
Namien tidak langsung menoleh. Ia hanya menyeringai tipis, seringai yang tidak mencapai matanya.
\"Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang kali dan mengharapkan hasil yang berbeda, Nona Vesperia. Mengirim prajurit kita satu per satu untuk melawan Vorlag dengan pedang dan perisai... itu baru kegilaan dan sebuah tindakan bunuh diri lebih tepatnya.\"
\"Tapi menenggelamkan kota?!\" desis Lyra yang suaranya tertahan agar tidak membangunkan seluruh kamp, namun sarat dengan kemarahannya.
\"Rencanamu bukan hanya membunuh Vorlag. Kau berencana menjebol bendungan itu sendiri dan membanjiri seluruh kerajaan Jargmund. Kau akan menghancurkan kerajaan ini beserta isinya hanya untuk satu orang saja?!\"
Namien akhirnya menegakkan tubuhnya, memutar badannya menghadap Lyra. Wajahnya yang masih lebam akan sisa penyiksaan di penjara kini menujukkan wajahnya tampak serius dan tanpa jejak humor yang biasa ia perlihatkan.
\"Mari kita bicara fakta di lapangan, Lyra.\" Kata Namien dengan nadanya santai namun dingin, seolah sedang mendiskusikan sebuah hal yang masuk akal untuk dibahas.
\"Kita semua sudah melihatnya dengan mata sendiri. Sora bocah pendiam yang memiliki kekuatan rune kuno, dihajar sampai hampir mati oleh Vorlag. Douglas seorang veteran perang dengan pengalaman puluhan tahun, ditebas kepalanya layaknya boneka jerami olehnya juga. Vorlag bukanlah seorang manusia. Dia adalah bencana alam yang berjalan dengan dua kaki dan tidak ada pedang yang bisa menembus kulitnya cukup dalam, juga tidak ada sihir biasa yang bisa menghentikannya.\"
Namien melangkah mendekat ke arah meja dan menatap tajam ke mata Lyra.
\"Jadi, katakan kepadaku, Lyra. Apa yang bisa mengalahkan seseorang atau monster yang selevel dengan bencana alam itu sendiri?\"
Lyra terdiam seribu bahasa.
Ia hendak ingin menjawab pasukan dan ingin menjawab sebuah strategi, tetapi bayangan Vorlag yang berdiri tegak di depan gerbang penjara sebelumnya itu yang tak tersentuh dan tak tergores, membungkam semua argumennya. Tidak ada jawaban yang logis untuk mengalahkan Vorlag saat ini.
Melihat keterdiaman Lyra, Namien hanya bisa tersenyum pahit.
\"Tidak ada, kan?\" Namien menjawab pertanyaannya sendiri.
\"Kecuali... bencana alam itu sendiri.\"
Namien berbalik kembali ke peta, menunjuk gambar bendungan itu dengan tegas.
\"Hanya kekuatan alam yang bisa menandingi monster seperti dia. Air tidak peduli seberapa kuat ototmu. Air tidak peduli seberapa cepat refleksmu atau seberapa tebal zirahmu. Jutaan galon air yang dilepaskan dari ketinggian itu akan menghantam dengan kekuatan ribuan ton. Pertanyaannya bukan apakah hal itu kejam atau tidaknya melainkan pertanyaannya adalah: Apakah Vorlag, sang Anomali Daging dan Tulang itu bisa menahan napasnya saat ia berhadapan dengan gelombang air yang mengarah kepadanya dan ditenggelamkan oleh kekuatan alam itu?\"
Lyra menatap Namien dengan tatapan tidak percaya, bercampur dengan rasa muak. Ia melihat sosok di hadapannya bukan lagi sekadar penyihir yang sarkastis, melainkan seseorang yang bersedia melakukan hal yang tak terpikirkan oleh seorang manusia itu sendiri.
\"Kau...\" suara Lyra bergetar karena marah,
\"Kau benar-benar seorang iblis.\"
Namien hanya mengangkat bahu, seolah pujian dan hinaan tidak ada bedanya baginya saat ini.
\"Aku menyesal,\" kata Lyra yang suaranya penuh penekanan.
\"Aku menyesal telah memberikan informasi itu kepadamu. Aku memberimu peta untuk jalan keluar, bukan cetak biru untuk pembantaian massal.\"
Tanpa menunggu jawaban Namien, Lyra berbalik dengan hentakan kaki yang keras, menyingkap tirai tenda dengan kasar dan melangkah keluar ke dalam malam yang dingin, meninggalkan Namien sendirian dengan rencananya.
Sepeninggal Lyra, Namien kembali menatap peta bendungan itu. Cahaya lentera membuat bayangannya di dinding tenda tampak memanjang dan terdistorsi, menyerupai monster.
Namien menghela napas panjangnya dengan bahunya merosot karena beban yang ia pikul sendirian saat ini. Namien tahu Lyra benar akan argumennya dan mengapa Lyra menolak usulannya itu. Ia tahu rencana ini gila, kejam, dan mungkin tak termaafkan, tapi saat Namien melirik ke arah tenda medis yang di mana tempat Sora dan Kaelith terbaring dalam keadaan hancur itu, membuat ekspresi Namien mengeras.
\"Seseorang harus menjadi monster untuk mengalahkan monster lainnya demi melindungi apa yang dimilikinya. Bukankah begitu, pak tua cerewet.\" Bisiknya kepada ruang kosong di tenda itu.
Namien menggulung peta itu perlahan. Ia siap. Ia akan mempresentasikan rencana ini kepada Silas, Veyla, dan yang lainnya saat fajar menyingsing. Ia siap menerima kebencian mereka, asalkan itu berarti tidak ada lagi teman-temannya yang harus mati di ujung tombak Vorlag.
Jika Jargmund harus tenggelam agar mereka bisa selamat, maka Namien Solis akan dengan senang hati menjadi orang yang membuka pintu airnya.
Other Stories
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Fatimah (Fafa), seorang gadis kota yang lebih akrab dengan diskon skincare daripada kitab ...