The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
930
Votes
0
Parts
46
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Tiga Puluh Tujuh: Harga Yang Harus Dibayar Oleh Air

Suasana di dalam tenda komando terasa begitu padat hingga menyesakkan dada. Veyla, dengan kedua tangan bertumpu pada meja strategi, menatap satu per satu wajah yang mengelilinginya. Ia menarik napas dalam, sebelum akhirnya menyebutkan satu nama yang menjadi mimpi buruk bagi setiap pemberontak di ruangan itu.

\"Vorlag,\" ucap Veyla, suaranya berat dan serius. \"Dia adalah penghalang terbesar kita. Dinding istana Goulash bisa dihancurkan dengan mudah, pasukannya? Bisa dikalahkan dengan kekuatan yang kita miliki saat ini. Tapi, selama monster itu berdiri di depan gerbang istana, kita tidak akan pernah bisa menyentuh atau melangkahkan kaki ke arah Goulash.\"

Keheningan menyelimuti tenda itu. Tidak ada yang membantah dan bayangan tentang sosok Vorlag sang Anomali Daging dan Tulang itu yang tak mempan oleh perlawanan sekuat 1.000 orang yang membuat nyali para perwira manapun membuatnya ketakutan.

Veyla kemudian menoleh ke arah Namien, yang berdiri santai sambil bersandar pada tiang tenda.

\"Namien,\" panggil Veyla. \"Kau yang paling vokal tentang mengambil tindakan drastis saat ini. Sebagai ahli strategi untuk operasi kali ini, kami butuh usulanmu. Bagaimana kita melewati monster itu?\"

Lyra, yang berdiri di seberang Namien, seketika menegang. Ia tahu apa yang akan keluar dari mulut penyihir itu.

Ia ingin berteriak, ingin menyela dan menghentikan Namien sebelum kata-kata kejam itu terucap. Namun, bibirnya terkunci rapat. Bayangan Vorlag yang tak terkalahkan bertarung melawan rasa kemanusiaannya. Ia tak tega membayangkan penduduk tak bersalah mati, namun ia juga tak melihat jalan lain. Akhirnya, Lyra hanya menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan kekesalan yang membara dalam diam.

Namien menegakkan tubuhnya, melangkah maju mendekati meja peta. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Veyla tentang strategi. Sebaliknya, ia menatap Feron.

\"Feron,\" tanya Namien tiba-tiba.

\"Sudah berapa lama kau hidup di Jargmund ini?\"

Feron mengerutkan kening, bingung dengan pertanyaan yang tidak relevan itu. Ia mulai menghitung dengan jari-jarinya yang kasar dan penuh noda hitam.

\"Eh... entahlah. Mungkin tujuh... tidak, hampir sebelas tahun. Aku pindah ke sini setlah The Profaned Capital, tanah kelahiranku telah hancur dan pindah kemari saat mengungsi ke Elarion sebelumnya. Menapa kau bertanya hal itu?\"

Namien mengabaikan pertanyaan balik itu dan beralih ke Veyla dan Silas. \"Dan kalian?\"

\"Sejak aku bisa mengingatnya,\" jawab Veyla tegas, matanya menyipit curiga. \"Aku tumbuh di jalanan kota ini.\"

Silas, yang duduk santai di kursinya, tertawa kecil. \"Ah, Ular Kecil. Aku sudah di sini sejak zaman batu-batuan fondasi istana itu masih berupa kerikil di sungai. Apa kau ingin mendata seluruh penduduk Jargmund sekarang?\"

Namien tersenyum tipis, sebuah seringai yang tidak mencapai matanya. Ia terkekeh pelan mendengar jawaban-jawaban itu. Lalu, sorot matanya berubah tajam, menyapu seluruh ruangan.

\"Kalau begitu, katakan kepadaku,\" suara Namien merendah, namun terdengar jelas di telinga semua orang. \"Sudah berapa lama Goulash menjadi tiran di atas kepala kalian? Dan yang lebih penting... di antara kalian semua yang sudah hidup puluhan tahun di sini, adakah satu orang. Satu saja, yang pernah melihat Vorlag Anomali daging dan Tulang itu terluka? Adakah yang pernah melihat setetes darah keluar dari tubuh monster itu?\"

Hening seketika menyelimuti seluruh ruangan itu.

Tidak ada yang menjawab dan keheningan itu adalah jawaban yang paling menakutkan dari semua pertanyaan Namien yang tak bisa dijawab oleh mereka yang hadir. Tidak ada goresan dan tidak pernah terluka. Vorlag adalah kemustahilan yang berjalan saat ini sebagai tantangan dalam meruntuhkan tiran Jargmund saat ini.

Veyla terlihat mulai kehilangan kesabarannya. \"Namien, cukup dengan teka-tekimu. Langsung masuk ke intinya. Apa rencanamu sebenarnya?\"

Namien menghentikan tawa pelannya. Senyum khas di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi dingin dan penuh perhitungan yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menunduk, matanya menatap lekat peta topografi di tengah meja.

Jari telunjuk Namien bergerak perlahan, melewati gambar istana, melewati distrik pemukiman, dan berhenti tepat di satu titik di dataran tinggi di belakang kota.

Ia menunjuk ke arah bendungan raksasa.

Melihat jari Namien menekan titik itu, Lyra mengepalkan tangannya begitu erat hingga kukunya memutih. Di sudut ruangan, Silas menyunggingkan senyum lebar yang penuh arti.

\"Bendungan ini, Veyla,\" kata Namien datar. \"Berapa umurnya?\"

Veyla menatap titik yang ditunjuk Namien dengan alis bertaut. \"Aku tidak tahu pasti. Ayahku pernah bilang bendungan itu sudah ada sejak zaman kakeknya. Itu bangunan kuno. Tapi apa hubungannya dengan...\"

Kalimat Veyla terhenti seketika karena mencoba menerka-nerka maksud Namien itu.

Namien mendongak dan menoleh ke belakangnya itu, matanya bertemu dengan mata Sora yang berdiri di belakangnya.

Di sana, Namien melihat keterkejutan. Sora, dengan instingnya yang tajam, seketika menyadari arah pembicaraan ini. Mata Sora membelalak, ekspresinya menyiratkan ketidakpercayaan bahwa seseorang benar-benar akan menyarankan hal segila itu.

Namien hanya tersenyum tipis dan sedih kepada Sora, seolah meminta maaf tanpa kata-kata. Ia kembali menatap peta, menarik napas panjang, dan menjatuhkan vonisnya.

\"Rencanaku cukup sederhana,\" kata Namien, suaranya tenang namun mematikan.

\"Kita hancurkan bendungan ini.\"

Untuk sesaat, waktu seolah berhenti di tenda komando itu. Semua orang tercengang, otak mereka berusaha memproses implikasi dari tiga kata sederhana itu.

Kemudian, badai pun pecah.

\"KAU GILA!\" Feron adalah orang pertama yang meledak. Wajahnya merah padam karena amarah, urat lehernya menonjol.

\"Menghancurkan bendungan itu?! Kau tahu apa artinya itu? Itu akan menyapu bersih Sektor Bawah! Itu rumah kami dan penduduk yang tak bersalah akan tenggelam! Itu perbuatan yang tidak bisa dimaafkan sekalipun, bangsat!\"

BRAK!

Veyla menghantam meja dengan kepalan tangannya, membuat bidak-bidak batu di atas peta berloncatan.

\"Tutup mulutmu, Namien!\" bentak Veyla, matanya menyala dengan kemarahan yang jarang terlihat.

\"Perkataanmu itu tidak bisa kuterima! Aku menyesal telah menunjukmu sebagai ahli strategi jika solusimu hanyalah pembantaian massal! Kita ini pasukan revolusi, bukan eksekutor!\"

Ruangan itu seketika menjadi kacau. Para perwira lain mulai berteriak protes, suara kemarahan berdengung memenuhi udara.

Di tengah kekacauan itu, Vael dan Arelan hanya bisa mematung. Wajah mereka pucat pasi, tangan mereka terkulai lemas di sisi tubuh. Bagi ksatria yang memegang teguh kehormatan, rencana untuk menggunakan bencana alam sebagai senjata adalah sesuatu yang melampaui batas nalar mereka. Mereka terlalu terkejut untuk berbicara.

Sementara itu, suara tawa terdengar di sela-sela teriakan amarah. Silas tertawa terbahak-bahak, tawanya menggema aneh di tengah ketegangan itu, seolah ia sedang menonton komedi tragis yang paling lucu di dunia.

Sora tetap diam. Ia tidak berteriak, tidak bergerak. Ia hanya menatap punggung Namien dengan tatapan nanar, tak menyangka bahwa teman yang ia selamatkan, teman yang berjuang bersamanya, bersedia menjadi monster demi kemenangan.

Namien berdiri tegak di tengah badai cacian itu. Ia tidak mundur, tidak membela diri. Ia hanya menatap tanda bendungan di peta itu dengan fokus mutlak, mengendalikan gejolak emosinya sendiri. Ia menerima setiap hinaan, setiap kemarahan. Ia sudah tahu ini akan terjadi.

Di seberang meja, Lyra masih membisu. Ia menatap Namien dengan tatapan yang membara karena kebencian dan keputusasaan, tangannya terkepal erat, menunggu apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya untuk membela rencana gilanya.

Suasana di dalam tenda komando berubah menjadi kekacauan yang tak terkendali. Teriakan protes, umpatan, dan penolakan bergema memantul di dinding-dinding kain, menciptakan kakofoni kemarahan yang ditujukan pada satu orang. Namun, di tengah badai itu, Namien tetap berdiri diam, menerima gelombang kebencian itu dengan wajah datar seolah ia sudah mati rasa.

Veyla, yang sudah habis kesabarannya, menerjang maju. Tangannya mencengkeram kerah baju Namien dengan kuat, menarik penyihir itu hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Napas Veyla memburu, matanya menyala dengan api kemurkaan.

\"Tarik kata-katamu, Namien!\" desis Veyla, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.

\"Katakan bahwa itu hanya lelucon sakitmu yang biasa! Katakan sekarang!\"

Melihat komandan mereka yang biasanya tenang kini meledak secara fisik, seluruh ruangan seketika hening. Keheningan yang mencekam turun, menyisakan suara napas berat Veyla dan deru angin di luar tenda.

Namien tidak memberontak. Ia membiarkan Veyla mencengkeramnya. Ia menatap lurus ke dalam mata Veyla dengan sorot mata yang kosong, tanpa penyesalan, tanpa rasa takut.

\"Jika aku menarik kata-kataku,\" jawab Namien pelan, suaranya memecah keheningan dengan kejernihan yang mengerikan,

\"katakan padaku, Veyla... siapa yang bisa mengalahkan Vorlag? Siapa? Apakah jebakanmu? Taktik gerilyamu? Atau pedang-pedang baru Feron? Kita sudah melihatnya. Semuanya tidak berguna di hadapan monster itu.\"

Pertanyaan itu menggantung di udara, menuntut jawaban yang tak seorang pun memilikinya. Tidak ada yang berani bersuara, karena jauh di lubuk hati, mereka tahu Namien benar secara taktis.

Namun, kebenaran taktis tidak selalu bisa diterima oleh hati nurani.

\"Cukup!\"

Feron kembali memotong, suaranya meledak lebih keras dari sebelumnya. Pandai besi itu melangkah maju, menunjuk wajah Namien dengan jari yang gemetar karena amarah.

\"Kau bicara soal kemenangan, tapi kau menginjak-injak alasan kita berperang!\" bentak Feron.

\"Apakah kita harus menjadi sama bejatnya dengan Goulash? Mengorbankan ribuan rakyat sipil yang di mana ribuan orang yang senasib dengan kita di tempat ini hanya untuk membunuh satu orang saja? Kau ingin kami membantai saudara kami sendiri demi jalan pintasmu?\"

Namien tidak menjawab. Ia hanya menundukkan wajahnya, kembali menatap peta di meja, seolah peta itu jauh lebih menarik daripada penghakiman moral yang sedang ia terima.

\"Kau benar-benar orang paling tak waras dan tak bermoral yang pernah kutemui seumur hidupku,\" ludah Feron dengan jijik ke bawah dan menatap Veyla dan yang lainnya sekilas, lalu berbalik kasar.

\"Aku tidak sudi menjadi bagian dari rencana genosida ini. Lakukan sesuka kalian, tapi jangan libatkan aku dalam pembantaian massal.\"

Tanpa menunggu jawaban, Feron menyingkap tirai tenda dan melangkah keluar, meninggalkan kekosongan yang terasa berat di dalam ruangan itu. Kepergian salah satu anggota inti revolusi itu menghantam mental mereka dengan keras.

Veyla perlahan melepaskan cengkeramannya dari kerah Namien. Tangannya turun lemas ke sisi tubuhnya. Napasnya masih belum teratur. Saat itulah, telinganya menangkap suara yang sangat tidak pada tempatnya.

Silas masih tertawa pelan di kursinya. Tawa itu kering, serak, dan penuh dengan ironi gelap.

Veyla menoleh tajam ke arah Silas, matanya menyipit tak percaya.

\"Kau tertawa?\" tanya Veyla, suaranya dingin. \"Di tengah-tengah situasi seperti ini... apa yang kau tertawakan, Silas?\"

Silas menghentikan tawanya, namun senyum miring masih terpatri di wajah tuanya yang penuh keriput. Ia menyeka sudut matanya dengan punggung tangan.

\"Aku tertawa karena kenaifan kalian,\" jawab Silas santai. \"Dan karena si Ular ini benar.\"

\"Benar?!\" seru Veyla. \"Kau setuju untuk membunuh orang tak bersalah, begitu?\"

Silas mendengus. \"Kepedulian kalian terhadap rakyat sipil tak bersalah itu manis, Veyla. Tapi salah tempat. Kalian menganggap mereka yang diam saja di bawah ketiak Goulash itu tidak punya andil dalam tirani ini? Ketakutan mereka dan kepatuhan mereka... itulah yang memberi makan pada kekuasaan Goulash selama ini.\"

Semua orang menatap Silas dengan terperangah. Jawaban santai namun kejam itu membuat Veyla menatap pemimpinnya dengan tatapan kecewa.

\"Masih ada cara lain, Silas,\" bantah Veyla, meski suaranya mulai kehilangan keyakinan. \"Kita tidak perlu menenggelamkan kota. Kita bisa mencari celah lain.\"

Mendengar itu, ekspresi jenaka di wajah Silas lenyap seketika. Ia menatap Veyla dengan tatapan tajam seorang veteran yang telah melihat terlalu banyak perang.

\"Butuh waktu berapa lama, Veyla?\" tanya Silas dingin.

Veyla terdiam, mematung di tempatnya.

\"Sepuluh tahun lagi?\" desak Silas, suaranya meninggi perlahan-lahan.

\"Dua puluh tahun? Berapa banyak lagi teman kita yang harus mati sia-sia dalam serangan kecil-kecilan sementara kita menunggu celah yang tak kunjung datang? Apakah kita akan menunggu sampai Goulash mati tenang di atas kasur empuknya karena sakit tua, sementara kita membusuk di selokan?\"

Pertanyaan itu menohok Veyla tepat di jantung keraguannya. Ia tidak bisa menjawab.

Silas perlahan bangkit dari kursinya, bertumpu pada tongkatnya. Ia berdiri tegak, memandang berkeliling ke seluruh ruangan, menatap mata setiap orang yang ada di sana seperti Lyra, Eleonora, Vael, Arelan, Sora, hingga perwira lainnya yang berada di dalam tenda itu.

\"Tindakan yang diusulkan Namien ini adalah satu-satunya jalan yang kita miliki saat ini,\" kata Silas tegas. \"Ya, hal itu memang kejam. Tapi, itu juga satu-satunya cara untuk mengakhiri penindasan ini sekarang. Bukan besok dan bukan tahun depan.\"

Silas melangkah mendekati meja, suaranya kini terdengar seperti vonis hakim.

\"Kalian semua terlalu naif jika berpikir bisa menjadi pahlawan yang memegang pedang tanpa ada darah yang membekas di tangan kalian. Kalian munafik,\" Silas menunjuk ke arah luar tenda.

\"Prajurit yang kita bunuh setiap harinya... mereka juga mempunyai keluarga. Mereka juga mempunyai anak, istri, dan orang tua yang tinggal di kota itu. Kalian menyebut mereka itu adalah penduduk yang tak bersalah, tapi kalian membunuh ayah, suami, dan anak mereka di medan perang.\"

\"Jika kalian ingin menyelamatkan semua orang di Jargmund yang menurut kalian tak terlibat itu,\" lanjut Silas dengan nada rendah yang menusuk,

\"Kalian hanya akan membiarkan perang ini berlarut-larut. Pada akhirnya, itu hanya akan melahirkan Goulash baru. Anak-anak yang ayahnya kalian bunuh akan tumbuh membawa dendam dan siklus ini tidak akan pernah berhenti.\"

Kata-kata Silas menghantam Veyla seperti palu godam. Logika brutal itu meruntuhkan idealisme yang selama ini ia pegang teguh. Bahwa dalam perang revolusi, tidak ada yang benar-benar bersih. Veyla merasa kakinya lemas. Ia menundukkan kepalanya, menatap lantai tanah yang kotor, tidak mampu lagi membantah kebenaran pahit yang dilontarkan Silas.

Sementara itu, Namien masih berdiri di posisinya. Ia tidak menatap siapa pun. Ia hanya menunduk, melihat kedua kakinya sendiri. Tangannya bergerak perlahan, menarik pinggiran topinya ke bawah, menutupi wajahnya dari pandangan orang-orang di sekitarnya. Ia telah menjadi penjahat yang dibutuhkan revolusi ini, dan ia menerima peran itu dalam diam.

Keheningan yang menyusul setelah ucapan Silas bukanlah keheningan karena kedamaian, melainkan keheningan yang mencekik. Semua orang di sana terdiam, lidah mereka kelu oleh logika brutal yang baru saja dijatuhkan oleh pemimpin tua itu. Bahkan Veyla, sang komando lapangan yang biasanya tegas, kini mematung. Kata-kata Silas telah meretakkan fondasi moral yang selama ini ia pegang teguh.

Namun, di tengah kebisuan itu, suara Lyra terdengar, bergetar menahan amarah yang meluap.

\"Jika itu cara pandangmu...\" Lyra menatap tajam ke arah Silas, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena murka.

\"Maka revolusi ini hanyalah omong kosong belaka. Apa yang kita rencanakan... mulai dari awal hingga detik ini, jika kita semua setuju dengan rencananya, kita tidak sedang menghancurkan seorang tiran. Melainkan kita sedang menciptakan Goulash baru di dalam diri kita masing-masing. Kita membunuh atas nama keadilan yang hanya untuk menarik simpati orang-orang untuk bergabung, padahal tangan kita sama kotornya dengan perbuatan mereka.\"

Perkataan Lyra yang tajam itu membuat semua kepala menoleh ke arahnya. Tatapan gadis itu menyala, menantang siapa pun untuk membantahnya.

Silas menatap balik Lyra. Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan. Ia hanya menatap gadis muda itu dengan keseriusan yang dingin.

\"Mereka yang berperang selalu mengatasnamakan kebenaran, Lyra.\" jawab Silas tenang.

\"Tapi pada akhirnya, hanya seorang pemenang yang berhak memegang pena dan menentukan cerita mana yang akan didengar oleh sejarah dan semua orang.\"

Mendengar jawaban itu, pertahanan diri Lyra runtuh. Ia tidak bisa lagi berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang bersedia menggadaikan jiwa mereka. Tanpa sepatah kata pun, Lyra berbalik dan melangkah cepat keluar tenda, menabrak udara malam dengan kekecewaan yang mendalam.

Kepergian Lyra memicu reaksi berantai. Satu per satu, perwira lain yang merasa nuraninya terusik mulai beranjak. Mereka menunduk, menghindari tatapan Silas dan Namien, lalu menyelinap keluar tenda, meninggalkan kehampaan yang semakin besar.

Kini, hanya tersisa segelintir orang di sana: Veyla, Silas, Namien, Arelan, Vael, dan Sora.

Veyla memandang sekeliling ruangan yang kini sepi. Ia menatap wajah-wajah pria yang tersisa di sana yang terdapat Silas dengan realismenya yang kejam, Namien dengan rencana pembantaiannya, serta Vael, Arelan, dan Sora yang masih bertahan. Tidak ada kemarahan lagi di mata Veyla, hanya kekecewaan yang amat sangat. Ia merasa asing dengan sekutu-sekutunya sendiri.

Tanpa berkata apa-apa, Veyla menggeleng pelan, lalu berbalik dan meninggalkan mereka semua di dalam tenda, membiarkan beban kepemimpinan itu menggantung berat di pundak Silas dan Namien.

Ketika semua orang telah pergi, Silas kembali menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menatap langit-langit tenda, matanya terlihat lelah.

\"Harga untuk meruntuhkan seorang tiran...\" gumam Silas pelan, lebih kepada dirinya sendiri,

\"...adalah realitas yang kejam dan pahit. Tidak ada pahlawan dalam perang, hanya mereka yang bertahan hidup.\"

Namien masih mematung di tempatnya berdiri. Ia menatap peta di meja, di mana titik bendungan itu seolah menatapnya balik. Perlahan, ia menoleh ke belakang. Di sana hanya tersisa Vael, Arelan, dan Sora.

Vael, yang sedari tadi diam karena terguncang, melangkah mendekat. Ia tidak menghakimi, juga tidak memuji. Ia hanya meletakkan tangannya yang berat di atas bahu Namien, meremasnya sejenak seperti sebuah isyarat solidaritas yang rumit, seolah berkata

\'Aku tidak menyukainya, tapi aku mengerti bebanmu.\'

Setelah itu, Vael menarik tangannya dan berjalan keluar.

Arelan mengikuti. Ia hanya menatap Namien dengan wajah datarnya, sebuah tatapan kosong yang sulit diartikan, sebelum akhirnya berbalik dan menyusul Vael keluar dari tenda komando.

Kini, hanya tinggal Sora yang berdiri di sana.

Namien melihat Sora menatapnya. Tatapan pemuda itu intens, tidak menghindar, dan penuh dengan sesuatu yang membuat Namien merasa tidak nyaman. Namien menghela napas panjang, bahunya merosot lelah.

\"Sora, dengar...\" Namien hendak memulai pembelaan dirinya.

Namun, sebelum Namien sempat menyelesaikan kalimatnya, Sora melangkah maju dengan cepat. Ia memegangi pergelangan tangan Namien, cengkeramannya kuat namun tidak menyakiti. Dengan gerakan kepala dan isyarat mata yang mendesak, Sora mengisyaratkan Namien untuk ikut dengannya keluar sebentar. Ia butuh bicara.

Namien, yang mengerti maksud Sora, menoleh ke arah Silas yang masih duduk di kursinya.

Silas melihat interaksi itu. Ia terkekeh pelan, suara yang terdengar serak di ruangan yang sunyi. \"Pergilah. Kau tidak butuh izin dariku untuk berbicara dengan anak itu, Ular. Selesaikan urusanmu.\"

Namien kembali menatap Sora. Ia tersenyum, namun itu adalah senyum pahit yang penuh dengan kelelahan mental.

\"Baiklah,\" kata Namien, sarkasme kembali meluncur dari bibirnya, meski terdengar hambar.

\"Sepertinya aku memang sedang butuh seseorang untuk menceramahiku saat ini. Ayo, Pendekar Bisu, maki aku sepuasmu di luar.\"

Sora tidak tersenyum mendengar candaan itu. Ia hanya menatap Namien dengan sorot mata yang dalam bahwa Sora mengerti mengapa Namien rela menjadi kambing hitam dan penjahat bagi semua orang, namun dirinya tidak bisa membiarkan Namien begitu saja setelah mengetahui apa yang Namien usulkan itu untuk meruntuhkan seorang raja yang tamak itu. Ia hanya menginginkan pembicaraan empat mata, di suatu tempat di mana tidak ada peta, tidak ada strategi, dan tidak ada topeng.

Sora menarik pelan tangan Namien, dan keduanya pun melangkah keluar dari tenda komando, menuju kegelapan malam untuk sebuah percakapan yang mungkin akan mengubah segalanya di antara mereka.

Namien berjalan dalam diam di samping Sora, langkah kaki mereka bergema pelan di lorong batu yang lembap dan berlumut. Semakin jauh mereka melangkah, semakin redup cahaya obor yang menempel di dinding, hingga mereka tiba di ujung terjauh dari sistem selokan bawah tanah Jargmund yang telah lama terbengkalai.

Bau di sini lebih menyengat dengan bau campuran karat besi yang terbengkalai, air stagnan dan memiliki aroma yang menjijikkan, dan sesuatu yang busuk mengapung di genangan airnya itu. Namun, bukan bau itu yang membuat Namien berhenti, melainkan suara-suara yang merembes turun dari celah-celah ventilasi tua di langit-langit terowongan.

Dari permukaan, terdengar hiruk-pikuk kehidupan kota yang kacau. Ada jeritan minta tolong yang tertelan malam, suara logam beradu, tawar-menawar kasar di pasar gelap, hingga suara desahan wanita dan erangan laki-laki yang sedang melakukan hubungan badan di gang-gang sempit di atas kepala mereka. Semua dosa, penderitaan, dan nafsu Jargmund seolah mengalir turun ke tempat ini.

Namien mengerutkan kening, terheran-heran mengapa Sora membawanya ke tempat bising dan kotor ini.

\"Jadi,\" Namien memecah keheningan, suaranya memantul di dinding pipa.

\"Apa yang ingin kau katakan pada ular ini, wahai Pahlawan Bisu? Kau membawaku ke tempat pembuangan akhir ini untuk menceramahiku? Untuk memberitahuku betapa kotornya jiwaku, sama seperti selokan ini?\"

Sora tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju sebuah pipa besar yang berkarat, membersihkan sedikit debu di atasnya, lalu duduk. Ia menatap Namien, lalu menunjuk ke langit-langit selokan dengan jari telunjuknya. Matanya mengisyaratkan Namien untuk diam dan mendengarkan apa yang ada di atas sana.

Namien mendongak, menatap batu bata yang rembes. \"Apa? Langit-langit? Batu basah? Aku tidak mengerti teka-tekimu, Sora.\"

Sora menghela napas pelan. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas perkamen lusuh dan sebatang arang kecil. Dengan beralaskan lututnya, ia menuliskan sesuatu dengan cepat, lalu menyodorkan kertas itu ke hadapan Namien.

Tulisan itu kasar namun terbaca: Apa yang kau dengar di atas sana?

Namien membaca tulisan itu, lalu mendengarkan lagi suara-suara dari ventilasi. Jeritan, tawa mabuk, tangisan.

\"Kehidupan.\" Jawab Namien dengan datar.

\"Kehidupan Jargmund yang menyedihkan. Sampah masyarakat, penjahat, pelacur, dan orang-orang putus asa yang mencoba bertahan hidup satu malam lagi.\"

Sora mengangguk. Ia menarik kembali kertas itu, membaliknya, dan menuliskan pertanyaan baru. Kali ini gerakannya lebih lambat, lebih merenung.

Sora memberikan kertas itu lagi: Menurutmu, apa arti dari sebuah kehidupan?

Namien terpaku membaca pertanyaan itu. Ia menatap Sora, alisnya terangkat sebelah. \"Kau serius? Pertanyaan filosofis di tempat seperti ini? Apakah ini ada kaitannya dengan jawaban pertamaku tadi?\"

Sora hanya tersenyum tipis, lalu menuliskan satu kalimat tambahan di bawahnya: Menurutmu seperti apa?

Namien terdiam. Ia bersandar pada dinding selokan yang dingin, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menerawang jauh, menembus kegelapan terowongan. Pikirannya melayang mundur ke masa lalu.

Namien mengingat dirinya saat masih menjadi murid penyihir muda di Azure College dulu yang dirinya itu sombong, cerdas, dan merasa dunia ada di dalam genggaman tangannya, namun dirinya itu ceroboh hingga ia menghancurkannya karena kesombongannya itu.

Namien juga mengingat tahun-tahun panjangnya sebagai pedagang keliling, melihat kerajaan-kerajaan runtuh, melihat keserakahan manusia, menjual barang rongsokan kepada orang bodoh demi sekeping koin emas.

Dan pada akhirnya, Namien mengingat pertemuannya dengan Sora dan lainnya itu yang terlihat seorang bocah bisu yang menyeretnya ke dalam revolusi gila ini bersama dengan yang lainnya.

Namien mendengarkan suara desahan dan jeritan dari atas kepalanya sekali lagi.

\"Menurutku...\" Namien memulai, suaranya rendah dan sinis namun jujur.

\"Hidup itu hanyalah serangkaian kebetulan yang kejam. Kita lahir, kita berjuang untuk hal-hal yang tidak penting, kita menyakiti satu sama lain, kita bercinta, kita membunuh, dan pada akhirnya kita mati menjadi debu. Sama seperti suara-suara di atas sana. Bising, kotor, dan tanpa tujuan. Pertemuan kita pun... mungkin hanya lelucon nasib buruk.\"

Sora mendengarkan dengan seksama. Tidak ada penghakiman di wajahnya. Ia kemudian mengambil arang itu lagi, dan dengan gerakan mantap menuliskan satu kata besar di kertas itu sebagai jawabannya sendiri.

Sora memperlihatkannya pada Namien.

Hanya ada satu kata: \"Harapan\".

Namien membaca kata itu. Hening sejenak. Lalu, perlahan-lahan, bahu Namien mulai berguncang. Tawa meledak dari bibirnya. Ia tertawa terbahak-bahak, tawa yang lepas dan keras, menggema di seluruh selokan.

\"Harapan?! Hahahaha!\" Namien memegangi perutnya, air mata geli keluar dari sudut matanya.

\"Demi semua dewa yang sudah mati, Sora! Kau mendengar orang diperkosa dan dibunuh di atas sana, dan kau menulis Harapan? Kau benar-benar...\"

Sora tetap tenang, membiarkan Namien tertawa hingga puas. Ia tersenyum lembut, lalu menuliskan kalimat berikutnya di bawah kata \'Harapan\' itu:

Terdengar munafik dan naif, bukan?

Namien menyeka air matanya, napasnya masih tersengal sisa tertawa. Ia menatap tulisan itu, lalu menatap mata Sora. \"Sangat. Sangat lucu. Tapi... yah, mungkin itu sebabnya kau adalah pahlawannya dan aku penjahatnya. Jawabanmu itu lebih dari sekadar naif, itu gila. Tapi kegilaan yang indah.\"

Ekspresi Sora berubah menjadi serius. Ia membalik kertas itu ke sisi yang masih kosong. Tangannya bergerak cepat, menuliskan sesuatu yang panjang.

Ini tentang inti pembicaraan mereka.

Namien melihat Sora menulis dengan intensitas yang berbeda. Ketika Sora selesai, ia menyerahkan kertas itu. Namien membacanya, dan matanya seketika membelalak kaget.

Tulisan itu berbunyi: Aku setuju dengan rencanamu menghancurkan bendungan.

\"Kau... apa?\" Namien tergagap, hampir tidak percaya. \"Kau setuju? Kau?! Si Hati Malaikat setuju untuk menenggelamkan kota?\"

Namien hendak menyanggah, hendak mengatakan bahwa Sora pasti bercanda atau salah paham. Namun Sora mengangkat tangannya, menghentikan Namien bicara. Ia menggeleng tegas, lalu menunjuk kertas itu lagi, mengisyaratkan Namien untuk membaca kelanjutannya. Ada syarat yang tertulis di bawahnya.

Mata Namien turun ke baris terakhir.

Tapi ada syaratnya: Sebisa mungkin, selamatkanlah penduduk yang bisa diselamatkan. Beri mereka peringatan. Evakuasi mereka yang mau pergi. Lakukan itu sebelum kau meledakkannya. Jangan paksa mereka yang memilih tinggal, tapi berikan mereka kesempatan.

Namien membaca satu kalimat itu secara berulang-ulang.

Selamatkanlah penduduk yang bisa diselamatkan.

Tawa Namien kembali terdengar, tetapi kali ini nadanya berbeda. Bukan tawa geli atau sinis. Itu adalah tawa yang pecah, rapuh, dan menyakitkan. Perlahan-lahan, suara tawa itu berubah menjadi isak tangis yang tertahan.

Pertahanan diri Namien runtuh. Topeng monster tak berperasaan yang ia pasang di depan Veyla, Feron, dan Lyra kini hancur di hadapan penerimaan Sora yang bisu itu. Ia menyadari bahwa ia tidak sendirian untuk memikul dosa ini. Sora bersedia membagi beban itu dengannya, bersedia menanggung darah di tangannya, asalkan mereka tetap mencoba memanusiakan korban mereka.

Namien tertunduk lemas, tubuhnya membungkuk hingga ia hampir berlutut di tanah yang kotor. Tangannya gemetar memegang kertas tulisan Sora itu erat-erat, seolah itu adalah surat pengampunan dosanya.

\"Terima kasih...\" bisik Namien, suaranya serak dan basah oleh air mata.

\"Terima kasih, Sora... Kau bodoh... kau benar-benar bodoh...\"

Sora beranjak dari pipa tempatnya duduk. Ia menghampiri penyihir yang sedang hancur itu, lalu dengan lembut menepuk dan mengelus punggung Namien. Ia berdiri di sana, diam dan menenangkan, membiarkan Namien tahu bahwa ia tidak perlu menjadi penjahat sepenuhnya. Bahwa di dalam kegelapan rencana ini, masih ada sedikit cahaya sedikit Harapan yang bisa mereka perjuangkan bersama.


Other Stories
Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Reuni Mantan

Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Download Titik & Koma