Bab Empat Puluh Dua: Kebenaran Yang Begitu Pahit Dan Busur Yang Kembali Ditarik
Keriuhan di dalam tenda komando mencapai puncaknya. Perintah Silas bagaikan cambuk yang memacu semua orang. Veyla, Feron, Vael, Arelan, dan para perwira lainnya berdesak-desakan keluar, wajah mereka tegang namun dipenuhi tujuan yang jelas: mengikuti jejak Sora. Suara logam beradu saat mereka mengecek senjata sambil berlari, bercampur dengan teriakan koordinasi yang mulai bergema di seluruh kamp.
Namun, di tengah arus manusia yang bergerak cepat itu, Kaelith berdiri mematung. Ia seperti batu karang di tengah sungai yang deras. Pakaiannya masih berupa tunik santai khas pasien, dan matanya menatap kosong ke arah pintu keluar tempat di mana punggung Sora menghilang beberapa saat lalu.
Namien, yang baru saja bangkit dari sandarannya di tiang tenda dengan gerakan malas yang khas, melihat pemandangan ganjil itu. Ia membetulkan letak topinya, lalu melangkah santai mendekati Kaelith.
\"Hei, Putri Tidur,\" sapa Namien, nadanya terdengar geli namun tajam.
\"Semua orang berlari mengejar kekasih bisumu itu karena mereka tahu apa yang harus dilakukan. Tapi kau? Orang yang katanya paling mencintainya, malah berdiri diam di sini seperti patung pajangan. Ada apa? Kakimu masih sakit, atau hatimu yang sedang mogok?\"
Kaelith menoleh perlahan dan tatapannya tidak lagi kosong, melainkan penuh dengan kebingungan yang menyakitkan. Ia mengabaikan sarkasme Namien.
\"Namien...\" suara Kaelith parau.
\"Kenapa? Kenapa Sora menyetujui rencanamu? Rencanamu itu gila. Itu pembantaian. Dan Sora... dia tidak mungkin setuju dengan hal seperti itu. Apa yang kau lakukan padanya?\"
Namien tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar kering. Ia tidak langsung menjawab, melainkan mengedikkan kepalanya ke arah luar tenda.
\"Di sini terlalu berisik. Orang-orang naif ini membuat kepalaku terasa ingin meledak saja. Ayo keluar dari sini, aku akan menceritakan sebuah dongeng kecil untukmu.\"
Tanpa banyak bicara, Kaelith mengangguk dan mengikuti Namien keluar dari tenda komando yang sesak, menuju sisi samping tenda yang sedikit lebih sepi, meski suara jeritan dari kota di kejauhan masih terdengar samar.
Di bawah langit yang mulai menggelap oleh asap kebakaran kota, Namien bersandar pada pasak tenda dan menatap Kaelith.
\"Kau ingin tahu kenapa?\" tanya Namien.
\"Jawabannya sederhana, tapi mungkin akan membuatmu merasa bodoh. Sebenarnya... Sora tidak pernah menyetujui rencanaku untuk sekadar menghancurkan bendungan.\"
Kaelith mengerutkan kening, bingung. \"Apa maksudmu? Dia sendiri yang menulisnya. Dia memberiku kertas itu. Dia bilang dia setuju.\"
Namien tertawa dan suara tawanya itu lebih keras, seolah mendengar lelucon paling lucu di dunia.
\"Benarkah dia menulis itu padamu? Astaga...\" Namien menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyeka ujung matanya.
\"Dia benar-benar orang bodoh paling mulia yang pernah kutemui. Dia membiarkan dirinya dibenci olehmu demi melindungi egoku? Luar biasa.\"
Wajah Namien kemudian berubah serius. Seringai sarkasnya memudar, digantikan oleh tatapan yang dalam dan sedikit sendu.
\"Dengar, Kaelith. Awalnya Sora menolak. Sama sepertimu, sama seperti Feron. Tapi dia tidak meneriakiku. Dia justru membawaku ke selokan bawah tanah. Di sana, dia menyuruhku mendengarkan suara-suara dari atas seperti suara penderitaan, dosa, dan kekacauan Jargmund.\"
Kaelith mendengarkan dengan seksama, jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
\"Dia bertanya padaku melalui tulisannya,\" lanjut Namien.
\"\'Apa yang kau dengar?\' Aku menjawab, \'Kehidupan\'. Lalu dia bertanya lagi, \'Apa arti kehidupan menurutmu?\'. Aku menjawab dengan segala sinisme dan logika yang kupunya. Tapi Sora... dia punya jawaban yang selama ini aku lupakan. Jawaban yang membuat penyihir gila sepertiku terdiam.\"
\"Apa jawabannya?\" desak Kaelith, suaranya bergetar.
\"Satu kata,\" jawab Namien pelan.
\"Harapan.\"
Kaelith terhenyak. Kata itu bergema di telinganya.
\"Sora tahu bebanku, Kaelith,\" sambung Namien, suaranya kini terdengar rapuh, topengnya retak sepenuhnya.
\"Dia tahu bahwa jika rencana ini dijalankan, aku akan menjadi monster sendirian. Aku akan dibenci selamanya. Dan dia... si bodoh itu, dia tidak membiarkan aku menanggungnya sendirian. Dia mengambil beban itu. Dia setuju, tapi dengan syarat.\"
Namien menatap mata Kaelith lekat-lekat.
\"Syaratnya adalah: Evakuasi. Dia setuju bendungan diledakkan hanya jika kita menyelamatkan penduduk terlebih dahulu. Itulah kenapa dia lari keluar pertama kali saat mendengar kerusuhan. Bukan untuk membunuh, tapi untuk menyelamatkan mereka sebelum air datang.\"
\"Dan di sinilah kita,\" Namien merentangkan tangannya dengan senyum pahit.
\"Kau dan aku bisa berbicara tanpa kau ingin membunuhku, karena Sora menyerap semua kebencian itu. Dia membiarkan dirinya terlihat sebagai pendukung genosida di matamu, hanya supaya rencana penyelamatan ini bisa berjalan. Aku membenci diriku sendiri karena membiarkan dia melakukan hal itu, Kaelith.\"
Penjelasan itu menghantam Kaelith lebih keras daripada serangan fisik apa pun.
Ingatannya berputar kembali ke tenda medis. Ia melihat wajah Sora yang lelah. Ia melihat Sora mencoba menjelaskan, mencoba menulis sesuatu lagi setelah memberikan kertas pengakuannya. Dan apa yang Kaelith lakukan? Ia menamparnya. Ia mengusirnya. Ia menyebutnya pengecut. Ia membuang alat tulisnya sebelum Sora sempat menjelaskan tentang evakuasi itu.
\"Oh, Dewa...\" bisik Kaelith. Air mata mengalir deras dari matanya, bukan karena sedih, tapi karena rasa bersalah yang tak tertahankan.
Ia telah menghakimi orang yang paling tulus di antara mereka semua. Sora rela ditampar, rela dibenci oleh wanita yang dicintainya, demi menjaga rahasia rencana ini dan melindungi Namien.
Rasa marah pada dirinya sendiri meledak begitu hebat hingga Kaelith tidak bisa menahannya.
Tanpa peringatan, Kaelith mengepalkan tangan kanannya dan memukulkan kepalan itu sekuat tenaga ke wajahnya sendiri. Tepat di hidungnya.
\"Kaelith!\" Namien tersentak kaget, melangkah maju.
\"Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila, ya?!\"
Darah segar mengucur dari hidung Kaelith, menetes ke bibir dan dagunya. Rasa sakit fisik itu menyengat, namun itu tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya. Kaelith terengah-engah, membiarkan darah itu mengalir, matanya menyala dengan tekad yang baru dan mengerikan.
Ia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Namien dengan mata basah namun tajam.
\"Terima kasih, Namien...\" ucap Kaelith di sela isak tangisnya yang mulai mereda.
\"Terima kasih karena telah menyadarkanku. Aku... aku hampir kehilangan dia selamanya karena kebodohanku.\"
Tanpa menunggu balasan Namien, Kaelith berbalik badan. Ia tidak lagi berjalan gontai. Ia berlari.
Kaelith memacu langkahnya menuju tenda medis. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mengambil apa yang menjadi jiwanya. Ia menyambar busur besarnya, memasang tabung anak panah di punggungnya, dan mengenakan pelindung dadanya dengan gerakan cepat dan kasar.
Darah masih menetes sedikit dari hidungnya, tapi ia tidak peduli.
Di luar, Namien berdiri terpaku melihat perubahan drastis itu. Ia melihat Kaelith keluar dari tenda medis dengan peralatan lengkap, berlari kencang menyusul arah perginya Sora dan pasukan lainnya, meninggalkan Namien sendirian di tengah keramaian dengan senyum tipis di wajahnya.
\"Pergilah, Putri Tidur,\" gumam Namien pelan.
\"Bangunkan pangeran bodohmu itu sebelum dia mati konyol.\"
Sementara sebagian besar pasukan revolusi berlarian keluar mengikuti jejak Sora untuk misi evakuasi, suasana di bengkel Feron terasa jauh lebih sunyi namun tak kalah sibuknya. Bau tajam dari bubuk mesiu mentah, aroma menyengat dari tar hitam, dan uap minyak yang mudah terbakar memenuhi udara di ruangan yang panas itu.
Lyra dan Feron bergerak cepat. Tangan-tangan mereka yang terbiasa memegang senjata kini sibuk menuangkan cairan hitam pekat ke dalam gentong-gentong kayu kecil yang dilapisi besi, lalu memadatkannya dengan serbuk mesiu seadanya yang tersisa di gudang logistik. Setiap gerakan mereka penuh perhitungan; satu kesalahan kecil di sini bisa meledakkan mereka sebelum mereka sempat mencapai bendungan.
Di tengah kesibukan itu, Namien muncul di ambang pintu bengkel. Ia tidak berlari seperti yang lain. Langkahnya santai, seolah ia hanya sedang berjalan-jalan sore menikmati pemandangan, padahal di sekelilingnya orang-orang sedang bersiap mati.
Namien bersandar pada kerangka pintu, matanya yang tajam mengawasi Feron yang sedang menutup salah satu gentong dengan paksa.
\"Lihatlah pemandangan ini,\" celetuk Namien, suaranya memecah konsentrasi mereka.
\"Siapa sangka si Tukang Besi yang paling keras berteriak menentangku, kini justru menjadi orang yang paling rajin membungkus hadiah kematian ini untuk Jargmund.\"
Feron menghentikan gerakannya sejenak. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan yang penuh noda oli, lalu menatap Namien dengan tatapan tajam dan sedikit kesal.
\"Jangan salah paham, Penyihir,\" gerutu Feron, suaranya berat.
\"Aku melakukan ini karena aku tidak punya pilihan lain. Aku menyetujuinya demi anak-anak itu, tapi ketahuilah, aku masih sangat membenci setiap inci dari rencana busukmu ini.\"
Mendengar kejujuran yang kasar itu, Namien justru tertawa terbahak-bahak. \"Hahaha! Kebencianmu adalah musik bagiku, Feron. Setidaknya kau jujur, tidak seperti orang-orang munafik di luar sana.\"
Tawa Namien mereda, dan tatapannya kini beralih kepada Lyra yang sedang mengikat sumbu pada botol-botol minyak.
\"Lyra,\" panggil Namien, nadanya berubah sedikit lebih serius.
\"Simpan tenagamu. Aku membutuhkanmu di sini. Kau tidak akan pergi bersama rombongan evakuasi itu.\"
Lyra sontak menoleh, matanya membelalak tak percaya. Ia melepaskan ikatan tali di tangannya.
\"Apa maksudmu?\" protes Lyra cepat.
\"Tempatku ada di sana, Namien! Siapa yang akan membantu mengarahkan evakuasi jika aku di sini? Akulah yang paling hafal jalur tikus di Sektor Bawah. Mereka butuh panduan untuk menarik perhatian seluruh pasukan Jargmund, apalagi jika Vorlag benar-benar muncul. Tanpa aku, evakuasi itu bisa berantakan!\"
Namien mendengarkan argumen itu dengan wajah datar, lalu ia memiringkan kepalanya sedikit.
\"Argumen yang bagus,\" jawab Namien santai.
\"Tapi izinkan aku bertanya satu hal sederhana: Jika kau dan semua orang sibuk bermain kucing-kucingan dengan Vorlag di bawah sana... lalu siapa yang akan membawa semua bahan peledak ini naik ke bendungan? Siapa yang akan menanamnya di titik vital? Dan yang paling penting... siapa yang akan menyulut apinya?\"
Pertanyaan itu menghantam Lyra. Mulutnya yang sudah terbuka untuk membantah kembali tertutup rapat. Ia terdiam. Dalam semangatnya untuk menyelamatkan penduduk, ia melupakan mekanisme utama dari rencana ini bahwa bendungan itu tidak akan meledak dengan sendirinya.
Melihat ekspresi Lyra yang tersadar, Namien kembali tertawa pelan.
\"Nah, kau baru sadar, kan?\" ejek Namien ringan.
\"Kau terlalu fokus menjadi pahlawan sampai lupa menjadi eksekutor dari rencanku yang kamu setujui tadi di rapat. Kita butuh tim kecil yang tidak terdeteksi untuk menyelinap ke dataran tinggi saat semua mata tertuju pada kekacauan di bawah.\"
Namien menegakkan tubuhnya, memberikan instruksi dengan jelas.
\"Kumpulkan pasukan penyelinap. Kita tidak butuh banyak orang, cukup tujuh orang saja termasuk kau dan aku. Kita harus bergerak cepat dan senyap seperti hantu.\"
Sebelum Lyra sempat menjawab, Feron yang sedang mengangkat sebuah gentong berisi tar dan mesiu melangkah maju. Otot-otot lengannya menegang menahan beban berat itu.
\"Masukkan aku ke dalam pasukan itu,\" kata Feron tegas.
\"Benda-benda ini beratnya bukan main. Kau dan gadis kecil ini tidak akan sanggup mengangkut semuanya sendirian ke atas sana. Kalian butuh tenaga kuda beban.\"
Namien menatap Feron, alisnya terangkat kagum.
\"Akhirnya,\" kata Namien sambil tersenyum miring.
\"Ada seseorang yang menawarkan dirinya secara sukarela untuk misi bunuh diri ini. Terima kasih atas partisipasinya, Pak Tua.\"
Namien kemudian kembali menatap Lyra.
\"Kau dengar itu, Lyra? Kita sudah punya pengangkut barang utama. Sekarang, tugasmu adalah mengumpulkan enam orang lagi yang cukup kuat dan cukup gila untuk membantu Feron membawa sisa-sisa peledak ini. Kita akan meledakkan bendungan itu tepat saat perhatian mereka teralihkan ke pasar.\"
Lyra mengangguk perlahan, memahami peran vitalnya dalam tahap akhir ini. \"Aku mengerti. Aku akan mencari orang-orang dari unit logistik yang bisa dipercaya.\"
Namien tersenyum puas dengan gaya khasnya yang menyebalkan namun karismatik. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari bengkel, meninggalkan Feron dan Lyra yang kembali memacu kerja mereka, mempersiapkan alat-alat yang akan menenggelamkan sebuah kerajaan.
Di tengah hiruk-pikuk pasukan yang sedang memobilisasi diri, Veyla muncul dengan penampilan yang siap tempur. Ia mengenakan zirah perangnya yang fungsional seperti baja ringan yang ditempa untuk kecepatan, bukan untuk pamer kemewahan dan jubah abu-abu yang berkibar ditiup angin. Ia melangkah cepat menuju kuda hitam gagah yang telah disiapkan oleh bawahannya. Kuda itu mendengus gelisah, merasakan ketegangan tuannya.
Veyla melompat naik ke atas pelana dengan gerakan tangkas. Tangannya menggenggam tali kekang dengan erat, matanya menatap tajam ke arah gerbang perkemahan, siap memimpin pasukannya menyusul Sora ke neraka yang sedang terjadi di Sektor Bawah.
Tepat saat ia hendak memacu kudanya, sebuah suara yang familier memanggilnya di tengah kebisingan teriakan prajurit dan derap langkah kaki.
\"Hei! Tunggu sebentar, Komandan!\"
Veyla menoleh dan melihat Namien berjalan santai membelah kerumunan prajurit yang sedang berlarian. Veyla mengerutkan kening, ketidaksabarannya memuncak.
\"Namien!\" seru Veyla keras, berusaha mengalahkan suara gaduh di sekitarnya.
\"Aku tidak punya waktu untuk disia-siakan dengan bualanmu! Setiap detik berharga!\"
Namien tidak mempedulikan nada tinggi Veyla. Ia merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk tabung silinder yang terbuat dari bambu dan kertas tebal, dengan sumbu pendek di ujungnya. Sekilas benda itu terlihat seperti bom rakitan.
Namien melemparkan benda itu ke arah Veyla.
Dengan refleks yang terlatih, Veyla menangkap benda itu di udara. Ia menatapnya dengan bingung. \"Apa ini?\"
\"Itu bukan bom untuk membunuh, jadi jangan dilempar ke musuh,\" jelas Namien, wajahnya tiba-tiba berubah serius, sebuah ekspresi langka yang membuat Veyla terdiam.
\"Itu petasan sinyal. Aku meraciknya sendiri dengan campuran khusus agar apinya bisa terlihat bahkan di siang bolong.\"
Namien menunjuk tabung di tangan Veyla.
\"Dengar baik-baik, Veyla. Nyalakan benda ini hanya di saat evakuasi warga sudah benar-benar selesai dan pasukanmu sudah mundur ke tempat aman. Itu akan menjadi tanda bagi kami di atas sana untuk meledakkan bendungannya. Jangan sampai terlambat, atau kau akan ikut tersapu.\"
Veyla menatap benda itu, lalu menatap Namien dengan pandangan baru. Ia menyadari betapa detailnya persiapan penyihir itu.
\"Kau...\" Veyla menggelengkan kepala tak percaya. \"Kau sudah menyiapkan semua ini? Bahkan sebelum rapat ulang tadi?\"
Namien menyeringai, kembali ke watak aslinya yang sombong. Ia mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.
\"Seorang ahli strategi yang baik berpikir satu langkah ke depan,\" kata Namien bangga.
\"Tapi seorang jenius sepertiku? Aku sudah memikirkan sepuluh langkah sebelum langkah pertamaku dimulai. Eksekusinya ada di tanganmu sekarang.\"
Veyla tidak bisa menahan senyum tipis di wajahnya. Rasa hormatnya pada Namien tumbuh sedikit demi sedikit, meski ia enggan mengakuinya.
\"Baiklah, Tuan Jenius,\" kata Veyla sambil menyimpan petasan itu ke dalam tas pinggangnya dengan aman. \"Pastikan saja kau tidak ikut mati konyol saat air itu turun. Jangan sampai terseret arus.\"
\"Hah! Khawatirkan dirimu sendiri terlebih dahulu!\" balas Namien.
Veyla menghentakkan tali kekangnya. \"Hya!\"
Kuda hitam itu meringkik keras dan melesat maju, membawa Veyla pergi meninggalkan Namien di belakang, bergabung dengan arus pasukan yang menuju kota. Namien tertawa kecil melihat kepergiannya, merasa puas bahwa setidaknya satu bagian dari rencananya telah berjalan.
Tak lama setelah Veyla menghilang di balik debu, Silas Verne muncul dari kerumunan. Pria tua itu berjalan terpincang dengan tongkatnya, namun matanya tajam mengamati segalanya. Ia berhenti tepat di samping Namien.
Silas tertawa pelan, suara yang terdengar seperti gesekan kertas pasir.
\"Kau terlihat sangat percaya diri, Ular,\" komentar Silas.
\"Jadi, bagaimana prediksi sukses rencanamu kali ini? Apakah kita akan menang atau kita semua akan mati konyol?\"
Namien menoleh ke arah pemimpin revolusi itu. Ia tersenyum, namun matanya tetap waspada.
\"Sembilan puluh persen,\" jawab Namien mantap.
\"Sembilan puluh persen aku yakin ini berhasil meruntuhkan pertahanan kota dan memukul mundur pasukan Goulash.\"
Silas mengangkat alisnya yang memutih. \"Angka yang tinggi. Lalu, bagaimana dengan sepuluh persen sisanya? Apa yang membuatmu ragu?\"
Senyum di wajah Namien sedikit memudar. Ia menatap ke arah istana Jargmund yang menjulang di kejauhan, tempat di mana monster itu bersemayam.
\"Sepuluh persen itu adalah faktor ketidakpastian yang paling kubenci,\" jawab Namien pelan, nada suaranya berubah dingin.
\"Vorlag.\"
\"Kita hanya bisa berdoa agar halangan terbesar kita itu mati terseret air, atau setidaknya tertimbun jutaan ton lumpur dan batu. Karena jika air bah saja tidak bisa membunuhnya... maka tidak ada yang bisa.\"
Silas terdiam mendengar jawaban itu. Ia menatap punggung-punggung prajuritnya yang bergerak menjauh, menyadari bahwa mereka sedang berjudi dengan nasib.
\"Ya...\" gumam Silas pelan, cengkeramannya pada tongkat mengerat.
\"Semoga saja air itu lebih kuat daripada monster itu.\"
Other Stories
Sudut Pandang
Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Haruskah Bertemu?
Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...
Loren Ipsum
test ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...