Bab Empat Puluh Tiga: Garda Depan Menembus Keheningan
Di jalanan berlumpur Sektor Bawah, pemandangan neraka duniawi terhampar jelas. Pasukan Jargmund yang brutal telah mengumpulkan puluhan penduduk yang tertangkap basah saat mencoba melarikan diri. Mereka dipaksa berbaris memanjang dengan posisi tubuh telungkup, wajah mereka ditekan ke tanah yang kotor dan berbau busuk.
Barisan itu adalah potret keputusasaan. Jeritan minta ampun, doa-doa yang dipanjatkan kepada dewa yang tuli, dan raungan minta tolong bersahut-sahutan. Di sana ada orang tua renta yang tubuhnya gemetar hebat, wanita-wanita pelacur dengan riasan luntur yang menangis histeris dengan berkata mereka berjanji akan melakukan apa saja asalkan nyawa mereka diampuni oleh prajurit-prajurit yang hendak mengeksekusi mereka dan anak-anak kecil yang menangis tanpa mengerti mengapa mereka diperlakukan seperti itu yang membuat mereka ketakutan.
\"DIAM!\" bentak salah seorang prajurit Jargmund, menendang rusuk seorang kakek tua hingga terdengar bunyi tulang retak.
Sebagian besar tawanan terdiam karena ketakutan, menahan napas mereka. Namun, satu isak tangis kecil masih terdengar lolos dan menyayat diam yang dipaksakan itu.
Seorang prajurit berwajah bengis menoleh. Matanya tertuju pada seorang anak kecil yang berusaha menutup mulutnya sendiri dengan tangan mungilnya, namun gagal menahan ketakutannya.
Prajurit itu berjalan mendekat, lalu jongkok di samping kepala anak itu. Dengan kasar, ia menjambak rambut anak tersebut, menariknya ke belakang hingga wajah anak itu terangkat paksa. Pipi bocah itu kotor oleh tanah bercampur air mata.
\"Kenapa kau menangis, Tikus Kecil?\" tanya prajurit itu dengan nada mengejek yang lembut namun mengerikan.
\"Kau lapar? Kau mau makanan? Atau kau mau uang?\"
Anak itu tidak bisa menjawab, kerongkongannya tercekat oleh teror.
Melihat korbannya membisu, prajurit itu mendengus bosan. Ia melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membiarkan wajah anak itu menghantam tanah kembali dengan keras.
\"Sayang sekali,\" gumam prajurit itu sambil berdiri dan mencabut pedangnya perlahan. Logam berdesing, siap untuk memenggal leher kecil itu.
Namun, tepat sebelum ia mengayunkan pedangnya, prajurit lain di belakangnya menyenggol lengannya.
\"Hei, lihat itu!\" seru rekannya, menunjuk ke ujung jalan yang berdebu. \"Ada orang gila yang berlari ke arah kita.\"
Prajurit eksekutor itu menoleh ke belakang. Di kejauhan, sesosok tubuh berlari kencang menerjang debu. Pedang sudah tergenggam di tangannya, matanya tajam menatap lurus ke arah mereka. Itu adalah Sora. Sendirian.
Para prajurit Jargmund itu tertawa meremehkan.
\"Satu orang?\" cibir prajurit eksekutor itu. \"Orang itu pasti sudah kehilangan akal sehatnya. Dia pikir dia siapa melawan kita semua?\"
\"Biar aku yang mengurus sampah ini,\" kata salah satu prajurit tombak dengan angkuh. Ia melangkah maju keluar dari barisan, menyiapkan perisai besarnya dan mengarahkan tombaknya ke depan, siap menyate orang bodoh yang berlari ke arahnya itu.
Sora tidak melambat. Matanya mengunci posisi prajurit tombak itu. Ia melihat kuda-kuda musuh, melihat ujung tombak yang berkilat.
Tepat saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, prajurit itu menghunuskan tombaknya dengan kuat ke arah dada Sora.
Sora menggeser tubuhnya ke samping dengan kecepatan kilat, membiarkan mata tombak itu lewat hanya beberapa inci dari rusuknya. Tanpa membuang momentum, Sora melompat dan menghantamkan kakinya sekuat tenaga tepat ke tengah perisai prajurit itu.
Tendangan itu begitu kuat hingga membuat prajurit itu terpental ke belakang, pertahanannya terbuka lebar. Celah itu adalah vonis mati. Sora menebas leher prajurit itu dalam satu gerakan fluida saat ia mendarat.
Darah menyembur. Prajurit lain yang melihat rekannya tewas dalam sekejap mata langsung berteriak marah.
\"SERANG DIA!\"
Enam prajurit sisa menerjang Sora bersamaan. Namun, bagi Sora, ini bukanlah perkelahian, melainkan tarian kematian. Ia menangkis, menghindar, dan menebas dengan efisiensi yang mengerikan. Ia bergerak seperti hantu di antara sabetan pedang musuh, menjatuhkan mereka satu per satu sebelum mereka menyadari di mana ia berada.
Dalam hitungan detik, ketujuh prajurit Jargmund itu tergeletak tak bernyawa di tanah berlumpur.
Sora menyarungkan pedangnya yang berdarah, lalu segera berlutut membantu anak kecil yang tadi hampir dieksekusi untuk berdiri. Ia memberi isyarat kepada penduduk lain untuk bangun.
Saat penduduk itu berdiri dengan bingung dan takut, terdengar suara gemuruh langkah kaki yang lebih besar dari arah belakang Sora. Debu membumbung tinggi.
Vael, Arelan, dan puluhan pasukan revolusi muncul dari balik tikungan, wajah mereka penuh tekad.
Sora menunjuk ke arah pasukan revolusi itu, lalu menunjuk ke arah gang aman di sebelah kiri, memberi isyarat pada penduduk: Pergilah ke tempat aman.
Pasukan revolusi dengan sigap mengambil alih. \"Cepat! Lewat sini! Mengungsi ke saluran air! Kami akan melindungi kalian!\" seru salah satu kapten regu.
Penduduk yang ketakutan itu menurut, berlari mengikuti arahan pasukan revolusi. Mereka menoleh sekilas ke arah Sora, sang penyelamat bisu yang tidak berhenti untuk menerima terima kasih.
Sora sudah berlari lagi. Ia menerjang maju lebih dalam ke jantung pertempuran.
Vael dan Arelan memacu langkah mereka, menyusul Sora hingga mereka kini berlari sejajar di sampingnya itu.
\"Terus ke pusat, Sora!\" teriak Vael di tengah derap lari mereka. \"Kita harus menarik perhatian pasukan utamanya!\"
Di sisi kiri, Arelan menggeram, matanya menyapu pemandangan mayat-mayat warga sipil yang bergelimpangan di sepanjang jalan. \"Bajingan-bajingan ini... aku tidak tahan melihat kekacauan seperti ini. Mereka benar-benar membantai semuanya.\"
Sora tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke depan.
Di ujung jalan sana, selusin prajurit Jargmund sedang mengepung sekelompok warga, pedang mereka terangkat tinggi, siap untuk pesta darah berikutnya.
Melihat itu, Arelan kehilangan kendalinya.
\"MATI KALIAN SEMUA!\"
Arelan berteriak sekeras-kerasnya, suaranya menggelegar seperti auman beruang. Ia mempercepat langkahnya, kapak kembarnya siap membelah apa pun yang menghalanginya. Vael menyusul dengan pedang Thelan yang berkilat.
Dan Sora, tak mau kehilangan momentum sedetik pun, memacu kakinya lebih cepat, menyusul kedua saudaranya itu untuk menghantam barisan musuh dan menyelamatkan nyawa-nyawa yang tersisa di ujung pedang tiran.
Sementara darah rakyatnya membanjiri selokan di Sektor Bawah, suasana di dalam Balairung Istana Jargmund justru dipenuhi oleh gelak tawa yang memuakkan.
Raja Goulash duduk santai di takhta emasnya yang dilapisi beludru merah. Tubuhnya yang gemuk dan buncit terguncang-guncang setiap kali ia tertawa. Di pangkuannya dan di sampingnya itu terdapat wanita penghibur yang berusaha memanjakannya. Wanita cantik itu dengan pakaian minimnya sedang menyuapkan buah anggur ke dalam mulut Goulash yang terbuka lebar.
\"Aammm...\" Goulash mengunyah anggur itu dengan kasar, sari buahnya muncrat sedikit keluar dari bibirnya yang basah, menetes ke dagu lipatnya.
\"Hahahaha! Enak! Enak sekali!\" seru Goulash seperti anak kecil yang mendapat permen, sementara wanita itu tersenyum manis dan mengusap sisa cairan di dagu sang raja.
\"Anda terlihat sangat menikmati hidup, Yang Mulia,\" puji wanita itu, membuat Goulash semakin membusungkan dadanya yang berlemak.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru merusak suasana pesta kecil itu. Pintu balairung terbuka, dan seorang perwira tinggi istana masuk dengan napas sedikit tersengal. Ia berlutut di hadapan takhta.
Goulash menghentikan kunyahannya. Wajahnya yang gembira seketika berubah masam karena kesenangan pribadinya terganggu.
\"Kau lagi, kau lagi!\" bentak Goulash, melempar biji anggur ke arah perwira itu. \"Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk?! Waktuku sangat berharga, bodoh! Cepat katakan apa maumu sebelum aku suruh pengawal memotong lidahmu!\"
Perwira itu menelan ludah, keringat dingin membasahi punggungnya. \"Ampun, Yang Mulia. Hamba membawa kabar mendesak. Operasi pembersihan di Sektor Bawah... sudah berjalan sesuai perintah. Pasukan kita sedang membumihanguskan area tersebut saat ini.\"
Goulash mengerutkan kening, tampak bingung seolah-olah ia lupa pernah memerintahkan pembantaian massal.
\"Sektor Bawah?\" tanya Goulash dengan wajah polos yang bodoh. \"Sektor yang mana itu? Dan mengapa aku harus peduli?\"
\"Itu... wilayah yang dihuni oleh rakyat miskin, Yang Mulia,\" jelas perwira itu dengan hati-hati. \"Mereka yang tidak mampu membayar upeti bulan lalu.\"
\"Oh! Tikus-tikus kumuh itu,\" Goulash mendengus meremehkan. \"Lantas? Apa hubungannya denganku jika sampah dibakar?\"
\"Begini, Yang Mulia,\" lanjut perwira itu. \"Kekacauan yang terjadi di sana memancing reaksi. Laporan terbaru yang menyebutkan bahwa seluruh Pasukan Revolusi kini bergerak keluar dari tempat persembunyian mereka. Mereka saat ini sedang berada di Sektor Bawah dan mencoba menyelamatkan penduduk di sana.\"
Mendengar laporan itu, mata Goulash berbinar. Ia tidak merasa terancam; sebaliknya, ia merasa menang. Ia tertawa terbahak-bahak hingga perutnya berguncang hebat.
\"Hahahaha! Bagus! Bagus sekali!\" seru Goulash sambil memukul paha wanita di sampingnya karena terlalu bersemangat. \"Tikus-tikus itu akhirnya keluar dari lubangnya karena tidak tega melihat teman-temannya mati! Lanjutkan rencananya dan pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang lolos! Berikan aku kabar mengenai kepala mereka sudah dipenggal!\"
Perwira itu mengangguk patuh. \"Siap laksanakan, Yang Mulia.\"
Perwira itu bangkit dan hendak berbalik pergi, namun suara Goulash menghentikannya.
\"Tunggu,\" kata Goulash, senyum licik terukir di wajahnya. \"Si Vorlag... apakah monster itu sudah tahu soal ini?\"
\"Belum, Yang Mulia,\" jawab perwira itu. \"Jenderal Vorlag masih berada di area latihan pribadinya.\"
Goulash menyeringai lebar, membayangkan pertunjukan darah yang akan segera terjadi.
\"Beritahu dia,\" perintah Goulash dengan nada sadis. \"Katakan kepadanya bahwa tikus-tikus kecil sudah keluar dari sarangnya dan sedang bermain di halaman rumahnya. Katakan juga... tikus-tikus itu perlu dibasmi dengan cara yang paling brutal.\"
\"Hamba mengerti,\" jawab perwira itu, lalu bergegas keluar ruangan untuk menyampaikan pesan kematian itu kepada sang Anomali.
Sepeninggal perwira itu, Goulash kembali menyandarkan tubuhnya yang berat ke sandaran takhta. Wanita penghibur di sampingnya kembali membelai lengan sang raja, mencoba mengembalikan suasana hati tuannya.
\"Yang Mulia...\" tanya wanita itu dengan suara lembut dan manja. \"Siapa sebenarnya penduduk Sektor Bawah itu? Kenapa mereka harus dibunuh?\"
Goulash menoleh, tangannya yang penuh cincin emas meraba tubuh putih wanita itu dengan penuh nafsu.
\"Mereka?\" jawab Goulash dengan nada merajuk yang dibuat-buat.
\"Mereka adalah orang-orang menjijikkan yang tidak tahu terima kasih, Sayangku. Bayangkan, aku... Raja Goulash yang dermawan ini, sudah memberikan mereka tempat tinggal di kerajaanku, memberikan mereka tanah untuk dipijak... tapi apa balasannya? Mereka bahkan tidak mau menyisihkan sedikit uang untuk membayarnya kepadaku. Dasar tak tahu malu mereka itu.\"
Wanita itu tertawa pelan dan menutupi mulutnya dengan anggun untuk menyembunyikan rasa jijiknya sendiri demi bertahan hidup.
\"Ah, Anda benar sekali,\" katanya dengan memuji.
\"Anda adalah raja idaman yang terlalu baik hati. Merekalah yang bodoh karena menyia-nyiakan kebaikan Anda.\"
Pujian itu melambungkan ego Goulash setinggi langit. Ia merasa dibenarkan, merasa suci dalam kekejamannya.
\"Hahahaha! Tentu saja aku raja idaman!\" tawa Goulash menggelegar di seluruh ruangan yang megah itu.
Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang menyesakkan, tertawa pulas di atas penderitaan ribuan rakyatnya yang kini sedang meregang nyawa di ujung tombak pasukannya sendiri, sama sekali tidak menyadari bahwa air bah sedang bersiap untuk menghapus kesombongannya.
Pertempuran di jalan utama Sektor Bawah semakin kacau. Debu bercampur darah, dan denting logam menjadi simfoni kematian yang memekakkan telinga.
Sora, yang telah bertarung tanpa henti, kini mulai merasakan beratnya tekanan. Tiga prajurit Jargmund mengepungnya sekaligus, tombak-tombak mereka menusuk secara bergantian dengan koordinasi yang menyulitkan. Sora menangkis serangan dari kiri, memutar tubuh untuk menghindari sabetan dari kanan, namun ia tak memiliki celah untuk melancarkan serangan balasan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Di sisi lain, Arelan bertarung seperti banteng yang terluka. Ia mengayunkan kapak kembarnya dengan kekuatan monster.
\"AAAARRRGGHH!\"
Teriakan perang Arelan menggelegar, meruntuhkan moral musuh. Dengan satu hantaman vertikal yang brutal, ia membelah perisai baja seorang prajurit hingga hancur berkeping-keping. Barisan pasukan Jargmund di hadapannya mundur selangkah, menatap kengerian sosok yang hidup dan bernapas hanya untuk perang itu. Bagi mereka, Arelan bukanlah manusia, melainkan binatang buas yang bertarung hingga ajalnya sendiri yang menjemputnya.
Sementara itu, Vael menunjukkan sisi lain dari seni membunuh. Ia dikelilingi oleh empat prajurit, namun wajahnya tetap tenang, seolah permukaan air yang tak terusik. Saat pedang-pedang musuh menebas ke arahnya, Vael hanya menggeser tubuhnya sedikit dengan gerakan minimal yang efisien.
Dengan satu gerakan tangkas, Vael membalas serangan. Ujung pedangnya menusuk celah zirah dan mengonfirmasi kematiannya dengan belatinya itu tepat di leher lawan, membuat prajurit itu tersungkur tanpa suara. Ketenangan Vael di tengah badai pedang membuat musuh-musuhnya ragu untuk maju lagi.
Tepat di saat genting itu, tanah bergetar. Pasukan utama revolusi akhirnya tiba, menerjang masuk ke medan laga seperti gelombang pasang, memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan bagi tiga ksatria yang terpojok itu.
Suara gemuruh sorak-sorai bantuan itu membuat Sora refleks menoleh ke belakang sejenak, sebuah kesalahan fatal di tengah duel hidup dan mati.
\"MATI KAU, PEMBERONTAK!\"
Salah satu prajurit di hadapan Sora melihat celah itu. Ia berteriak, melompat maju, dan mengayunkan pedangnya untuk memenggal leher Sora yang sedang lengah.
Sora tersentak. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan, namun terlambat untuk menghindar atau menyerang balik. Ia hanya sempat mengangkat pedangnya dalam posisi bertahan yang canggung, bersiap menerima benturan keras yang mungkin akan mematahkan tulangnya.
Namun, benturan itu tidak pernah terjadi.
Sebuah anak panah melesat dengan kecepatan mengerikan, membelah udara, dan menancap telak menembus helm baja prajurit itu, tepat di bagian pelipisnya. Prajurit itu ambruk seketika, mati sebelum pedangnya menyentuh Sora.
Jatuhnya prajurit itu membuka celah lebar. Sora tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua. Dengan gerakan berputar, ia menebas kaki dua prajurit sisa yang masih terkejut, lalu mengakhiri hidup mereka dengan tusukan cepat.
Napas Sora memburu. Ia menoleh ke belakang, mencari arah datangnya panah penyelamat itu.
Di sana, di antara kerumunan pasukan revolusi yang sedang menyerbu, berdiri Kaelith. Gadis itu baru saja menurunkan busurnya. Matanya bertemu dengan mata Sora. Tidak ada senyum, hanya tatapan datar yang menyiratkan rasa bersalah yang dalam dan pengakuan diam-diam.
Sora terdiam, hatinya berdesir. Ia masih memendam perasaannya, namun ia tahu ini bukan waktunya untuk bicara. Ia mengangguk kecil, lalu kembali memutar tubuhnya, memfokuskan seluruh perhatiannya pada musuh di hadapan.
Kaelith yang melihat Sora kembali bertarung, menarik anak panah berikutnya. Dalam hati, ia mengutuk dirinya sendiri.
\'Menyelamatkan nyawanya satu kali tidak akan pernah cukup untuk membayar dosa yang telah kuperbuat. Tidak setelah apa yang kukatakan padanya. Aku akan menyelesaikan urusan perasaan ini nanti,\' batin Kaelith. \'Sekarang, ada iblis yang harus kuburu.\'
Kaelith kembali fokus. Ia menyadari posisinya di tanah tidak cukup strategis untuk mencari target utamanya. Matanya menyapu sekitar, mencari tempat tinggi. Ia melihat sebuah bangunan gudang tua yang masih berdiri kokoh di dekat alun-alun pasar.
Dengan gesit, Kaelith berlari, memanjat tangga kayu di sisi bangunan itu hingga mencapai atap. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat seluruh kekacauan pertempuran dengan penuh darah, api, dan kematian.
\"Di mana kau...\" gumam Kaelith, matanya menyipit tajam seperti elang yang mencari mangsa. \"Di mana kau, Jenderal brengsek yang telah menghancurkanku?\"
Pandangannya menyisir barisan belakang pasukan Jargmund, tempat para perwira biasanya bersembunyi.
Dan kemudian, ia melihatnya.
Di garis belakang, jauh dari jangkauan pedang pasukan revolusi, seorang pria bertubuh besar duduk dengan angkuh di atas kuda putih yang bersih. Ia tidak mengenakan helm, membiarkan wajahnya yang penuh lemak dan kesombongan terlihat jelas. Pria itu menatap pembantaian di depannya bukan dengan rasa ngeri, melainkan dengan tatapan bosan, seolah sedang menonton pertunjukan sirkus yang mengecewakan.
Itu dia. Wajah yang menghantui mimpi buruk Kaelith setiap malam. Jenderal yang memperkosanya.
Darah Kaelith mendidih. Cengkeramannya pada busur mengeras hingga kayu itu berderit.
\"Ketemu kau,\" desis Kaelith pelan, senyum sinis yang penuh dendam terukir di bibirnya.
Tanpa membuang waktu, Kaelith meluncur turun dari tangga dengan cepat, mengabaikan keselamatan dirinya sendiri. Kakinya mendarat di tanah, dan ia langsung bergerak maju, membelah medan pertempuran.
Ia tidak lagi berlindung di garis belakang. Kaelith menerjang ke garis depan.
Seorang prajurit Jargmund mencoba menghadangnya. Tanpa berhenti lari, Kaelith menarik busur dan melepaskan panah dalam jarak dekat.
Panah itu menembus leher prajurit itu.
\"Minggir!\" geram Kaelith.
Ia melesatkan anak panah demi anak panah dengan presisi kematian yang mutlak. Amarah dan frustrasinya menjadi bahan bakar yang membuat bidikannya semakin mematikan. Ia tidak peduli pada prajurit kroco di sekitarnya; mereka hanyalah rintangan yang harus disingkirkan.
Pikirannya kini hanya tertuju pada satu tujuan tunggal: Menyeret Jenderal itu dari kuda putihnya, dan membuatnya membayar setiap inci penderitaan yang ia rasakan dengan harga mati.
Other Stories
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...