Bab Empat Puluh Empat: Barikade Baja Yang Tak Tertembus Dan Anak Panah Dendam
Di tengah hiruk-pikuk pertempuran, Sora berusaha keras menembus dinding perisai baja yang dibangun oleh pasukan elit Jargmund. Tombak-tombak panjang menyembul dari sela-sela perisai seperti duri landak yang mematikan, menahan setiap langkah maju Sora. Ia menangkis ke kiri dan ke kanan, namun jumlah musuh terlalu banyak untuk ditembus sendirian.
Vael, yang baru saja menyelesaikan kepungan di sisinya dengan gerakan yang efisien, melihat Sora yang mulai terdesak. Tanpa ragu, Vael berlari menerjang ke arah rekannya.
\"Sora! Menunduk!\" teriak Vael keras, suaranya membelah kebisingan perang.
Insting Sora bekerja lebih cepat dari pikirannya. Tepat saat ia menangkis serangan tombak yang mengarah ke lehernya, ia menjatuhkan tubuhnya ke bawah, berjongkok rendah dengan kuda-kuda yang kokoh.
Vael memanfaatkan momen itu. Sambil berlari, tangannya bergerak dengan melemparkan belatinya.
Belati itu menancap presisi di dahi prajurit pemegang perisai utama, membuatnya terhuyung ke belakang. Vael tidak berhenti; ia melompat, kakinya mendarat di punggung Sora yang membungkuk, menjadikannya pijakan untuk melontarkan tubuhnya ke udara.
Dengan gaya gravitasi di pihaknya, Vael menebas dari atas ke bawah. Pedang Thelan membelah pertahanan musuh yang goyah, menjatuhkan prajurit itu seketika.
Vael mendarat dengan mulus, mencabut kembali belatinya dari mayat musuh, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya kepada Sora.
\"Bangunlah,\" kata Vael singkat. Sora menyambut uluran tangan itu, dan Vael menariknya berdiri.
Tak lama kemudian, Arelan bergabung dengan mereka setelah menghancurkan sisa musuh di sektornya dengan kapak kembarnya yang berlumuran darah. Napasnya memburu, namun matanya waspada.
\"Oi!\" teriak Arelan agar suaranya terdengar di tengah gemuruh teriakan dan denting logam. \"Kita tidak bisa terus begini! Jika mereka tetap mempertahankan barikade rapat seperti itu, kita hanya membuang waktu saj. Bala bantuan mereka pasti sedang dalam perjalanan, dan demi janggut para dewa, jika Vorlag tahu kita di sini, kita semua tamat sebelum evakuasi selesai!\"
Vael menatap barikade musuh yang kembali merapatkan barisan di depan sana. Ia mengangkat pedangnya, menunjuk lurus ke arah garis belakang musuh yang jauh.
\"Target kita ada di sana,\" kata Vael dingin. \"Jenderal di atas kuda putih itu. Jika kita menjatuhkannya, moral pasukan mereka akan runtuh.\"
Arelan menyeka keringat di dahinya. \"Mudah diucapkan! Tapi menembus dinding baja itu butuh waktu lama jika hanya mengandalkan kita bertiga dan sisa pasukan revolusi ini!\"
Sora yang sedari tadi diam mendengarkan, mengedarkan pandangannya ke sekeliling medan tempur yang porak-poranda. Matanya menangkap puing-puing gerobak pasar yang hancur dan beberapa balok kayu yang sedang terbakar akibat kerusuhan.
Sora menepuk bahu Vael dengan cepat, lalu menunjuk ke arah tumpukan rongsokan kayu dan api yang menyala di dekat kios yang hancur. Kemudian ia menunjuk ke arah barikade musuh dengan gerakan melempar.
Vael mengerutkan kening sejenak, mencoba menerka. Namun Arelan, dengan insting perangnya yang kasar, langsung paham.
\"Hah! Ide bagus!\" seru Arelan sambil menyeringai lebar. \"Dia ingin kita melempari bajingan-bajingan itu dengan sampah terbakar! Kita bakar formasi mereka biar bubar!\"
Vael menoleh ke arah Sora, meminta konfirmasi. Sora mengangguk mantap.
Tanpa membuang waktu, Vael berbalik menghadap sisa pasukan revolusi yang sedang bertarung dan mengevakuasi warga di sekitar mereka.
\"PASUKAN!\" teriak Vael dengan suara komandonya yang berwibawa. \"Cepat selesaikan musuh di depan kalian! Bantu yang kesusahan! Bagi yang sudah selesai, cepatlah berkumpul kemari! Kita butuh api!\"
Sementara pasukan mulai bergerak merespons perintah itu, Sora menyempatkan diri mengusap keringat yang membasahi matanya. Ia kembali menatap barikade musuh, melakukan observasi cepat untuk mencari celah lemparan terbaik.
Namun, observasinya terhenti mendadak. Matanya membelalak lebar.
Di sela-sela pertempuran, ia melihat sosok ramping dengan busur besar bergerak liar. Itu Kaelith.
Gadis itu tidak menunggu rencana, tidak menunggu bantuan. Dengan kenekatan yang didorong oleh dendam murni, Kaelith menerobos celah sempit di sisi barikade musuh, melesakkan anak panah dalam jarak dekat, dan terus maju sendirian menuju Jenderal berkuda putih itu. Ia benar-benar masuk ke sarang singa tanpa perlindungan.
\"Gawat!\" batin Sora.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah, tapi karena rasa takut kehilangan. Tindakan Kaelith yang baru saja ia lihat itu adalah tindakan bunuh diri.
Tanpa mempedulikan rencana pelemparan api yang baru saja ia usulkan, tubuh Sora bergerak dengan sendirinya. Ia meninggalkan Vael dan Arelan, berlari kencang menyusul Kaelith.
\"Sora?!\" teriak Vael kaget melihat rekannya tiba-tiba melesat pergi.
Vael dan Arelan mengikuti arah pandang Sora, dan saat itulah mereka melihat apa yang dilihat Sora. Sosok Kaelith yang dikelilingi musuh, namun terus maju dengan mata gelap.
\"Sialan!\" maki Arelan keras. \"Perempuan itu benar-benar gila!\"
Arelan menggeram, lalu memacu kakinya yang kelelahan dengan sekuat tenaga, berlari sekali lagi seperti binatang buas yang mengamuk menyusul Sora dari belakang. Vael tidak berkata apa-apa lagi. Wajahnya mengeras, dan tanpa basa-basi ia ikut berlari di belakang mereka.
Rencana taktis hancur sudah. Kini prioritas mereka berubah: melindungi Kaelith dari kebodohannya sendiri sebelum tombak-tombak Jargmund mencabik tubuhnya.
Kaelith bergerak seperti kilat di tengah badai baja. Jemarinya menarik tali busur dengan kecepatan yang menyakitkan otot, melepaskan anak panah dalam jarak dekat yang fatal. Setiap kali musuh mendekat, satu anak panah menancap di leher atau mata mereka.
Namun, lautan musuh itu seolah tak berujung. Jarak antara Kaelith dan barikade musuh semakin menyempit, mencekiknya perlahan. Tangannya meraba tabung panah di punggungnya, dan jantungnya berdesir ngeri saat menyadari hanya tinggal angin yang tersisa di sana. Amunisinya habis.
\"Sial!\" umpat Kaelith.
Tanpa pilihan lain, ia menyampirkan busurnya ke belakang punggungnya dan mencabut pisau pemburu dari pinggangnya. Kini, ia harus bertarung dalam jarak yang sangat intim dengan kematian.
Setiap kali prajurit Jargmund mengayunkan pedang, Kaelith menangkis, mengelak, dan menjatuhkan mereka dengan sapuan kaki, lalu menusukkan pisaunya ke celah-celah zirah yang terbuka seperti ketiak, leher, dan paha dalam. Napasnya memburu, darah musuh menciprati wajahnya.
Tiba-tiba, seorang perwira musuh berteriak saat mengenali wajah Kaelith di balik cipratan darah itu.
\"Tunggu! Jangan bunuh dia!\" seru perwira itu lantang. \"Itu wanita buronan Raja! Goulash menginginkannya hidup-hidup! Tangkap dia!\"
Mendengar perintah itu, serangan para prajurit berubah ragu-ragu. Mereka tidak lagi mencoba menebas, melainkan mencoba mengepung dan mencengkeramnya. Tangan-tangan kasar mencoba meraih lengan dan rambutnya.
\"Jangan sentuh aku, Bangsat!\" teriak Kaelith histeris. Ia menyayat tangan yang mencoba menangkapnya. \"Aku tidak sudi menjadi mainan Raja kalian yang bejat! Aku lebih baik mati!\"
Kaelith terus melawan, namun tenaga fisiknya mulai terkuras. Kepungan itu semakin rapat.
Tiba-tiba, dari arah belakang barikade, ledakan kekuatan fisik menghantam barisan musuh. Tiga sosok menerobos masuk bak ombak yang menghancurkan karang.
Sora bergerak paling depan dengan kecepatan yang tak masuk akal. Ia tidak membuang waktu dengan duel pedang biasa; ia menendang perisai besi musuh dengan kekuatan penuh, membuat pemiliknya terpelanting, lalu menebas leher mereka saat pertahanan terbuka.
Di sisinya, Vael bertarung dengan presisi bedah. Ia tidak menghancurkan perisai, melainkan mencari celah sekecil apa pun. Ketika prajurit musuh lengah, belati Vael sudah menancap di mata atau tenggorokan mereka.
Dan Arelan... dia adalah mimpi buruk.
\"MINGGIR!!!\"
Teriakan perang Arelan menggelegar, meruntuhkan nyali siapa pun yang mendengarnya. Kapak kembarnya menghantam perisai dan tombak musuh bertubi-tubi dengan tenaga monster. Besi bengkok, kayu patah, dan tulang pasukan muush yang menahan serangan brutal Arelan seketika remuk. Barikade yang kokoh itu kocar-kacir hanya karena amukan satu orang.
Kaelith yang melihat celah terbuka di tengah kekacauan itu, tersenyum lebar di tengah keputusasaannya.
\"DI SINI!\" teriak Kaelith melambai.
Suara itu menjadi suar bagi ketiga rekannya. Mereka membuka celah selebar mungkin, menebas jalan darah menuju Kaelith.
Sora adalah yang pertama sampai. Ia melihat Kaelith dikelilingi musuh dari segala arah. Tanpa basa-basi, Sora melompat masuk ke lingkaran itu.
Dengan satu tangan, ia menekan kepala Kaelith ke bawah dengan tegas namun protektif, memaksanya untuk menunduk dengan tangan kasarnya itu.
Detik berikutnya, pedang Sora berputar dalam ayunan horizontal yang luas dan mematikan.
Tiga prajurit yang hendak menangkap Kaelith tumbang seketika dengan leher tergores dalam. Kaelith, yang berada dalam lindungan tangan Sora, hanya bisa terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia baru saja menampar dan mengusir pria ini, namun Sora datang menyelamatkannya tanpa ragu sedikit pun, menjadi perisai hidupnya sekali lagi.
Area di sekitar mereka bersih sejenak. Vael dan Arelan segera merapat. Kini, mereka berempat berdiri dalam formasi lingkaran, saling membelakangi, dikepung oleh lautan musuh yang masih tersisa.
Napas mereka memburu, uap panas keluar dari mulut mereka.
\"Apa rencana selanjutnya?!\" teriak Arelan sambil menangkis tombak yang datang. \"Kita terjebak di tengah-tengah!\"
\"Bukakan jalan!\" balas Kaelith berteriak, matanya liar menatap ke arah depan. \"Biar aku yang mengurus Jenderal itu!\"
\"Untuk apa?!\" protes Vael, suaranya tetap tenang meski volumenya naik. \"Kita sudah dikepung! Menyerang ke depan sama saja bunuh diri!\"
\"Jenderal itu...\" geram Kaelith, suaranya penuh dendam yang murni. \"...dia terikat kontrak mati tak tertulis denganku!\"
Sora yang mendengar itu, langsung menoleh ke arah kejauhan. Ia melihat Jenderal berkuda putih yang masih santai menonton. Ia mengerti. Tatapan mata Sora berubah tajam; ia tahu apa yang dirasakan Kaelith karena ia pernah merasakannya saat melihat Kaelith hancur.
\"Oi, Nona!\" teriak Arelan kesal. \"Menerobos pertahanan musuh yang setebal ini tidak semudah apa yang kau ucapkan! Dan tindakan bodohmu ini akan membuat kita semua mati tanpa membalaskan dendammu itu!\"
\"Buatkan serangan terobosan sekali lagi!\" tantang Kaelith, ia kembali mencabut pisau keduanya, siap menerjang. \"Beri aku jalan, dan aku tidak akan mengecewakan pertunjukannya!\"
Vael menatap punggung Kaelith. Ia mendengar kepedihan dan tekad baja dalam suara itu. Akhirnya, Vael menghela napas pasrah.
\"Baiklah!\" teriak Vael setuju. \"Aku pegang janjimu itu!\"
Kaelith tersenyum puas. \"Terima kasih!\"
Arelan hanya bisa memutar bola matanya sambil menggerutu panjang pendek. \"Lagi dan lagi... mengapa kita selalu mengikuti rencana gila ini.\"
Namun, gerutuan itu segera berubah menjadi auman perang.
\"AAAAARRGGHH! MAJU KALIAN SEMUA!\"
Arelan kembali mengayunkan kapaknya, menjadi ujung tombak yang menghancurkan barisan depan. Sora bergerak di sampingnya, menebas dengan kecepatan tinggi untuk membuka jalur yang bersih bagi Kaelith.
Di belakang, Vael melindungi punggung Kaelith dari serangan susulan, memastikan tidak ada satu pun tangan kotor musuh yang bisa menyentuh sang pemanah dalam perjalanannya menagih hutang nyawa.
Sementara itu pertempuran sengit meletus di Sektor Bawah, suasana di markas revolusi dipenuhi ketegangan yang sunyi. Di depan bengkel Feron, tim kecil yang dibentuk Namien telah berkumpul. Mereka memanggul tas-tas berat berisi gentong tar, bubuk mesiu, dan minyak yang telah diracik.
Lyra berdiri di hadapan mereka, memberikan instruksi terakhir kepada enam orang dari unit logistik dan mata-mata, termasuk Eleonora seorang wanita tua yang menyelamatkan Kaelith di saat Kaelith diperkosa saat itu dan dengan kemampuan menyelinap yang luar biasa sebagai tangan kanan Lyra itu.
\"Dengar,\" kata Lyra tegas, matanya menatap Eleonora dan yang lainnya. \"Kalian adalah kunci dari kehancuran ini. Ikuti setiap perintah Namien tanpa bertanya. Jangan membuat kegaduhan yang tak berarti dan jangan terlihat oleh pasukan Jargmund. Nyawa ribuan orang bergantung pada keberhasilan kalian dalam meledakkan bendungan itu tepat waktu.\"
Eleonora mengangguk mantap, wajahnya tertutup separuh oleh kain pelindung debu, namun matanya memancarkan keseriusan. \"Dimengerti!\"
Setelah memastikan tim siap, Lyra bergegas menghampiri Namien yang sedang memeriksa ulang ikatan tasnya sendiri dengan santai.
\"Kau sudah siap?\" tanya Lyra, nadanya sedikit mendesak.
Namien menoleh, tersenyum miring. \"Pertanyaan macam apa itu? Aku dilahirkan siap untuk membuat kekacauan, Nona pembunuh.\"
Lyra mengabaikan kesombongan itu dan beralih menatap Feron. Pandai besi tua itu memikul beban paling berat dengan dua gentong besar berisikan minya dan tar itu yang diikatkan di punggungnya. Otot-ototnya menegang, namun ia berdiri kokoh seperti pilar besi.
Melihat sosok ayah angkatnya yang bersiap menempuh bahaya, pertahanan profesional Lyra runtuh sejenak.
\"Feron...\" gumam Lyra.
Feron tersenyum lembut di balik janggutnya yang kotor oleh jelaga. \"Jangan menatapku seperti itu, Nak. Pergilah dan jangan khawatirkan orang tua ini.\"
Lyra tidak bisa menahan diri. Ia maju selangkah dan memeluk tubuh besar Feron erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu sejenak.
\"Jangan sampai mati,\" bisik Lyra, suaranya bergetar. \"Kumohon, jangan mati lebih dulu.\"
Sebelum suasana menjadi terlalu melankolis, suara Namien memecah momen itu dengan nada sarkas yang khas.
\"Oi, oi. Simpan drama keluarganya itu untuk nanti,\" celetuk Namien sambil menepuk pundak Feron. \"Tenang saja, Lyra. Aku yang akan menjaga si Tua ini. Selama dia tidak tersandung kakinya sendiri, aku jamin dia akan pulang dalam keadaan utuh. Lagipula, siapa lagi yang akan memperbaiki tongkatku kalau dia mati?\"
Feron tertawa mendengar celotehan itu, sebuah tawa yang meredakan ketegangan Lyra.
Lyra melepaskan pelukannya, menyeka sudut matanya dengan cepat, dan kembali memasang wajah serius.
\"Baiklah,\" kata Lyra. Ia menatap Namien. \"Aku tidak akan ikut dengan kalian ke bendungan. Tugasku ada di bawah sana. Aku harus memimpin rute jalur evakuasi penduduk. Tanpa panduan yang tepat di saluran air, mereka akan tersesat dan mati dalam keadaan konyol.\"
Namien mengangguk, mengerti keputusan taktis itu. \"Pilihan yang sangat cerdas.\"
Lyra kemudian menoleh ke arah Eleonora. \"Eleonora, aku menyerahkan tugas memandu Namien kepadamu. Kau tahu jalur tikus menuju dataran tinggi yang paling sepi. Pastikan mereka sampai di sana tanpa terdeteksi satu pun patroli musuh.\"
\"Serahkan padaku,\" jawab Eleonora sigap.
Tanpa basa-basi lagi, Lyra mengangguk kepada mereka semua, lalu berbalik dan berlari kencang menuju pintu keluar markas, menuju medan pertempuran di Sektor Bawah di mana Sora, Kaelith, dan yang lainnya sedang bertaruh nyawa.
Melihat punggung Lyra menghilang, Namien segera mengambil alih komando.
\"Baiklah, Pesta Kembang Api akan segera dimulai,\" kata Namien kepada regunya. Ia menoleh pada Eleonora.
\"Kau dengar bosmu tadi. Cari jalur yang paling aman dan sepi. Kita harus menjadi hantu. Hindari pertempuran dan hindari kawasan musuh. Kita di sini sebagai pengantar paket kematian, bukan petarung. Mengerti?\"
\"Mengerti!\" jawab tim itu serempak namun pelan.
\"Bagus. Eleonora, silahkan pimpin jalannya.\" Perintah Namien.
Eleonora bergerak maju, menyusup ke dalam bayang-bayang lorong belakang markas yang mengarah ke jalur pendakian rahasia. Namien mengikuti, disusul oleh Feron yang berjalan tegap meski membawa beban berat.
Saat Feron melewati Namien, ia hanya memberikan satu anggukan singkat sebagai sebuah tanda kesiapan dan kepercayaan yang sunyi.
\"Jalan sekarang,\" perintah Namien.
Mereka pun bergerak, meninggalkan markas pasukan revolusi yang kini nyaris kosong.
Di ambang pintu tenda komando, Silas Verne berdiri sendirian bertumpu pada tongkatnya. Ia menyaksikan kepergian Namien dan tim kecilnya dengan senyum misterius di wajah keriputnya. Angin malam menerpa jubahnya.
\"Pergilah, anak-anak muda...\" gumam Silas pelan, diiringi tawa serak yang terdengar seperti gesekan daun kering. \"Hancurkan bendungan itu. Jadikan air sebagai hakim bagi kota yang busuk ini dan aku menikmati pertunjukannya dari sini saja... hehehe...\"
Dengan tawa gila yang menggantung di udara, Silas berbalik masuk ke dalam tenda, membiarkan nasib Jargmund kini sepenuhnya berada di tangan mereka yang sedang berlari melawan waktu.
Other Stories
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...