Bab Empat Puluh Lima: Bayangan Sang Anomali Dan Jenderal Yang Gemetar
Di garis belakang pertahanan Jargmund, Jenderal bertubuh gemuk itu duduk gelisah di atas kuda putihnya yang mewah. Matanya yang biasa memandang rendah segala sesuatu kini membelalak lebar, menyaksikan pemandangan yang tak masuk akal di hadapannya.
Barikade bajanya yang formasi pertahanan kebanggaan Jargmund itu yang seharusnya tak tertembus oleh apapun sedang dihancurkan dengan perlahan-lahan. Bukan oleh pasukan besar, melainkan oleh empat orang gila yang bergerak seperti iblis.
Ia melihat Arelan yang mengamuk bagai badai, menghancurkan perisai dengan kapaknya. Ia melihat Vael yang menari di antara tombak dengan kecepatan mata pisau. Ia melihat Sora yang menendang dan menebas dengan kekuatan yang tak wajar. Dan yang paling membuatnya merinding, ia melihat Kaelith (wanita yang pernah ia perkosa sebelumnya itu) kini bergerak maju dengan mata yang menyala penuh dendam, seolah kematian itu sendiri sedang datang menjemputnya.
Jarak mereka sudah setengah jalan menembus formasi. Keringat dingin mulai mengalir di leher berlemak sang Jenderal.
\"Hei! Kau!\" teriak Jenderal itu dengan suara parau kepada prajurit penghubung di samping kudanya. Ia menendang bahu prajurit itu dengan kasar. \"Apa kau tuli?! Aku sudah minta laporan! Apakah bala bantuan sudah dikirim?! Kondisi di sini semakin kacau, bodoh!\"
Prajurit itu tersentak, segera memberi hormat dengan gugup.
\"Lapor, Jenderal! Pesan sudah disampaikan! Perintah Raja Goulash sudah turun. Bala bantuan dari seluruh sektor sedang bergerak kemari. Mereka akan tiba sebentar lagi untuk mengepung pemberontak!\"
Mendengar itu, senyum lega merekah di wajah Jenderal. Ia kembali membusungkan dadanya, merasa aman. \"Bagus. Biar tikus-tikus itu mati terjepit.\"
Namun, prajurit itu belum selesai bicara. Wajahnya terlihat pucat saat ia melanjutkan laporannya.
\"Tapi... ada satu hal lagi, Jenderal. Selain bala bantuan reguler... Raja Goulash juga mengirimkan dia.\" Prajurit itu menelan ludah. \"Jenderal Vorlag sedang dalam perjalanan kemari.\"
Senyum di wajah Jenderal itu lenyap seketika. Warna darah seolah terkuras habis dari wajahnya, membuatnya pucat pasi.
\"Apa...?\" bisiknya, suaranya tercekat. \"Vorlag?! Kau bilang Vorlag akan datang ke sini?!\"
Jenderal itu mematung di atas kudanya. Tangannya gemetar memegang tali kekang. Bagi para perwira tinggi Jargmund, nama Vorlag bukan jaminan kemenangan, melainkan jaminan bencana. Sang Anomali itu adalah monster yang hidup hanya untuk pertarungan.
Di medan perang, Vorlag tidak membedakan mana musuh dan mana kawan. Jika ada prajurit Jargmund yang menghalangi ayunan Halberd-nya, prajurit itu akan ditebas sama seperti musuh.
\"Apakah... apakah Raja Goulash sudah gila?\" gumam Jenderal itu pada dirinya sendiri. \"Dia mengirim bencana alam ke pemukiman kumuh seperti ini?\"
Pikirannya berpacu cepat. Ia harus mengosongkan Sektor Bawah. Ia harus lari. Ia tidak mau berada di radius jangkauan senjata Vorlag saat monster itu tiba. Namun, jika ia lari sekarang sebelum bala bantuan tiba, ia akan dihukum mati karena desersi.
Jenderal itu terjebak dalam dilema ketakutan.
\"Sialan...\" umpatnya. \"Aku akan bertahan sampai bala bantuan biasa tiba. Begitu mereka datang, aku akan mundur dengan alasan strategis sebelum Si Gila Vorlag itu muncul.\"
Prajurit di sampingnya, yang melihat keraguan di wajah tuannya, memberanikan diri bertanya dengan polos.
\"Jenderal... musuh semakin dekat. Apakah... apakah Anda akan turun tangan ke medan tempur sekarang untuk menahan mereka?\"
Pertanyaan itu memicu ledakan amarah Jenderal yang sedang stres. Wajahnya memerah padam.
\"APA KAU BILANG?!\" bentaknya, meludahi prajurit itu dari atas kuda. \"Aku? Turun ke sana?! Ke lumpur kotor itu?! Dasar kau otak udang! Jika aku mati di sana, siapa yang akan memberikan komando, hah?!\"
Jenderal itu menunjuk prajurit itu dengan cambuk kudanya.
\"Apakah kau mau mengambil alih komando?! Apakah kau mau menggantikanku?!\"
\"Ti-tidak, Jenderal! Ampun! Hamba salah bicara!\" ucap prajurit itu dengan ketakutan dan mundur beberapa langkah.
Jenderal itu mendengus jijik. Ia kembali menatap ke depan, ke arah empat sosok yang semakin mendekat. Mata Kaelith seolah menembus kerumunan, menatap langsung ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang karena takut.
Ia tidak bisa membiarkan mereka sampai ke tempatnya.
\"DENGAR SEMUANYA!\" teriak Jenderal itu menggunakan sisa keberaniannya. Suaranya menggema di barisan belakang. \"Lupakan formasi bertahan! Fokuskan serangan kalian pada empat orang itu! Terutama wanita pemanah itu!\"
Jenderal itu menunjuk Sora, Kaelith, Vael, dan Arelan dengan telunjuk gemetar.
\"Hentikan mereka! Jangan biarkan mereka maju satu langkah pun! Bunuh mereka, walau kalian harus mati mencobanya! Siapa pun yang berhasil membawa kepala mereka, aku akan berikan emas seberat tubuhnya!\"
Perintah itu, ditambah iming-iming hadiah, membakar semangat pasukan Jargmund yang tersisa. Barikade yang tadinya pasif kini berubah agresif. Seluruh tombak dan pedang kini terarah pada satu titik pusat: kelompok kecil Sora.
Tekanan di medan tempur seketika meningkat drastis. Sora, Vael, dan Arelan yang sedang sibuk membuka jalan bagi Kaelith kini merasakan beratnya gelombang serangan yang datang bertubi-tubi, seolah seluruh dunia sedang berusaha mengubur mereka di sana.
Sementara Sora dan kawan-kawan bertarung di garis depan untuk menembus barikade Jargmund, di sisi lain medan pertempuran, Lyra bergerak secepat bayangan.
Ia tiba di zona merah, tempat di mana pasukan revolusi mati-matian menahan gelombang serangan musuh demi melindungi jalur pelarian warga. Debu dan teriakan memenuhi udara.
Lyra melihat Veyla di tengah kekacauan itu. Sang Komandan memacu kuda hitamnya, menebas setiap prajurit Jargmund yang mencoba mendekat. Zirahnya sudah tergores di sana-sini, namun suaranya masih lantang memberikan komando.
\"TAHAN POSISI KALIAN!\" teriak Veyla, suaranya serak mengatasi denting logam. \"Jangan biarkan formasi pecah! Lindungi warga! Jangan ada yang mati!\"
Melihat Veyla sibuk menahan arus utama musuh, Lyra tahu tugasnya ada di balik garis pertahanan itu. Ia berlari, mencabut belati gandanya. Matanya tajam menyisir setiap sudut.
Seorang prajurit Jargmund tiba-tiba melompat dari balik reruntuhan gerobak, mencoba menyergap Lyra dari samping.
\"Mati kau!\"
Lyra bahkan tidak melambatkan langkahnya. Dengan refleks terlatih, ia menunduk sedikit, memutar tubuhnya, dan menyabetkan belatinya ke celah zirah di ketiak prajurit itu tepaat di titik vital yang mematikan.
Prajurit itu ambruk seketika. Lyra tidak menoleh lagi, terus berlari menuju deretan rumah penduduk yang pintunya masih tertutup rapat.
Lyra mendobrak pintu rumah pertama dengan tendangan kuat.
Kosong yang penghuninya sudah lari atau mati mungkin.
Ia lanjut ke rumah berikutnya.
Di dalam rumah kedua yang gelap, di bawah meja makan yang reyot, Lyra melihat dua pasang mata kecil yang menatapnya dengan teror. Dua anak kecil, kakak beradik, saling berpelukan sambil gemetar.
Lyra segera menyarungkan satu belatinya dan mengulurkan tangan.
\"Ikut aku,\" katanya pelan namun tegas. \"Aku akan membawa kalian ke tempat aman. Jangan takut.\"
Anak-anak itu ragu sejenak, namun melihat sorot mata Lyra yang melindungi, mereka merangkak keluar dan menggenggam tangan Lyra. Lyra membawa mereka keluar rumah dengan cepat.
\"Prajurit!\" teriak Lyra pada salah satu anggota revolusi yang baru saja lewat membawa seorang nenek tua. \"Ambil anak-anak ini! Antar mereka ke saluran air sekarang!\"
Setelah menyerahkan anak-anak itu, Lyra kembali bergerak. Ia menyisir satu per satu bangunan. Dalam waktu singkat, ia berhasil menyelamatkan sekitar empat belas orang yang terjebak ketakutan di dalam rumah mereka sendiri.
Namun, tugasnya belum selesai. Matanya tertuju pada satu bangunan kayu bertingkat dua di ujung jalan yang catnya mencolok namun lusuh. Tempat prostitusi. Firasat buruk menyergap Lyra. Ia tahu tempat seperti itu sering menjadi sasaran paling brutal bagi prajurit yang kehilangan moral.
Lyra berlari ke sana, menggenggam erat belati gandanya.
Ia mendobrak pintu depan. Di lantai bawah, suasana berantakan. Ia menemukan beberapa pelacur bersembunyi di balik lemari dan di bawah dipan. Lyra segera mengarahkan mereka keluar.
Di dapur bagian belakang, ia menemukan seorang wanita terakhir yang meringkuk di sudut.
\"Hei, kau aman sekarang,\" kata Lyra cepat. \"Apakah masih ada orang lain di sini? Teman-temanmu?\"
Wanita itu, dengan wajah pucat dan bibir gemetar, menunjuk pelan ke arah langit-langit. Ke lantai dua.
Dari atas sana, terdengar suara gemuruh langkah kaki berat dan tawa laki-laki yang menjijikkan, diselingi suara desahan paksa yang menyakitkan.
Rahang Lyra mengeras. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi.
\"Pergilah,\" perintah Lyra pada wanita itu. \"Ikuti pasukan di luar. Lari secepatmu.\"
Wanita itu mengangguk dan lari ke pintu keluar, disambut oleh prajurit revolusi yang berjaga.
Lyra menaiki anak tangga kayu itu perlahan. Langkahnya senyap, tidak menimbulkan bunyi sedikit pun. Semakin dekat ke atas, suara-suara itu semakin jelas dan membuat perutnya mual.
Ia sampai di depan sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka. Lyra menyarungkan belati gandanya dan beralih mengambil tiga pisau lempar dari sabuk di dadanya. Ia menyelipkannya di sela-sela jari.
Lyra menarik napas dalam-dalam, menekan rasa jijiknya menjadi fokus yang mematikan.
Lyra menendang pintu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di dalam membuat darahnya mendidih. Tiga prajurit Jargmund sedang menggilir seorang pelacur di atas tempat tidur. Salah satu menungganginya, sementara dua lainnya memegangi tangan wanita itu sambil tertawa.
Ketiga prajurit itu menoleh kaget mendengar pintu didobrak. Namun, itu adalah hal terakhir yang mereka lihat.
Tangan Lyra bergerak secepat kilat. Melempar, mengambil, melempar lagi. Tiga pisau menancap dengan presisi mengerikan yang mengenai satu di dahi, satu di tenggorokan, dan satu di matanya.
Dalam hitungan detik, ketiga prajurit itu ambruk, terbaring kaku di lantai atau merosot dari tempat tidur. Darah menggenang cepat, menciprati wajah wanita yang menjadi korban itu.
\"KYAAAAA!\"
Wanita itu berteriak histeris, mendorong mayat prajurit yang menindihnya dan mundur ke sudut kasur, menutupi tubuhnya yang telanjang.
Lyra menghampirinya, tidak dengan senjata, tapi dengan tangan terbuka.
\"Pakai bajumu,\" kata Lyra pelan, suaranya mencoba menenangkan di tengah situasi horor itu.
\"Mereka sudah mati. Kau aman. Pakai bajumu yang tersisa dan lari ke bawah. Pasukanku akan melindungimu.\"
Ketakutan di mata wanita itu perlahan surut saat melihat Lyra. Ia mengangguk patah-patah, meraih sisa bajunya yang sudah robek, mengenakannya seadanya, lalu berlari keluar kamar melewati mayat-mayat itu tanpa menoleh lagi.
Lyra berdiri sejenak, menatap tiga mayat bejat itu dengan tatapan dingin dan jijik, sebelum berbalik dan berjalan keluar meninggalkan ruangan amis itu.
Kembali ke jalanan, Lyra berlari menghampiri Veyla yang sedang mengatur barisan pertahanan. Napas Lyra memburu.
\"Lyra!\" panggil Veyla di sela sabetan pedangnya. \"Bagaimana kondisi penduduk? Sudah dievakuasi semuanya?\"
Lyra menggeleng, menyeka keringat dan debu di wajahnya. \"Baru sebagian, Komandan! Masih banyak gang sempit yang belum tersentuh. Aku butuh waktu lebih untuk menyisir semuanya!\"
Veyla menatap langit yang mulai gelap, lalu menatap ke arah bendungan di kejauhan.
\"Cepatlah!\" desak Veyla. \"Waktu kita tidak banyak sebelum aku harus mengirimkan sinyal kepada Namien! Jika terlambat, air itu akan membunuh mereka yang tertinggal!\"
\"Aku mengerti!\"
Tanpa istirahat, Lyra kembali memutar tumitnya dan berlari masuk ke dalam labirin pemukiman kumuh, berpacu dengan maut untuk menyelamatkan nyawa yang tersisa sebelum banjir besar datang menghapus dosa kota ini.
Sementara kekacauan melanda Sektor Bawah, suasana di ruang latihan pribadi Vorlag di sisi barat istana terasa berat dan mencekam, seolah udara di sana dipadati oleh niat membunuh yang murni.
Vorlag mengayunkan Halberd raksasanya dengan satu tangan. Hantamannya begitu brutal hingga samsak latihan yang terbuat dari jerami padat dan dilapisi kulit tebal itu tidak sekadar robek, melainkan meledak. Jerami berhamburan ke udara seperti debu, menyisakan kerangka kayu yang patah. Itu adalah boneka latihan kelima yang ia hancurkan dalam sepuluh menit terakhir.
Kebosanannya belum terobati. Amarahnya masih mencari pelampiasan.
Di tengah hujan jerami itu, terdengar suara ketukan pintu yang ragu-ragu dari arah belakang, diikuti suara langkah kaki seseorang yang masuk dengan hati-hati.
Vorlag menghentikan ayunannya. Ia membalikkan badannya perlahan, menatap tajam ke arah pintu. Di sana, seorang prajurit pembawa pesan langsung membungkuk dalam-dalam, tubuhnya gemetar hebat hanya karena ditatap oleh mata merah menyala sang Jenderal.
\"Katakan,\" perintah Vorlag, suaranya dingin dan datar, tanpa emosi namun menusuk tulang. \"Apa maumu hingga mengganggu waktuku?\"
Prajurit itu menelan ludah, berusaha menguatkan suaranya yang tercekat.
\"La-lapor, Jenderal Vorlag! Hamba membawa perintah khusus langsung dari Raja Goulash. Beliau memerintahkan Anda untuk segera bergerak ke Sektor Bawah. Pasukan Revolusi telah muncul di sana, dan Raja menginginkan Anda menghabisi mereka semua tanpa sisa.\"
Mendengar itu, cengkeraman Vorlag pada gagang Halberd-nya mengerat hingga sarung tangan besinya berderit. Ia berjalan maju mendekati prajurit itu, langkah kakinya yang berat bergema di ruangan batu itu.
\"Pasukan Jargmund...\" geram Vorlag dengan nada penuh penghinaan. \"Tidak berguna sama sekali. Bahkan, ribuan prajurit digaji hanya untuk memberantas sekumpulan tikus dan mereka masih butuh bantuanku?\"
Vorlag mendengus kasar dan uap panas keluar dari balik helmnya.
\"Sampah,\" umpatnya. \"Mereka semuanya itu... baik pasukan Jargmund yang lemah maupun pasukan revolusi yang menyedihkan... semuanya hanyalah sampah di mataku.\"
Tanpa membuang waktu, Vorlag melangkah melewati prajurit itu, keluar dari ruang latihan menuju istal pribadi yang terletak tak jauh dari sana. Prajurit itu buru-buru berlari kecil mengikutinya dari belakang.
Di dalam istal, seekor kuda perang berukuran raksasa dengan bulu berwarna merah darah sedang mendengus liar. Kuda itu sama buasnya dengan tuannya, namun tenang saat Vorlag mendekat. Vorlag memasang pelana dengan gerakan kasar namun efisien, lalu menaiki punggung kuda merah itu. Ia menjulang tinggi, tampak seperti dewa kematian yang siap memanen nyawa.
Saat Vorlag hendak memacu kudanya, prajurit tadi yang teringat pesan Jenderal gemuk di Sektor Bawah untuk menahan Vorlag agar tidak datang terlalu cepat memberanikan diri untuk berbicara.
\"Jenderal...\" ucap prajurit itu dengan gugup. \"Mungkin... mungkin sebaiknya Anda menunggu sebentar. Anda bisa turun kapan saja setelah bala bantuan utama tiba di Sektor Bawah.\"
Gerakan Vorlag terhenti. Ia tidak jadi menghentakkan tali kekang. Suasana hening seketika, keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan.
Vorlag menoleh perlahan ke bawah, menatap prajurit kecil itu.
\"Mengapa?\" tanyanya.
Satu kata yang singkat dengan nadanya yang tajam.
Prajurit itu membeku, lidahnya kelu.
Vorlag tidak mengalihkan pandangannya.
\"Mengapa?\" tanyanya lagi untuk kedua kalinya.
Nadanya masih datar, namun tekanan intimidasi yang dipancarkannya membuat lutut prajurit itu lemas.
Prajurit itu panik. Ia tahu jika Vorlag bertanya untuk ketiga kalinya, kepalanya akan menggelinding di lantai saat itu juga.
\"K-karena...\" jawab prajurit itu terbata-bata, berusaha mencari alasan logis yang bisa diterima akal sehat Vorlag.
\"Jika Anda datang sebelum bala bantuan mengepung area itu... incaran Anda... Pasukan Revolusi itu... mereka mungkin akan ketakutan dan bersembunyi. Mereka tidak akan menunjukkan batang hidungnya jika merasakan aura Anda, Jenderal!\"
Vorlag terdiam sejenak mencerna ucapan itu. Namun, alih-alih setuju, ia justru merasa tersinggung. Ia kesal karena ada seseorang yang berani mengatur kapan ia harus berburu.
\"Cih,\" desis Vorlag.
Tawa angkuh dan mengerikan keluar dari balik helmnya.
\"Dengar, cacing,\" kata Vorlag, menatap prajurit itu dengan tatapan yang menjanjikan rasa sakit. \"Mereka yang berani mengatakan hal itu kepadaku... mengatur kapan aku harus bergerak... berarti mereka siap menanggung konsekuensinya.\"
Vorlag menarik tali kekang kudanya, membuat kuda merah itu meringkik keras dan mengangkat kaki depannya.
\"Sampaikan hal itu kepada mereka yang menyuruhmu bicara omong kosong ini,\" perintah Vorlag.
Tanpa menunggu jawaban, Vorlag menghentakkan kakinya ke perut kuda.
\"HYAH!\"
Kuda merah itu melesat keluar dari istal bagaikan anak panah berapi, memacu kecepatannya menuju Sektor Bawah, meninggalkan jejak debu di belakangnya.
Prajurit itu ditinggalkan sendirian di sana, berdiri kaku dengan wajah pucat pasi. Ia tahu ia baru saja melakukan kesalahan fatal.
Ia telah mencoba memanipulasi sang Anomali, dan ia tahu saat Vorlag kembali nanti setelah membasmi para pemberontak, nyawanya sendiri akan menjadi target berikutnya sebagai bayaran atas kelancangannya.
Other Stories
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Kk
jjj ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...