Bab Empat Puluh Delapan: Antara Hidup Dan Mati, 2 Menit Sebelum Permukaan Tergenang
Lyra menerobos masuk ke dalam bangunan kayu yang sedang dilalap si jago merah. Panas yang menyengat langsung menerpa kulitnya, seolah-olah ia baru saja melangkah masuk ke dalam tungku pembakaran. Asap hitam pekat bergulung-gulung memenuhi koridor, memaksa Lyra menutupi hidung dan mulutnya dengan kain lengan bajunya yang sudah kotor oleh debu. Matanya berair, perih oleh asap, namun tekadnya untuk mencari sumber teriakan minta tolong itu memaksanya terus bergerak.
Ia berlari menyusuri lantai satu, namun langkahnya terhenti. Jalur utama di depannya sudah sepenuhnya terblokade oleh balok-balok kayu atap yang runtuh dan terbakar hebat. Api menjilatjilat dengan ganas, menutup akses.
\"Sial!\" umpat Lyra di balik kain penutupnya.
Tanpa membuang waktu, ia berbalik arah menuju tangga kayu di sudut ruangan. Kondisi tangga itu sangat memprihatinkan; anak tangganya sudah mulai hangus dan berderit ngeri setiap kali Lyra menapakkan kakinya. Ia tahu struktur ini bisa runtuh kapan saja, menimbunnya hiduphidup. Dengan langkah cepat dan ringan dari hasil latihannya bertahun-tahun sebagai mata-mata Lyra dengan mudah menaiki tangga itu dan melompati bagian yang sudah bolong dimakan api.
Sesampainya di lantai dua, situasi tidak jauh berbeda. Asap di sini lebih tebal, menyesakkan dada. Dadanya mulai terasa sakit, setiap tarikan napas terasa seperti menghirup jarum. Jalur menuju kamar tempat suara tadi berasal juga terhalang oleh puing-puing furnitur yang terbakar.
Lyra tidak punya pilihan lain selain mencabut belati gandanya.
\"Sialan!\" geramnya.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Lyra menebas dan mencungkil kayu-kayu yang menghalangi jalan. Ia menendang lemari terbakar yang menghalangi lorong, mengabaikan panas yang membakar sol sepatunya. Akhirnya, celah terbuka.
Ia berlari menuju satu pintu kamar di ujung lorong. Suara teriakan minta tolong itu sudah tidak terdengar lagi, digantikan oleh keheningan yang menakutkan.
Pintu itu tertutup rapat, mungkin terkunci atau macet karena pemuaian kayu akibat panas.
BRAK!
Lyra menghantamkan bahunya ke pintu dan pintunya itu tidak menunjukkan reaksi.
BRAK!
Ia mencoba menendangnya. Masih keras.
Asap semakin tebal, api mulai merambat ke dinding di sebelahnya. Lyra menahan napas, mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk satu hantaman terakhir.
BRAKKK!
Engsel pintu itu menyerah. Pintu kayu itu rubuh ke dalam dengan suara keras.
Lyra segera masuk, matanya menyapu seisi ruangan yang penuh asap. Di lantai, tergeletak dua sosok tak berdaya. Seorang wanita muda dan seorang pria tua renta. Mereka pingsan, mungkin akibat terlalu banyak menghirup asap.
Lyra segera berlutut, jari-jarinya mengecek denyut nadi di leher mereka.
Sangat lemah namun keduanya masih hidup, tapi waktunya hampir habis.
\"Bangsat...\" maki Lyra pada dirinya sendiri, rasa putus asa mulai merayap. \"Bagaimana caranya aku membawa dua orang sekaligus dalam kondisi seperti ini?\"
Ia menoleh ke arah pintu tempat ia masuk tadi. Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari lorong.
Atap lorong di luar kamar runtuh sepenuhnya, memblokade satu-satunya jalan keluar yang ia ketahui. Api kini mengepung kamar itu. Lyra terbatuk-batuk hebat, paru-parunya protes keras akan kurangnya oksigen. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
Lyra menyeret tubuhnya ke arah jendela yang tertutup. Ia membukanya paksa, menjulurkan kepalanya keluar untuk menghirup udara segar dengan rakus.
\"TALI! SIAPA SAJA! AKU BUTUH TALI!\" teriak Lyra serak ke arah jalanan di bawah.
Namun, tidak ada jawaban. Jalanan di sekitar bangunan itu kosong. Pasukan revolusi sudah mundur ke titik evakuasi. Satu-satunya suara yang terdengar adalah dentuman senjata dan teriakan liar Arelan yang sedang bertarung melawan monster di kejauhan.
Lyra menoleh kembali ke dalam ruangan. Ia melihat dua nyawa yang nyaris padam itu. Ia tidak bisa membiarkan mereka mati sia-sia setelah ia sampai sejauh ini.
Ia kembali melihat keluar jendela, menyapu pandangannya dengan putus asa.
Di kejauhan, di dekat mulut gang besar, ia melihat sosok penunggang kuda hitam, Veyla.
\"VEYLA!!!\" teriak Lyra sekuat tenaga. \"VEYLA! DI SINI!\"
Namun, jarak mereka terlalu jauh. Suara gemuruh api dan pertempuran menenggelamkan teriakan Lyra. Veyla tampak sedang mencari seseorang ketika area di sana sudah kosong itu dan tidak menoleh sama sekali ke arah Lyra.
Lyra yang panik itu butuh sesuatu yang keras dan sesuatu yang bisa menarik perhatian orang untuk kemari.
Matanya tertuju pada sebuah cermin rias besar setinggi manusia yang berdiri di sudut kamar. Kacanya retak, tapi bingkainya yang berat masih utuh.
Tanpa pikir panjang, Lyra berlari ke arah cermin itu. Dengan sisa tenaga terakhirnya, mengabaikan otot lengannya yang menjerit kesakitan, ia mengangkat cermin berat itu.
\"Dengarkan ini...\" geram Lyra.
Ia menyeret cermin itu ke jendela, dan dengan satu dorongan kuat, ia melemparnya keluar.
Cermin itu melayang sesaat di udara, memantulkan cahaya api yang mengerikan, sebelum terjun bebas ke jalanan berbatu di bawah.
PRANGGGGGG!
Suara pecahan kaca yang menghantam batu terdengar sangat nyaring dan memekakkan telinga, berbeda dari suara gemuruh api atau senjata.
Dari kejauhan, Veyla tersentak dan menoleh tajam ke arah sumber suara pecahan itu. Matanya menyipit dan mencari-cari di antara kepulan asap bangunan itu.
Di sana, di jendela lantai dua sebuah bangunan yang hampir runtuh, ia melihat sosok kecil melambaikan tangan dengan putus asa.
\"Lyra...\" gumam Veyla, matanya membelalak. Ia mendengar samar-samar namanya diteriakkan.
\"Bertahanlah!\" bisik Veyla pada dirinya sendiri.
Tanpa mempedulikan kondisi sektor bawah yang tiga orang itu masih menahan Vorlag untuk membali waktu itu, Veyla menghentakkan tali kekang kuda hitamnya.
\"Hya!\"
Kuda itu melesat kencang, membelah jalanan kosong, membawa Veyla berpacu melawan waktu menuju bangunan yang siap menjadi kuburan api bagi mata-mata terbaiknya itu.
Di bawah sana, Veyla memacu kuda hitamnya menembus asap, matanya terkunci pada jendela tempat pecahan cermin itu jatuh.
Sementara itu di dalam kamar yang dipenuhi asap hitam, Lyra bergerak panik. Ia segera berlutut di samping kakek tua itu, menempelkan jari-jarinya ke leher keriputnya. Hening. Tidak ada getaran. Ia menempelkan telinganya ke dada pria tua itu, namun jantungnya sudah membisu. Asap tebal telah merenggut nyawanya sebelum Lyra sempat berbuat apa-apa.
\"Sialan! Sialan! Sialan!\" maki Lyra kasar, memukul lantai kayu dengan kepalan tangannya. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras dari asap api. \"Maafkan aku, Kek... Maafkan ketidakmampuanku...\"
Namun Lyra tahu ia tidak boleh larut dalam penyesalan. Ia beralih ke wanita muda di sebelahnya. Denyut nadinya masih ada, tapi sangat lemah dan tidak teratur. Jika ia tidak segera mengeluarkannya, gadis ini akan menyusul kakek itu ke alam baka dalam hitungan menit.
Lyra menyeret tubuh gadis itu ke jendela, membiarkan kepala dan sebagian badannya menggantung di bingkai jendela agar bisa menghirup udara segar sebanyak mungkin, sementara Lyra sendiri terbatuk-batuk hebat di dalam ruangan.
\"LYRA!\"
Teriakan Veyla terdengar dari bawah. Lyra langsung menjulurkan kepalanya keluar.
\"TALI! AKU BUTUH TALI! CEPAT!\" seru Lyra dengan suara parau.
Veyla tidak bertanya lagi. Ia melompat turun dari kudanya, matanya menyapu area sekitar dengan cepat. Di teras sebuah rumah yang ditinggalkan tak jauh dari situ, ia melihat gulungan tambang kasar. Veyla berlari menyambarnya, kembali ke bawah jendela, dan dengan satu ayunan kuat, ia melemparkan ujung tali itu ke atas.
\"TANGKAP!\"
Lyra menangkap ujung tali itu dengan sigap. Sekarang ia butuh penahan. Matanya yang pedih karena asap mencari-cari di dalam ruangan yang semakin panas.
Sebuah lemari kayu jati besar berdiri di sudut, bagian atasnya sudah mulai dijilat api kecil, namun strukturnya masih kokoh.
\"Ini harusnya cukup,\" geram Lyra.
Ia menahan napasnya, menerjang asap, dan mendorong lemari berat itu sekuat tenaga mendekati jendela. Otot-ototnya menjerit, paru-parunya serasa mau meledak, namun adrenalin memaksanya terus mendorong hingga lemari itu berada cukup dekat dengan bingkai jendela.
Dengan jari-jari yang gemetar namun cekatan, Lyra mengikatkan ujung tali ke kaki lemari itu, membuat simpul mati yang tidak mungkin lepas.
Lyra kembali ke jendela, menarik tubuh gadis muda yang pingsan itu. Ia mengikatkan tali di bawah ketiak gadis itu dengan aman.
\"Bertahanlah,\" bisik Lyra.
Perlahan, Lyra mendorong tubuh gadis itu keluar jendela. Tali menegang di tangannya. Lyra menahan beban tubuh gadis itu, mengulurkannya inci demi inci. Otot bisep dan bahunya serasa ditarik paksa, rasa sakit yang luar biasa menjalar di lengannya, namun ia menggertakkan gigi, menolak untuk melepaskannya.
\"TANGKAP DIA, VEYLA!\" teriak Lyra, suaranya hampir habis.
Di bawah, Veyla merentangkan tangannya, siap menyambut. Ketika kaki gadis itu sudah dekat dengan tanah, Veyla segera menangkap tubuh limpung itu, menahan sisa beban jatuhnya.
\"DAPAT!\" teriak Veyla.
\"DIA AMAN!\"
Mendengar itu, Lyra tidak membuang waktu sedetik pun. Panas di ruangan itu sudah tak tertahankan. Ia melompat keluar jendela, mencengkeram tali itu, dan meluncur turun dengan cepat. Gesekan tali membakar telapak tangannya yang sudah lecet, tapi ia tidak peduli.
Kaki Lyra menyentuh tanah. Ia langsung jatuh berlutut, terbatuk-batuk hebat, memuntahkan dahak hitam akibat asap yang ia hirup.
Veyla dengan cepat melepas ikatan tali di tubuh gadis muda itu, lalu mengangkatnya dengan mudah.
\"Kau baik-baik saja?\" tanya Veyla sekilas, namun nadanya mendesak.
Lyra mengangguk sambil berusaha berdiri, wajahnya cemong penuh jelaga hitam.
\"Dengar,\" perintah Veyla cepat sambil memapah gadis itu ke arah kudanya.
\"Pergilah ke titik kumpul penduduk sekarang juga. Pastikan mereka siap bergerak. Biar gadis ini kubawa dengan kudaku.\"
Lyra menyeka matanya yang berair. Sebelum berlari, ia mencengkeram lengan zirah Veyla, menatap komandannya dengan mata yang penuh kekhawatiran.
\"Veyla... Vorlag...\" tanya Lyra tersendat. \"Apakah dia sudah muncul?\"
Wajah Veyla mengeras. Ia mengangguk berat.
\"Iya. Dia sudah di sini,\" jawab Veyla dingin. \"Saat ini, Sora, Vael, dan Arelan sedang sibuk menahan monster itu.\"
Jawaban itu seperti suntikan adrenalin baru bagi Lyra. Rasa lelah di kakinya seolah lenyap digantikan oleh teror dan urgensi.
\"Aku mengerti,\" ucap Lyra.
Tanpa istirahat, tanpa meminta air, Lyra langsung memutar badannya dan berlari secepat kilat ke arah titik kumpul penduduk. Ia tidak menoleh lagi. Pikirannya hanya satu: selesaikan evakuasi ini agar pengorbanan teman-temannya tidak sia-sia.
Veyla menaikkan gadis muda itu ke atas pelana di depannya, lalu ia sendiri melompat naik ke punggung kuda hitamnya.
\"Hya!\"
Veyla memacu kudanya sekencang mungkin, meninggalkan bangunan yang kini runtuh sepenuhnya dilalap api di belakang mereka.
Di tengah arena yang dipenuhi kematian, Sora, Vael, dan Arelan bangkit kembali. Mereka saling bertukar pandang sekilas, menyatukan ritme napas mereka. Tanpa perlu kata-kata, mereka melancarkan serangan kombinasi pamungkas, mempertaruhkan segalanya dalam satu gerakan serentak.
Sora bergerak lebih dulu sebagai pembuka. Pedangnya yang diselimuti api putih menebas vertikal.
Vorlag menahan serangan itu dengan mudah menggunakan gagang Halberd-nya, bahkan tidak bergeser satu inci pun.
Arelan menyusul tepat di belakang Sora. Kapak kembarnya menghantam bertubi-tubi seperti hujan meteor. Vorlag dengan santai menyingkirkan Sora dengan dorongan bahu, lalu memutar Halberd-nya dengan kecepatan kipas, menangkis setiap sabetan brutal Arelan.
\"Hanya segitu?\" ejek Vorlag.
Arelan menggeram, memfokuskan serangannya ke sisi kiri, memaksa Vorlag menggeser senjatanya. Ini menciptakan celah lebar di bagian tengah pertahanan Vorlag.
Vael melesat masuk ke celah itu. Pedang Thelan terarah lurus ke jantung Vorlag.
Vorlag melihat Vael datang. Alih-alih panik, ia membiarkan Vael masuk ke dalam jangkauan mautnya. Tepat saat ujung pedang Vael hampir menyentuh zirah hitamnya, Vorlag menghindar ke samping dengan kecepatan yang menyalahi hukum fisika untuk orang sebesar itu.
Tangan besar Vorlag terulur, menangkap pergelangan tangan kiri Vael yang terbuka.
KRAK!
\"ARGH!\"
Vorlag menggenggamnya dengan kekuatannya dan meremukkan tulang pergelangan tangan Vael dengan mudah seketika. Dengan satu sentakan kasar, Vorlag melempar tubuh Vael ke udara seperti melempar boneka kain. Vael melayang, terhempas jauh ke belakang sebelum menghantam dinding batu sebuah rumah.
Vorlag tidak berhenti. Ia berputar kembali menghadap Arelan yang masih menyerang. Melihat celah di zirah dada Arelan, Vorlag melepaskan satu tangan dari senjatanya dan melancarkan tinju besi.
Hantaman itu telak mengenai dada Arelan. Napas sang raksasa terhenti seketika, tulang rusuknya berderak, dan ia jatuh berlutut, mengerang kesakitan yang luar biasa.
Sora, yang melihat kedua rekannya tumbang, memanfaatkan momen itu. Ia memadatkan seluruh kekuatan Rune-nya, menyerang punggung Vorlag yang terbuka lebar.
\"Mati kau!\" batin Sora.
Namun, Vorlag memiliki mata di punggungnya. Di detik terakhir sebelum pedang api itu menyentuh, Vorlag memutar tubuhnya dan melepaskan tendangan memutar.
Kaki besi Vorlag menghantam perut Sora. Sora terpental, tubuhnya melayang dan jatuh berguling tepat di samping Vael yang sedang batuk darah.
Vorlag berdiri tegak, memutar-mutar Halberd-nya di atas kepala dengan gaya pamer yang menjengkelkan.
\"Menyedihkan,\" ucap Vorlag dingin, menatap tiga ksatria yang terkapar di tanah. \"Kalian bertiga bahkan tidak bisa menggores satu orang sepertiku. Apakah ini serangan terbaik dari harapan kalian, huh?\"
Sora mencoba bangkit, namun seluruh tubuhnya menjerit. Jika bukan karena perlindungan Rune, tendangan tadi pasti sudah menghancurkan organ dalamnya.
Vael terbatuk, darah segar menyembur dari mulutnya. Ia bersandar pada dinding yang retak akibat hantamannya tadi. Tangan kirinya terkulai lemas, remuk tak berbentuk.
Arelan mencoba berdiri, namun kakinya gemetar hebat. Ia memukul pahanya sendiri, berteriak parau, memaki tubuhnya yang menolak perintah otaknya. \"Bangun! Bangun, sialan!\"
Di kejauhan, Lyra yang sedang berlari menuju pintu masuk selokan menoleh ke samping. Ia melihat pemandangan mengerikan itu dengan pemandangan tiga ksatria terbaik mereka dihancurkan tanpa ampun. Langkahnya terhenti sejenak karena syok.
Tiba-tiba, kuda hitam Veyla melesat melewatinya.
\"JANGAN BERHENTI, LYRA!\" teriak Veyla tanpa menoleh. \"TERUS BERGERAK SEBELUM KAU JADI INCARAN SELANJUTNYA! MASUK KE SELOKAN! SEKARANG!\"
Teriakan itu menyadarkan Lyra. Dengan air mata tertahan, ia memacu kakinya kembali, berlari masuk ke dalam kegelapan terowongan selokan, membawa harapan terakhir warga sipil ke dataran tinggi.
Veyla menghentikan kudanya tak jauh dari posisi Vael.
\"VAEL! MUNDUR SEKARANG!\" jerit Veyla putus asa.
Vael menoleh perlahan. Wajahnya pucat, darah mengalir dari sudut bibirnya.
\"Larilah...\" kata Vael, suaranya parau dan tersendat. \"Pergilah dulu, Veyla. Biarkan kami yang mencari cara untuk lari dari monster ini. Jika kami mundur sekarang, dia akan mengejar kalian ke dalam terowongan.\"
Mendengar itu, hati Veyla hancur. Ia tahu itu adalah keputusan logis, namun meninggalkannya terasa seperti pengkhianatan. Namun, sebagai komandan, ia harus menyelamatkan mayoritas.
Dengan tangan gemetar, Veyla merogoh tas pinggangnya. Ia mengeluarkan tabung petasan pemberian Namien. Ia menyulut sumbunya dengan pemantik api kecil.
Sumbu terbakar cepat. Veyla mengangkat tabung itu ke arah langit kelabu.
BOOM!
Sebuah ledakan kembang api berwarna merah menyala membelah langit mendung, mekar seperti bunga darah di angkasa. Sinyal telah dikirim.
\"Jangan mati...\" bisik Veyla, suaranya tercekat. Ia menatap Vael untuk terakhir kalinya. \"Jangan mati dulu, kalian!\"
Veyla menghentakkan tali kekangnya, memacu kuda hitamnya masuk ke dalam mulut selokan, meninggalkan tiga pelindung terakhir di ambang kehancuran.
Melihat Veyla pergi, Vael tersenyum tipis. Ia merobek kain jubahnya dengan gigi, lalu dengan kasar mengikat tangan kirinya yang remuk ke pelindung tangan zirahnya itu, memaksanya kaku agar ia masih bisa menggengam belatinya itu atau menangkis serangannya dengan belatinya walau dengan rasa sakit yang luar biasa sebagai harganya.
\"Erghhh...\" Vael mengerang, menahan jeritan saat ia mengencangkan ikatan pada tulangnya yang patah. Keringat dingin bercucuran.
Ia meludah yang penuh dengan darah air liurnya ke tanah, lalu menoleh ke arah Sora yang sudah berdiri tertatih.
\"Sora...\" panggil Vael dengan suaranya parau. \"Bertahanlah sedikit lagi. Air akan datang sebentar lagi.\"
Di sisi lain, Arelan mendengar perkataan itu. Kata-kata itu memberinya suntikan tenaga terakhir.
\"AAAAAARRGH!\"
Arelan meraung panjang, memaksakan otot-ototnya yang rusak untuk bekerja. Ia berhasil berdiri tegak kembali, meski tubuhnya goyah. Ia menyeret langkahnya mendekati Vael dan Sora.
\"Berapa lama...\" tanya Arelan tersendat-sendat, napasnya memburu seperti binatang buas yang sekarat dan menolak kematiannya itu. \"Berapa lama waktu yang kita punya sebelum banjir menyapu monster sialan ini?\"
Vael menatap Vorlag yang mulai berjalan mendekat dengan santai.
\"Dua menit,\" jawab Vael singkat.
Dua menit. Waktu yang sangat singkat untuk hidup, namun terasa seperti keabadian jika harus dihabiskan bersama Vorlag.
Adrenalin mereka kembali memuncak. Rasa sakit menjadi tumpul. Mereka bertiga kembali memasang kuda-kuda, siap menyambut terjangan sang Anomali sekali lagi, kali ini dengan harapan bahwa alam akan menjadi sekutu terakhir mereka.
Other Stories
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Tirmo Ghar
Saat Nepal sedang mengalami huru-hara akibat perang sipil melawan komunis pada periode tah ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...