Bab Empat Puluh Enam: Jejak Minyak Dan Tiga Pilar Yang Berdiri Kokoh
Jauh dari hiruk-pikuk pertempuran di Sektor Bawah, sebuah kelompok kecil bergerak seperti hantu menyusuri lorong-lorong sempit menuju dataran tinggi. Eleonora memimpin di depan, langkah kakinya nyaris tak bersuara, memandu Namien, Feron, dan beberapa anggota unit logistik lainnya melewati jalur tikus yang tersembunyi.
Di sekitar mereka, terdengar derap langkah pasukan Jargmund yang berlarian ke arah berlawanan, berteriak-teriak memerintahkan rekannya untuk segera menuju Sektor Bawah. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ancaman sebenarnya sedang berjalan melewati mereka menuju jantung pertahanan air kota.
Melihat kekacauan itu, Namien tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah Feron yang sedang berjalan tertatih-tatih di belakangnya dengan dua gentong berat di punggungnya.
\"Lihat itu, Pak Tua,\" bisik Namien dengan nada sarkas yang bangga.
\"Rencanaku berjalan mulus seperti sutra. Seluruh perhatian mereka tersedot ke bawah sana. Kita bisa berjalan santai sambil bersiul di sini.\"
Feron hanya mendengus kesal, keringat bercucuran di wajahnya menahan beban, namun sebelum ia sempat membalas, Eleonora berbalik dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberikan tatapan tajam yang memperingatkan Namien untuk tutup mulut. Kondisi masih terlalu ramai untuk kecerobohan Namien.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam hingga suasana sekitar mulai sepi. Akhirnya, mereka tiba di tujuan.
Di hadapan mereka berdiri gerbang bendungan tua. Struktur itu terbuat dari bebatuan raksasa yang sudah berlumut hijau pekat dan kayu-kayu penyangga tua yang tampak lapuk dimakan usia, namun masih kokoh menahan jutaan galon air di baliknya.
Di depan gerbang itu, dua orang penjaga berdiri bosan. Mereka tidak waspada, mengira perang hanya terjadi di bawah sana.
Eleonora mengangkat tangannya, memberi isyarat taktis. Dua anak buahnya dari unit mata-mata mengangguk paham. Tanpa suara, mereka menyelinap dari bayang-bayang.
Dalam sekejap mata, kedua penjaga itu lumpuh. Leher mereka dipatahkan dengan efisiensi yang mengerikan, dan tubuh mereka langsung diseret dan dibuang ke dalam aliran air bendungan yang deras tanpa sempat mengeluarkan suara.
Namien, yang sedari dulu penasaran melihat cara kerja para pembunuh bayangan, bertepuk tangan pelan.
\"Luar biasa!\" seru Namien, kali ini suaranya tidak lagi berbisik, melainkan tertawa terbahak-bahak karena merasa area itu sudah bersih. \"Seni membunuh yang sangat indah! Efisien, cepat, dan begitu sangat bersih! Aku harus belajar satu atau dua hal dari kalian!\"
Namun, tawa Namien terhenti mendadak.
Di sebelah pos jaga, pintu kamar mandi kecil terbuka. Seorang penjaga ketiga, yang tadi sedang buang air, melangkah keluar sambil membetulkan celananya.
\"Hei, ada apa ribut-rib...\"
Penjaga itu terbelalak melihat teman-temannya hilang dan sekelompok orang asing berdiri di sana. Mulutnya terbuka untuk berteriak.
Belum sempat suara keluar dari tenggorokannya, sebuah pisau lempar menancap telak di tenggorokannya. Penjaga itu memegangi lehernya, darah menyembur, lalu ambruk ke tanah.
Eleonora berdiri dengan tangan masih terulur pasca melempar. Ia menoleh ke arah Namien dengan tatapan membunuh.
\"Apakah kau sudah gila?!\" desis Eleonora marah. \"Tawamu itu mengundang kematian untuk kita semua sebelum rencana dieksekusi!\"
Namien mengangkat bahu santai, sama sekali tidak merasa bersalah. \"Tenanglah, Nona Manis. Kau sudah mengatasinya, bukan? Refleksmu tadi itu sangat bagus sekali. Sekarang, waktunya berkerja, bukan? Karena, waktu terus berjalan hingga saat ini.\"
Eleonora menahan amarahnya, menyadari berdebat dengan Namien hanya membuang waktu. Ia memberi isyarat kepada tim logistik untuk keluar dari persembunyian.
\"Cepat! Pasang semuanya sekarang!\" perintah Eleonora sambil bergerak menjaga perimeter, memastikan tidak ada lagi kejutan.
Namien segera mengambil alih komando teknis. Ia menunjuk titik-titik vital pada struktur kayu bendungan yang sudah lapuk.
\"Pasang gentong mesiu di sana, di pilar utama itu!\" tunjuk Namien. \"Dan kau, letakkan bom rakitan itu di celah bebatuan!\"
Feron menurunkan beban berat dari punggungnya dengan napas lega. Ia membuka tutup gentong yang berisi minyak dan tar hitam pekat.
\"Feron,\" perintah Namien. \"Sebarkan minyak dan tar itu di sekitar pilar kayu. Pastikan kayunya basah kuyup agar apinya nanti melahap sampai ke inti.\"
Feron mengangguk, menuangkan cairan kental itu dengan hati-hati, memastikan setiap tetesnya melapisi struktur bendungan yang rapuh. Bau menyengat bahan bakar memenuhi udara.
Setelah semua bahan peledak terpasang di posisi strategis, Namien mengeluarkan kantong bubuk mesiu dari saku belakangnya. Ia menaburkannya di atas kayu-kayu reyot itu sebagai pemicu tambahan.
\"Sekarang bagian terpenting,\" kata Namien pada Feron.
\"Sisakan sedikit minyak itu untuk jalur sumbunya. Tuangkan minyak itu sambil berjalan mundur ke arah keluar dan tentunya, kita butuh jarak aman saat meledakkannya nanti.\"
Feron melakukan persis seperti yang diperintahkan. Ia berjalan mundur, menuangkan sisa minyak dari gentongnya, menciptakan garis hitam panjang yang menghubungkan pusat ledakan dengan titik aman di balik bukit batu.
\"Selesai,\" kata Feron, melempar gentong kosong itu ke samping.
Persiapan telah rampung. Bendungan itu kini telah berubah menjadi bom waktu raksasa.
\"Mundur! Semuanya kembali ke tempat persembunyian!\" perintah Namien.
Mereka semua berlari kecil menuju celah tebing yang aman, cukup jauh untuk menghindari ledakan namun cukup dekat untuk menyulut api. Di sana, Namien berjongkok, matanya menatap langit di atas Sektor Bawah yang mulai memerah oleh api peperangan.
Hatinya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia menunggu satu hal: Sinyal petasan dari Veyla.
\"Ayo, Veyla...\" gumam Namien pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk batu dengan gelisah. \"Nyalakan kembang apinya. Cepatlah... sebelum Vorlag mengubah kalian semua menjadi daging cincang.\"
Di tengah pusaran debu dan darah, Sora dan Arelan berjuang mati-matian. Otot-otot mereka menegang hingga batas maksimal saat mencoba merobek barikade musuh yang seolah tak ada habisnya. Pasukan Jargmund, yang tergiur oleh janji emas dan takut akan ancaman Jenderal mereka, bertarung dengan agresivitas yang mengerikan. Mereka tidak lagi peduli pada pertahanan; mereka menyerang serempak, mendesak Sora, Arelan, Vael, dan Kaelith dari segala sisi.
Kaelith menggeram frustasi. Tangannya meraba punggungnya, namun hanya menemukan tabung kosong. Busur kesayangannya kini tak lebih dari kayu tak berguna tanpa anak panah. Ia terpaksa bertarung jarak dekat menggunakan pisau pemburunya, menangkis sabetan pedang dengan jarak yang terlalu berbahaya.
\"Sialan!\" umpat Kaelith kasar.
Matanya yang liar menyapu sekeliling, mencari solusi. Tatapannya terkunci pada sekelompok pasukan pemanah musuh yang berdiri agak jauh di sisi kanan, tabung panah mereka masih terlihat penuh.
\"Sora! Arelan!\" teriak Kaelith di tengah denting logam. \"Buka jalan ke arah sana! Ke arah pemanah itu! Sekarang!\"
Arelan yang mendengar teriakan itu tidak membuang waktu untuk berkomentar. Ia mengayunkan kapaknya dengan brutal, membelah perisai musuh seperti memotong ranting kering. Sora, yang langsung memahami niat Kaelith, menggunakan kelincahannya. Ia meluncur di bawah sabetan pedang, menendang lutut musuh, dan menciptakan celah sempit di antara lautan manusia itu.
Pasukan pemanah musuh mulai panik melihat dua monster itu mendekat. Mereka mencoba membidik, namun teman-teman mereka sendiri menghalangi jalur tembak. Jika mereka melepaskan anak panah, mereka hanya akan membunuh rekan sendiri. Keraguan itu adalah akhir bagi mereka.
Arelan menerjang masuk, mencabik barisan pertahanan terakhir mereka. Sora menyusul, pedangnya menari cepat, menumbangkan pemanah-pemanah itu satu per satu sebelum mereka sempat mencabut belati.
Begitu area itu bersih, Kaelith langsung melompat masuk. Ia menyambar tabung anak panah dari mayat salah satu pemanah, menyampirkannya di bahu, dan seketika itu juga, Sang Pemanah telah kembali.
Anak panah melesat beruntun, setiap tembakan menjatuhkan satu prajurit yang menghalangi jalan menuju Jenderal.
\"Berapa lama lagi?!\" teriak Vael dari belakang, sibuk menahan serangan yang datang dari arah ekor formasi mereka.
\"Sedikit lagi!\" balas Arelan sambil menendang mayat musuh yang menghalangi jalannya.
Akhirnya, Sora menghancurkan perisai terakhir yang melindungi sang Jenderal. Jalan terbuka lebar.
Jenderal bertubuh gemuk di atas kuda putih itu memucat. Melihat barisan pelindungnya runtuh, nyalinya ciut seketika. Ia menarik tali kekang kudanya dengan panik, memutar arah untuk melarikan diri, meninggalkan pasukannya yang sekarat.
Mata Kaelith menyipit tajam.
\"Kau tidak akan lari ke mana pun.\"
Ia menarik busurnya, namun tidak membidik punggung Jenderal itu. Ia membidik kaki kuda putihnya.
Anak panah menancap telak di paha kuda. Binatang itu meringkik keras, kakinya goyah, dan tubuh besarnya ambruk ke samping.
\"AAARGGHH!\"
Jenderal itu menjerit kesakitan. Kaki kanannya tertimpa tubuh kuda yang mencoba berdiri namun tak bisa itu hingga perlahan-lahan kehabisan darah kuda itu yang menjemput ajalnya dengan tubuh kuda putih itu menjepitnya di tanah yang berlumpur. Ia meronta, berusaha menarik kakinya, namun beban itu terlalu berat.
Kaelith berjalan santai mendekatinya, langkahnya tenang namun memancarkan aura kematian. Jenderal itu menatap Kaelith dengan mata terbelalak ketakutan.
\"Ampun... Ampuni aku!\" racau Jenderal itu, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. \"Itu... itu perintah Raja Goulash! Aku hanya menjalankan tugasnya! Aku disuruh untuk memperkosamu! Tolong aku!\"
Kaelith tidak menghiraukan permohonan itu. Wajahnya dingin, tanpa emosi. Ia menarik satu anak panah, membidik, dan melepaskannya.
Anak panah itu menembus lengan kanan Jenderal, memaku tangannya ke tanah.
\"AAAAHHH! TANGANKU!\" jeritnya. \"Kau wanita pelacur gila tak mempunyai otak! Terkutuk kau!\"
Sementara itu, Sora, Vael, dan Arelan membentuk formasi setengah lingkaran di belakang Kaelith, menahan sisa-sisa pasukan musuh yang mencoba menyelamatkan pemimpin mereka, memastikan Kaelith mendapatkan panggung pertunjukannya.
Kaelith menarik anak panah lagi. Jenderal itu, kini sadar bahwa ancaman tidak mempan, kembali memohon.
\"Aku akan berikan apa saja! Emas? Tanah? Jabatan? Apa pun yang kau mau, ambil saja! Asal jangan bunuh aku!\"
Anak panah kedua melesat, menembus lengan kirinya. Kini kedua tangannya terpaku, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali.
Kaelith sampai tepat di hadapan wajah Jenderal yang sedang menangis histeris itu. Ia menyampirkan busurnya dan mencabut pisau pemburunya. Wajahnya datar, menatap pria yang dulu menghancurkan hidupnya itu kini tak lebih dari onggokan daging yang menyedihkan.
\"Harta... Tahta...\" racau Jenderal itu tersendat-sendat.
Kaelith berjongkok. Tangan kirinya mencengkeram rahang Jenderal itu dengan kuat, memaksanya membuka mulut.
\"Kau begitu berisik,\" desis Kaelith.
Ia menarik lidah Jenderal itu keluar, dan dengan satu gerakan cepat pisau tajamnya, ia memotongnya.
Potongan lidah jatuh ke tanah. Jenderal itu meraung, namun suaranya kini hanya berupa gurgulan darah yang tidak jelas, tersedak oleh cairannya sendiri.
Kaelith belum selesai. Matanya turun ke bagian bawah tubuh Jenderal. Ia ingat malam itu. Ia ingat rasa sakit dan kehinaan yang ia rasakan. Dengan kasar, Kaelith menyayat pakaian bawah Jenderal itu, menelanjanginya.
Dan di sana, ia melihat sesuatu yang membuatnya semakin jijik. Bahkan di tengah rasa takut akan kematian, tubuh pria itu terlihat ereksi berat pada bagian kemaluannya.
\"Kau...\" bisik Kaelith dengan nada jijik yang mendalam. \"Kau adalah makhluk paling hina yang pernah kutemui. Bahkan saat ajal menjemput, kau masih dipenuhi hasrat kotormu itu.\"
Tanpa keraguan sedikit pun, Kaelith mengayunkan pisaunya.
Darah segar menyembur deras. Jenderal itu melotot, tubuhnya kejang-kejang hebat, teriakannya tertahan di tenggorokan yang penuh darah, menciptakan suara mengerikan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
Kaelith berdiri, membersihkan pisaunya di baju Jenderal itu, lalu menyarungkannya. Ia mengambil kembali busurnya, memasang satu anak panah terakhir, dan membidik tepat ke dahi pria yang sedang meregang nyawa itu.
Jenderal itu menatap mata Kaelith untuk terakhir kalinya.
Anak panahnya menembus tengkorak jenderal bejat itu yang membuat tubuhnya itu tersentak sekali, lalu diam selamanya.
Kaelith menarik napas panjang, lalu berbalik menghadap medan pertempuran. Ia mengangkat busurnya tinggi-tinggi.
\"JENDERAL KALIAN SUDAH MATI!\" teriak Kaelith lantang.
Suaranya menggema. Pasukan Jargmund yang sedang bertarung menoleh dan melihat mayat pemimpin mereka yang tewas mengenaskan tertimpa kuda. Kepanikan meledak. Moral mereka hancur berkeping-keping. Barisan musuh mulai pecah, berlarian tak tentu arah.
Kaelith berlari kecil kembali ke arah teman-temannya. Vael mengangguk hormat. \"Janjimu sesuai ekspektasi. Mengerikan, tapi efektif.\"
Arelan menyeka darah di wajahnya. \"Lain kali, simpan rencana gilamu itu untuk dirimu sendiri. Jantungku hampir copot untuk menjagamu, pemanah gila.\"
Sora hanya diam. Ia menatap Kaelith dengan senyum pahit. Ada rasa lega melihat wanita itu berhasil membungkam traumanya, namun di balik itu, Sora menyembunyikan rasa sakit hatinya sendiri, teringat bahwa di mata Kaelith, ia mungkin masihlah seorang pengkhianat atau pengecut.
Kaelith melihat senyum sedih di wajah Sora. Hatinya mencelos. Ia melangkah mendekat, bibirnya terbuka, hendak mengucapkan kata maaf yang sudah tertahan di ujung lidah.
Namun, sebelum satu kata pun terucap...
Suara dari derap kaki ribuan kuda membuat tanah di sekitar mereka bergetar. Suara gemuruh derap langkah ribuan kuda terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin keras, menutupi suara pertempuran yang mulai surut. Debu tebal membumbung di ufuk timur.
Bala bantuan utama Jargmund telah tiba.
Derap langkah ribuan kuda itu bukan lagi sekadar suara, melainkan gempa bumi yang nyata. Bala bantuan kavaleri Jargmund datang menyapu jalanan utama seperti air bah dari besi dan daging, siap menggilas apa pun yang menghalangi jalan mereka.
Vael, yang pertama kali menyadari bahaya fatal bagi seorang pemanah dalam pertempuran jarak nol, langsung menoleh ke arah Kaelith.
\"MUNDUR! MUNDUR SEKARANG, KAELITH!\" teriak Vael, suaranya hampir pecah karena panik.
Sebelum Kaelith sempat merespons, Arelan sudah bertindak. Dengan tangannya, ia mendorong tubuh Kaelith ke belakang dengan kasar hingga gadis itu terhuyung mundur beberapa langkah.
\"Lari, Bodoh!\" geram Arelan tanpa menoleh. \"Cari tempat tinggi, sekarang! Kau akan mati konyol jika tetap berada di sini!\"
Kaelith terperangah sejenak. Ia melihat punggung lebar Arelan, Vael yang sudah memasang kuda-kuda, dan Sora yang berdiri paling depan dengan pedang terhunus, siap menyambut hantaman ribuan ton otot kuda itu demi melindunginya.
\"Kalian...\" bisik Kaelith.
Namun, ia tahu ia tidak boleh menjadi beban. Kaelith membalikkan badan dan berlari secepat kilat menuju sebuah bangunan toko dua lantai yang masih utuh. Sambil berlari, ia menoleh sekilas ke belakang dan melihat pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan: tiga pria itu berdiri menantang maut, menjadi tembok hidup terakhir sebelum kavaleri menyentuhnya.
\"TAHAN MEREKA!\" jerit Vael memberi komando.
BRAKKK!
Tabrakan itu terjadi.
Alih-alih terpelanting, Sora, Vael, dan Arelan menyambut kavaleri barisan depan dengan keganasan dan kewarasan yang sangat mengejutkan.
Mereka tidak menyerang penunggangnya, melainkan memotong fondasinya dengan sinkronisasi yang mengerikan. Pedang dan kapak mereka menebas leher dan kaki kuda-kuda perang yang melaju kencang itu.
Darah menyembur deras. Kuda-kuda itu menjerit, kaki depan mereka lumpuh seketika, membuat tubuh besar mereka jatuh tersungkur ke tanah lumpur dengan momentum yang masih kencang. Penunggangnya terlempar jatuh, leher patah atau terinjak oleh kuda di belakangnya.
Kekacauan terjadi. Kavaleri di barisan kedua dan ketiga tidak sempat mengerem. Mereka menabrak bangkai kuda di depan mereka, saling bertumpuk, menciptakan kemacetan maut yang memblokir jalur serangan mereka sendiri.
Kaelith, yang sudah berhasil memanjat tangga ke atap toko, menyaksikan horor itu dari atas. Teman-temannya bertarung bukan lagi seperti manusia, melainkan seperti monster yang baru lepas dari kurungan.
Arelan, yang sudah bermandi darah, mulai merasakan paru-parunya terbakar. Napasnya berat, otot-ototnya menjerit kelelahan karena mengayunkan kapak kembar non-stop. Namun, rasa lelah itu justru memicu amarah purbanya.
\"BAJINGAN!!!\"
Teriakan Arelan memecah udara, membakar semangatnya sendiri hingga melampaui batas fisik. Matanya memerah liar. Para prajurit Jargmund yang mencoba mendekatinya gemetar ketakutan melihat sosok yang tak peduli lagi pada rasa sakit itu. Arelan bergerak liar, kapaknya berputar seperti baling-baling kematian, mencabik siapa pun yang cukup bodoh untuk mendekat.
Di sisi tengah, Sora menghadapi tekanan paling berat. Menyadari kekuatan fisiknya tidak akan cukup menahan benturan terus-menerus, mata Sora berkilat tajam.
Api putih menyala terang dari Rune di punggung tangannya, menjalar membungkus bilah pedangnya. Suhu di sekitarnya meningkat drastis.
Dengan kekuatan Rune itu, kecepatan Sora meningkat dua kali lipat. Ia tidak lagi menangkis, ia mengalir.
Gerakannya menjadi sehalus aliran air namun mematikan. Pedangnya yang berapi putih menebas dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang, meninggalkan jejak cahaya dan luka bakar di tubuh musuh. Setiap tebasan pedangnya memotong baju zirah seperti memotong mentega. Sora menari di antara kuda-kuda musuh, menciptakan lingkaran kematian yang indah namun mengerikan di waktu bersamaan.
Sementara itu, Vael sambil menahan beberapa serangan itu melihat peluang di tengah kekacauan. Seekor kuda perang musuh melompat melewati bangkai temannya, mengarah tepat padanya.
Vael tidak menghindar. Ia menunggu momennya dan ketika penunggangnya sudah berada di jangkauannya itu, Vael melompat menyambutnya.
Tangannya mencengkeram zirah si penunggang, dan dengan satu sentakan kuat, Vael menyeret prajurit itu jatuh ke tanah untuk diinjak kawanannya sendiri. Dalam detik yang sama, Vael mengayunkan kakinya, mengambil alih pelana kuda tersebut.
\"Sekarang giliran kalian!\" desis Vael.
Kini Vael berada di atas kuda. Ia mengendalikan binatang itu dengan ahli, menebaskan pedang Thelan ke kiri dan kanan, memenggal musuh dari ketinggian yang setara. Ia menerobos barisan musuh, mengacaukan formasi mereka dari dalam.
Di garis belakang, Veyla dan pasukan revolusi menyaksikan pemandangan itu dengan mulut ternganga. Mereka melihat Arelan yang mengamuk, Sora yang berselimut api putih, dan Vael yang membajak kavaleri musuh. Kengerian dan kekaguman bercampur aduk.
\"Mereka... mereka monster...\" gumam salah satu perwira revolusi, tangannya gemetar memegang tombak.
Namun, kengerian itu berubah menjadi harapan. Moral pasukan revolusi yang sempat goyah melihat kedatangan bala bantuan musuh, kini melesat naik ke angkasa. Jika tiga orang itu bisa menahan satu peleton kavaleri, maka mereka pun bisa menang.
Veyla sadar momentum ini tidak boleh hilang. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
\"JANGAN HANYA MENONTON SAJA!\" teriak Veyla, suaranya membahana. \"LIHAT MEREKA! MEREKA BERTARUNG UNTUK KITA! BANTU MEREKA SEKARANG!\"
\"Dan untuk sisa unit evakuasi!\" lanjut Veyla memberikan perintah ganda.
\"Terus bergerak! Selamatkan penduduk sebanyak mungkin sebelum Vorlag tiba! Jangan berhenti!\"
Pasukan revolusi meraung menjawab panggilan itu. Mereka menyerbu maju dengan semangat baru, menerjang sisa-sisa pasukan Jargmund yang formasi kavalerinya sudah dihancurkan oleh tiga pilar penahan badai tersebut.
Other Stories
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Beyond Two Souls
Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...