Bab Empat Puluh Sembilan: Api Di Bawah Hujan Dan Bendungan Yang Keras Kepala
Di atas tebing berbatu yang menghadap ke bendungan raksasa Jargmund, Namien dan regunya menahan napas. Mata mereka terpaku pada langit kelabu di atas Sektor Bawah. Penantian itu terasa menyiksa, setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam.
Tiba-tiba, sebuah kilatan merah membelah awan mendung, diikuti oleh ledakan kembang api yang mekar di angkasa. Sinyal Veyla akhirnya terlihat.
\"Akhirnya...\" desis Namien, senyum seringai muncul di wajahnya.
\"Inilah saatnya diriku bekerja.\"
Namun, alam sepertinya tidak berpihak pada mereka. Tepat saat Namien mengangkat tangannya untuk memanggil api, tetesan air dingin jatuh menyentuh pipinya. Satu tetes, dua tetes, dan dalam sekejap berubah menjadi rintik hujan yang semakin deras. Hujan mulai membasahi jalur minyak dan bubuk mesiu yang terbuka.
\"Sial! Hujannya turun!\" teriak Feron panik. \"Cepat nyalakan sumbunya, Namien! Sebelum mesiunya basah dan tidak berguna!\"
Namien tidak membuang waktu untuk merapal mantra panjang. Ia menjentikkan jarinya, dan lidah api sihir menyembur keluar dari ujung telunjuknya, menyambar ujung jalur minyak yang dibuat Feron.
Api itu menjalar dengan cepat, mendesis marah saat bertarung melawan rintik hujan, melesat seperti ular berapi menuju tumpukan bahan peledak di pilar utama bendungan.
\"MUNDUR! CARI TEMPAT BERLINDUNG!\" teriak Namien kepada timnya. \"Jangan sampai ada yang mati konyol terkena serpihan batu!\"
Mereka semua melompat ke balik bebatuan besar, menutupi kepala mereka.
Detik berikutnya...
BOOOOM!
Suara ledakan yang memekakkan telinga mengguncang tanah pijakan mereka. Gelombang kejut menyapu debu dan air hujan. Asap hitam membumbung tinggi bercampur dengan uap air.
Namien mengintip dari balik batu, berharap melihat dinding air bah yang menyapu segalanya. Namun, senyumnya lenyap seketika.
Ketika asap menipis, bendungan itu memang rusak. Sebuah lubang besar menganga di bagian tengah, dan retakan menjalar di beberapa sisi. Air menyembur keluar dengan deras, namun struktur utamanya yang masih berdiri membuat kerusakan pada bendungan itu hanya hancur setengahnya. Arus air yang keluar memang kuat, tapi belum cukup masif untuk menjadi \"banjir bandang\" yang bisa menyapu Vorlag dan pasukannya dalam sekali hantam.
\"Cih!\" Namien berdecak kesal, memukul batu di depannya. \"Kurang ajar! Bubuk mesiunya pasti lembap karena hujan sialan ini! Daya ledaknya tidak cukup!\"
Di sisi lain, Eleonora tidak sedang melihat bendungan. Insting mata-matanya menangkap pergerakan di sisi jalan setapak menuju bendungan.
\"Namien!\" seru Eleonora tajam, mencabut pisau-pisaunya. \"Kita punya masalah lain! Musuh mendekat! Sepertinya patroli Jargmund yang kembali dari sektor bawah mendengar ledakan ini!\"
Sekelompok prajurit Jargmund terlihat berlari mendaki bukit, senjata mereka terhunus, wajah mereka penuh amarah melihat bendungan mereka diserang.
\"Tahan mereka!\" perintah Namien tanpa menoleh, otaknya berputar cepat mencari solusi. \"Tahan sebisa mungkin! Aku butuh waktu untuk mencari cara lain meruntuhkan rongsokan keras kepala ini!\"
Namien beralih menatap Feron, wajahnya basah oleh hujan yang semakin deras.
\"Feron!\" teriak Namien mengatasi suara hujan dan pertempuran yang mulai pecah di dekat mereka.
\"Apa kau punya sisa bubuk mesiu? Minyak? Apa saja yang bisa terbakar?!\"
Feron menggelengkan kepalanya dengan wajah suram. \"Tidak ada, Namien! Itu semua yang kita punya! Semuanya sudah kau ledakkan barusan!\"
Mendengar itu, Namien menggertakkan giginya. Ia menatap bendungan yang setengah hancur itu, lalu menatap Eleonora dan tim kecilnya yang mulai bertukar serangan dengan pasukan musuh untuk melindungi posisi mereka.
Namien tahu ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menggunakan sumber daya terakhirnya: dirinya sendiri.
\"Baiklah...\" gumam Namien, matanya menyala dengan tekad gila.
Ia mencengkeram bahu Feron. \"Dengar, Pak Tua. Aku akan melakukan sesuatu yang berisiko. Jika nanti aku pingsan atau tidak mampu berjalan setelah ini... gendong aku.\"
Feron menatap Namien, menyadari apa yang akan dilakukan penyihir itu. \"Kau...\"
\"Gendong aku ke tempat aman bersama penduduk nanti. Jangan biarkan aku tertinggal. Mengerti?\" desak Namien.
Feron mengangguk mantap. \"Lakukanlah. Aku akan memanggulmu walau harus merangkak.\"
Namien melepaskan cengkeramannya. Ia berdiri tegak di tengah hujan deras, menghadap langsung ke arah bendungan yang retak. Ia mengabaikan teriakan pertempuran di belakangnya di mana Eleonora sedang bertaruh nyawa.
Namien merentangkan kedua tangannya. Ia memusatkan seluruh mana dan energi kehidupannya ke satu titik. Bukan api biasa, melainkan api neraka yang dipadatkan.
\"Merepotkan...\" geram Namien.
Sebuah bola api mulai terbentuk di antara kedua tangannya. Awalnya kecil, namun dengan cepat membesar, membesar, dan terus membesar hingga seukuran kereta kuda. Panas yang dihasilkannya begitu tinggi hingga butiran hujan menguap sebelum menyentuh kulit Namien, menciptakan kabut uap di sekelilingnya.
Wajah Namien memucat, keringat dingin bercucuran. Ia mengerahkan segalanya untuk satu serangan ini.
Feron berdiri di sampingnya dengan waspada, melindungi Namien dari gangguan apa pun, matanya sesekali melirik cemas ke arah Eleonora yang semakin terdesak, dan kembali ke arah bola api raksasa yang sedang dipersiapkan Namien.
Nasib seluruh rencana, nasib Sora, Vael, Arelan, dan seluruh penduduk Sektor Bawah, kini bergantung pada seberapa besar api yang bisa diciptakan Namien sebelum tubuhnya menyerah.
Di tengah rintik hujan yang mulai turun membasahi zirah dan darah yang mengering, Sora, Vael, dan Arelan berdiri mematung di hadapan Vorlag. Otak mereka berputar keras, mencari celah sekecil apa pun untuk bertahan dari monster berjuluk Anomali Daging dan Tulang itu. Namun, harapan tampak suram.
Tiba-tiba...
BOOOOM!
Suara ledakan dahsyat terdengar dari arah hulu, memecah konsentrasi semua yang ada di sana. Tanah sedikit bergetar. Gema ledakan itu memantul di lembah Sektor Bawah.
Wajah Vorlag yang tadinya penuh seringai meremehkan, seketika berubah. Ia menoleh tajam ke arah bendungan. Matanya menyipit, menyadari bahwa ledakan itu bukan berasal dari petir, melainkan sesuatu yang disengaja.
\"Apa yang terjadi di atas sana?\" gumam Vorlag, perhatiannya teralihkan sepenuhnya selama sepersekian detik.
Momen itu tidak disia-siakan oleh Vael.
\"SEKARANG!\" teriak Vael parau.
\"LARI! CARI TEMPAT TINGGI!\"
Tanpa perlu diperintah dua kali, Sora dan Arelan membalikkan badan. Mereka memacu kaki-kaki mereka yang sudah babak belur, berlari menjauh dari sang monster dengan sisa tenaga terakhir.
Vorlag menoleh kembali dan mendapati mangsanya sedang berusaha kabur. Darah di tubuhnya mendidih seketika. Urat-urat di lehernya menonjol keluar.
\"KEMBALI KE SINI, TIKUS BAJINGAN!\" teriak Vorlag, suaranya menggelegar melebihi suara guntur.
\"TIDAK ADA KESEMPATAN KEDUA UNTUK LARI BAGI KALIAN!\"
Vorlag memasukkan dua jari ke mulut helmnya dan bersiul nyaring. Kuda merah raksasa miliknya, yang sedari tadi menunggu setia di belakang, langsung berlari mendekat. Vorlag melompat naik ke atas pelana dengan gerakan tangkas dan menghentakkan kakinya.
\"HYAAH!\"
Kuda merah itu melesat bagaikan iblis, memangkas jarak dengan kecepatan mengerikan. Suara derap langkah kaki kuda yang semakin dekat membuat bulu kuduk ketiga pelari itu berdiri.
\"DIA TERLALU CEPAT!\" teriak Arelan panik.
\"BERPENCAR!\" perintah Vael tegas.
\"MASUK KE GANG SEMPIT! KUDANYA TIDAK BISA MENGIKUTI KITA DI SANA!\"
Mereka bertiga langsung berpencar. Vael ke kiri, Arelan lurus ke reruntuhan pasar, dan Sora membanting setir ke kanan, masuk ke labirin gang perumahan kumuh.
Mata Vorlag yang tajam mengunci satu target yang paling dekat dengannya: Sora.
\"Kena kau, Bisu!\"
Melihat Sora masuk ke gang yang terlalu sempit untuk kudanya, Vorlag melompat turun tanpa memperlambat momentum. Ia berlari mengejar dengan kaki sendiri, menggenggam Halberd-nya erat-erat. Kecepatan lari Vorlag sungguh tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya; ia bergerak seperti lokomotif yang lepas kendali.
\"RASAKAN KEMATIAN YANG SEBENARNYA!\" teriak Vorlag, suaranya menggema di lorong sempit.
Sora berlari sekuat tenaga. Napasnya memburu, dadanya sakit. Ia berbelok ke kiri, lalu ke kanan, berharap bisa menghilangkan jejak. Namun suara langkah kaki berat di belakangnya semakin dekat.
Sora berbelok tajam ke sebuah gang buntu.
\"Sial!\" batin Sora.
Di depannya hanya ada tembok tinggi gudang tua.
Matanya menyapu ke atas dengan putus asa. Ia melihat sebuah tangga besi karatan yang menggantung di sisi bangunan, bagian bawahnya patah sehingga tidak menyentuh tanah, menggantung sekitar dua meter di atas kepalanya.
Tanpa ragu, Sora melompat. Tangannya berhasil mencengkeram anak tangga terbawah. Ia menarik tubuhnya naik dengan cepat.
Tepat saat itu, Vorlag muncul di ujung gang. Melihat buruannya mencoba memanjat, amarah Vorlag meledak.
\"JANGAN HARAP!\"
Vorlag menghantamkan tinjunya ke dinding rumah warga di sebelahnya.
BRAKKK!
Tembok bata itu hancur berantakan hanya dengan satu pukulan. Getarannya merambat ke dinding tempat tangga Sora menempel, membuat Sora hampir kehilangan keseimbangan dan tergelincir. Namun Sora menguatkan cengkeramannya, terus memanjat.
Vorlag melihat puing-puing tembok yang baru saja ia hancurkan. Ia memungut sebuah bongkahan batu besar seukuran kepala manusia.
\"TURUN KAU, BISU!\"
Dengan kekuatan penuh, Vorlag melempar batu itu.
Batu itu melesat, menghantam dinding tepat di samping kepala Sora. Serpihan batu tajam menggores pipi Sora, tapi ia selamat. Sora memacu tangannya lebih cepat.
\"MATI!\"
Vorlag mengambil bongkahan kedua, kali ini lebih besar dan bergerigi. Ia melemparnya lagi.
Lemparan kali ini telak. Batu itu menghantam punggung Sora dengan keras.
Sora tersentak hebat. Matanya membelalak, mulutnya terbuka memuntahkan darah segar akibat guncangan pada organ dalamnya. Cengkeramannya pada tangga hampir lepas. Pandangannya menggelap sesaat. Namun, rasa takut mati memaksanya sadar kembali. Dengan napas tersengal dan darah menetes dari dagu, ia kembali menarik tubuhnya naik.
Sora sudah hampir mencapai atap. Tangannya sudah menyentuh bibir atap bangunan.
Vorlag, yang semakin frustasi melihat tikusnya hampir lolos, mengambil bongkahan ketiga.
Ia melempar batu itu dengan presisi mematikan ke arah kaki Sora yang masih menggantung.
KRAK!
Batu itu menghantam pergelangan kaki kiri Sora tepat saat ia menariknya naik.
Rasa sakit yang membuat kaki Sora terasa meledak hingga membuat tulang kakinya bergeser dan dislokasi saat ini.
Namun, momentum Sora sudah membawanya ke atas. Ia menyeret tubuhnya berguling ke atap datar bangunan itu, keluar dari pandangan Vorlag di bawahnya.
Di atas atap yang basah oleh hujan, Sora terbaring dengan napas tersengal-sengal. Ia melihat kaki kirinya yang bengkok ke arah yang tidak wajar. Rasa sakitnya membuat pandangannya berkunang-kunang.
\"Harus... kubenarkan...\" batin Sora. Ia tidak bisa lari dengan kaki seperti ini.
Dengan tangan gemetar, Sora mencengkeram tumit dan betisnya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan teriakannya di tenggorokan.
KLEK!
Sora menyentak kakinya kembali ke posisi semula.
Mulut Sora terbuka lebar dalam jeritan bisunya. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol, air mata kesakitan keluar dari sudut matanya, namun tidak ada suara yang keluar. Ia hanya mengerang dalam diam, tubuhnya kejang menahan siksaan itu.
Di bawah sana, Vorlag menatap atap kosong itu dengan napas memburu. Ia tahu si Bisu itu sudah lolos ke tempat yang sulit dijangkaunya untuk saat ini.
\"Cih! Tikus licin!\" maki Vorlag frustasi. Ia menendang sisa tembok hingga runtuh.
Namun, ia teringat masih ada dua tikus lagi.
\"Baiklah... kalau kau mau bermain petak umpet, sembunyilah,\" geram Vorlag sambil berbalik badan. Matanya yang merah menyala menatap ke arah lorong lain.
\"Aku akan mencari teman-temanmu. Dan kali ini, aku akan meremukkan kepala mereka sebelum mereka sempat memanjat.\"
Vorlag mempercepat langkahnya, kembali memburu ke dalam labirin gang sempit, membawa amarah yang melampaui batas kewarasan manusia.
Di dalam perut bumi yang lembap dan berbau busuk, suasana di terowongan selokan berubah menjadi kawah ketakutan. Ratusan penduduk yang telah dievakuasi berdesak-desakan, suara tangisan bayi, jeritan wanita, dan umpatan laki-laki memecah kebisingan, menciptakan gema yang memusingkan kepala.
Lyra berlari menghampiri kerumunan itu dengan napas memburu, wajahnya cemong oleh asap dan keringat.
\"SEMUANYA DENGARKAN AKU!\" teriak Lyra, suaranya serak namun lantang.
\"KITA HARUS BERGERAK SEKARANG! Ikuti aku menuju jalur dalam! Kita harus mencapai tempat yang lebih tinggi sebelum banjir menenggelamkan kalian semua!\"
Namun, alih-alih menurut, gelombang protes meledak.
\"Banjir?!\" teriak seorang pria paruh baya dengan wajah merah padam. \"Kau bilang tempat ini aman! Kau membawa kami ke lubang tikus ini hanya untuk mati tenggelam?!\"
\"Kenapa tidak ke atas bukit?!\" jerit seorang wanita histeris. \"Kehidupanku sudah tamat! Kita semua akan mati di sini terkubur kotoran selokan ini!\"
Situasi memanas dengan cepat. Ketidakpercayaan menyebar seperti wabah. Beberapa orang bahkan mulai mendorong prajurit revolusi yang berjaga, berniat kembali ke permukaan yang justru sedang dijaga oleh monster.
Tepat di puncak kekacauan itu...
BOOOOM!
Suara ledakan dari bendungan di atas sana terdengar sampai ke dalam selokan. Getarannya merontokkan debu dan kerikil dari langit-langit terowongan. Keheningan mencekam menyelimuti mereka selama satu detik, sebelum pecah menjadi teriakan histeris yang lebih parah.
Lyra yang sudah di ambang batas kesabarannya, menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
\"DIAM DAN LARI, BODOH!\" teriak Lyra dengan amarah yang meledak.
\"JIKA KALIAN MAU MATI, TETAPLAH DI SINI! TAPI YANG MAU HIDUP, IKUTI AKU SEKARANG!\"
Tanpa menunggu persetujuan lagi, Lyra menerobos barisan penduduk yang menghalangi jalannya, menyikut siapa saja yang lambat, dan mulai berlari memimpin jalan ke kedalaman lorong yang gelap.
Melihat Lyra berlari, insting bertahan hidup mengambil alih. Penduduk yang ketakutan dan marah itu tidak punya pilihan lain selain mengejarnya. Massa mulai bergerak, berlari berdesak-desakan mengikuti sang mata-mata.
Di ekor rombongan, Veyla baru saja masuk memacu kuda hitamnya. Namun, lorong itu terlalu padat oleh manusia. Kudanya meringkik gelisah, tak bisa maju.
\"Ck! Sialan!\" decak Veyla kesal.
Ia tahu ia tidak bisa memaksakan kudanya lewat tanpa menginjak-injak warga sipil. Tanpa ragu, Veyla melompat turun. Ia meninggalkan kuda perangnya begitu saja di belakang. Dengan kekuatan fisiknya yang terlatih, ia menggendong gadis muda yang masih pingsan itu di bahunya seperti membawa karung beras, lalu berlari kencang menyusul kerumunan.
Lyra memacu langkahnya di depan, memandu ratusan orang melewati labirin gorong-gorong. Mereka melewati area markas rahasia pasukan revolusi. Di sana, di depan tenda komandonya, Silas Verne sedang duduk santai di kursi kayu lapuknya, seolah-olah sedang menikmati sore yang tenang di taman, bukan di tengah bencana.
Saat Lyra berlari melewatinya, ia berteriak tanpa berhenti.
\"SILAS! LARI, PAK TUA! BENDUNGAN SUDAH DILEDAKKAN!\"
Silas menoleh perlahan, melihat gelombang manusia yang berlari panik melewatinya. Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan yang santai, menepuk-nepuk debu di jubahnya, lalu tertawa kekeh yang terdengar ganjil.
\"Hehehe... Dasar anak muda zaman sekarang,\" gumam Silas sambil menggelengkan kepala, namun matanya berkilat jenaka.
\"Menyuruh orang tua renta sepertiku untuk lari maraton di dalam selokan... benar-benar tidak tahu sopan santun.\"
Meski mulutnya mengeluh, Silas segera mengambil tongkatnya dan ikut berlari, menyusup ke dalam arus pengungsi dengan kecepatan yang mengejutkan untuk usianya itu.
Lyra terus berlari di depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan orang-orang mengikutinya dan tidak tertinggal di persimpangan yang salah. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena lari, tapi karena ia tahu apa yang sedang menuju ke arah mereka.
\"CEPAT!\" teriak Lyra lagi, suaranya menggema di lorong batu basah itu.
\"JANGAN BERHENTI! AIR AKAN SEGERA MEMENUHI TEMPAT INI!\"
Di dalam kegelapan bawah tanah itu, pasukan revolusi dan ratusan nyawa yang mereka bawa kini beradu cepat dengan waktu yang semakin menipis, dikejar oleh bayangan kematian yang berwujud air bah.
Sementara dunia di luar dinding istana sedang runtuh, suasana di dalam Ruang Takhta Jargmund masih dipenuhi oleh aroma anggur dan parfum mahal.
Goulash duduk bermalas-malasan di takhtanya, jemarinya yang gemuk memainkan rambut wanita penghibur yang duduk manja di pangkuannya. Gelak tawa kecil terdengar setiap kali Goulash membisikkan lelucon kotor ke telinga wanita itu.
Tiba-tiba...
DUARRRR!!!
Suara ledakan dari bendungan itu menembus ketebalan dinding batu istana. Lantai marmer bergetar, dan kaca jendela berderit ngeri. Suara itu begitu keras hingga memekakkan telinga, terdengar seperti langit baru saja runtuh tepat di atas atap istana.
Goulash tersentak kaget, tubuh gempalnya menegang. Anggur di gelas yang dipegangnya tumpah sedikit ke jubah mewahnya. Wajahnya yang merah karena mabuk kini berubah bingung, matanya berkedip-kedip mencoba mencerna suara dahsyat itu.
Wanita di pangkuannya menjerit kecil dan membenamkan wajahnya ke dada Goulash, tubuhnya gemetar hebat.
\"Aaa! Suara apa itu, Yang Mulia?!\" tanyanya dengan suara penuh ketakutan. \"Itu terdengar mengerikan sekali!\"
Melihat wanita itu ketakutan, otak Goulash bekerja dengan logika yang menyedihkan. Alih-alih memeriksa keadaan, ia melihat ini sebagai kesempatan emas untuk memamerkan kejantanannya. Ia segera memasang wajah tenang yang dipaksakan, membusungkan dadanya yang buncit.
\"Sstt... tenang, Manisku. Tenang,\" kata Goulash dengan nada sok berwibawa. Ia mengelus punggung wanita itu.
\"Itu mungkin hanya suara guntur. Kau tahu kan, di luar sedang hujan deras? Petir menyambar sedikit lebih dekat, itu saja.\"
\"Benarkah? Hanya guntur?\" tanya wanita itu, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
\"Tentu saja!\" seru Goulash percaya diri.
\"Kenapa kau harus takut? Kan ada aku. Raja Idamanmu sedang berada di sini, memelukmu erat. Selama kau bersamaku, tidak ada hal buruk yang bisa menyentuhmu. Dewa petir pun takut padaku!\"
Mendengar bualan itu, wanita penghibur itu hanya bisa pasrah, mencoba mempercayai pelindungnya yang sebenarnya rapuh itu.
\"Ah, Anda benar-benar gagah, Yang Mulia,\" bisiknya, membuat Goulash tertawa lebar, merasa egonya terpuaskan.
Namun, momen emas itu tidak berlangsung lama.
Pintu besar di ujung ruang takhta diketuk dengan tempo cepat dan panik. Tak lama kemudian, pintu terbuka sedikit. Seorang perwira istana menyulurkan kepalanya ke dalam, wajahnya pucat pasi dan basah oleh keringat dingin. Ia hendak menyampaikan kabar bencana mengenai bendungan yang meledak.
\"Yang Mulia! Lapor—\"
Belum sempat perwira itu menyelesaikan satu kata pun, Goulash sudah meledak dalam amarah. Wajahnya memerah padam karena kesenangan pribadinya diganggu.
\"KAU LAGI?!\" bentak Goulash, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Goulash menunjuk perwira itu dengan jari telunjuknya yang gemetar karena emosi.
\"Berani-beraninya kau mengganggu waktuku?! Apa kau tidak punya sopan santun?! Aku sedang menenangkan gadisku yang ketakutan, Bodoh! KELUAR DARI SINI SEKARANG!\"
Perwira itu ternganga, bibirnya bergetar ingin menjelaskan bahaya yang mengancam. \"Ta-tapi Yang Mulia, suara tadi—\"
\"TUTUP MULUTMU!\" potong Goulash semakin murka. Ia meraih gelas anggurnya dan melemparnya ke arah pintu.
PRANG!
\"Aku tidak mau mendengar laporan sampahmu! Keluar sekarang juga, atau aku panggil seseorang untuk memenggal kepalamu saat ini juga! PERGI! SEKARANG\"
Ancaman pemenggalan itu membuat nyali si perwira ciut seketika. Antara melaporkan bendungan jebol tapi mati dipenggal sekarang, atau lari menyelamatkan diri, ia memilih yang kedua. Tanpa pikir panjang, perwira itu menarik kepalanya kembali dan menutup pintu rapat-rapat, lari meninggalkan rajanya yang bodoh untuk menghadapi nasibnya sendiri.
Suasana kembali hening, hanya terdengar napas Goulash yang memburu karena emosi.
\"Dasar bawahan tidak berguna,\" gerutu Goulash, memperbaiki posisi duduknya. \"Selalu saja datang di saat yang tidak tepat. Benar-benar merusak suasana hatiku.\"
Wanita penghibur di pangkuannya menyadari perubahan mood rajanya. Ia tahu jika Goulash terus marah-marah, ia bisa kena imbasnya. Dengan cerdik, ia membelai pipi Goulash yang berlemak dengan lembut.
\"Sudahlah, Yang Mulia...\" bujuk wanita itu dengan suara mendesah manja. \"Jangan biarkan orang bodoh itu merusak malam kita. Anda terlihat lelah dan tegang.\"
Wanita itu mendekatkan bibirnya ke telinga Goulash.
\"Bagaimana kalau kita pindah ke kamar saja? Saya juga masih takut dengan suara guntur tadi... Saya butuh istirahat di tempat yang lebih nyaman... bersama Anda.\"
Mendengar ajakan itu, amarah Goulash menguap seketika, digantikan oleh senyum mesum yang menjijikkan. Matanya berbinar licik.
\"Hahahaha! Ide yang sangat brilian!\" seru Goulash.
Ia menepuk paha wanita itu. \"Kau benar. Kamar tidur jauh lebih kedap suara dari guntur jelek itu. Ayo, Sayangku.\"
Dengan susah payah, Goulash bangkit dari takhtanya, mengambil tongkat emasnya untuk menopang tubuhnya yang berat. Sambil merangkul pinggang wanita itu, ia berjalan tertatih-tatih menuju koridor kamar pribadinya, tertawa bahagia membayangkan kesenangan duniawi, sama sekali buta dan tuli bahwa air bah kematian sedang bersiap mengetuk pintu istananya dengan cara yang jauh lebih kasar.
Other Stories
Kelamin Ketiga
Thisam adalah mega prostitusi di Pattaya yang memiliki peraturan ketat terhadap penyebaran ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Anjing Anjing Anjing Anjing
Menjijikkan udah itu aja. ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...