Bab Lima Puluh: Bencana Yang Dijanjikan Penyihir
Di punggung bukit yang menuju bendungan, medan pertempuran telah berubah menjadi pembantaian sepihak.
Tim Eleonora yang awalnya berjumlah tujuh orang kini berguguran satu per satu. Mereka adalah mata-mata, ahli dalam bayang-bayang, bukan prajurit garis depan yang dirancang untuk menahan gempuran frontal puluhan prajurit Jargmund yang datang terus-menerus.
\"Argh!\" Satu lagi rekan Eleonora tumbang dengan tombak menembus dadanya.
\"MUNDUR! RAPATKAN BARISAN!\" teriak Eleonora histeris, menyabetkan pisau kembarnya untuk menggorok leher musuh yang mendekat.
Kini hanya tersisa Eleonora dan dua orang lainnya. Napas mereka memburu, tubuh mereka penuh luka sayatan. Di hadapan mereka, gelombang pasukan musuh tampak tak ada habisnya, merangsek maju dengan teriakan kemenangan karena merasa berhasil menyudutkan para penyusup.
Eleonora menoleh sekilas ke belakang, matanya penuh keputusasaan dan harapan yang memudar.
\"CEPAT, NAMIEN!\" jerit Eleonora, suaranya serak bercampur tangis tertahan.
\"AKU TIDAK BISA MENAHAN MEREKA LEBIH LAMA LAGI! CEPATLAH SEBELUM KAMI SEMUA MATI DI SINI!\"
Feron, yang berdiri di samping Namien, tampak gelisah luar biasa. Ia melihat pertahanan Eleonora yang nyaris runtuh, lalu menatap Namien yang masih mematung dengan tangan terangkat.
\"Namien!\" desak Feron. \"Lakukan sekarang! Atau kita semua tamat!\"
Namien tidak menjawab. Seluruh konsentrasinya tersedot ke bola api raksasa di atas kepalanya. Bola api itu kini telah mencapai ukuran maksimal, warnanya bukan lagi merah, melainkan putih menyilaukan saking panasnya. Hujan yang turun deras langsung menguap menjadi uap panas begitu mendekati radius Namien.
Telapak tangan Namien yang menahan beban sihir itu mulai melepuh. Kulitnya hangus, asap tipis mengepul dari dagingnya yang terbakar oleh sihirnya sendiri.
\"Dan penghargaan jatuh kepada...\" bisik Namien.
Tanpa kata-kata lagi, tanpa aba-aba dramatis, Namien menghentakkan tangannya ke depan.
Bola api raksasa itu meluncur lurus menghantam sisa struktur bendungan yang masih berdiri.
BOOOOOOMMMM!!!
Ledakan kedua ini jauh lebih dahsyat, lebih keras, dan lebih mengerikan daripada ledakan pertama. Cahaya putih menyilaukan mata, diikuti oleh gelombang panas yang melelehkan bebatuan. Sisa dinding bendungan yang keras kepala itu hancur berkeping-keping, meledak menjadi serpihan debu dan uap.
Namien, yang telah menguras habis seluruh mana dan tenaga hidupnya, langsung lemas. Kakinya menyerah. Ia jatuh terduduk di tanah lumpur, napasnya tersengal-sengal berat. Kedua tangannya gemetar hebat, berasap dan merah padam.
\"Hah... hah...\" Namien mengatur napasnya yang berat, senyum miring khasnya masih terukir lemah di wajah pucatnya.
\"Setidaknya...\" gumam Namien pelan, matanya mulai terpejam.
\"...aku ingin kasur empuk... untuk bayarannya ini...\"
Tubuh Namien limbung ke samping, jatuh bebas.
Namun, sebelum kepalanya membentur tanah berbatu, tangan kekar Feron menyambarnya dengan cepat. Feron menangkap tubuh kurus penyihir itu tepat waktu.
\"NAMIEN!\" teriak Feron panik, menepuk pipi Namien. \"Namien! Bertahanlah! Jangan mati dulu, Nak! Namien!\"
Mata Namien terbuka sedikit, menyipit kesal melihat wajah panik Feron yang basah oleh hujan.
\"Berisik sekali... Pak Tua...\" racau Namien lemah, namun nada sarkasnya tak hilang. \"Aku belum mati... bodoh. Aku cuma lelah... mataku berat...\"
Mendengar itu, Feron menghela napas lega yang luar biasa. Senyum kecil terukir di wajah tuannya. Tanpa membuang waktu, Feron segera mengangkat tubuh Namien, memanggulnya di punggungnya.
\"MUNDUR! ELEONORA! MUNDUR SEKARANG!\" teriak Feron memberikan sinyal evakuasi.
Eleonora dan dua rekannya yang tersisa mendengar teriakan itu. Mereka melihat bendungan yang kini runtuh total.
\"LARI!\" perintah Eleonora.
Mereka berbalik dan lari secepat kilat menyusul Feron, meninggalkan musuh yang terpaku.
Feron berlari kencang menuruni bukit berbatu sambil menggendong Namien. Di punggungnya, Namien yang setengah sadar masih sempat mengoceh.
\"Hei... punggungmu keras sekali...\" keluh Namien dengan mata terpejam. \"Aku minta kasur... bukan tumpukan batu berjalan...\"
\"Diamlah dan tidur, Bocah!\" balas Feron sambil terus berlari, tidak mempedulikan keluhan konyol itu.
Sementara itu, di belakang mereka, pasukan Jargmund yang tadinya garang kini menjatuhkan senjata mereka. Mata mereka terbelalak menatap horor yang sesungguhnya.
Bendungan itu telah hilang.
Jutaan ton air yang tertahan selama puluhan tahun kini bebas. Air itu menderu, membentuk dinding ombak raksasa setinggi gedung, bergulung-gulung dengan kekuatan alam yang tak terbendung. Suaranya seperti raungan ribuan naga.
\"Tidak mungkin...\" bisik salah satu prajurit Jargmund, kakinya lemas, tubuhnya merosot ke tanah. \"Tidak ada harapan lagi...\"
Mereka tidak sempat lari. Mereka tidak sempat berteriak.
BLAAARRRR!!!
Air bah itu menerjang turun bagaikan tsunami daratan. Ia melibas para prajurit Jargmund di sekitar bendungan dalam sekejap mata, menelan mereka ke dalam pusaran air yang ganas, lalu terus melaju dengan kecepatan iblis menuju Sektor Bawah, siap menghapus segala dosa dan kehidupan yang ada di jalurnya.
Jauh di dalam kegelapan dan bau busuk selokan, Lyra memacu langkahnya. Napasnya memburu, namun matanya berbinar ketika menangkap seberkas cahaya remang-remang di kejauhan. Itu adalah mulut gua, jalan keluar menuju kebebasan di dataran tinggi.
\"CEPAT! JALAN KELUAR SUDAH TERLIHAT!\" teriak Lyra sambil menoleh ke belakang, memastikan rombongan penduduk tidak tertinggal.
Penduduk yang berlari di belakangnya masih diliputi keraguan dan ketakutan, namun melihat Lyra yang begitu yakin, mereka memaksa kaki-kaki mereka yang lelah untuk terus bergerak.
Lyra adalah orang pertama yang menerobos keluar dari mulut selokan itu. Ia langsung disambut oleh udara segar bercampur rintik hujan dan angin dingin dataran tinggi. Tanpa membuang waktu untuk istirahat, Lyra berdiri di samping bibir pintu keluar, mengulurkan tangannya membantu satu per satu penduduk yang kepayahan untuk memanjat keluar dari lubang yang licin itu.
Mereka kini berada di sebuah bukit berbatu, cukup jauh dan tinggi dari pusat Kerajaan Jargmund, memberikan mereka pemandangan yang luas dan mengerikan ketika melihat ke arah kota yang sebentar lagi akan tenggelam oleh air itu.
Tak lama kemudian, Silas Verne muncul dengan napas tersengal-sengal, dibantu oleh seorang prajurit revolusi. Begitu kakinya memijak tanah rumput, sifat aslinya kembali keluar.
\"Hah... hah... Dasar anak muda tidak tahu sopan santun!\" gerutu Silas sambil memukul-mukul punggungnya yang encok. Ia menatap Lyra dengan tatapan jenaka namun kesal. \"Lihat fisikku yang rapuh ini, Lyra! Kenapa kau tidak mau menggendongku saja tadi, heh? Kau tega membiarkan tulang tuaku beradu lari dengan tikus got?\"
Lyra sama sekali tidak menggubris ocehan Silas. Wajahnya tetap datar, fokus menarik seorang ibu yang menggendong bayi agar bisa naik ke tanah yang aman.
Namun, di sela-sela hiruk-pikuk evakuasi itu, sebuah suara terdengar.
BOOM.
Suaranya tidak sekeras di pusat ledakan, namun gema dentumannya merambat sampai ke bukit itu. Itu adalah suara ledakan kedua yang ledakan bola api dibuat oleh Namien.
Gerakan Lyra dan Silas terhenti serentak. Mereka menoleh ke arah bendungan yang terlihat kecil dari kejauhan.
Silas menyipitkan matanya, lalu tertawa kecil, tawa yang penuh rasa bangga yang aneh.
\"Hehehe... Dengar itu?\" kekeh Silas. \"Penyihir gila itu benar-benar melakukannya. Dia meledakkannya dua kali. Satu kali gagal, dia bakar lagi. Dasar keras kepala.\"
Lyra menghela napas panjang, beban berat seolah terangkat dari pundaknya. \"Syukurlah... Rencananya berhasil.\"
Tak lama berselang, Veyla muncul dari kegelapan terowongan bersama sisa pasukan revolusi yang mengawal barisan paling belakang. Veyla masih membopong gadis muda yang pingsan itu di bahunya, wajahnya basah oleh keringat dan air kotor.
Veyla meletakkan gadis itu di rumput dengan hati-hati, lalu menatap Lyra dan Silas yang sedang memandang ke arah kota.
\"Apa yang terjadi?\" tanya Veyla dengan napas memburu. \"Kenapa kalian diam?\"
\"Tidak ada apa-apa,\" jawab Silas santai sambil menunjuk ke arah bendungan. \"Hanya saja... penyihir kecil kita baru saja menyelesaikan pesta kembang apinya dengan ledakan kedua.\"
Mendengar itu, Veyla memejamkan mata sejenak, mengucapkan syukur dalam hati. \"Berarti kita tepat waktu. Kita punya waktu tambahan untuk memastikan semua orang aman di sini.\"
Lyra berdiri di tepi tebing, matanya menatap nanar ke arah Sektor Bawah yang kini terlihat kecil. Hatinya bergemuruh. Evakuasi berhasil, penduduk selamat. Tapi pikirannya melayang kepada tiga sosok yang ia tinggalkan di gerbang maut.
\"Bertahanlah...\" bisik Lyra, jemarinya meremas kain celananya. \"Sora, Vael, Arelan... Kumohon, jangan mati konyol di sana. Lari... lari sekencang mungkin sebelum air itu datang.\"
Di tengah kelegaan itu, sosok terakhir akhirnya muncul dari mulut selokan.
Kaelith.
Gadis pemanah itu berjalan keluar dengan langkah berat. Wajahnya tidak menunjukkan rasa lega sedikit pun. Sebaliknya, ekspresinya gelap, penuh kekesalan, frustasi, dan amarah yang tertahan. Ia berjalan melewati kerumunan tanpa menoleh, matanya kosong.
\"Oho?\" Silas mengangkat alisnya melihat tingkah Kaelith.
\"Ada apa dengan Nona Pemanah ini? Kenapa wajahmu ditekuk seperti busur yang mau patah begitu?\"
Kaelith berhenti sejenak, menoleh tajam ke arah Silas. Tatapannya begitu dingin hingga membuat Silas terdiam. Kaelith tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia membuang muka, berjalan menjauh dari kelompok utama, dan duduk menyendiri di bawah sebuah pohon besar yang menjorok ke arah tebing.
Di sana, dalam kesendiriannya, pertahanan Kaelith runtuh. Ia memukul tanah dengan kepalan tangannya, menyesali ketidakberdayaannya. Ia benci dipaksa mundur. Ia benci Vael yang menampar kudanya. Tapi lebih dari itu, ia benci rasa takut yang kini mencengkeram hatinya—rasa takut kehilangan mereka.
Matanya menatap ke arah titik di mana Sora sedang bertarung. Di lubuk hatinya yang paling dalam dan paling kecil, yang selama ini tertutup oleh dendam dan trauma, sebuah doa tulus terucap.
\'Jangan mati, Sora...\' batin Kaelith, bibirnya bergetar.
\'Jangan mati dulu. Aku... aku masih harus memarahimu. Dan mungkin... aku harus meminta maaf padamu. Jadi kumohon, hiduplah sampai kita bertemu lagi.\'
Di lorong sempit yang kini mulai digenangi air hujan, Vorlag yang sedang mengamuk mencari sisa mangsanya. Matanya yang merah menyala menangkap pergerakan di sisi sebuah bangunan tua yang fondasinya terlihat kokoh dan tebal.
Di sana, Vael sedang berjuang mati-matian memanjat sebuah tangga besi yang menempel pada dinding. Ia bergerak lambat, tersendat-sendat, karena ia hanya bisa mengandalkan satu tangan kanannya untuk menarik beban tubuhnya, sementara tangan kirinya yang remuk terkulai tak berdaya.
Vorlag menyeringai lebar, sebuah senyum sadis yang mengerikan.
\"KETEMU KAU!\" teriak Vorlag, suaranya menggelegar mengalahkan suara hujan. \"Aku akan memberikanmu kematian yang layak untuk seekor tikus cacat sepertimu!\"
Mendengar suara itu, jantung Vael berdegup kencang. Ia memacu dirinya, memaksakan tubuhnya bergerak lebih cepat. Karena putus asa, Vael terpaksa menggunakan tangan kirinya yang sudah remuk untuk sekadar menahan keseimbangan pada anak tangga.
\"Arghhh!\"
Vael mengerang panjang setiap kali tangan kirinya menyentuh besi dingin itu. Tulang-tulang yang patah bergesekan di dalam dagingnya, menciptakan bunyi krak yang menyakitkan, namun ia tidak berhenti. Ia terus naik.
Vorlag tidak membuang waktu. Ia melompat ke tangga itu dan mulai memanjat dengan kecepatan monster. Dengan satu tangan memegang Halberd besarnya, tangan lainnya mencengkeram anak tangga, menarik tubuh raksasanya naik dengan mudah seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Jarak di antara mereka menipis dengan cepat.
Vael akhirnya mencapai bibir atap. Ia menggulingkan tubuhnya ke atas beton yang basah. Napasnya memburu, matanya melotot ke bawah. Vorlag sudah semakin dekat, wajahnya penuh nafsu membunuh.
Vael mencoba meraih sisi tangga itu dengan tangan kanannya, berniat menjatuhkannya. Namun, bobot tangga besi itu ditambah berat tubuh Vorlag yang memakai zirah penuh membuatnya mustahil digerakkan dengan satu tangan.
\"SIALAN! BERGERAKLAH!\" maki Vael pada dirinya sendiri, frustasi.
Sementara itu, suara gemuruh dari arah hulu semakin keras. Dinding air bah yang dijanjikan Namien telah tiba. Air itu bergulung setinggi bangunan, menghantam apa pun di jalurnya dengan kekuatan kiamat.
Vorlag, menyadari bahaya air itu, mempercepat panjatannya. Ia tidak peduli pada banjir; ia hanya ingin membunuh Vael sebelum air menyentuhnya.
\"KAU TIDAK AKAN LOLOS DARIKU!\" raung Vorlag, tangannya yang besar terulur ke atas, siap mencengkeram kaki Vael.
Melihat tangan maut itu mendekat, dan menyadari tangannya tak berguna, Vael mengambil tindakan nekat. Ia berbaring telentang, mengangkat kedua kakinya, dan menempelkan sol sepatunya pada sisi tangga besi itu.
\"MATI KAU, MONSTER!\"
Vael mendorong dengan sekuat tenaga, mengerahkan seluruh sisa otot kakinya. Urat-urat di lehernya menonjol saat ia berteriak histeris.
Tangga itu mulai bergeser perlahan, kehilangan keseimbangannya karena bobot Vorlag yang berat justru menjadi bumerang.
Vorlag merasakan tangganya oleng ke belakang. Ia mendongak, matanya bertemu dengan kaki Vael yang sedang menendang tangganya itu dengan sekuat tenaga. Vorlag mencoba mempercepat gerakannya, jari-jarinya hanya tinggal beberapa inci dari pergelangan kaki Vael.
Namun, ia terlambat.
Arus air bah sudah menghantam dasar gedung. Guncangan air ditambah dorongan terakhir Vael membuat tangga itu terlepas dari kaitannya.
Tangga itu terdorong ke belakang, membuat Vorlag jatuh bebas menjauhi gedung.
Vorlag melayang di udara. Matanya terbelalak. Genggamannya pada Halberd terlepas karena kaget. Senjata kebanggaannya jatuh lebih dulu.
\"BAJINGAN KAU, TIKU—!\"
Teriakan Vorlag terpotong. Tubuh besarnya menghantam permukaan air bah yang sedang mengamuk itu.
Air yang deras dan keruh langsung menelannya. Zirah hitam legam yang selama ini menjadi pelindung tak tertembus, kini menjadi pemberat yang mematikan. Vorlag, sang Anomali yang tak terkalahkan di darat, tidak berdaya melawan kekuatan alam. Ia tenggelam seketika, terseret arus deras ke dasar, digiling bersama puing-puing bangunan dan bangkai yang hanyut.
Vael terengah-engah di pinggir atap, melihat tempat di mana Vorlag menghilang ditelan air. Tidak ada tanda-tanda monster itu muncul kembali.
Air bah terus naik, membanjiri setiap sektor, mengubah kota menjadi lautan puing. Namun, bangunan tua tempat Vael berada cukup tinggi dan kokoh untuk bertahan dari gelombang pertama.
Adrenalin Vael habis seketika. Tubuhnya ambruk dan terbaring telentang di atas atap yang dingin dengan genangan air hujan membasahi atapnya.
Ia sudah tidak bisa merasakan tangan kirinya lagi; rasa sakitnya telah berubah menjadi mati rasa yang menakutkan. Pedang Thelan dan belatinya tergeletak begitu saja di sampingnya, terendam genangan air hujan.
Hujan deras mengguyur wajahnya, menyamarkan air mata kesakitan dan kelegaan yang keluar bersamaan. Vael menatap langit kelabu yang kosong dengan napasnya lemah, membiarkan dinginnya hujan membasuh darah dan kengerian yang baru saja ia lalui.
Di dalam kamar pribadi Raja yang mewah dan berlapis emas, Goulash mulai melucuti pakaian kebesarannya. Dengan gerakan lamban, ia membuka jubahnya, memperlihatkan tubuh yang penuh dengan lipatan lemak bergelambir, jauh melebihi ukuran manusia gemuk pada umumnya. Perutnya menggantung rendah, berguncang setiap kali ia bergerak.
Wanita penghibur di ranjangnya hanya bisa tertawa pelan yang tawanya dipaksakan demi menyenangkan tuannya sambil menatap Goulash yang merasa dirinya paling mempesona.
Namun, fantasi menjijikkan itu hancur seketika.
BOOOM!
Ledakan kedua dari bendungan yang baru saja diledakan oleh bola api Namien, mengguncang kamar pribadi yang seharusnya kedap suara itu. Dinding bergetar, kristal yang menggantung indah di atas atapnya itu bergoyang hebat, dan gelas-gelas anggur beradu.
Wanita itu menjerit, wajahnya pucat pasi. \"Itu bukan guntur biasa, Yang Mulia! Langit rasanya mau runtuh!\"
Goulash yang kesal karena momennya rusak, tertawa meremehkan sambil menepuk perutnya yang gemuk.
\"Hahahaha! Dasar penakut,\" cemooh Goulash.
\"Sudah kubilang, itu hanya guntur yang sedikit keras. Selama kau berada di dekatku, Sang Raja Idaman, tidak akan terjadi apa-apa. Kau aman bersamaku.\"
Wanita itu menggelengkan kepalanya. Instingnya berteriak ada yang tidak beres. Dentuman itu terasa terlalu dekat, terlalu nyata, dan getarannya berasal dari tanah, bukan langit.
\"Maafkan saya, Yang Mulia...\" kata wanita itu gemetar, turun dari ranjang dan meraih pakaiannya. \"Saya... saya pamit sebentar. Saya benar-benar takut. Saya perlu menenangkan diri di luar.\"
\"Tunggu! Hei! Kau mau ke mana?!\" seru Goulash kecewa.
Namun wanita itu tidak mendengarkan. Ia berlari keluar dari kamar itu dengan ketakutan, meninggalkan Goulash sendirian dalam kekecewaan yang mendalam.
\"Dasar wanita bodoh!\" gerutu Goulash marah. \"Berani-beraninya dia meninggalkan raja di saat penting begini hanya karena cuaca buruk!\"
Dengan langkah berat dan napas mendengus, Goulash berjalan tertatih menuju jendela besar kamarnya. Ia berniat melihat seburuk apa badai di luar sana hingga membuat wanitanya lari. Ia menyibakkan tirai beludru tebal itu dengan kasar.
Mata Goulash membelalak lebar hingga membuat mulutnya menganga, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya itu.
Bukan hujan badai yang ia lihat, melainkan dinding air raksasa. Banjir bandang itu telah menjelma menjadi tsunami buatan yang menerjang masuk ke dalam kompleks istananya. Air keruh setinggi benteng melompati tembok pertahanan, menghancurkan taman, dan kini mengalir deras menghantam bangunan utama istana.
\"A-apa...?\"
Kepanikan melanda seketika. Goulash berbalik badan, menyambar tongkatnya, dan mencoba berlari keluar dari kamarnya secepat kaki gemuknya bisa membawanya.
Ia membuka pintu kamar dan melangkah ke koridor utama.
Pemandangan di sana membuatnya membeku. Air sudah masuk. Arus deras menyapu lorong-lorong istana yang megah. Dan di sana, di tengah arus yang ganas, ia melihat wanita penghiburnya tadi.
Wanita itu sedang berjuang, mencoba berenang melawan arus yang terlalu kuat. Ia menjerit minta tolong, tangannya menggapai-gapai ke arah Goulash.
\"Tolong—!\"
BRAKKK!
Arus air menghempaskan tubuh wanita itu dengan kecepatan tinggi ke sebuah pilar batu kokoh. Suara tulang patah terdengar mengerikan. Kepala wanita itu menghantam batu dengan keras, darah segar langsung mengucur deras dari kepalanya yang bocor, mewarnai air keruh itu menjadi merah sejenak sebelum tubuhnya terseret arus, mati seketika.
Goulash berteriak ngeri. Tanpa mempedulikan mayat wanita yang baru saja bersamanya itu, insting pengecutnya mengambil alih. Ia berbalik dan mencoba menaiki tangga marmer menuju menara yang lebih tinggi.
Namun, air naik dengan kecepatan yang tak masuk akal. Dalam hitungan detik, air sudah mencapai anak tangga tempat Goulash berpijak. Kakinya yang telanjang terendam air dingin.
Lantai marmer yang basah menjadi licin seperti es.
Karena panik dan terburu-buru, kaki Goulash tergelincir.
\"Waaaa!\"
Tubuh raksasanya oleng. Ia jatuh menghantam anak tangga dengan keras.
Krak!
Pergelangan kakinya terpelintir parah. Rasa sakit menyengat menjalar ke seluruh tubuhnya. Goulash mengerang, mencoba bangkit berdiri. Ia bertumpu pada tongkatnya, mencoba mengangkat bobot tubuhnya yang beratus-ratus kilogram itu.
Tapi kakinya yang pincang tidak mampu menahan beban lemaknya. Ia jatuh lagi.
\"Tidak... tidak... bangun! Bangun, Goulash!\" racau Goulash pada dirinya sendiri.
Ia mencoba merangkak, namun sia-sia. Air terus naik, mengepungnya. Tubuhnya yang besar dan berat kini menjadi penjara baginya. Perlahan tapi pasti, air menenggelamkan anak tangga itu, merendam tubuh Goulash. Lemaknya membuatnya sedikit mengapung, namun ia tidak bisa berenang, hanya terombang-ambing tak berdaya seperti paus yang terdampar, menunggu napas terakhirnya habis ditelan air bah.
Di luar sana, Istana Jargmund yang megah kini telah dipenuhi air. Distrik bangsawan, rumah-rumah orang kaya yang selama ini menindas rakyat miskin, dan seluruh kemewahan semu itu, kini terendam sepenuhnya di bawah permukaan tsunami buatan dari rencana gila Namien.
Kota itu telah dibersihkan oleh air yang menjelma tsunami itu sebagai pembaptisan atas dosanya.
Other Stories
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...