Pesan Dari Hati

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

2. First Meet Jo

Awal kuliah yang menyenangkan, papa mengizinkan Riri untuk menjadi anak kost.
Perguruan tinggi swasta bergengsi Jurusan Tekhnik Industri. Riri merasa pertama kali menjadi orang dewasa setelah memasuki sweet seventeen.
Papa yang biasanya terlalu melindungi melebihi mama mengizinkan Riri cari kostan deket kampus karena mengingat jarak yang lumayan dan waktu yang tidak bisa dipastikan mengingat kondisi jalan tol Jagorawi satu-satunya akses menuju Jakarta.
Papa juga tidak terlalu over protective seperti yang biasa dilakukan saat harus pulang malam saat mengikuti acara ekstra kulikuler pencak silat di sekolahnya. Papa setuju saat SMU Riri memilih ekstra kulikulernya ilmu bela diri yang merupakan kebudayaan Indonesia. Kata papa bagus untuk jaga diri, menjadi wanita pun harus bisa berkelahi bila itu memang diperlukan. Tetapi tetap saja papa menyempatkan untuk mengantar dan menunggui selama Riri ada ujian kenaikan tingkat pencak silat.
Saat SMU tidak ada satu pun teman pria yang berani mendekatinya, entah kenapa Riri malah bangga dengan statusnya yang akhirnya sampai lulus SMU tidak ada first love dan 100% high quality jomblo.
Andin sobatnya pernah menyeletuk,\" Semua takut dengan jabatan kamu sebagai Ketua Kegiatan Pencak Silat Merpati Putih ditambah Riri memiliki bodyguard yang galak!\"
Siapa lagi pengawal Riri yang ditakuti beberapa teman cowok yang naksir Riri kalau bukan papa. Cowok-cowok jadi segan mendekati Riri apalagi Riri juga jago pencak silat. Semakin sulit Riri mendapat teman dekat. Tapi tidak masalah juga buat Riri karena memang belum ada cowok yang dirasa cocok dengan dirinya.
\"What?!? bodyguard yang galak hehehehe papa itu kelihatannya aja galak tapi hatinya Rinto lageee,\" Riri menimpali celetukan Andin.
\"Hehehe makanya kamu nggak akan punya cowok, semuanya grrrrrrh takut! Auum! Semua takut karena kamu selalu dikawal papa kamu! Mana ada cowok berani mendekati kamu Ri.\" Andin menirukan suara anjing herder dan selanjutnya suara tawa Riri yang renyah meledak-ledak di kamar yang terletak di lantai dua rumahnya.
***
Kampus Lima Sila
Dan di sinilah Riri dengan serangkain kegiatan Ospek. Sesuatu baru yang seru. Bertemu teman-teman baru yang tidak tahu status dia yang jomblo, atlit tangguh pencak silat, penyuka olah raga renang, pencinta kura-kura, pemuja papa, putri salah satu konglomerat pembisnis ekspor hand made of Indonesia yang kerap dipanggil jadi pembicara dan yang terpenting nobody know kalau dia punya bodyguard yang super galak.
Riri tersenyum simpul sendiri, hatinya berteriak riang, \"Inilah aku yang baru! Riri yang mandiri dan dewasa. Papa sudah mengizinkan bawa mobil sendiri, ngekost, hang out ahhhh pokoknya thanks God for a freedom!\"
Bagaimanapun walau senang selalu dikawal papa tapi sebuah kebebasan juga sesuatu yang diinginkan, apalagi selepas SMU. Riri tidak ingin ditakuti lagi gara-gara memiliki bodyguard yang sangat berwibawa. Riri juga takut kalau terus dikawal kapan akan jadi pribadi yang mandiri dan satu lagi! Kapan dirinya akan punya pacar.
Saat tengah berpesta dengan hatinya, tanpa Riri sadari seorang cowok dari tadi menatapnya lalu melempar gulungan kertas yang telah ditulis dan diremas, lalu ‘sluuuur’di lempar dan mengenai wajah Riri.
Sontak Riri melotot melihat cowok yang ketahuan melempar kertas tengah tersenyum jahil. Kalau nggak berwajah ganteng dan memiliki postur jangkung proporsional pasti sudah Riri tampar kali! Mengingat jiwa untuk berkelahi dari pencak silat masih berkobar.
Hanya saja Riri sudah berjanji menutup segala predikat dan status dia untuk tidak diketahui orang-orang baru. Tidak mau lagi dia dianggap Riri tomboy yang sangar dengan ilmu bela dirinya dan pengawalnya. Semua harus ditutup karena Riri ingin cewek normal lainnya yang punya kekasih.
Riri mengikuti saja kemauan cowok cakep yang mengkode ntuk membaca kertas yang dilempar dan senyum bersahabat.
Tertera tulisan dalam gulungan kertas leceknya, \"Kamu jangan senyum-senyum sendiri, lagi Ospek Non! Kamu nanti diincer kena hukuman!\"
Riri otomatis tersadar dan benar! Darahnya seakan berhenti tiba-tiba seorang kakak peng-Ospek sudah berada di sampingnya.
\"Eh kamu saya perhatikan dari tadi tidak menyimak penjelasan ketua panitia!\"
Seumur-umur baru kali ini Riri merasa ciut nyalinya dengan bentakan dari orang asing yang tercatat salah satu panitia Ospek. Padahal di persilatan terbiasa juga dengan suara keras oleh kakak pembina yang melatihnya. Tapi tetap saja auranya berbeda. Dia mahasiswa baru, sekolah baru dan bertemu dengan orang-orang baru. Semua serba baru dan masih canggung untuk bisa bersosialisasi belum lagi cerita-cerita kakak Ospek yang suka seram dari teman dan majalah. Ada kisah-kisah penganiayaan kakak ospek pada mahasiswa baru membuat Riri merasa kaku di tempat.
Belum Riri menjawab, cowok ganteng yang barusan saja mengingatkan dirinya yang bengong-bengong juga ketahuan melempar kertas ditegur juga.
\"Kamu juga main lempar kertas pada cewek ini! Kalian berdua setelah pembinaan tata tertib lingkungan menghadap saya untuk dihukum.\"
Riri melotot bergantian pada kakak pembina juga pada cowok di seberang barisan yang menurut Riri malah menyebabkan dia kena hukuman. Riri melotot pada cowok tersebut dan dibalas melotot juga. Saling memelototkan mata dan Riri kesal. Tapi kesal yang bagaimana karena wajah cowok itu juga ganteng.
Lagipula memang dari tadi dia banyak melamun gara-gara untuk menjadi Riri yang baru. Riri yang mandiri dan hatinya terlalu senang hari pertama menjadi mahasiswa baru yang bebas dari pengawalan sang papa.
***
Upacara pembinaan tata tertib selesai, Riri dan cowok yang main lempar-lempar kertas jalan bersamaan menuju lokasi jajaran kakak pembina yang sudah bersiap untuk memberikan hukuman.
\"Lo sih main lempar-lempar kertas ke gue seenaknya! Gue jadi kena hukuman nih!\" rutuk Riri kesal.
\"Eeh lo juga ketawa-ketawa dan senyum-senyum sendiri, makanya maksud gue ngelempar kertas tadi gue ingetin biar elo gak kena hukuman. Maksud gue baik kok sebenarnya! Naas aja kita!\" Balas cowok cakep berlesung pipi tanpa kalah ngotot.
\"Siapa yang tertawa-tertawa apalagi tersenyum-tersenyum sendiri yeee!\" Riri membela diri.
\"Yee elo tuh kaya orang gila senyum-senyum sendiri nggak jelas! Kalau lo nggak gue lemparin kertas, lo tetap didatangi tuh kakak pembina yang sepertinya udah ngincer lo dari awal kamu mulai berbaris. Mahasiswa yang lain menyimak eh kamu cengar-cengir sendiri!\" Bela cowok tersebut tidak mau kalah ngotot.
\"Hiii lebay! Sebal!\" Riri benar-benar mendadak sebal di hari pertama Ospek sudah dapat hukuman. Dan Riri yakin banget gara-gara cowok brengsek tapi ganteng.
\"Sudahlah lo seharusnya bersyukur karena lo gak dihukum sendiri tapi sama gue... jadi lo gak perlu bete karena ada teman!” Kata cowok ganteng itu kepedean.
“Oh ya kenalan dong nama gue Jo dan nama kamu siapa?\" tanya cowok yang bernama Jo sembari mengulurkan tangan perkenalan.
Dengan lemas Riri menyambut uluran tangan cowok yang menyebalkan saat bersalaman. Tapi tak urung Riri juga senang karena Jo cowok yang ganteng juga.
\"Riri...\"
\"Riri, hmmm nama yang manis semanis orangnya!\" Jo tersenyum menggoda.
Ucapan Jo barusan bagai menyentuh hatinya, dalam umurnya jelang sembilan belas tahun baru ada pertama cowok yang mengatakan dirinya manis dengan spontan. Di waktu lalu mana ada cowok yang tertarik mengkomentari dirinya sepertinya semua sudah segan duluan mengingat selalu ada papa di sampingnya.
Riri merasa wajahnya memanas dan sekejap terdiam sesaat tidak bisa berkata-kata. Ucapan Jo barusan spontan cukup membuat Riri berhenti untuk tidak sesaat berdebat dengan Jo.
Riri jadi memperhatikan cowok yang berdiri tidak jauh darinya. Cowok yang menarik dengan rambut-rambut sangat tipis di atas bibirnya, kulitnya agak hitam dan wajahnya ganteng.
Sejenak Riri terperangah dengan adanya aliran aneh seumur-umur belum pernah mendominasi hatinya. Rasa kesal hati tadi berubah menjadi rasa berdebar-debar tidak jelas. Tapi tentu saja Riri tidak akan menunjukan rasa suka yang hadir begitu saja.
\"Tuh Kakak pembinanya!\" Jo mengarahkan gestur wajahnya menunjuk kakak pembina yang sepertinya sudah bernafsu banget kasih hukuman.
Riri jadi bergidik sendiri bila ingat cerita-cerita Ospek yang menakutkan, walau sudah jelas-jelas dilarang adanya kekerasan antara pembina dan mahasiswa baru tapi kadang masih saja ada oknum yang sok berkuasa dan sok senior menjadikan Ospek sebagai ajang pelampiasan atas ketidakpuasan mereka akan diri sendiri atau keadaan kampus.
Kali ini Riri pasrah dengan hukuman apa yang harus dilewati.
\"Hai buat kalian berdua, sebagai hukuman karena tidak menyimak penjelasan ketua panitia Ospek adalah kalian berdua harus lari keliling lapangan sepuluh kali setelah itu baru boleh balik ke barisan dan jangan buat kesalahan yang sama besok-besok! Hargai kalau ada orang sedang ngomong di depan! Apalagi itu kakak ketua Ospek! Tidak hanya kakak ketua saja juga sebenarnya! Pokoknya setiap ada orang ngomong di depan dengarkan dan hargai! Jangan malah asik bicara sendiri berdua!\" Suara kakak panitiaOspek keras sembari memandang tajam terhadap Riri dan Jo bergantian.
Riri bisa merasa lega ternyata hukuman Ospek-nya memang tidak macam-macam. Hanya lari keliling bukan hal yang susah buat Riri. Jangankan sepuluh kali kalau misalnya dua puluh kali juga bukan hukuman yang berat.
Apa yang dikatakan kakak pembina memang benar, dirinya bersalah tidak menyimak selama upacara pembinaan tata tertib tadi. Saking senang menikmati sebagai Riri baru yang bebas membuat dirinya tersenyum-senyum sendiri. Tetap sih kalau si Jo nggak lempar-lempar kertas mungkin saja tidak ketara kalau dirinya sedang tidak menyimak ketua Ospek yang tengah kasih pengarahan.
\"Ayooo lari!\" Jo menjawil pundak Riri yang masih saja ngelamun.
\"Hii bengong mulu sih kerjaannya!\" kembali Jo mengingatkan dirinya yang memang tidak konsentrasi.
Jo sudah lari di depan beberapa langkah. Buat Riri berlari sepuluh keliling bukan masalah besar. Fisiknya sudah terlatih dengan kegiatan pencak silat yang ditekuni selama ini.
Riri berlari dengan mengatur napas, dia lihat Jo sudah kecapaian dan loyo baru beberapa putaran. Tapi Riri sadar tidak mau kelihatan sok kuat, sambil masih lari-lari kecil menjejerin Jo yang ketinggalan dua putaran.
\"Wuiih salut ama stamina lo, aduh gua jarang olah raga rasanya mau rontok nih badan. Gila baru enam puataran udah ngos-ngosan gini!\" Jo memegang perutnya.
\"Makanya olah raga dong! Cowok kok letoy!\" Riri mengejek
Riri puas untuk ngebales cletukan Jo yang dianggapnya mengejek dia sedari tadi. Ngatain dirinya bengong melulu dan senyum-senyum sendiri seperti orang gila membuat Riri kesal.
\"Sialan lo!\" umpat Jo sambil tangannya sudah siap-siap menimpuk dengan saputangan yang berada dalam genggaman.
Riri segera mempercepat larinya lagi dari pada kena timpuk sapu tangan si Jo.
Riri gadis cepak berambut ala Demi Moore tempo dulu, alis tebal, hidung mancung dengan tubuh jangkung dan ramping semakin ringan membawa dirinya berlari untuk menghabiskan putaran sembilan dan sepuluh.
Di bawah pohon kamboja Riri memperhatikan Jo yang susah payah menyelesaikan hukuman larinya, selisih dua puluh menitan Jo langsung ambruk duduk di sebelahnya.
\"Gilaaaaa cape banget!\"
Tanpa basa-basi Jo langsung menenggak air mineral yang Riri sodorkan.\"
Kesempatan bagi Riri untuk menatap lekat cowok tampan yang tengah terengah-engah kecapaian.
Yang diamati Riri benar-benar tengah ngos-ngosan, wajahnya yang tadinya cerah apalagi kerap tersenyum jahil sekarang pucat dan tampak kelelahan. Dia teguk air mineral hingga tandas. Keringatnya mengucur deras, baju seragamnya basah dan mulutnya ngedumal, “Ampuuun gila! Capai banget aghhh ... demi nemenin lo nih! Gua hari pertama ikutan kena hukuman! Aduh sial!”
“Lagian kamu juga sih main lempar-lempar surat gak penting! Aku juga jadi penasaran membuka! Nah ketahuan deh ama kakak pembina!” Riri bersikeras tetap akibat mereka dihukum berdua adalah kesalahan Jo yang usil, padahal dalam hati terdalam Riri mengakui maksud Jo baik mengingatkan dirinya yang tengah melamun dan senyum-senyum sendiri karena menikmati sebuah kebebasan dan menjadi manusia baru tanpa pengawalan sang papa. Tapi tetap saja gengsi untuk mengakuinya maka yang terbaik adalah ngotot untuk saling menyalahkan.
Diam-diam hatinya mengagumi ketampanan Jo, setidaknya dia harus di push olah raga biar macho. “Tampan dan macho tubuh sehat wah sempurna!” Itu yang terlintas dalam benak Riri.

Other Stories
Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Download Titik & Koma