4. Just Friendship-kah?
Perkuliahan per semester nyatanya berjalan dengan pasti. Tidak terasa semester enam pun akan habis terlewati.
Mungkin cewek yang paling kuat menyimpan dan menahan perasaan adalah Riri.
Tiap semester selalu ada cerita bersama Jo, tapi tiap semester itu cerita bukanlah sebuah kisah yang spesial karena harapan Riri agar Jo menyadari selama ini hatinya berharap lebih sekedar sahabat sepertinya tidak kunjung datang.
Riri hanya bisa menggoreskan dalam buku hariannya akan waktu dan tempat yang punya cerita. Dan semakin sadar seharusnya itu istimewa tapi hanya perasaan dalam hati Riri sisanya bukan apa-apa buat Jo. Jo sepertinya menganggap kebersamaan ini seperti juga dia bersama dengan teman-teman lainnya.
Sekali lagi Riri harus maklum Jo banyak memiliki teman dan sahabat dari berbagai kalanngan. Jo dekat dengan anak-anak band, anak-anak Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam bahkan anak-anak aktivis Senat. Jo sosok yang easy going.
Sudah hampir tiga tahun dekat dengan Jo, tapi sepertinya hubungan persahabatan dengan Jo ingin segera Riri akhiri. Memang menyenangkan bersahabat dengan Jo, hari-hari terlewatkan dengan ringan. Selalu ada cerita dalam setiap kegiatan bersama.
Riri merasa nyaman dengan Jo dan tidak mau merusak rasa nyaman ini bila dia harus berterus terang akan perasaannya yang berubah.
Buat Riri Jo bukan sekedar sahabat tapi Riri berharap banyak dengan Jo maka dia akan bebas dari predikat high quality jomblo.
Tapi sayangnya Jo tidak sedikitpun mengungkapkan rasa yang selalu Riri harapkan. Andai tiba-tiba saja Jo menyatakan cinta. Itu benar-benar hanya angan semata saat ini. Dan Riri tidak ada keberanian untuk berterus terang sedikit pun, biarlah waktu yang berjalan.
“Jo gimana persiapan tes semester akhir bulan depan?” Riri bertanya pada Jo yang tengah asik menyeruput es kelapa mudanya.
“Udah siap-siap kok Ri, kamu sendiri?” Jo balik bertanya sambil menatap lekat.
Sesungguhnya hampir enam semester persahabatan mereka sudah banyak hal yang terlewati dengan manis atas nama sebuah persahabatan. Semua teman-teman mengira mereka berpacaran dan ini yang membuat Riri agak tersiksa.
Selama ini dirinya dan Jo yang kerap berboncengan dan selalu bersama kemanapun juga pada saat acara yang perlu berpasangan. Mereka selalu datang bersama tapi kenyataannya di antara mereka berdua pun tidak pernah tercetus sepakat jadian atau menyinggung perasaan ke arah pacaran.
“Ri kok kamu memandang aku lama gitu sih?” Jo jadi grogi dibalas tajam dengan tatapan mata Riri yang menusuk.
“Memang nggak boleh ya? kita hampir tiga tahun bersahabat lho Jo? Selama ini kita selalu menghabiskan waktu bersama. Kamu ingat telah berapa kali kita nonton band bareng? Berapa kali kita makan bersama? Berapa kali kita datang bersama ke resepsi pernikahan? Acara ulang tahun? Melewati tahun baru? Ulang tahun kita masing-masing juga selalu bersama? Bahkan berapa kali kamu telah antar aku ke dokter?“ Riri mencoba memancing akan perasaan Jo pada dirinya.
Jawaban Jo selalu tersenyum dan simple,” Riri bukankah hubungan kita seperti ini malah sangat nyaman, kita tidak perlu terpengaruh pendapat orang yang berspekulasi bahkan sudah memutuskan pendapat mereka sendiri kalau kita sepasang kekasih tanpa bertanya kalau kita ini benar-benar pacaran atau hanya bersahabat. Tapi sudahlah biarkan saja mereka berpikir kita pacaran kenyataan memang kita dekat. Aku merasa nyaman denganmu dan kamu juga merasa nyaman denganku tanpa harus berpacaran bukan? Bahkan aku bisa terbuka apapun denganmu tanpa harus menutup-nutupi kekurangan yang aku miliki.”
Dan Riri hanya bisa mencoba tersenyum manis di wajahnya, tapi dalam hatinya merasa kecewa juga bingung. Bagaimanapun sebuah hubungan pasti butuh kepastian, tapi sudahlah selama ini bukankah dirinya juga merasa terlalu merdeka? Ada benarnya juga ucapan Jo barusan, sepertinya kalau hubungan mereka berubah menjadi hubungan sepasang kekasih yang ada hanya keribetan, kecemburuan atau apalah. Sementara Riri juga harus menghormati orientasi mereka saat ini adalah menyelesaikan kuliah dengan cepat, tepat dan nilai memuaskan.
Riri terbawa arus untuk menyetujui hubungan Jo dan dirinya adalah hubungan persahabatan saja dan mengabaikan protes hatinya yang membutuhkan sebuah hubungan yang lebih pasti tidak hanya persahabatan. Karena dalam hati Riri tidak hanya sayang tapi ada cinta untuk Jo.
“Ah Jo kamu sangat easy going, tapi hatiku sudah mulai lelah mengikuti sikapkamu yang easy going. Bisakah kita lebih dari friendship?” Selalu Riri melaras keinginan hatinya hanya dalam hati. Tidak ada sedikit keberanian untuk mengungkapkan pada Jo.
***
“Ri kamu yakin nggak pacaran ya dengan Jo ?” tanya Sucita tiba-tiba.
Sucita teman satu asrama yang paling dekat karena kamar mereka bersebelahan.
Sejak tragedi percobaan bunuh diri dua bulan lalu dan Riri berusaha menguatkan hatinya, Sucita pun tampaknya juga ikutan memperhatikan hubungan sahabatnya dengan Jo yang dianggapnya sudah seharusnya menjadi kekasih.
Sucita merasa kasihan dengan Riri yang selalu mengelak hubungan dengan Jo hanya pertemanan karena menurut pendapat Sucita kalau sebenarnya Riri sangat mencintai Jo. Tapi Riri selalu menegaskan hubungan mereka hanya persahabatan saja.
“Aduh Suci...aku dan Jo hanya bersahabat, yah kita selalu berbagi banyak hal tapi swear kita hanya sahabatan doang.” Riri mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah.
“Ri memang kamu tidak mencintai Jo ya? Atau memang kalian telah sepakat hanya berteman saja?” Sucita coba mencari tahu perasaan Riri yang sebenarnya.
Walau mereka dekat tapi Riri selalu menutupi perasaan hati yang sebenarnya tentang Jo hanya untuk dirinya.
Riri terlalu malu untuk berkata jujur, apalagi dia cewek yang masih memegang adat budaya Timur kalau tidak sopan kalau dia yang harus menembak perasaan yang sebenarnya pada cowok.
Riri paham kalau Jo sangat bisa terbuka dengan dirinya karena sifatnya yang tomboy dan membiarkan Jo merasa nyaman dengannya. Riri tidak berani mengusik kenyamanan Jo menjadi apa yang dipesan hatinya.
Hatinya yang mulai tidak menerima kalau dirinya yang telah terlanjur jatuh cinta sejak perkenalan awal dan tidak berubah sedikit pun sampai sekarang bahkan semakin bertambah dan mulai butuh kepastian.
Hatinya yang telah terlanjur menyerahkan seratus persen rasa cintanya, harapan dan tumpuan pada akhir kisah perjalanan yang telah terjalin menjelang tiga tahun.
Sejak ada Jo, jujur hati untuk rasa cinta dalam diri Riri sudah tidak ada lagi. Semuanya semata untuk Jo, perasaan dan waktunya tertutup untuk makhluk cowok lain. Tak ada cowok yang berani mencobanya karena dirinya di lingkungan sekitar dianggap berpacaran dengan Jo.
Walau dalam mulut selalu Riri bantah, ”Aku dan Jo hanya berteman kok!”
Tapi tampaknya tidak ada yang percaya hingga Riri sendiripun tidak yakin akan sinkronisasi kata yang terucap dari mulut dan hatinya yang galau resah tidak jelas kapan berakhir.
“Jo... apakah kamu tidak merasakan apa yang kurasa? Benarkah hubungan ini hanyalah persahabatan biasa saja? Jo sudah hampir tiga tahun kita dekat. Tidak cukupkah kedekatan ini membawa kita dalam hubungan yang lebih pasti dan mengikat. Kalau aku memang milikmu dan kamu milikku. Aku berhak cemburu, melarang bila kamu terlalu dekat dengan lawan jenis dan sebaliknya kamu menjaga dan melindungi aku karena I am is yours.” Jerit hati Riri penuh harap akan kepastian.
Other Stories
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...