6. Tumbangnya Sang Hero
Sebulan yang terlewati sejak pertemuan bertiga saat Riri memberikan kado ulang tahun Jo yang terlambat tanpa disengaja dan melihat mata kepala sendiri kenyataan kalau Jo memang sudah menjadi pacar Sara.
Sara tidak mungkin bersikap manja terhadap Jo kalau di antara mereka tidak ada apa-apa. Jelas Sara sengaja menunjukan kalau mereka sudah sangat dekat dan akrab. Sepertinya Jo pacaran dengan sara memang bukan lagi gosip tapi kenyataan. Sangat menyakitkan Jo tidak pernah terbuka sedikitpun akan hubungan dirinya dengan Sara selama ini.
Semenjak itu Riri sengaja menghindar untuk berpapasan atau menjawab SMS Jo. Karena berteman biasa pun itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
Andai Jo tahu sekarang saatnya dia menjauhi dirinya sejauh mungkin, untuk berlari dari sosok yang telah mengikat hatinya tiga tahun.
Selama tiga tahun bersahabat dengan Jo sudah menutup hatinya untuk cowok manapun yang mungkin mencoba mendekatinya. Lagi pula semua cowok pasti mengira dirinya kalau Jo adalah pacarnya.
Riri berusaha berpikir realistis, dirinya tidak harus terus menerus terpuruk dan tidak bisa menerima hati yang ada di luar Jo yang Riri sendiri tidak yakin adakah itu? Mengingat luka hatinya dan rasa belum sanggup melupakan sosok cinta pertamanya.
Waktu yang berputar kadang dunia terasa begitu sempit saat tanpa sengaja kita harus bersentuh dengan sesuatu yang rasanya tidak mungkin nyatanya terjadi.
***
\"Ri ayolah daripada kamu bengong nggak jelas malam Minggu sekarang, sesekali ayo ngikut kita saja. Lagian Melina kamu juga kenal, nggak ada salahnya kamu datang di ulang tahunnya.\" Sucita selalu menghibur hatinya sejak Riri bercerita dia dan Jo semakin menjauh.
Sucita menunjukan rasa empati seperti juga yang dilakukan Riri menghiburnya agar dirinya tetap semangat menjalani hidupnya pasca perceraian papi maminya.
\"Melina...Melina...sebentar pasti dia juga mengundang Jo soalnya mereka lumayan kenal di les English First, makanya aku menolak ajakan kamu.\" Riri menerangkan alasan penolakan datang ke pesta ulang tahun Melina yang juga teman Jo.
\"Ya udah sih biarin saja, Jo dengan dunianya dan kamu Ri! Kamu juga berhak bahagia seperti juga Jo yang sekarang sedang senang-senangnya dengan si boneka Barbie-nya.\"
Riri geli atas julukan untuk Sara adalah boneka Barbie yang memang sangat cantik dan perfect, entahlah apakah sekarang Jo sudah tahan menunggui Sara yang tidak bisa meninggalkan barang make up-nya sedetik.
Riri jadi ingat kalau Jo sebenernya pernah bilang tidak suka cewek yang selalu penuh make up dan sekarang dia kena omongannya sendiri. Dan Jo tidak suka juga cewek yang kelewat tomboy tanpa berdandan sama sekali seperti Riri.
Tapi sudahlah memang cinta itu buta. Jo dibutakan dengan cinta yang tergila-gila menurut Riri. Karena Sara sepertinya sosok yang ambisius, sempurna dan menuntut perhatian besar. Jo sepertinya tidak akan ada waktu untuk dirinya bahkan mungkin diri Jo sendiri karena harus terus menerus memperhatikan Sara.
Buktinya Sara selalu meminta Jo kemanapun dikawal, benar-benar Jo berubah! Bukan Jo yang tiga tahun Riri kenal. Jo sudah memiliki dunia hanya bersama Sara. Tak ada lagi ngumpul bersama teman-teman lain di sela menunggu jam kuliah.
Pilihan menjauh adalah paling tepat daripada hati sakit melihat Jo setiap saat dengan Sara dan merasakan Jo yang tidak seperduli seperti waktu lalu. Kenyataan selalu ada perubahan...siap dan tidak siap Riri harus menjalaninya. Sekarang hari terlewati tanpa Jo lagi.
Rasa cinta terhadap Jo harus pupus di hatinya, walau sangat sulit. Riri berharap waktu jugalah yang akan menguburnya. Semua perasaan, kenangan dan harapan terkubur dalam dalam sudut hatinya.
Riri menimbang perkataan Sucita, kalau dirinya pun berhak bahagia, berhak mendapatakan cinta yang didamba seperti cinta papanya terhadap keluarganya.
Teringat papa yang menyerahkan semua kehidupannya untuk keluarga tanpa cacat. Papa yang tetap perhatian dikesibukannya menjalankan pekerjaan. Riri berjanji akan mencari cowok yang seperti papanya.
\"Udah ah jangan kebanyakan mikir aku ada banyak gaun pesta yang bisa kamu pakai, sesekali kamu dandan! Pasti Jo akan merasa menyesal memutuskan kamu dan memilih si Barbie, Riri kamu tuh sebenarnya sangat cantik hanya kamu sembunyikan dengan penampilan kamu yang tomboy.” Sucita meyakinkan Riri yang masih saja ragu.
\"Hmmm sepertinya aku memang tidak bisa menolak ajakan sahabat terbaikku untuk kali ini,\" Riri tersenyum renyah.
\"Kamu Ri sekarang saja aku disebut sahabat terbaik setelah Jo kamu pensiunkan. Daasaarrrr!\" Sucita menjewer Riri yang berteriak minta ampun.
Dalam sekejap dua gadis cantik sudah asik memilih gaun koleksi Sucita dan menelepon sebuah salon dekat asrama The Lady.
Riri diam untuk dipoles wajahnya, diatur rambut cepaknya oleh kapster dan hasilnya sungguh luar biasa.
Riri sendiri hampir tidak percaya wajah dengan make up natural terpantul di kaca besar adalah dirinya.
\"Ampuun Ri kamu tuh benarkan cantik banget, wajah kamu tuh kaya almarhum Lady Diana Ratu Inggris.\" Sucita mengagumi kecantikan sahabatnya yang unik.
\"Jangan berlebih ah berarti aku sudah tua dan almarhum dong!\" Protes Riri.
\"Ya enggaklah kamu lihat deh masa mudanya Lady Diana beliau pipinya memerah bak buah apel seperti dirimu, rambut cepak, hidung mancung, pokoknya Ri sepertinya bakalan banyak yang nggak kenal deh dengan kamu.\" Sucita memandang puas hasil dandanan salon langganannya.
***
Cafe Rainbow Star
Riri memilih gaun pendek selutut sack dreess berwarna salem. Sepatu high heel hitam bertali membuat tubuhnya semakin menjulang, kalung mutiara melingkar manis di lehernya.
Sucita mengemudikan Jazz sport birunya dengan tenang dan sampai di Cafe Rainbow Star yang sudah lumayan ramai pengunjung.
Agak canggung juga Riri melangkah kali ini dia benar-benar seperti wanita anggun.
Ternyata benar ucapan Sucita, hampir semua teman-teman merasa pangling dan mengagumi kecantikannya.
Riri salah tingkah tapi sudahlah show must go on.
Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut pada bahunya yang tanpa lengan.
\"Ri akhirnya aku bisa ngeliat kamu seperti wanita. Kamu sangat mempesona malam ini.\"
Sebuah suara yang dihindari tiga bulan terakhir ini meremangkan bulu kuduknya dan mengalirkan sensasi panas dingin. Nyatanya sanjungan itu membuat wajahnya merona merah.
\"Jo jangan buat aku GR deh, lagian sudah tidak ada gunanya juga aku berdandan.\" Riri berkata dingin.
\"Siapa bilang Ri ?\" Tiba-tiba Jo sudah menggenggam tangannya.
\"Apaan sih lepasin!\" Riri menatap marah tertahan.
“Ri, please beri aku kesempatan.” Tiba-tiba Jo memohon.
Riri sekilas memandang Jo, hatinya berdegup tapi seketika ada yang membuat perhatiannya teralihkan wajah Riri kaget bukan karena perkataan Jo barusan tetapi karena matanya menangkap sosok orang yang tentu saja tidak asing bagi dirinya tengah menggandeng sosok wanita yang tampak anggun.
\"Papa!\" Riri berteriak.
Riri langsung mengekor sosok papa-nya dan tanpa sepengetahuan Riri ternyata Jo juga merasakan hal yang sama, dia melihat sosok wanita yang selama ini telah membesarkan dengan peran single parents tengah bergelayut manja pada lengan seorang pria yang sepertinya sempat dikenalnya.
Jo pun mengejar sosok yang amat dia cintai. Jo penasaran pria yang digandeng mamanya yang terakhir-akhir ini membuat mamanya bersikap seperti anak muda lagi. Mama lebih suka dandan dan kadang pagi mau berangkat kantor bingung dengan baju yang akan dikenakan.
Tapi Jo terpaku dan tersadar siapa pria itu karena Riri sudah memanggil pria berusia lima puluh tahunan yang menggandeng mesra mamanya dengan sebutan papa.
\"Papa! Papa!\"
Riri berteriak dan berlari hampir saja tubuhnya jatuh karena sepatu high heel yang tidak biasa dipakai tergelincir lantai kafe yang licin. Jo dengan sigap menangkap tubuh ramping yang hampir saja jatuh menyentuh lantai dan sejenak membiarkan Riri dalam pelukannya.
Tapi pelukan itu sepertinya sudah tidak berarti apa-apa sepertinya, yang ada dalam otak Riri adalah menangkap basah orang yang paling dikagumi ternyata tengah bermain api di balik layar keluarganya yang selama ini tampak harmonis.
Dalam hitungan detik pengusaha ekspor Adityo Prakarsa Surya menengok cepat dan matanya bertatapan tajam dengan putri kesayangannya karena panggilan Riri dan kegaduhan yang timbul.
“Riri ... ” Pekik Adityo tertahan. Langsung menghentakan tangan yang tengah mengelayut manja.
Jo juga terperangah ,\"Om Adityo ! Mama!!”
Wanita yang tengah bergelayut manja di bahu kanan papa Adityo juga terbelalak melihat Jo masih memeluk Riri yang tadi limbung.
Dalam sekian detik waktu seakan berhenti dan bumi pun berhenti berputar, masing-masing kaget dengan penemuan yang tidak sengaja malam ini.
Riri yang sudah berdiri tegak memutuskan membalikan tubuhnya berlari dan menahan panas matanya dan hatinya yang berdetak lebih cepat dari semestinya.
Jo cepat mengejar Riri dan mengabaikan mamanya yang melam-baikan tangannya serta memanggil-manggil namanya.
Papa Adityo pun melakukan hal yang sama memanggil putrinya.
Tampak Jo kesal dengan mamanya, Jo juga tidak menyangka kalau pria yang diharapkan mengganti papanya yang telah meninggal saat masih di kelas Enam Sekolah Dasar adalah Om Adityo yang dikenalnya setahun lalu.
Jujur andai saja om itu bukan siapa-siapanya Riri pasti Jo akan menerima untuk menggantikan posisi papanya.
Nyatanya dia adalah pria yang paling dekat dengan Riri dan paling dikagumi. Riri selalu membanggakan keluarganya yang harmonis karena papanya sangat setia terhadap keluarga, sekarang mamanya Jo sendiri menjadi orang ketiga yang bisa saja menghancurkan sebuah keluarga kecil yang bertahun-tahun tidak ada masalah Rumah Tangga.
Jo mengkhawatirkan Riri melakukan hal-hal di luar batas karena terpukul perasaannya. Apalagi tiga bulan terakhir ini dia benar-benar tidak bisa mendekati Riri lagi. Riri selalu menghindar sementara Sara juga tidak suka kalau dirinya masih bersahabat dengan Riri yang tetap dia anggap sebagai rival.
Ada rasa bersalah menggumpal dalam hati Jo. Rasa yang sulit diungkapkan karena baik dirinya dan mamanya benar-benar membuat Riri hancur.
“Kenapa Mah harus om Adityo yang jadi pacar mama sekarang? Kenapa Mah?” Jo marah saat sempat sesaat mamanya di hadapannya.
Mama Marina tampak bingung karena dia tidak tahu menahu sama sekali kalau cewek yang barusan lari adalah putrinya Adityo. Adityo yang memang tengah dekat beberapa bulan terakhir ini dengan dirinya dan kaget ternyata Adityo juga papa sahabat dekat Jo putra semata wayangnya.
“Maaf Jo, mana Mama tahu...kamu sendiri tidak pernah cerita tentang Riri pada Mama. Maafkan Mama Jo. Mama nggak tahu sama sekali Adityo papa sobatmu.” Mama Jo tampak menyesal.
Jo tidak bisa menangkap sosok Riri yang berlari cepat dan kini tengah melaju dengan sebuah taksi.
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...