11. First Kiss
Apa yang akan terjadi di hari keemapat ini? Riri tersenyum cerah menyambut pelariannya di hari keempat. Sungguh tidak ada rasa gundah dan takut malah sebaliknya hatinya tak sabar menunggu kedatangan Cornel teringat traveling bersama Cornel yang mengajaknya hari ini jalan ke Orchad dan Pulau Santoso.
Pagi ini Riri sarapan dengan croissant, roti bakar isi coklat, cemilan walnut dan segelas susu segar. Riri memakai kaos krem bermotif bunga anggrek pemberian Sucita saat dari Singapura bermodel panjang selutut di padu dengan laging hitam ketat di padu dengan tas cangkol kain kesayangannya menambah manis penampilannya.
Riri mencoba memoles wajahnya dengan pelembab, bedak bayi sedikit lip gloss semua bukan hanya semata membuat penampilannya lebih sedikit beda, tapi juga lebih menjaga kelembaban kulit dan bibirnya agar terjaga.
Menunggu Cornel di loby, pagi ini cuaca agak mendung dan tampak sisa hujan yang Riri sendiri tidak tahu kapan tepatnya gerimis hadir, karena semalam banyak bintang dan cerah. Ternyata hujan mengguyur.
Seperti biasa senyum Cornel mengembang dengan kaos hijau pupus bergambar Army. \"Lets’go aku mau tepati janji hari ini main ke rumah, tapi pasti kamu sudah breakfast, jadi biar pas habis traveling kita ke Orchad kamu bisa beli berbagai pernak-pernik oleh-oleh lalu kita main ke Pulau Santoso atau under water kita baru menuju rumah aku, karena ibu dan ayah ada di rumah.\"
\"Siapp Komandan Cornel aku ikut saja!\" Riri menjawab semangat.
\"Wow Ri nice t-shirt! Beautiful!” Puji Cornel tanpa menutupi rasa kagum dengan sosok yang tercium wanginya just cavalli.
\"Thank you.\" Tak urung rasa berdebar memburu hatinya, pujian Cornel barusan membuat Riri percaya diri.
Riri menerima uluran tangan Cornel yang membantunya naik mobil Jeep-nya yang memang agak tinggi.
Orchard Road adalah jalan yang panjangnya sekitar 2,2 kilometer yang dijadikan pusat ritel dan hiburan di Singapura, tempat ini telah menjadi tujuan favorit para penduduk setempat dan wisatawan manca negara untuk berbelanja beragam jenis barang. Sebagian besar pusat perbelanjaannya memiliki hampir segalanya yang di jual di bumi dan unggul dalam hal kualitas dan kuantitas.
Cornel selain masih sabar terkenang kembali mendengar keluh kesahnya, juga sabar menemani Riri yang membeli souvenir untuk oleh-oleh entah siapa yang nanti akan diberi. Dalam benak Riri yang pasti sahabat-sahabatnya Sucita, Amel, Niken, Resti, Vina dan teman sekitar kamarnya yang juga selalu mengingatnya saat berpergian memberikannya oleh-oleh.
Jam menunjukan pukul 14.00 Cornel mengajak Riri menghentikan kegiatan belanjanya. Riri setuju meluncurlah Jeep Cornel menuju ke Pulau Sentosa.
Sepanjang jalan menuju Pulau Santoso membirakan Cornel bercerita tentang Pulau Sentosa yang dahulu di sebut Pulau Belakang Mati adalah nama sebuah pulau di Singapura yang terkenal sebagai tempat berlibur. Luas wilayah Sentosa makin hari makin bertambah karena Singapura mereklamasikan wilayahnya dengan mengimpor pasir dari teritorial Kepulauan Riau, Indonesia.
Riri memperhatikan Cornel yang berhenti sejenak untuk menerima telepon tampaknya dari rumah.
“Baik Ibu, Conel sudah mau pulang kok... yah satu dua jam lagi... \"
“...............................”
\"Iya jadi kok, teman Cornel makannya banyak jangan khawatir masakan Ibu pasti habis!\"
“...............................”
Riri mencubit dibilang makannya banyak, tapi memang selera Riri makan di Singapura meningkat apalagi setelah lebih lega sebagian kekesalannya terangkat selama dua hari menghabiskan waktu dengan Cornel.
Setelah puas menikmati akuarium ikan dengan berbagai jenis ikan unik dan keindahan pulau Sentosa dan duduk sejenak sambil berfoto di pinggir sungai, Cornel mengajaknya pulang ke rumah karena ibu dan ayahnya sudah menunggu.
Sebuah rumah besar berwarna kombinasi hijau dan abu-abu dengan halaman luas dengan taman dan kolam ikan tampak tenang.
Seorang perempuan seumuran mamanya tapi sepertinya lebih tua tiga tahunan dan seorang lelaki yang seumuran papa juga lebih tua lima tahunan tersenyum ramah menyambut kedatangan Riri dan Cornel.
Riri mengamati Cornel ternyata membawa garis wajah ibunya. Cornel hanya sempat menginformasikan ibunya orang Indonesia dan ayahnya yang bekerja sebagai guide orang asli Singapura. Bagaimanakah kedua orang tua Cornel bertemu antara Indonesia dan Singapura mengusik keingintahuan Riri.
Tampak keramahan terpancar di wajah mereka, apalagi ibu Heraibu Cornel sepertinya sangat senang Cornel membawa teman wanita ke rumah.
\"Cornel... Ayah senang kamu ternyata punya teman wanita, cantik lagi walau too short for the hair, but Riri you are young pretty.\" Kata ayah Cornel dengan ramah.
Riri yang disebut-sebut pretty jadi tersipu-sipu.
\"Thank you Uncle,\" Riri menjawab sanjungan ayah Cornel.
\"No no no don\'t call me Uncle but Ayah seperti Cornel.\"
Riri jadi geli dengan bahasa campur-campur ayah Firdaus nama ayahnya Cornel.
***
Rasa rindu merebak dalam hatinya, tiba-tiba dia sangat merindukan keluarganya terlepas kekesalan akan penemuan perselingkuhan papanya.
Langsung Riri dan Cornel digiring ke meja makan, tentu saja tidak bisa menolak dan memang tidak ingin menolak sengaja banget Cornel tidak mengajak makan siang karena ibunya sudah berpesan puteranya untuk makan siang di rumah dengan membawa teman barunya.
Agak canggung juga saat ayah Firdaus dan ibu Hera berganti-ganti bertanya apa saja pada Riri. Dari asal Riri, sekolah, saudara, hobi dan dalam rangka apa ke Singapura.
Riri menjawab jujur untuk pertanyaan-pertanyaan seputar pribadinya, hanya saja untuk pertanyaan dalam rangka apa ke Singapura Riri sempat bingung untuk Cornel membantunya.
“Riri lagi liburan aja Bu, pas banget kita kenalan di tempat Riri menginap dan pas banget cuti Cornel di setujui dan sepertinya lebih menyenangkan liburan ada teman. Apalagi temannya cerewet dan ramai!” Cornel melirik usil.
Riri lega nggak perlu menceritakan kalau dirinya tengah menjadi pelarian di sini.
\"Hai Riri kami senang dengan kunjungan kamu, besok-besok kalau pas berkunjung ke Singapura mampirlah lagi. Ibu juga senang masakannya tidak habis cuma sama Cornel! Iya kan Bu?” Ayah Firdaus memastikan dengan menatap isterinya.
Dan ibu Hera mengangguk tersenyum, mengiyakan. Tatapan bu Hera sangat lembut mengingatkan juga pada mamanya.
“Riri jadi kangen mama dan Rara. Mama dan Rara sedang apa ya? Apakah mereka sudah tahu kalau papa selingkuh? Apakah mereka juga mencari aku?” bisik hati Riri.
“Semoga hubungan kalian langgeng Ayah doakan. Ayah senang kamu bisa dekat cewek lagi Nel! Berarti Ayah kalah taruhan ya!\" Ayah tersenyum lebar.
\"Hahaha pastinya dong!\" Jawab Cornel mantap.
Membuat Riri bingung dalam hati,“ Kok taruhan ada apa sih dengan mereka?”
\"Wah pantesan kamu semangat banget ngajak aku ternyata untuk taruhan ya!\" Riri protes dengan menatap tajam meminta penjelasan Cornel.
\"Jangan marah Riri, ini hanya taruhan tentang kepercayaan, kalau Cornel yang perkasa ini masih bisa jatuh cinta terhadap gadis berarti dia adalah lelaki normal,\" kata ayah Firdaus.
\"Ooo kok gitu.\" Riri mengkerutkan dahinya. Lega juga.
Ibu Hera ikut menambahi, \"Cornel itu dulu pernah deket sama cewek tapi ditinggal kabur, sejak itu anak Ibu yang macho ini gak pernah terdengar punya temen cewek. Wajarlah kita jadi was-was, kan lagi banyak cowok-cowok macho tapi sukanya dengan cowok-cowok macho juga.\"
\"Hahahaha...\" Otomatis Riri tertawa terbahak-bahak. Serasa tak ada beban yang tengah membebani pikiran dan hatinya.
Riri menutup mulutnya seketika karena suara tawa dia yang sangat keras dan spontan. Rasanya nyaman di tengah keluarga Cornel, sungguh Riri merindukan kehangatan keluarganya kembali seperti dulu.
“Ternyata Cornel pernah patah hati ya? Habis gak ngomong-ngomong sih makanya aku nggak tahu.” Kata Riri lanjut.
Pipi Cornel bersemu merah dan sisa waktu kebersamaan banyak cerita meluncur begitu saja dan Riri tidak merasa canggung di tengah-tengah keluarga Cornel.
Dan tak terasa malam semakin larut dan Riri berpamitan. Tampak wajah bahagia terpancar dari kedua orang tua Cornel karena kehadirannya. Perjalanan menuju hotel terasa hening. Riri dan Cornel memilih untuk diam dan tidak terlalu banyak cerita.
Baik Riri dan Cornel tengah meresapi kedekatan yang sepertinya sudah sangat lama dirindukan. Sulit diungkapkan sebuah kedekatan yang hangat.
“Terima kasih buat makan malamnya Cornel, senang bisa kenal dengan ibu Hera dan Ayah Firdaus.” Tiba-tiba di tengah perjalanan.
\"Hmmm iya Riri aku juga terima kasih, setidaknya aku sekarang nggak dikira homoseksual.\" Cornel tersenyum penuh arti.
\"Jangan-jangan memang iya nih!\" Riri tetap berniat menggoda.
\"Nggaklah aku masih tertarik sama kamu!\" Balas Cornel menatap lembut.
\"Hah?\" Ucapan barusan Cornel mengejutkan Riri.
\"Ih nggak becanda!\" Cornel mengibaskan tangannya.
\"Ahhh,\" sebenernya Riri ingin melanjutkan untuk terus berbicara topik barusan, entah kenapa dia kecewa saat kata “bercanda” meluncur kalimat barusan dari bibir Cornel!
\"Nel eee aku mau tanya sesuatu,\" wajah Riri berubah serius.
“ Iya...\"
\"Kamu waktu menolong aku tenggelam, kamu memberikan napas buatankan? Berarti kamu mencium aku dong?\" Riri menatap polos.
\"Hmm maaf keberatan ya?\"
\"Eeeeenggak tahulah, kalaupun keberatan juga nggak akan mengembalikan kesucian bibirku tahu!\" Riri menjawab ketus.
\"Hehehe maafkan aku ya Ri...\" Cornel tertawa pelan.
Ada satu yang Riri tidak tahu, di balik sikapnya Cornel yang berusaha tenang sebenarnya hatinya menyimpan resah. Kehadiran Riri tanpa pernah terencana menggagalkan niatan awal menjomblo selamanya. Putus dengan Azita empat tahun lalu terlalu menyakitkan! Membuat Cornel males untuk menjalin dengan makhluk bernama cewek, tapi tidak dengan Riri yang serba spontan Cornel menemukan sesuatu yang berbeda dan harapan baru.
\"Cornel kok bengong sih, jangan coba-coba berpikir jorok ya!\" Riri menyorot tajam.
\"Nggaklah, aku lagi berpikir kesimpulannya aku dong laki-laki first kiss kamu walau saat itu dalam kondisi pingsan.\" Kata Cornel yakin.
\"Yah begitulah padahal waktu lalu aku berharap Jo yang melakukan tapi ternyata kamu.\" Riri mencibirkan bibirnya.
\"Maaf ya sungguh waktu itu aku jujur agak panik, karena kolam itu tidak dalam hanya kondisi kamu yang tiba-tiba drop kamu langsung jatuh dan sepertinya minum air banyak sekali, ditambah pusing kamu yang tiba-tiba memperburuk keadaan kamu. Aku otomatis saja memberikan pertolongan CPR dan thanks God aku lega sekali saat kamu baik-baik saja.\" Kata Cornel panjang lebar.
Riri meski memasang sikap agak cuek karena untuk menutupi keresahan hatinya juga, tapi jujur Cornel telah selamatkan nyawanya dan memberikan dua hari traveling yang menyenangkan dan nyatanya beban pikirannya juga mulai terangkat.
Dan first kiss itu bagai magnet yang membuat Riri tertarik dalam pusaran perasaannya yang tidak menentu. Memang itu ciuman pertama yang harus Cornel lakukan demi menyelamatkan dirinya yang sempat meminum banyak air saat tenggelam tapi tetap saja ciuman pertama yang berkesan.
***
\"Ri, Istirahat ya...\" Cornel masih dengan tatapan lembutnya.
Sejurus mereka saling bertatapan lurus, tiba-tiba Cornel mengelus rambut cepaknya sekilas.
Dan memajukan badannya, Riri bergetar ketika kecupan hangat menyentuh bibirnya. Matanya terpejam membiarkan sensasi yang membuatnya terbang sesaat.
\"Thanks Riri.\" Cornel lembut bicara.
Riri menggigit bibirnya pelan, hatinya melonjak, \"Akhirnya aku merasakan first kiss! First kiss dalam kondisi sadar!\"
“Hmmm Ri besok perjalanan kita akan menikmati pemandangan segar dengan aneka burung-burung, pokoknya seru deh!\"
Cornel menetralkan kediaman sesaat mereka karena ciuman yang entah kenapa ingin dilakukan. Cornel tidak bisa menahan hasrat hatinya.
\"Horee asik,\" Riri tepuk-tepuk kaya anak kecil.
Cornel tersenyum dan memutuskan segera pulang masih dengan hati yang berdebar. Demikian Riri segera memilih turun dari mobil Cornel dan segera masuk ke loby hotel dengan jantung yang masih berdebar tak karuan.
Dan malam itu buku hariannya Riri menulis, ”Tonight I got my first kiss, thank you Cornel.”
Bayangan apa yang baru saja dirasakan membuat Riri tidak bisa memejamkan matanya, rasanya masih ingin menikmati sensasinya. Sesekali Riri tersenyum sendiri dan rasanya Riri tidak sabar menunggu hari esok melanjutkan jalan-jalan bersama Cornel.
Sementara Cornel di kamarnya juga tidak beda jauh dengan Riri, senyum menyungging di bibirnya. Tadi dia begitu nekad mencium Riri tapi memang itulah yang terjadi dan Cornel semakin yakin dirinya telah jatuh cinta pada gadis manis asal Indonesia. “Ah apakah aku akan seperti ayah juga mencintai wanita yang sama berasal dari Indonesia?” Cornel bergumam dan berusaha keras memejamkan mata mengingat besok dia berjanji akan mengajak jalan Riri ke Jurong
Bird Park.
Other Stories
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...