Pesan Dari Hati

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

7. I\'m Alone

Sepanjang taksi Riri menangis, rasanya tidak adil dunia yang tengah berputar saat ini. Rasa sakit karena kehilangan Jo masih terasa, sekarang dia dihadapkan dengan perselingkuhan papanya yang Riri pergokin langsung.
Papa tidak bisa mengelak apapun lagi tadi. Wajah papa jelas tampak memerah dan bingung ditambah wanita bersamanya adalah mamanya Jo. Jelas tadi wanita yang bersama papanya adalah mamanya Jo. Bagaimana bisa anak dan mama sekarang menjadi penyebab sakit hatinya sekarang.
\"Pak Kompleks Riverside Cibubur.\" Riri menyuruh sopir taksi menuju bilangan Cibubur.
\"Aku harus bilang pada mama kalau papa selingkuh!\" tanpa sadar Riri menggeram dan wajahnya menegang.
Sudah satu bulan ini Riri tidak pulang ke rumah karena ada ujian kenaikan tingkat pencak silat yang melibatkan dirinya menjadi penyeleksi calon anggota baru dan sengaja memang Riri menyibukan diri untuk bisa menghilangkan bayang-bayang Jo.
Pencak silat menjadi pelarian untuk menghilangkan kenangan dengan Jo. Sibuk di organisasi ini bisa sesaat melupakan sosok Jo yang tiga tahun menemani hari-harinya sebagai sahabat dekat.
Sungguh kehilangan Jo yang sibuk dengan pacar barunya Sara membuat Riri sangat kehilangan. Tapi bagaimana lagi memang cepat atau lambat ini akan terjadi. Riri sudah sadar karena memang Jo hanya menganggapnya sahabat tapi tadi kenapa Jo berubah sikap.
Riri ingat tadi Jo sempat terang-terang mengagumi dirinya yang berpenampilan modis seperti wanita dan bahkan Jo juga meminta untuk diberi kesempatan. Dan tadi Riri akui hatinya sangat berdebar, rasa cinta untuk Jo masih membara.
Riri semakin terisak mengingat tadi juga Jo sempat memeluknya saat sepatu high heelnya menyebabkan dia tergelincir. Wajahnya sangat dekat dengan Jo, walau baru saja dirinya kaget melihat sosok papa dengan wanita yang bukan lain mamanya Jo akan tetapi kembali rasa hangat mendera.
Tapi apa yang tersisa sekarang tetap hatinya yang lengkap penuh kepedihan. Semua terjadi begitu saja atau memang ada yang merencanakan semua ini. Riri benar-benar tidak tahu yang jelas hatinya sangat sakit karena sang hero ternyata berkhianat. Berkhianat pada keluarganya dan Riri tidak bisa terima sama sekali!
Jalanan agak macet, Riri menyandarkan wajahnya di jok belakang dan membiarkan air matanya meleleh.
Rumah tampak senyap, jam sudah menunjukan hampir pukul sebelas, mobil BMW papa belum kelihatan.
\"Uuh pasti Papa sibuk mengantar mamanya Jo dasar wanita gatel, anak dan mama sama saja buat hancur keluargaku! Tidak cukup sajakah aku yang terluka kerena sikap Jo! ternyata mama dan Rara juga harus terluka juga bila tahu papa yang selama ini kita dewakan ternyata bermain api di belakang kita.” Riri mengutuk papanya dalam hati.
Air mata Riri kembali menetes.
Pintu gerbang dibukakan pak Parjo satpam yang sudah bertahun-tahun menjaga rumah megahnya bersama mang Dirman yang juga membantu menjaga taman.
Ternyata Bibi Manisa masih terjaga, dan menawarkan minuman.
\"Non mau minuma apa? Teh manis panas, kopi, susu atau coklat?\"
\"Sepertinya aku butuh secangkir coklat hangat Bi,\" gumam Riri perlahan karena sepertinya mama dan Rara sudah terlelap.
\"Bi, mama sudah tidur ya? Aku mau dong Bi coklat panas ala Bibi. Aku kangen sebulan nih nggak ada yang buatin minuman dan nggak ada yang mijiten sambil dinyanyiin lagu.”
\"Iya nanti Bibi pijitin sambil dibalur minyak kayu putih dan ditembangin macapat* ya Non.\" Kata Bibi Manisa lembut.
\"Hehehe pijitanya besok sajalah Bi, Bibi habis buatin aku coklat habis itu istirahat saja. Oh ya Bi, coklatnya taruh di kamar saja. Aku capai Bi males kalo turun ke lantai bawah lagi.\"
\"Baik Non...\"
Riri naik ke kamar yang terletak di lantai atas, sekilas melihat kamar Rara sudah gelap.
\"Itu anak memang tertib sekali, tidur nggak pernah keluyuran malam-malam padahal malam Minggu. Tidak suka hang out. Rara terlalu asik dengan dunia buku dan dunia khayalannya.\" Pikir Riri.
Tiba-tiba Riri terusik menghampiri meja kerja papa yang terletak di sudut dekat dengan ruang perpustakaan.
Nalurinya ingin mencari sebuah pembenaran. Selama ini Riri sama sekali tidak pernah mengutak-atik meja kerja papanya. Tapi malam ini hatinya terdorong untuk mengecek meja kerja papa.
Ternyata papa tidak mengunci laci yang letak posisinya tersembunyi karena mepet dengan susunan rak buku-buku.
Dan sebuah buku kerja, Riri segera membuka dan sreeeet... sebuah foto wanita yang bukan lain adalah mama Jo, wanita yang tadi Riri lihat dan ada tiga kartu kredit merosot begitu saja dari bagian tengah halaman.
Riri memandang sebal dengan foto empat kali enam yang ada dalam genggamannya sekarang dan tiga kartu kredit papanya yang entah kenapa tidak tersimpan di dompetnya.
Semakin penasaran Riri mengecek almari kerja papa. Ternyata di almari ada uang tunai, Riri lihat sekilas ada dalam bentuk rapi lima ikat dengan angka masing-masing sepuluh juta jadi ada sekitar lima puluh juta.
Tiba-tiba hatinya meradang ingat perselingkuhan papa tadi, \"Hhmmm daripada uang dan kartu kredit nantinya di nikmati mama Jo keparat! Lebih baik aku bawa kabur.\"
Riri memang sedang tidak bisa berpikir waras, otaknya kalut, kesal dan hatinya sudah serasa hancur berkeping-keping. Harus Belum lagi kalau dia mengatakan hal yang dia lihat hanya akan menyakiti orang-orang yang dicintai dalam kehidupannya.
Selama ini tidak sedikit pun terlintas untuk mencuri apapun, tapi hatinya benar-benar sedang meradang. Setelah Jo mengecewakan sekarang bersamaan mamanya Jo dan papa yang sama sekali tak pernah terpikirkan akan berseling-kuh membuat Riri marah.
Ada rasa timbul untuk merelakan biarlah aib papa dia yang tanggung sendiri tanpa perlu mama dan Rara tahu. Riri tidak tega melihat satu persatu dari mereka hancur.
“Biarlah hati aku saja yang hancur sendiri dan biarlah mereka tidak tahu dengan kenakalan aku tiba-tiba. Cukup ini jadi peringatan buat papa kalau aku Riri anak manisnya-pun bisa memberontak!”
Karena rasa sakit hati dan dendam terhadap papa, Riri ingin menunjukan rasa amarahnya.
Terlintas sangat cepat tanpa pikir panjang oleh Riri untuk membawa uang tunai dan kartu kredit papanya yang unlimited ke suatu tempat.
\"Baik aku akan menutup mulut dan tidak akan mengatakan apapun perselingkuhan papa dengan mama Jo baik kepada mama atau Rara tapi aku akan menguras sedikit uang papa.\"
Riri segera masuk ke kamarnya dan membenahi beberapa baju ke dalam tas ranselnya juga uang kertas bernilai kurang lebih lima puluh jutaan. Setelah mandi dan menandaskan minuman coklat hangatnya, Riri memutuskan untuk kembali ke asrama The Lady.
Setelah berbasa-basi dengan pak Parjo kalau mendadak dia harus kembali ke asrama dan tidak jadi menginap karena besok Minggu ada kegiatan kampus. Riri dengan naik taksi kembali ke asrama.
Riri membuka BB ada miss call sepuluh kali dari papa, tiga kali dari Jo dan empat kali dari Sucita.
Riri sadar kalau sahabatnya bingung karena dia tiba-tiba kabur begitu saja.
\"Sucita kini aku bisa merasakan kenapa kamu memutuskan bunuh diri saat mengetahui rencana papi mamimu bercerai, aku saja melihat papaku berselingkuh apalagi dengan mama Jo sahabatku dan orang yang sebenarnya aku cintai. Sekarang membuat aku sangat membenci papa dan ini juga karena mama Jo penyebabnya! Ternyata sangat sakit hati ini! Memang kehidupan ini sangat menyakitkan! Tidak adil! Aku akan menunjukan marahku dengan kabur sesaat agar papa sadar! Kalau papa harus kembali pada kami! Aku tidak akan rela dan tidak akan memaafkan papa bila memutuskan untuk menikahi mamanya Jo! Mau jadi apa hidupku! Punya kakak tiri yang seharusnya jadi kekasihku karena rasa cinta ini! Dan oh Tuhan aku tidak akan sanggup melihat kehancuran satu persatu keluargaku dari mama yang sekarang tengah telelap dengan pikiran suaminya masih bekerja dan Rara adikku yang juga membanggakan papa seperti aku sebelum aku dihadapkan sebuah kenyataan! Tuhan, cukup aku saja yang tahu!\"
Sesampai di kamar asrama putri, Riri langsung searching tiket on line, keputusannya bulat besok siang dia akan terbang ke Singapura. Beruntung langsung dapat tiket dengan cara on line dan bayar via e-banking. Riri segera melipat tiket yang dia print out dari kamarnya.
Besok dirinya berencan mampir ke money changer di bandara menukar beberapa puluh juta rupiah yang ada di traveling bag-nya dengan Singapore Dollar.
\"Aku mau napak tilas!\" Riri tersenyum sumringah, empat tahun lalu dia dan keluarganya ke Singapura menikmati sebuah liburan yang membahagiakan.
Sementara jam sudah menunjukan sudah pukul tiga pagi tapi mata Riri susah terpejam. Pelarian sesaat yang tercetus begitu saja sedikit membuatnya gelisah.
Riri mengecek kembali paspor, tiket pesawat Garuda untuk besok siang jam dua belas dari terminal 2E Bandara Soekarno Hatta.
Baju tidur, baju renang, kaos, celana pendek dan celana tiga perempat semua sudah rapi tersusun di tas ransel berwarna hijau pupus.
Riri melihat pajangan foto yang diperbesar dengan latar belakang lokasi wisata Singapura tempat-tempat yang dikunjungi empat tahun lalu saat bersama dengan papa, mama, Rara dan dirinya menghabiskan seminggu di negeri singa.
Dalam foto itu tawa Riri dan Rara yang lepas juga kemesraan papa dan mama.
\"Aku hanya ingin mengenang dalam kesendirian dan membunuh rasa sakit ini sejenak, maafkan Riri Pah. Riri melakukan ini karena marah! Riri tidak bisa memaafkan kesalahan papa dengan wanita apalagi yang ternyata mama Jo. Biarkan Riri pergi sesaat sendiri mengenang apa yang pernah kita lewati bersama.\"
Beruntung sisa jam menuju pagi Riri bisa tidur pulas. Jam menunjukan pukul setengah delapan Riri segera mandi dan bersiap menuju bandara.
Nyatanya tidak ada lagi orang yang kehilangan dirinya, mengecek handphone BB-nya tidak ada pesan, miss call atau SMS.
Semalam Riri sudah isi pulsa penuh untuk siap-siap menghadapi roaming. Sebenarnya Riri ingin bersikap cuek saja dengan mematikan telepon berhari-hari tapi dipikir ulang takut kalau ada hal penting maka Riri memutuskan untuk tetap menghidupkan teleponnya. Asal sudah berisi cukup pulsa bila memang yang papa menghubungi tinggal dicuekin saja.
Antara yakin dan tidak yakin untuk kabur ke Singapura Riri menggenggam foto yang sudah dilepas dari tembok.
Empat tahun lalu saat dirinya liburan kenaikan kelas dua belas dengan angka-angka yang bagus di rapornya demikian Rara juga bisa mempertahankan ranking sepuluh besarnya maka papa mengajak jalan-jalan ke Singapura.
Ingat waktu itu menyempatkan berkunjung ke Bugis street menikmati makan siang di restoran Let’s Sweet yang menyajikan makanan China dan Eropa. Di sini bebas makan sepuasnya dengan sekali bayar syaratnya jangan menyisakan makanan lebih dari 200 gram. Jika melanggar makan baru
akan dikenakan denda. Dessert di sini menjadi daya tarik terdiri dari cream puff, jelly, mousse cake, cheesecake, crepe dan lain-lain
Papa mengajarkan agar kita tidak berlebihan dalam mengambil makanan terutama dessert yang sangat menggoda lidah karena akibatnya juga tidak baik selain denda yang akan dikenakan. Ada filosofi yang bisa diambil untuk selalu apa-apa itu secukupnya. Jangan kalap mata dan perut yang akibatnya akan mengambil berlebihan sementara kenyataan perut kita tidak bisa menampung semuanya yang ada mubazir dan buang-buangan makanan. Ini tentu saja bukan perbuatan yang baik karena di luaran sana masih banyak orang yang kelaparan sementara kita di sini berlebihan dan buang-buang makanan.

Other Stories
Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Download Titik & Koma