15. Dari Hati Ke Hati
Tepat pukul 12.00 Garuda landing di Bandara Soekarno Hatta, setelah mengantri bagasi dan membawanya keluar ternyata papa sudah menjemputnya. Papa merentangkan kedua tangannya, sesaat Ri ingat pelukan yang sebenarnya sangat dirindukan.
\"Gimana liburannya Ri, kalian ini kok ya bisa-bisanya ketemu juga di negeri sebesar itu?\" tanya papa keheranan.
\"Ah nggak besar kok Pah, Singapura kan kecil,\" balas Riri.
\"Iya sih tapi rasanya seperti berjodoh saja! Bisa-bisanya juga kalian ketemu dan sekarang juga sama-sama pulang bareng. Tapi sungguh Papa lega sekali waktu Jo mengkhabarkan bertemu kamu dan tidak kurang apapun. Terima kasih Jo sudah temukan Riri dan jagain.” Papa menepuk pundak Jo.
\"Iya Pah, feeling Jo kenapa sore itu ingin ke Singapore flyer ternyata ada si Non yang sedang ngambek ini!\" Jo melirik jahil pada sosok Riri yang hanya tersenyum.
\"Tapi Pah, Riri punya cowok baru lho di Singapura!\" Protes Jo.
\"Apaan sih!\" Riri yang memang sedang teringat Cornel mendadak wajahnya memanas karena Jo menyindir dirinya. Ditambah papa tersenyum penuh arti. Sepertinya Jo memang sudah membocorkan banyak hal pada papanya tentang dirinya yang ketangkap basah dengan Cornel saat Jo menemukan dirinya.
“Iya Ri, Jo cemburu berat tuh kamu punya cowok di Singapura. Riri...Riri...baru beberapa hari di Singapura sudah ngegaet cowok ganteng kata Jo lho! Makanya Jo uring-uringan tuh!” kata papa.
“Apaan sih Pa, cuma teman kok! Cerita Jo kayanya berlebihan deh Pah,” bela Riri.
“Sudahlah, siapapun itu yang mau jadi pacar kamu mau Jo atau cowok Singapura asalkan baik dan kamu bahagia Papa nggak akan menghalangi kok,” jawab Papa tenang.
Bertiga tertawa sejenak, mobil BMW meluncur membelah tol dan mengantarkan Jo terlebih dahulu di bilangan Rawamangun tapi hanya sampai depan rumah, sisanya papa dan Riri hanya berdua menuju rumah kawasan Cibubur.
\"Sepertinya Papa banyak ketinggalan dengan kondisi putri kesayangan Papa, siapa cowok yang dimaksud Jo?\" selidik papa.
\"Hmmm dasar Jo!” Umpat Riri.
“Siapa namanya Sayang? tanya papa lanjut.
“Hmm namanya Cornel!\" jawab Riri singkat.
“Wah sepertinya orangnya tampan seperti namanya. Jo sampai cemburu gitu waktu cerita,” ungkap Papa sambil melirik Riri yang wajahnya memerah.
“Masih berteman saja Pa, Jo besar-besarin tuh ceritanya,” protes Riri lanjut.
Sejurus terdiam papa dan Riri. Tiba-tiba ...
\"Kita tetap bersahabat kan, Sayang.\" Papa memandang khawatir pada putrinya. Rasa salah tetap menderanya. Papa mengulur waktu untuk memperbaiki hubungan mereka dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya antara dirinya dan Marina mamanya Jo.
\"Iya Pa, Papa janji akan cerita ke Riri tentang apa yang Papa telah lakukan dengan mamanya Jo.\" Riri berusaha tenang, ini saatnya menghadapi masalah bukan lari lagi.
\"Papa sudah memutuskan untuk tidak dekat lagi dengan Marina mamanya Jo, awalnya kami berteman karena mama Marina salah satu pegawai di kantor teman Papa yang suka menjadi penghubung antara kantornya dan Papa.\"
Papa terdiam sesaat menarik napas panjang dan dihembuskan panjang juga.
“Kita tidak tahu kalau anak kita ternyata bersahabat, jadi jangan pernah bepikir buruk kalau Papa, tante Marina dan Jo bekonspirasi. Kami benar-benar menyesal saat kamu dan Jo berdua memergoki kami yang sedang bermesraan,\" jelas papa lanjut dengan sorot mata jujur.
Riri tahu papanya tidak berkonspirasi apapun baik dengan tante Marina juga dengan Jo. Ini semua tidak disengaja dan memang apa adanya. Memang benar terkadang cinta buta buktinya papa yang sudah berkeluarga mencintai mama Jo dan sebaliknya mama Jo juga tidak seharusnya mencari suami dengan cara menggangu rumah tangga orang. Di sinilah namanya cinta buta.
Sekarang hatinya sendiri masih juga menyukai Jo tapi juga ada Cornel yang mendominasi hatinya. Sepertinya sesuatu yang salah juga ada dua hati di hatinya. Riri tak ingin terjebak pada cinta buta.
\"Papa tertarik sama tante Marina? Dia memang cantik ya Pah?\" pancing Riri.
\"Awalnya karena Marina suka menceritakan kondisinya yang single parents dan butuh temen ngobrol. Jadilah kita dekat! Marina membutuhkan seseorang yang bisa diajak berbagi akan rasa kesepian dirinya setelah papahnya Jo meninggal. Itu saja sih! Kita juga tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama kok. Kadang ada masalah yang tidak bisa dipendam sendiri Sayang, meskipun sepertinya kita orang yang sempurna,\" jelas papa berterus terang.
\"Papa sudah lama kenalnya eeh deket maksudnya?\" tanya Riri ingin tahu.
\"Baru dua bulan kebelakang, yaah mungkin Papamu sedang puber kedua Nak! Tapi Papa janji tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama. Papa takut kehilangan mama, Rara dan terutama anak kesayangan Papa yang luar biasa. Papa akui ini tetap kesalahan fatal, karena tidak seharusnya papa larut memberikan hati papa sebagai tempat curhatan tante Marina. Sebaliknya terkadang papa juga curhat sedikit masalah kerjaan. Seharusnya papa melakukan hal ini bisa dengan mama. Maafkan Papa, Papa berjanji tidak akan melanjutkan hubungan hati ini dengan tante Marina atau siapapun. Papa janji sisa umur papa hanya untuk keluarga dan terlebih Papa sadar apa yang Papa raih sekarang semua berkat mama, kamu dan Rara. Kalianlah orang-orang yang terkasih dan selamanya akan Papa jaga.\" Janji papa barusan benar-benar mebuat Riri terharu.
Tidak ada alasan untuk tidak memaafkan papa. Bagaimanapun seperti yang Cornel pernah bilang orang tua kita juga manusia biasa yang mempunyai kesalahan. Tidak ada yang sempurna maka harus siap memaafkan bila orang yang kita cintai melakukan kesalahan.
“Riri maukah memaafkan Papa Sayang?” tanya papa lanjut dengan tatapan memelas.
“Riri sudah memaafkan Papa.” Riri tersenyum.
“Terima kasih Sayang. Kamu adalah anak papa yang luar biasa.” Tampak terpancar kelegaan di wajah papa Adityo.
\"Ih Papa jangan ngeledek Riri dong! Maksud ‘luar biasa’ itu luar biasa jadi perampok ya Pa!\" Riri jadi teringat pengambilan uang tunai di almari brangkas papanya dan beberapa kali memakai kartu kredit papanya.
“Tentu saja bukan karena kamu sudah mengambil uang papa Sayang. Bukan semata materi Sayang... karena yang sesungguhnya kamu, mama dan Rara adalah segalanya. Tanpa kalian Papa bukan siapa-siapa. Demikian juga dengan tante Marina pun menyesal karena Jo jadi sangat marah dan meninggalkan mamanya begitu saja.”
\"Eh siapa cowok baru itu Ri?\" Papa mengulang pertanyaan yang sama.
\"Hmm namanya Cornel Papa...\" Riri mengulang lagi.
Papa mengangguk-angguk sambil menggumamkan nama Cornel.
Riri jadi geli, apalagi papanya berkata, “Tampaknya Papa akan mempunyai saingan baru menjaga anak gadis Papa yang cantik nih.”
Dan senja itu menjadi diskusi dua hati yang tenang tanpa amarah, tanpa kata-kata saling menyakitkan atau perjanjian khusus bahwa cukup dirinya yang tahu kesalahan sang hero. Yang pasti sekarang Riri bahagia papanya menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Dan dalam hati Riri membenarkan apa yang Cornel sarankan, \"Cornel benar memaafkan dan menerima kekurangan seseorang sangat melegakan apalagi Papa berjanji tidak mengulangnya. Aku percaya papa akan kembali menjadi Supermen-ku.”
Other Stories
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...