4. Dr. Faisal \'icang\' Lubis
“Keluarga Ibu Ratna…” panggilan halus seorang perawat mengagetkan tiga orang yang tengah resah menunggu pemeriksaan Ibu Ratna.
Seorang dokter berwajah sangat kebapakan dengan baju penutup ICU masih melekat dan tampak wajahnya serius.
Belum sempat dokter berlabel nama dr. Budiman bicara, Nastiti terpaku pada seorang dokter muda yang ada di belakang dr. Budiman.
Mata mereka saling bertatapan tidak percaya setelah beberapa tahun tidak bertemu, sekarang mereka dipertemukan lagi dalam situasi yang tidak enak. Saat ibu Nastiti drop dan perasaan hatinya hancur lebur karena peristiwa pagi tadi.
“Icang …”
“Nastiti ...”
Dalam hampir bersamaan mereka menyebut nama masing-masing lawannya. Selanjutnya diam karena dr. Budiman langsung memotong tatapan mereka dengan berdehem-deham.
“Dr. Faisal kangenannya nanti ya. Ehem... Nona, bersyukur Ibu Anda sudah siuman dan tinggal pemulihan. Sebentar lagi kita pindah ke ruang VIP saja. Tolong lain kali jangan buat beliau untuk menerima reaksi yang mengejutkan, apalagi untuk berita-berita yang menyedihkan. Lain waktu bisa membuat serangan jantung yang serius.”
Nastiti melotot kejam pada Bram yang salah tingkah. Sementara batin dr. Faisal dalam baju tugas putihnya berlabel namanya berseru lirih, “Nastiti Prameswari, hmmm sepertinya belum banyak berubah, masih saja menjadi gadis tergalak yang aku kenal… sekaligus… ah… tidak, aku sudah melupakannya.”
Sejenak dr. Budiman menerangkan panjang lebar tentang sakit ibunya. Nastiti tidak bisa konsentrasi penuh karena hatinya tiba-tiba merasa berdebar. Ada rasa malu, rasa penasaran, rasa suka, ah entahlah rasa nano-nano terhadap lelaki yang di depannya jauh lebih matang dari tujuh tahun lalu.
“Hemmm dia benar menjadi dokter, ah tapi memang cocok sih…” sekelebat ingatannya kembali masa lalu.
Waktu itu dirinya terluka setelah menyelesaikan jurus Tapak Bumi di perguruan silat yang sama-sama mereka ikuti. Dan Icang lah yang memijitnya menetralkan ototnya menjadi enak kembali, tapi Nastiti tidak mau berterima kasih karena menganggap Icang cari perhatiannya.
Jujur wajah dr. Icang sekarang ternyata tidak seburuk saat dulu dia mengejar-ngejar dirinya yang masih ABG.
Tanpa sadar Nastiti mendesiskan nama lelaki yang tengah sibuk mencatat resep yang telah dituliskan oleh dr. Budiman dalam buku kerjanya.
Sebenarnya ada keinginan untuk menyapanya lebih jauh pada pria yang jujur sekarang tampak beda saat dia zaman SMU. Sekarang tampak terawat, tidak jerawatan, rambut tidak ngejabrik, dan tidak ber-jeans belel.
Sekarang Icang sudah berubah jadi dokter muda yang ganteng, tenang pembawaannya walau lirikan jahil masih sesekali tampak.
Tapi dr. Icang yang ditolaknya mentah-mentah tujuh tahun lalu jelas banyak berubah.
Nastiti kecewa karena dr. Icang lebih memilih berlalu dengan dr. Budiman, sementara sisi hatinya ingin menyapa lebih jauh tapi gengsi. Masa lalu benar-benar masih menahannya untuk tidak menunjukkan bahwa sebenarnya dia senang bertemu dengannya dalam keadaan yang tidak terduga.
Ada sebungkus maaf yang masih Nastiti simpan, tentang perasaan bersalah yang menyelimutinya saat waktu lalu sikapnya yang pasti melukai perasaan kelakian Icang.
Masa tujuh tahun silam saat dirinya masih sangat ABG dan tidak pernah terbersit rasa cinta-cintaan bahkan sebaliknya membenci dengan laki-laki yang mendekatinya. Doktrin ibu yang jelas-jelas melarangnya untuk berpacaran saat masih SMP.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...