3. Hurts!
Nastiti memarkir mobilnya dan segera berlari ke dalam rumah. Dan saat bersamaan ayah ibunya tengah duduk di teras.
“Nasti… kamu kenapa?”
Nasti ingin menjelaskan, tapi sadar kalau dia mengatakan yang sebenarnya takut ibunya akan trauma dan sesak napasnya akan kambuh lagi.
Nasti memutuskan untuk ke kamar dan menghindari dari pertanyaan ibu dan ayahnya yang juga ikutan memanggil dirinya yang kabur begitu saja.
Entah berapa menit Nastiti menangis di kamarnya, menelungkupkan wajahnya, mengingat kejadian jam sembilan pagi di kamar Bram terekam dan menorehkan luka yang menyakitkan.
Bram yang sudah dikenal selama empat tahun tak disangka bisa bermain api di belakangnya. Padahal enam bulan lagi mereka menikah. Beberapa keperluan untuk acara resepsi bahkan sudah dipesan.
Gedung, undangan yang siap cetak dengan model elegan, souvenir yang sedang dipesan dan sudah di-DP, brokat-brokat untuk keluarga yang sebagian sudah terbeli, DP katering dan rencana siang ini hunting foto pre wedding setiap kelebatannya membuat nyeri sampai ke ulu hati.
“Semua harus segera kubatalkan! Aku tidak mau menikah dengan Bram. Aku tidak mau menikah dengan lelaki mata keranjang! Lelaki penganut free sex!” jerit batin Nastiti histeris.
Nastiti benar-benar merasa jijik dengan Bram, apalagi membayangkan apa yang telah dia lakukan dengan wanita yang sekilas memang cantik. Bukan itu saja, ketakutan free sex adalah penyakit kelamin. Semua akibat bisa menimpanya membuat Nastiti mual dan hampir muntah.
Sudah pasti semua harus dibatalkan. Nastiti tidak bisa toleransi apapun. Dalam sekejap kebahagiaan yang dinanti lenyap. Tubuh Nastiti bergetar, ini adalah tangisan yang paling menyedihkan seumur hidupnya. Dikhianati orang tecinta di depan matanya.
***
Nastiti tengah menghapus air matanya, tiba-tiba pintu kamar digedor keras.
“Nasti, cepetan kita antar Ibu ke rumah sakit! Buka pintunya Nak!”
“Iya Ayah, Ibu kenapa?”
“Ibumu anfal, cepetan!’
Ayah mengeluarkan Avanza-nya sementara masih dengan baju olahraga, Nastiti memegangi kepala ibu dan menyelonjorkan kakinya ke arah Teteh Lilim menuju Rumah Sakit Persahabatan.
Pihak Rumah Sakit Persahabatan cekatan memberikan pertolongan kepada Ibu Ratna. Sambil menunggu ibu yang langsung masuk ICU karena sesak napasnya yang hebat dan takut lari ke jantung. Nastiti tidak bisa duduk tenang.
“Ayah, sebenarnya tadi ada apa? Kenapa Ibu jadi sesak napasnya kambuh?”
“Kok kamu yang balik bertanya toh Nduk? Kamu yang buat ibumu penasaran. Wong pulang-pulang air mata kamu sudah netes ke mana-mana. Kamu nangis kan tadi pulang dari rumah Bram. Terus nggak beberapa lama Mas Bram telepon dan Ayah nggak terlalu tahu apa yang diomongin tiba-tiba saja Ibumu langsung anfal.”
“Jadi gara-gara Bram lagi kali ini menyebabkan Ibu masuk rumah sakit!” Nastiti teriak keras.
“Lho kamu itu lagi ada masalah toh sama Bram?”
“Iya Yah, Nasti mau membatalkan pernikahan kami,” kata Nastiti terbata.
“Hah! Batal! Kamu jangan main-main toh Nduk! Udah sebagian rencana jalan kok semuanya kamu main batal-batalan! Owalahaaaaa pantesan Ibumu pingsan karena Bram mengadu pembatalan kamu, iya kan!” Pak Harjo yang tidak tahu masalah sebenarnya memarahi putri semata wayangnya.
“Nastiti punya alasan untuk membatalkan pernikahan ini. Bram sudah berselingkuh dan bahkan Nastiti tadi pagi memergoki dia tidur bersama seorang perempuan di kamarnya!” air mata Nastiti mulai meleleh kembali.
“Apa, yang benar Nas? Kamu nggak salah lihat? Jangan sembarangan tuduh. Kamu dan Bram tinggal enam bulan lagi menjadi suami istri, bahkan kalian sudah pacaran empat tahun. Mana mungkin Bram bisa melakukan perbuatan itu?” Pak Harjo masih tidak percaya dengan pengakuan Nastiti yang menjadikan alasan untuk membatalkan pernikahannya.
“Terus muka-muka kami juga mau ditaruh di mana Nduk? Kamu harus mikir lagi jangan-jangan terjebak emosi sesaat. Memang orang mau nikah pasti ada saja ujiannya. Kamu harus kuat dan lulus!” Pak Harjo berusaha netral.
“Iya Ayah, tapi bukan untuk selingkuh bahkan making love! Itu sih udah keterlaluan. Wanita mana yang bisa terima?” Nastiti menjelaskan detail.
“Kamu yakin itu Bram selingkuh?”
Nastiti terdiam sesaat, bagaimana mungkin yang dilihatnya tadi bukan Bram. Dia bukan anak kembar yang memungkinkan kembarannya yang bisa saja sedang tidur dengan wanita itu.
“Tapi itu adanya Ayah. Dika juga melihat bejatnya perbuatan kakaknya,” Nastiti berkata pendek sebagai pamungkas bahwa dia sudah malas membahas tentang Bram, terlebih pernikahan yang tadinya dalam bayangan akan berjalan mulus dan indah.
Rasanya sia-sia semua kebersamaan empat tahun bersama pria yang paling dicintai tapi sekarang paling dibenci. Benci dan cinta beda tipis bagai membalikkan telapak tangan dengan mudah semua berubah. Tidak butuh tahunan untuk membenci orang yang paling kita cintai ternyata. Nastiti membuktikannya. Hatinya penuh amarah dan dendam.
“Kalau memang Bram berkhianat, Ayah juga tidak rela kalau anak gadis kesayangan Ayah hanya jadi mainan. Dan apakah kamu yakin untuk membatalkannya, Nasti? Tidak kamu pikirkan lagi matang-matang kalau Bram itu cinta pertama kamu?”
“Entahlah Ayah. Nasti terlalu sakit hati saat melihat mereka tidur bersama dan tidak ada keinginan untuk bertanya lebih lanjut.”
Ayah memeluk Nastiti dan bisa merasakan anak gadisnya sangat terluka.
Saat bersamaan Bram datang dan keterdiaman membekukan mereka.
“Ayah…,” Bram meraih tangan kanan dan menciumnya.
Pak Harjo diam mencoba bersikap netral walau rasanya tangannya ingin memukul pemuda yang telah melukai hati putrinya. Tapi Pak Harjo coba untuk lebih bersabar. Apalagi duduk permasalahannya merekalah yang lebih merasakan.
Selanjutnya sisa waktu hanya penuh kediaman, Nastiti memilih duduk menjauh dari Bram yang tampak resah.
Other Stories
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...