5. Remembering
Malam ini Nastiti bertugas menjaga ibunya. Sedari tadi Nastiti tidak mau berkata apapun dengan Bram. Meskipun berbagai cara Bram lakukan, Nastiti tetap enggan untuk berbaikan.
Apa yang dilakukan Bram telah menghapus semua harapan terindah dalam hidupnya. Harapan menjadi mempelai wanita yang paling bahagia karena mendapatkan pria yang ganteng, mapan, dan pintar. Nyatanya semua gugur dengan perselingkuhan yang dilihat langsung di pagi yang naas.
Berkali Bram mendesis gemas dengan kekasaran Nastiti menolaknya. Makan siang yang sengaja di take away sama sekali tidak disentuhnya, malah Nastiti memilih meninggalkan Bram dan ayahnya pergi ke kantin.
Sepanjang menunggu ibu, Nastiti asyik dengan laptopnya dan tidak memedulikan Bram yang mulai salah tingkah dan resah. Ayah juga tidak mau terlalu ikut campur. Ayah sesekali meninggalkan mereka berdua, memberi ruang dan waktu untuk putrinya berbicara apapun pada Bram.
Nyatanya Nastiti ada dan tidak ada ayahnya, tetap diam membeku. Bram baru sadar wanita yang telah dekat dengannya empat tahun ini benar-benar berubah drastis dalam hitungan jam.
Nastiti tidak pernah marah dan sekaku sekarang. Memang dirinya telah melakukan kesalahan fatal dan sudah sepantasnya dihukum. Nyatanya rasa ego kelakiannya tidak terima diperlakukan dengan didiamkan seolah-olah dirinya tidak ada. Bahkan Nastiti benar-benar menganggapnya tidak ada kehadiran dirinya menengok Ibu Ratna.
Kekesalnya bertambah saat Nastiti menatap dokter muda yang tidak kalah ganteng dan tinggi dengan dirinya. Ternyata mereka saling kenal, sebelumnya Nastiti tidak pernah terlalu suka menyapa cowok meskipun sudah kenal baik. Gadisnya yang dikenal sangat cuek dengan cowok sekalipun sudah kenal baik, jarang Nastiti terlihat heboh dan seru. Selalu kalem dan biasa saja.
Bram merasa lelaki yang dipanggil dia dengan nama Icang merasa membuatnya terancam. Feeling kelakiannya berjalan.
Entah kenapa tadi dia begitu histeris dengan seruan “Icang”, sebuah nama yang sama sekali Bram tidak kenal selama empat tahun menjadi pacarnya. Tapi siang tadi Nastiti seperti surprise, indra sensitive-nya bergetar, sepertinya Nastiti punya cerita dengan dokter muda kalem yang tampan. Kenapa mereka juga harus bertemu di saat hubungan dirinya dengan Nastiti di ujung tanduk.
Sungguh ironis, Bram tidak pernah menyangka dia harus kalah dalam pertaruhan pesta bujang. Dengan atau tanpa kecurangan yang bisa saja sengaja menjebaknya, Bram sekarang dalam kondisi yang kalah.
Bukan masalah uang yang harus dikorbankan untuk membayar pesta yang menghabiskan jutaan. Tetapi perkawinan dirinya yang telah sangat direstui mama dan papanya pun terancam batal.
Belum lagi Saron beberapa kali meneleponnya, ternyata sengaja Saron menyimpan nomornya di hp-nya. Pasti dilakukan semalam saat dirinya benar-benar tak sadarkan diri.
Mengingat apa yang benar-benar dilakukan semalam sebenarnya Bram juga antara ingat dan tidak. Tapi doktrin pagi Saron yang mengumbar betapa romantisnya dia membuat Bram merasa bersalah dan terpojok.
Apa yang harus dia bilang pada mama dan papa atas pembatalan yang dilakukan Nastiti? Sementara Dika adiknya pun jelas-jelas melihat dia tengah tidur dengan Saron.
Rasanya Bram tidak juga sanggup kehilangan Nastiti. Gadis unik, keras kepala yang dianggap sangat berbeda dengan gadis-gadis yang sebelumnya hanya singgah sejenak.
Mengenal Nastiti dan melewati masa pendekatan dengannya Bram menemukan sesuatu yang istimewa. Gadis ini sangat unik di balik wajahnya yang lembut, ada kemandirian, kekerasan, kemauan, kelembutan dan kebaikan hati.
Nastiti tidak pernah tega membiarkan pengemis tanpa memberikan apa yang dia punya. Nastiti selalu bersikap baik terhadap orang kecil, selalu ramah terhadap pegawai rendahan sekalipun di kantor, tidak materialistis seperti cewek-cewek yang mengincar kekayaannya, taat beragama dan terpenting mamanya sangat menyukainya karena dia gadis cerdas dengan lulusan tercepat dan cumlaude.
Ada sedikit kemanjaan karena dia anak tunggal yang kerap membuat Bram rindukan dan merasa sangat dibutuhkan bila kemanjaannya sedang kambuh. Tapi Bram suka dan tidak keberatan karena merasa menjadi satu-satunya lelaki yang bisa membuatnya nyaman.
“Aghhhhh, sial!” Bram membanting foto yang tengah dipegangnya. Foto mereka berdua di taman saling berhadapan. Wajah penuh cinta itu telah berubah membeku dan Bram tidak pernah menyangka sama sekali dia sangat tersakiti juga dengan sikap Nastiti yang beku.
***
Hari yang melelahkan, melihat ibu terlelap Nastiti merasa lebih tenang. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00, rasa kantuk juga merayapi dan Nastiti yang sedang membaca novel tanpa sadar akhirnya terlelap di kursi dekat ibunya terlelap juga.
Tidak sadar ketika pintu terbuka dan ternyata dr. Faisal melakukan visite. Sosok yang tengah terlelap dengan kaos putih bercorak Hello Kitty agak gombrang dan celana kain selutut tampak terlelap kelalahan.
“Nastiti… Nastiti… sudah tujuh tahun aku tidak melihatmu, nyatanya kamu semakin cantik dan jujur jantungku masih saja berdetak kencang melihatmu siang tadi. Aku tidak percaya kita akan ketemu lagi. Jujur aku bahagia tetapi juga ngeri bila aku harus jatuh cinta lagi, masih ingat kegalakan kamu dan kekasaran kamu di waktu lalu. Bodohnya aku jatuh cinta lagi pada gadis terkejam sekaligus cinta pertamaku. Aku tidak siap terluka lagi karena luka yang lalu pun ternyata mengelupas lagi saat aku bertemu denganmu kembali.”
Dr. Faisal menatap lembut gadis putih yang tergolek kelelahan dengan kaki ditekuk. Tangannya menarik selimut yang masih terlipat rapi dan menutupkannya pada tubuh Nastiti.
Sejenak tatapannya beradu dengan Ibu Ratna yang tersenyum ramah. Sepertinya Ibu Ratna masih mengingat dirinya walau mungkin lupa namanya.
Dr. Faisal tidak ingin membangunkan gadis yang pernah sangat dicintainya. Gadis yang selalu membuat hatinya berdebar tidak karuan dan membuat tubuhnya panas dingin. Sekaligus menorehkan luka karena penolakannya yang sangat keras.
Ya, masa itu Nastiti masih ABG dan saat dia mendekati dengan agresif dirinya tahu kalau Nastiti ketakutan dan berubah sangat-sangat membencinya. Saking benci atau ketakutan bila harus berpapasan dengan dirinya, Nastiti akan memutar dan lari tunggang langgang, apalagi kalau tahu dirinya mengejarnya.
Sepertinya akan banyak menguras ingatannya kembali karena bertemu dengan gadis kecil cinta monyetnya yang sekaligus kegagalan tersukses hatinya patah hati berkeping-keping karena penolakan yang sangat keras.
Jujur! Saat itu semakin Nastiti keras menolaknya, jiwa kelakian untuk menaklukkannya semakin besar, nyatanya cinta memang tidak pernah bisa dipaksa datangnya.
Cinta hadir penuh kelembutan dan Faisal menyadari setelah benar-benar Nastiti mengusirnya dari rumah dengan sumpah serapahnya. Walau begitu Faisal tidak pernah bisa membencinya, yang terselip adalah permakluman atas Nastiti ABG yang belum mau mengenal lawan jenis. Saat itu lawan jenis hanya mengganggu kebahagiaan masa remajanya yang belum memikirkan pacar-pacaran.
Tapi saat itu dirinya adalah anak kelas dua SMU yang begitu bergairah dan merasakan sangat jatuh cinta pada adik kelas sekaligus teman dalam Perguruan Tinggi Persilatan. Gadis lembut yang tomboi yang mengikuti bela diri dan tampak sangat menawan dengan baju pendekarnya. Sungguh sangat memesona di waktu lalu dan sekarang pun masih sama.
“Hem hem …” Ibu Ratna berdehem.
“Ibu… apa kabar?” dr. Faisal Lubis menyapa lembut, takut membangunkan Nastiti yang lebih terlelap dengan selimut yang menyelubungi.
“Hmmm Nak… Nak… aduh Ibu hanya ingat dulu Nasti suka memarahi kamu,” Ibu Ratna tersenyum kecut. Pasti mengingat kegalakan anak gadisnya, sampai-sampai gara-gara kekasaran Nastiti terhadap Faisal mereka jadi ribut berdebat akan adat sopan santun.
“Saya Icang, Ibu...” dr. Faisal menyebut nama panggil yang biasa disebut waktu lalu.
“Ah iyaaa, Nak Icang. Ibu mulai ingat.”
“Ibu, Icang periksa dulu ya,” tetap dengan suara lembut, entah kenapa dirinya tidak siap kalau tiba-tiba Nastiti terbangun dan mereka harus berhadapan.
Jujur dirinya tidak siap menerima kekasaran lagi atau apapun yang membuat dia berlari menjauh dari gadis yang nampaknya akan tergolek lelap sampai pagi.
“Nah, Ibu istirahat ya… Ibu yang sehat, jangan mikir berat-berat. Apalagi mikir Nasti yang… hmmm masih keras kepalakah dia?” dr. Icang tersenyum simpul saat mengatakan Nastiti dengan keras kepala.
“Iya Nak, Nastiti masih saja keras kepala… ah ini juga Ibu masuk ke rumah sakit gara-gara dia.”
Ada banyak pertanyaan yang ingin dr. Icang tanyakan, tapi jelas dia harus menahan diri. Hatinya penuh letupan-letupan untuk ingin tahu ada apa sebenarnya dengan gadis cinta pertamanya. Sampai sekarang pun Nastiti Prameswari tidak tergeser dari almari rahasia hatinya terdalamnya, walau ada Luna.
“Ibu jangan terlalu memikirkan Nastiti ya, dia bukan anak ABG lagi! Dia tahu yang terbaik. Saya balik ke ruang jaga, kalau ada keluhan apa-apa ibu pencet bel ini saja ya. Ada perawat yang selalu standby,” dr. Faisal menutupi Ibu Ratna dengan selimut dengan rasa sayang dan mengelus dahinya sekilas.
Jujur separah apapun hubungan dia dengan Nastiti waktu lalu, tapi Faisal selalu sayang dan menaruh hormat terhadap Ibu Ratna yang diam-diam selalu membelanya di saat Nastiti bersikap kasar akibat kebencian terhadapnya yang datang tidak jelas di waktu lalu.
Icang tahu Ibu Ratna terpaksa berbohong agar dirinya tidak terluka gara-gara Nastiti sembunyi di kamar dan tidak mau menemui saat dirinya berkunjung. Dengan mengatakan Nastiti sedang les padahal jelas-jelas Icang tahu kalau sebenarnya Nastiti ada.
***
Ada rasa hangat tiba-tiba menyelubungi, tapi rasa sadarnya cukup besar. Nastiti tahu ada seseorang yang ada di dekatnya dan semakin sadar kalau pria yang di dekatnya adalah pria yang sangat dibencinya waktu lalu.
Jantungnya berdegup kencang, selanjutnya Nastiti memutuskan untuk tetap memejamkan mata pura-pura tidur lelap. Dan telinganya tetap dipasang tajam.
Setiap perkataan ibu memaksa dia memutar perilaku Nastiti yang dianggap sangat kasar dan tidak sopan. Jujur terbersit ketakutan jangan-jangan memang ada karma, ya karma karena kekasaran dia menolak Icang di waktu lalu yang sangat kejam membuat dirinya mendapat karma dengan perselingkuhan yang dilakukan Bram saat jelang perkawinan.
Dulu waktu Nastiti sangat membenci Icang, ibunya selalu memperingatkan agar dia jangan bersikap kasar karena akan membuat dendam atau akan menjadi tulah di kemudian hari.
Sepertinya karma kekejaman dia terhadap Icang memang datang, pas saat Icang sudah menjadi seorang yang berhasil dan penampilannya sangat berbeda dengan Icang ABG waktu lalu yang sangat menyebalkan.
Hatinya mengakui sesuatu magnet yang menarik dari pria ini. Bukan karena dirinya sekarang tengah bertengkar hebat dengan Bram terus membuat Icang menjadi pelarian. Bukan sama sekali, pesona Icang terpancar begitu saja dan menawan hatinya saat pertemuan tadi.
Bagai slide waktu lalu masa SMP, saat itu Nastiti sedang menggemari dunia persilatan. Bayangan tokoh-tokoh pesilatan waktu itu Mantili, Laksmini, Brama Kumbara membuat dirinya menyukai ilmu pencak silat.
Di perguruan Pencak Silat Merpati Putih dirinya mengenal Faisal yang ternyata anak baru pindahan dari Medan.
Saat itu masih kelas 2 SMP untuk mengenal cinta-cintaan dan pacar-pacaran rasanya sangat tabu buat Nastiti. Apalagi ibunya selalu mengatakan jangan berpikir tentang cowok, semua dianggap teman saja.
Ternyata Faisal menyukai Nastiti sejak pertama kali melihat Nastiti seleksi untuk masuk ke Perguruan Pencak Silat Merpati Putih.
Keagresifan Faisal mendekatinya membuat Nastiti malah membencinya, bahkan sangat-sangat mengganggu.
Setiap Rabu dan Sabtu sore saatnya latihan dia selalu menghadang dirinya yang bersepeda sampai ke padepokan. Lalu menjejeri dan menyapa dengan mesra, “Nasti apa kabar? Nasti kamu cantik sekali? Nasti kamu suka lagu apa? Nasti kamu suka puisi atau tidak? Nasti boleh aku main ke rumahmu?” dan banyak sekali pertanyaan yang membuat Nasti semakin il feel dengan cowok yang mengejar-ngejarnya.
Tidak itu saja, Icang berani mengirim surat dan isinya puisi-puisi cinta. Jujur hati Nastiti pun berdegup saat membaca puisi-puisi romantisnya. Tapi saat itu rasanya dia merasa bukan gadis remaja yang menikmati kebahagiaan dengan lawan jenis cukup dengan persahabatan, dia merasa menjadi wanita terlalu dewasa yang belum pada waktunya. Dan rasa itu menghadirkan rasa benci yang amat sangat pada Faisal.
Nastiti ingat kenapa Faisal yang biasa dipanggil teman-temannya berubah menjadi Icang, ini gara-gara saat Faisal kecelakaan teman-teman seperguruan tinggi ramai-ramai menegoknya.
Sebenarnya Nastiti males, tapi rasa solidaritas juga teman-teman yang lain memohon karena demi kesembuhan Faisal dan orang yang paling ditunggu adalah dirinya, maka mau tidak mau Nastiti ikutan berkunjung ke rumahnya.
Ternyata Faisal di rumah dipanggil dengan Icang, awalnya anak-anak tertawa tapi jadi suka memanggilnya dengan Icang-Icang, sampai Nastiti pun jadi ikutan memanggilnya Icang. Terlebih Faisal juga lebih kerap memanggil dirinya dengan sebutan Icang, kata omaknya memang kata ’Icang’ disebut pertama kali oleh Faisal sendiri waktu kecil. Jadilah dipanggil keseharian dengan Icang.
Kelakuan Icang dalam mengejar Nastiti tidak hanya mencegat saat dia harus latihan pencak silat, tapi dengan motornya setiap pagi mengajak dirinya bareng berboncengan ke sekolah yang memang satu arah.
Tidak sekalipun Nastiti mau memenuhi keinginan Icang, sebaliknya yang ada bentakan, “Ngapain sih jemput-jemput aku ? Minggir aku mau ngebut!”
Nastiti dengan sepeda merahnya mengebut. Menyebalkan Icang ikutan mengebut malah terus saja di sampingnya. Entah udah kaya apa warna wajahnya, yang jelas memanas dan ingin menangis, sadar kalau cowok yang dibencinya selalu mengejarnya. Sungguh itu perasaan campur aduk.
Nastiti tidak mau diomongin kalau dirinya kecil-kecil sudah pacaran, walau debaran hati selalu ada saat dia mencoba menatap wajah Icang yang kata teman-teman ceweknya ganteng, cool. Tapi di mata Nastiti sangat menyebalkan.
Herannya Icang tidak juga kapok, bahkan seakan meledek sampai batas mana penolakan Nastiti akan dilakukan.
Setiap hadiah dari bunga, cokelat valentine, novel, buku-buku lain, hiasan dinding kamar, dan boneka selalu berakhir dengan pengembalian lagi.
Semakin Nastiti menolak, sebenarnya Icang semakin salut karena Nastiti sama sekali tidak matre, tapi hatinya sakit.
Saat ulang tahun Nastiti, Icang sengaja malam-malam datang dengan rapi dan wangi. Ternyata dengan mata kepala sendiri melihat Nastiti kabur ke kamar dan Ibu Ratna akhirnya yang menerima kadonya sambil mengatakan Nastiti tidak ada.
Icang tahu Nastiti ada, tapi Ibu Ratna yang baik hati tidak mau menjelekkan kelakuan putrinya yang membencinya.
Besok malamnya Icang datang lagi untuk memastikan apakah dia suka dengan kado piring berpuisi romantis? yang ada malah Nastiti mengusirnya.
Almarhum eyang putri Nastiti sampai turun tangan saat Icang pulang dengan gontai menstarter motornya.
Almarhum eyang putri yang marah dengan kelakuan cucunya memarahi Nastiti terang-terangan. “Owalahhh Nduk, kalau kamu ngggak suka sama cowok jangan kasar-kasar! Kualat. Eyang lihat Icang itu tulus berniat baik ngasih kamu kado, datang sopan, nggak sembrono pakai baju kaya temanmu yang lain datang pakai jeans sobek-sobek dan anaknya juga ganteng. Nduk, Nduk jangan jahat-jahat sama orang! Kalau tidak suka jangan nemen-nemen kasihan. Kalau memang nggak suka bicarain baik-baik, pasti dia juga tahu.”
“Aduuh Eyang, wong yang kasar aja dia tahu Nastiti nggak suka masih saja ngotot apalagi kalau Nastiti pakai cara baik-baik. Yang ada dia ngelunjak!” Nastiti bersikeras untuk bertindak ekstrim terhadap Icang.
Masih untung Icang tidak perlu tahu kalau kado pemberiannya sama sekali tidak dipajang melainkan Nastiti masukkan laci meja belajar bergabung dengan kertas-kertas yang tidak dipakai.
Pas ibunya butuh barang buat kado sahabatnya, membuka laci belajar Nastiti ada barang yang sepertinya tidak disukai padahal puisi dalam piring berhias bunga kering itu sangat manis diminta dan dibungkus ulang lalu diberikan pada sahabat ibunya yang sangat senang menerima pemberian dari sahabat terbaik.
Saat itu Nastiti santai-santai saja, tapi entah kenapa sore tadi bertemu kembali dengan Icang rasa bersalah telah menyia-nyiakan kado dari Icang membuat dirinya menyesal.
Jujur piring kaca berisi puisi dan ornament bunga kering tujuh tahun lalu di usianya yang ke empat belas tahun sangat manis, karena rasa tidak sukanya pada Icang dia tega untuk diberikan pada sahabat ibunya.
Padahal selama ini Nastiti paling sayang dan merawat semua barang pemberian dari siapapun sebagai wujud rasa terima kasih dan penghargaan atas segala perhatian. Memang rasa sebal dan benci mengalahkan hati baiknya untuk menjaga hati orang lain. Seumur-umur kelakuan terjahatnya adalah pada Icang yang sekarang telah menjadi seorang dokter yang memesona penampilannya.
Nastiti jadi ngeri dengan pikiran yang hadir tiba-tiba. Sekarang Faisal Lubis yang berasal dari Medan hadir dengan bersahaja, kalem, dan ganteng. Dulu Nastiti takut dengan keagresifan, kekerasannnya mengejar dirinya juga tampak selalu memaksakan apa yang diinginkan.
Nastiti jadi berdebar-debar dan panas dingin, barusan dia yakin sekali Icang menatap dirinya dengan bebas dan akhirnya menyelimutinya. Apa yang ada di benak Icang? Balas dendamkah? Rasa benci? Rasa kesal? Rasa untuk menyombongkan diri atau aaahhh rasa senang karena karma kegagalan dia menikah disebabkan atas perilakunya yang sangat menyakitkan pada dirinya?
Puncak ingatannya adalah saat Icang masih tanpa lelah mengejarnya, Nastiti sudah di kelas tiga SMP dan Icang sedang mempersiapkan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan bantuan Mas Andri untuk berpura-pura menjadi pacarnya.
Mas Andri yang memang ada hati sangat suka menjadi pacar pura-pura Nastiti, setiap Icang datang maka Nastiti sengaja-sengaja ngabur dengan Mas Andri yang seumuran dengan Icang berboncengan memakai motor balapnya.
Awalnya Icang tidak percaya kalau diberi tahu Nastiti dan Andri pacaran, nyatanya sampai akhirnya Nastiti sangat keterlaluan bersandiwara, berbuat semesra mungkin terang-terangan bahkan membalas surat-surat Icang dengan jelas kalau dirinya sudah jadian dengan Mas Andri. Nastiti ingin lepas dari gangguan-gangguan Icang.
Usaha Nastiti kabur dari Icang berhasil dan setelah Icang benar-benar kabur dan tidak menampakkan dirinya, baru Nastiti lega dengan mengakhiri sandiwaranya bersama Mas Andri.
Rasa kehilangan ada, tetapi rasa lega lebih menenangkan. Dengar-dengar kalau Icang pulang ke Medan karena diterima di universitas negeri, tapi entahlah jurusan apa. Nastiti juga tidak mau tahu.
Tidak disangka setelah tujuh tahun dari peristiwa betapa kejamnya dia menyiksa Icang, siang tadi harus kembali bertemu dan sialnya ada debaran tidak jelas menggetarkan hatinya.
Getaran itu tiba-tiba Nastiti ingat, saat tangan Icang memijat kakinya yang terkilir selepas pertandingan pencak silat tingkat provinsi.
Ada kenangan tersisa, yang tidak mungkin lenyap yang menghubungkan kalau Faisal memang pantas menjadi seorang dokter.
***
Di waktu lalu… Event Pertandingan Pencak Silat
“Pesilat Jakarta, Nastiti Prameswari Perguruan Tinggi Merpati Putih bertarung dengan Pesilat Surabaya, Dartika Mahadewi Perguruan Tinggi Tapak Suci,” seorang official area tarung memperkenalkan dua petarung.
Nastiti saat itu terpilih menjadi atlit dan babak penyisihan berhasil menyisihkan lawan dari tingkat kabupaten. Nastiti tahu betapa wajah Icang sangat tegang saat dia satu per satu harus bertarung menyisihkan lawannya satu demi satu demi tingkat provinsi.
Ketelatenan Faisal mengikuti ke mana saja dia bertarung menjadi official yang mengurusi keperluannya, taktik bertarung, dan sebagainya membuat Nastiti menekan semampunya untuk sedikit berkompromi.
Tapi sifat lunaknya malah membuat Faisal semakin overprotect dan rasa yang timbul di hatinya kembali kebencian. Sesekali dalam suasana pertandingan Nastiti mengeluarkan kekesalannya.
Teman-teman satu tim mengusap-usap Faisal agar bersabar. Akibatnya fatal, dirinya yang bercampur rasa benci tidak konsentrasi saat ronde per ronde harus bertarung melawan pesilat Surabaya yang ternyata tangguh. Padahal secara postur tubuh, Nastiti yang tinggi dan jangkauan tendangan kakinya yang panjang sudah bisa dijadikan point kemenangan.
Dartika menghindari tendangan yang dilakukan Nastiti dengan lincah dan tanpa diduga Dartika melakukan tendangan sapuan yang cepat dan kuat yang membuat pertahanan kuda-kuda Nastiti patah.
Nastiti jatuh terjembap, hidungnya yang mancung terbentur lantai dan berdarah. Point jatuhan diperoleh buat Dartika. Point jatuhan yang berbobot tinggi melejitkan nilai kemenangan buat Dartika, membuat Nastiti down dan semakin tidak berkonsentrasi.
Pada akhirnya ronde terakhir Nastiti harus mengakui kekalahan apalagi karena ketololannya sendiri menerjang tubuh Dartika menyebabkan hidungnya berdarah kembali.
Rasa panas dan kesal juga malu membuat Nastiti melupakan sakitnya hidung yang mengucurkan darah segar kalau Icang tidak langsung memapahnya. Sesaat Nastiti pasrah dalam dekapannya membawanya ke kamar karantina.
Ingin berontak tapi yang ada malah air matanya meleleh, Nastiti pesilat tangguh Merpati Putih yang menjadi kesayangan guru besarnya menangis dengan kekalahan karena tidak konsentrasi dan kesal terhadap Icang.
Dan sekarang mau marah sudah terkuras tenaganya dan termakan malu. Icang mengangkat wajah Nastiti untuk menghentikan pendarahan, lalu pelan mengompres hidungnya dengan es batu. Air matanya meleleh saking panas dan kesal dalam Kejuaraan Nasional Pencak Silat Kelas C yang sangat diharapkan bisa dimenangkan.
Terbersit rasa kecewa Pak Senar yang menjadi guru besarnya. Nastiti benar-benar merasa terpuruk menanggung kekecewaan.
“Sudah nggak usah menangis, namanya juga pertandingan harus sportif…,” Icang mengusap pelan hidungnya dan Nastiti memejamkan mata mencoba menahan air mata yang terus menetes.
“Aku kesal kenapa aku harus kalah dengan lawan main yang sama sekali tidak aku perhitungkan secara fisik.”
“Iya tapi dia memang tangguh, walau badannya dan kakinya tidak setinggi kamu. Harus diakui pertahanan tubuhnya sangat kuat.”
Nastiti mencoba tenang, sungguh hatinya menjadi bergetar saat sentuhan-sentuhan Icang menjalari wajahnya dan memijat pelan kakinya yang bengkak akibat tendangan sapu yang mengenai tulang kering.
“Aduuuh Icanggg… pelan-pelan!”
“Iya Sayang, ini juga sudah pelan-pelan.”
“Hiks Sayang?!?\" Nastiti mengumpat dalam hati. Tapi tak urung wajahnya memanas dan tidak ingin menyulutkan kemarahan.
Sampai akhirnya Nastiti berusaha melupakan kekalahan pertandingan Kejurnas Pencak Silat dan kembali membenci pada Icang dengan berpura-pura jadian dengan Mas Andri. Hingga akhirnya Icang benar-benar putus asa dan meninggalkannya.
***
Setelah dr. Faisal meninggalkan Nastiti dan ibunya, Nastiti semakin sulit untuk melelapkan tubuhnya. Kenangan lama akan kekasaran dan kesombongan dia di masa lalu menari-nari menertawakan.
Dan sejujurnya Nastiti menyimpan sebungkus hati yang tertutup rapi bagai kado untuk seseorang yang telah dia lukai karena masa remajanya yang kolokan. Sejujurnya kalau Icang tidak agresif dan memaksakan untuk dekat personal saat usianya masih ababil, pasti akan lebih indah cerita antara mereka.
Mungkin saja malah Nastiti bisa jatuh cinta karena kelembutan dan persahabatan yang ditawarkan. Nastiti berandai-andai bila tujuh tahun lalu Icang sedewasa dan sekalem yang sekarang dia temui, pastinya cerita remaja mereka adalah sebuah persahabatan yang manis.
Nastiti menyimpan sebuah permohonan maaf tanpa sengaja tersimpan dan nyatanya memang dia diberi kesempatan dipertemukan dalam situasi tak terduga.
Nastiti bisa tertidur karena rasa pasrah untuk meminta maaf besok-besok atas sikapnya di masa ababil. Kelakuannya yang tidak sopan dan melukai hatinya.
Other Stories
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...