Pra Wedding Escape

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

6. Peace

“Astaga… hah jam tujuh! Aduh mati aku! Ada meeting…” Nastiti panik. Ingat kalau dirinya harus bangun pagi dan berangkat ke kantor di bilangan Sudirman pukul setengah enam paling telat.
Hari senin, tol Jagorawi akan sangat macat dan tol dalam kota sudah sangat kejam dengan kemacetan yang tidak pernah bisa diprediksi.
“Aduhh mampus deh jam setengah tujuh, presentasi Pak Chris... aduh!” Nastiti kelabakan ternyata dia bangun kesiangan, seharusnya Senin ini dia bangun paling telat jam lima dan 5.20 sudah harus jalan di belakang setir.
Kemacetan tol Jagorawi dan tol dalam kota menuju kantornya sudah tidak bisa diprediksi kemacetannya.
Sebagai Personal Assistant seorang direktur dan senior manager, Nastiti tidak bisa bersantai-santai dengan waktu kerjanya. Karena selain mengurusi keperluan yang bersifat pribadi, dia juga dapat tanggung jawab beberapa report-report analisis termasuk materi-materi presentasi.
\"Aduuh tapi kepalaku, aduh ...\" Nastiti limbung mungkin disebabkan semalaman dia tidak bisa nyenyak tidur.
Semalam memorinya memutar kembali kenangan antara dia dan Icang. Setelah dr. Faisal meninggalkan acara visite ibunya dan pura-pura tertidur secara otomatis rasa bersalah yang terpendam dan belum sempat meminta maaf akan kelakuan masa lalu seakan memojokkan dirinya.
Jujur dalam hati kecil terdalam ada rasa mengganjal dan bersalah. Nastiti ingin bisa suatu saat ada kesempatan meminta maaf.
Dan bukan doa yang sengaja dipanjatkan, tapi takdir seperti memaksa dirinya bertemu untuk saatnya dia meminta maaf. Saatnya bungkusan hati yang disimpan sekian lama dibuka kalau Tuhan memang berkehendak dirinya bertemu kembali dengan lelaki yang sangat mencintai dirinya waktu lalu.
Tiba-tiba nyeri kepala Nastiti menyerang lagi, sesaat dirinya limbung dan sudah hampir jatuh tapi tiba-tiba ada tangan kokoh menyangganya dan sepersekian detik wangi tubuhnya membuat Nastiti nyaman.
Tersadar, \"Icang! Aduh sorry… sorry aku pusing banget.\"
Nastiti awalnya berusaha menepis pegangan itu, tapi rasa nyeri kepalanya malah membuat dia lemas ambruk dalam pelukan dr. Faisal.
\"Ssst… tenang, duduk dulu jangan langsung berdiri,\" dr. Faisal setengah berbisik.
Nastiti menurut saja apa yang dibilang dr. Faisal yang membimbingnya ke sofa tempat dirinya tidur semalaman.
\"Aduh tapi aku harus siapin presentasi, aduh mana hp-ku...,\" tetap saja Nastiti panik di hari Senin.
\"Iya tenang sabar, bos kamu juga akan maklum kalo kamu sakit,\" dr. Faisal menenangkan Nastiti yang tampak panik.
\"Aagh… I hate Monday!\" gerutu Nastiti.
\"Ini hp-nya, tenang… telepon bos kamu dan bilang kalau kamu ada di rumah sakit karena ibu sakit dan kamu sendiri juga kurang sehat. Kalem... tenang ya... nih ...\" dr. Faisal mengulurkan hp milik Nastiti.
Dalam hati dr. Faisal berkata, \"Nasti-Nasti… tidak banyak berubah, bahkan semakin menawan saja. Gilaaa aku bisa gila ternyata benar-benar mencintainya meski sudah ditolak mentah-mentah.\"
\"Selamat Pagi Pak Chris, maaf pak saya izin tidak masuk kantor, Ibu saya masuk rumah sakit dan saya sendiri kurang sehat,\" Nastiti bicara lebih tenang. Jujur selama ini dia selalu disiplin dan berusaha untuk tidak absen dalam pekerjaan.
\"...\"
\"Semua materi presentasi sudah saya siapin hari Jumat sore dan file-nya ada di Pak Andreas.”
\"...\"
“Ok, tidak ada masalah already checked by Mr Andreas. “
\"...\"
“Yess! Done too. Terima kasih Pak Chris.\"
Nastiti menghembuskan napas panjang, lega.
\"Hadooh… Alhamdulillah Pak Chris maklum.\"
Tiba-tiba Nastiti terdiam sesaat, tangan Icang menyentuh keningnya.
\"Badan kamu agak demam, istirahat saja dulu.\"
\"Iya Nasti… benar usul dr. Icang, kamu pulanglah. Ayah pagi ini ke rumah sakit gantiin jaga Ibu. Kamu ngaso dulu dan tenangin pikiran. Malam juga nanti Bulik Narti yang mau jagain. Besok kamu juga harus ngantor,” kata Bu Ratna.\"
Kalau kamu tidak keberatan aku hari ini off Nasti. Aku antar kamu ya,\" sebuah tawaran tak terduga dari pria berjas putih.
Nastiti mau menolaknya, tapi sepertinya ini adalah tawaran terbaik mengingat kepalanya yang berdenyut. Pulang kendaraan umum atau taksi membutuhkan ekstra tenaga, apalagi hari Senin taksi di daerah Cibubur pasti agak sulit.
Nastiti menatap ibunya mencoba mencari kepastian. Ternyata ibunya tersenyum mendukung.
“Sudah sana pulang sama dr. Icang, kalian memang nggak kangen untuk bertengkar atau reuni?\" Nasti tahu ibunya menggodanya, apalagi beliau tahu pasti kalau dulu dirinya sangat antipati dengan dr. Icang.
\"Iih ibu apaan sih? Kok bertengkar,\" Nastiti jadi tidak enak hati, kali ini perkataan ibu benar-benar memojokkannya.
Dr. Icang tersenyum-senyum jahil menatap Nastiti yang merona merah jambu pipinya.
\"Ok Ibu saya antar Nastiti dulu, ini saya teleponin Ayah untuk jalan kemari biar Ibu cepat ditemanin ayah. Nggak sendirian,\" kata Icang lanjut.
\"Makasih ya Nak Icang. Oya sekalian titip Nastiti, lagi galau tuh gara-gara Bram selingkuh jadi harap maklum kalau nanti kena omelan atau apalah.\"
“Ihhh Ibu jangan buka rahasia dong!” Nasti mencium pipi ibunya.
\"Iya Bu, sama-sama. Saya akan antar Nasti sampai rumah kok, meski nanti tiba-tiba diomelin,\" dr. Icang tersenyum ramah dan mencium tangan Ibu Ratna berpamitan.
***
Diam sesaat, CD lama dari Jingga mengalun lembut. Sepertinya lagu pilihan Icang pas banget mengingatkan masa-masa lalu.
“Mungkin hanya jiwa yang tak terjaga jua dalam doa, hingga khilaf menyentuh terasa bergetar ku berlalu. Saat terasa waktu telah hilang kuterdiam oh saat gundah yang bertentangan ku bernyanyi. Cinta cita harapan dan kuterbawa dalam kisah lama. Amarah yang tak terucapkan jua tak terungkap, walau diri tlah terbelenggu hasrat yang bernyanyi.”
\"Nasti, lama ya kita nggak ketemu,\" Icang membuka percakapan setelah keluar dari pelataran parkir mobil rumah sakit.
Freed putih meluncur di jalanan Cibubur menuju Bukit Golf melewati tol Jagorawi.
\"Iyaa kurang lebih tujuh tahun sepertinya,\" jawab Nastiti pendek. Jujur hatinya menjadi resah. Pria yang ada di sampingnya berubah banyak dari tujuh tahun lalu.
Icang yang dulu kelihatan agresif, posessif dan sangat bernafsu memilikinya yang membuat dirinya malah takut dan sebal. Tapi pria ganteng di samping tetap bersahaja, terlihat tenang, kalem dan dewasa.
Malah sebaliknya Nastiti merasa dirinya yang masih kekanak-kanakan. Padahal dirinya sudah lulus kuliah dan bekerja di perusahaan multinasional. Tapi entahlah kemajuan dirinya dalam sikap tidak sedewasa Icang.
***
\"Aih gimana hidung betet kamu? Sepertinya kamu tambah mancung?\" Icang tersenyum jahil kedua kalinya. membuat Nasti benar-benar menjadi kepiting rebus.
\"Sialan, masih ingat aja lu!\" Nastiti menonjok bahu kiri Icang.
“Aduh gila pukulan mantan pesilat masih sakit juga!” Icang pura-pura mengaduh kesakitan.
Nastiti jadi ingat kembali kejadian yang tidak mungkin hilang dalam ingatannya. Selalu kejadian ini yang terakhir berulang dan terparah. Waktu lalu saat dirinya menjadi team Kejurnas (Kejuaraan Nasional) Pencak Silat Tingkat Provinsi.
Nastiti jatuh mencium lantai karena tendangan sapuan Dartika, selain nyeri dan berdarah, hidungnya juga bengkak.
Sebenarnya secara fisik Nastiti harusnya bisa mengalahkan Dartika, posturnya yang tinggi dan kakinya yang jenjang adalah andalan untuk tendangan yang membuat lawan-lawannya rubuh dari tingkat penyisihan kabupaten dan karisidenan.
Tapi entahlah kenapa saat ketemu Dartika dari perguruan Tapak Suci dirinya seakan kehilangan nyali. Dartika lebih pendek tapi tubuhnya kekar dan dia juga lincah menghindari tendangan-tendangan yang dilancarkan Nastiti.
Sepertinya Dartika sudah mempelajari kekuatan lawan dan dirinya sementara tidak tahu sama sekali siapa lawan di depannya.
Nastiti sempat teringat saat Icang membisikkan tentang lawannya, tapi yang ada rasa kesal karena dianggapnya Icang terlalu sok perhatian dan over protective terhadap dirinya.
Hingga Nastiti abaikan saja. Dan kenyataan dirinya sekarang benar-benar grogi. Murid kesayangan Bapak Senar, guru besar Merpati Putih harus terjatuh dan mengakui kekalahan di ronde ke tiga. Semua wasit menyatakan kekalahannya.
Dartika mempunyai kekuatan kaki untuk membuat lawannya terjatuh dan memperoleh point jatuhan adalah keahliannya. Icang telah memperingatkan untuk menghindari sapuan kakinya dengan menjaga kuda-kudanya lebih kokoh. Harus bisa menghindar saat dia mulai mendekat.
Nyatanya kegrogian membuat dirinya benar-benar tidak fokus, setelah sekali jatuhan dilakukan oleh Dartika dan membuat hidungnya membentur lantai terasa panas dan mengucur darah.
Tapi ditawari untuk menyerah Nastiti tidak mau. Nastiti mencoba fokus di ronde kedua nyatanya tetap tidak bisa maksimal.
Lebih parahnya rasa gemuruh di hatinya akan kekalahan dan ketakutan yang dianggap akan mengecewakan Pak Senar yang sangat menyayanginya membuat Nasti geram.
Kemarahan, kekesalan, kegeraman sebuah kesalahan dalam bertanding bela diri. Kedua kalinya tendangan sapuan tak terduga sangat cepat dan kuat membuat dirinya kedua kali terjatuh.
Dua point jatuhan adalah nilai telak yang membuat dirinya semakin jauh tertinggal dalam peraihan angka.
Ronde ketiga selesai dan pertandingan yang membuat hatinya kecewa dan kacau balau menjadi satu. Ingin rasanya menangis dengan kekalahan telak itu. Juga rasa malu dan kesal pada Icang yang telah memperingati akan lawannya, tapi diabaikan.
Nyatanya Icang menyambut dirinya yang hancur dan sebagai official dia langsung memapahnya. Kala itu tidak ada pilihan sebenci-benci dirinya tidak bisa mengelak.
“Aduhh! Hati-hati dong!” Nasti mengaduh keras saat Icang mengompres hidungnya yang bengkak. Kesal hatinya membuat kepalanya berdenyut.
Yang terlupakan dari ingatan semalam. Teman-teman tim Kejurnas meledek Nastiti yang berubah pemarah dengan sebutan Si Hidung Betet. Itu kejadian yang menyesakkan dada, sudah kalah bertarung, masih mendapat julukan hidung betet dan nyatanya Icang ikut-ikutan lagi manggil hidung betet.
Nastiti sadar karena Icang sudah kesal dengan kelakuannya, sekarang Nastiti sadar telah merendahkan harga diri Icang.
Nastiti jelas-jelas menolaknya. Membencinya tanpa berusaha menutupinya. Karena pelampiasan kekesalan hatinya yang ditolak kasar Nastiti, Icang ikut-ikutan meledeknya. Jadilah dia mendapat julukan Si Hidung Betet selepas Kejurnas.
Sebetulnya seiring waktu Nastiti bisa tersenyum ingat kekonyolan dia masa lalu. Sungguh dia malu sebenarnya dengan kesombongannya dan kekasaran yang berlebihan pada Icang.
Sudah diobati masih saja ngomel-ngomel dan bersikap perang terhadap Icang. Wajar juga kalau Icang akhirnya ikutan meledek memanggil julukan baru. Saat itu rasanya Nastiti ingin mencakar wajah Icang. Apalagi andil terbesar kegagalan dia melawan musuhnya juga rasa panas dan tidak bisa konsentrasi.

Other Stories
Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Download Titik & Koma