8. Trying To Recover
Bram terus menelepon tanpa henti.
\"Angkat Nasti, ampun aghhh!\" Bram membanting telepon genggamnya. Rio melihat Bram yang sudah tiga hari ini tampak kacau dan bingung.
\"Bram kamu harus sabar hadapi Nasti, cobalah ke rumahnya.\"
\"Aku sudah berkali-kali ke rumahnya juga ke rumah sakit tempat ibunya dirawat, tapi dia benar-benar menghindari aku!\" Bram tampak kusut.
\"Aku benar-benar terjebak! Aku gak terima selama ini aku setia dan aku sudah berubah hanya gara-gara wanita gak jelas itu aku harus membatalkan pernikahan yang ditunggu-tunggu ortu.\"
\"Bram bisa saja ini karma buat kamu kali! Dulu sebelum kenal Nastiti kamu juga suka meninggalkan cewek seenaknya kan? \" kata Rio.
\"Terus maksud kamu sekarang aku sedang membalas karmaku Yo!\" Bram mempertegas kesal.
\"Ah terserah kamu sih, percaya tidak percaya karma itu memang ada Man!\"
\"Gila kamu Yo! Bukannya kamu bantu aku yang terancam batal nikah malah kamu nyalahin aku dengan teori karma.\"
Walau memang benar yang dikatakan Rio tentang masa lalunya yang playboy, Bram tidak mau kalau ada karma yang menghampiri dirinya apalagi jelang pernikahan yang ditunggu.
\"Bukan begitu Bram, maaf aku tidak bermaksud mengingatkan masa lalumu. Saron memang naksir kamu dari bebearpa bulan lalu. Kamu tahu kan?\"
\"Terus apa maksudmu? Aku tidak pernah menanggapinya karena aku sudah berubah. SMS dan telepon-telepon Saron hanya aku anggap angin lalu. Aku tidak memberikan harapan apapun. Empat tahun bersama Nastiti dan aku tidak main perempuan lain!\"
“Iya, tapi Saron tipe cewek pengejar, semakin kamu cuek dia penasaran. Dan Saron nyatanya bisa membuat kamu menyerahkan keperjakaan kamu kan?\" Rio mempertegas tentang apa yang telah terjadi antara mereka.
\"Sialan loe!\"
“Sorry Man, Saron sudah menceritakan semua dan kita juga sudah mau bayar tips untuk apa yang telah dia kerjakan. Tapi Saron menolak tips dari kita. Dia bilang apa yang dia lakukan karena cinta. Kamu takluk Bram dengannya. Itulah kenyataannya dan kamu kalah bertaruh. Hanya aku yang tahu cerita ini langsung dari Saron sendiri,” Rio menjelaskan panjang lebar.
Bram terdiam. Sebenarnya dia tidak sepenuhnya sadar apa yang telah mereka lakukan. Bisa saja Saron berbohong, tapi untuk apa juga?
Tiba-tiba Naon datang dan wajahnya tanpa dosa senyum-senyum menggoda Bram. Naon tidak tahu gara-gara konspirasi dirinya dan Rio juga secara tidak langsung Saron membuat pernikahan Bram terancam batal.
\"Wah asyiknya yang bermalam Sabtu dengan sang primadona, sampe berapa ronde? Hahahha…\"
Bram semakin terpojok.
Rio menendang kaki Naon yang tidak tahu ada sesuatu yang fatal karena ulah mereka.
Bram meninggalkan dua sahabatnya yang hanya membuat dirinya semakin kesal dan terpojok. Apa yang harus dilakukan, berbagai rencana dan kemungkinan-kemungkinan membuat dirinya semakin kusut dan lelah.
***
Anomali Coffe
\"Naon, kalau tahu akibatnya akan begini aku menyesal kita menjebak Bram,\" ucap Rio.
\"Jadi Nastiti memergoki mereka sedang..., ah shit!\" Naon baru sadar ternyata sahabat mereka akan batal menikah.
\"Nah cewek mana yang bisa memaafkan kalau cowoknya tidur dengan wanita lain semalaman.”
\"Aduh kasihan mereka, aku jadi ngerasa berdosa nih.\"
\"Dan Saron juga melanggar perjanjian seharusnya dia tidak harus melayani Bram. Hanya menjebak saja!\"
\"Dia kan cewek hyper dan memang ngincer Bram. Apapun kesempatan pastilah dia mulai. Sial-sial… lagian ngapain pagi-pagi si Nastiti ke rumah Bram?\"
Rio tahu gimana pun Naon kenal baik Nastiti karena sebelumnya mereka sempat satu kantor sebelum pindah ke kantor sekarang.
\"Duh aku akan coba mendamaikan mereka Yo, tapi entahlah aku juga belum tahu bagaimana. Kita harus coba Yo gimana pun kita telah membuat hubungan mereka berantakan. Padahal pernikahan mereka semuanya sudah dipersiapkan.”
***
Bram menuju kamar VIP Melati 2D untuk menengok Ibu Ratna, ada novel-novel bacaan Nastiti tergeletak begitu saja dan Bu Ratna nampak terlelap.
Sepertinya Nastiti kebagian jaga malam, ada tas ranselnya dan baju kerja yang menyembul. Bram tahu Nastiti akan berangkat langsung dari rumah sakit ke kantor besok.
\"Hmm aku ada akal,\" Bram tersenyum simpul.
Bram menaruh bunga lily kesukaan Nastiti bertuliskan forgive me Honey dan cokelat devil cake ukuran 30 x 30 cm.
Sengaja Bram melewati kantin, tatapannya menangkap sosok Nastiti bercelana pendek tengah asyik makan dengan dokter yang waktu lalu saling bertatapan.
Rasa gemuruh menderu dalam dadanya, rasa panas dan cemburu apalagi melihat tangan dr. Faisal sesekali meminggirkan poni Nastiti yang memanjang menutupi matanya.
Tanpa sadar langkah Bram sudah sampai di meja mereka. Tanpa basa-basi Bram langsung menyapa Nastiti dan tangannya memeluk, mencium pipinya.
\"Apa-apaan sih?\" Nastiti meronta dan mendorong mundur Bram.
\"Jangan sentuh aku!\"
\"Kenapa? Karena dokter ini?\" Bram memandang tajam Nastiti yang bersembunyi di balik punggung dokter Icang.
\"Hai jangan kasar-kasar!\" Icang melindungi Nastiti di balik punggungnya, tangan kirinya menggenggam erat tangan Nastiti dan tangan kanannya mengepal tepat di wajah Bram yang tampak memanas.
\"Agghh, Nasti aku cuma minta kasih kesempatan menjelaskan semua. Tapi, tapi kamu sangat berubah!\" Bram bertahan sementara Nasti mulai menangis.
\"Pergi Bram! Aku belum bisa terima kamu tidur dengan wanita itu!\" hardik Nastiti.
Bram mengedarkan wajahnya sesaat, tampak beberapa orang memandangnya dan semua seolah menatap mengejek.
Bram memutuskan berlalu dan saat melewati pelataran parkir, Bram melakukan sesuatu terhadap mobil VW hijau milik Nastiti.
***
\"Icang, makasih ya ...\"
\"Nasti, sebenarnya ada apa antara kamu dan Bram? Setelah visite pasien aku ada waktu. Kalau kamu mau, berceritalah, siapa tahu aku bisa bantu memecahkan masalahmu atau setidaknya kamu tidak stres sendiri.”
\"Iya Icang aku akan cerita, kamu selesaikan kerjaan kamu dulu. Aku juga mau kirim email acara bosku ke beberapa rekanan. Aku tidak akan tidur Icang. Aku tunggu kamu ya.”
\"Hmm ok, aku keliling ke pasien dulu ya, jangan lupa Ibu bangunin untuk minum obat yang malam ya,\" Faisal ragu meninggalkan Nastiti, takut saja Bram yang kalap datang dan memaksa Nastiti untuk meneruskan hubungan mereka.
***
Jam menunjukkan pukul 23.00, Faisal datang dengan atasan kaos hitam bergambar wajah penyanyi favoritnya, Phil Collins dan terlihat segar. Bau wangi sesaat menyusup dan menimbulkan desiran halus.
\"Gimana. Ibu sudah minum obatnya?\" Faisal mengur Bu Ratna. Tanpa sengaja matanya tertuju pada bunga lily dan sekilas membaca pesan yang terikat dalam buket bunga lily untuk Nastiti dari Bram. Juga cokelat berhias mawar yang sangat manis masih utuh tergeletak, sepertinya Nastiti tidak mau menyimpannya.
\"Norak si Bram, dia pikir dengan bunga romantis dan cokelat aku akan memaafkan kesalahannya. Icang kasih ke mbak perawat saja, jangan-jangan cokelatnya ada guna-guna biar aku balik!\"
\"Nasti kamu yah selalu kontoversial,\" Icang berkomentar.
Nasti menutup matanya, ada sakit saat Icang tidak membelanya, malah mengatakan dirinya kontroversial.\"
\"Kalau kamu hanya akan menyalahkan aku lebih baik kamu pulang dan istirahat!\" Nastiti menatap tajam kejam.
Tatapan yang membuat hati setiap pria yang mencintai akan berdebar dan sakit luar biasa hatinya karena saat seperti itu Nastiti bisa sangat asing dan menjadi manusia yang berbeda.
\"Nasti, aku tidak bermaksud menyalahkan kamu dan Bram. Aku belum tahu apa yang tengah kalian alami. Untuk itu aku di sini. Aku, aku sayang sekali padamu, aku tidak mau kau terluka, berpura-pura tegar padahal hatimu sangat terluka. Nasti aku tahu kamu terluka dan bagaimana caramu untuk menyembunyikan dariku itu tidak akan berhasil,\" Faisal sabar berkata.
Ibu Ratna memilih untuk memejamkan mata. Ibu Ratna tahu ini hal terberat yang sedang dilewati putri tunggalnya, pengakuan Bram waktu lalu yang menyebabkan dirinya langsung anfal masuk rumah sakit sudah cukup meyakinkan kalau mereka tidak bisa bersatu.
Bukan hal yang mudah juga buat dirinya karena saudara-saudara sudah banyak yang tahu kalau akan ada pernikahan enam bulan ke depan. Semua sudah dipersiapkan dengan matang dan tiba-tiba harus hancur berantakan.
Belum lagi menghadapi calon besan yang sudah sangat setuju dengan pernikahan anak-anak mereka. Papa mama Bram baru pulang dari Singapura Senin depan.
Bagaimanapun yang terbaik adalah mengikuti keputusan Bram dan Nastiti karena mereka yang akan menjalani perkawinan mereka selanjutnya. Seburuk apapun keputusan yang diambil harus diterima.
***
Di depan kamar Ibu Ratna sambil menjaga beliau Nastiti bercerita semua tentang rencana pernikahan dirinya dengan Bram. Setelah tiga tahun setengah mereka dekat, Bram yang dulu play boy dan akhirnya setia hanya berhubungan dengan Nastiti sampai memutuskan pernikahan.
Pre wedding yang separuh terlewati dengan berbagai urusan pernak-perniknya seperti souvenir, undangan, gedung, catering, baju-baju panitia sudah tujuh puluh lima persen selesai.
Semua begitu sederhana dan mudah. Sepertinya mudah saja tanpa amarah dan pertengkaran seperti yang biasa terjadi pada pasangan yang sedang mempersiapkan perkawinan.
Bram juga tidak terlalu ribet, tidak ada hal-hal yang memacu ke arah pertengkaran sampai pada akhirnya Sabtu kemarin dengan mata kepala sendiri Nastiti melihat Bram berselingkuh dengan seorang wanita di kamarnya.
Tanpa terasa Nastiti sudah berkaca-kaca, Icang mengulurkan sapu tangan dan mengelus punggungnya menguatkan.
\"Ah maaf Icang, kamu jadi tempat curhatan aku. Padahal dulu boro-boro aku akan mau ngomong sedekat ini, lihat kamu aja aku milih kabur,\" Nastiti mengusap air matanya dan berusaha tersenyum.
Tanpa sadar Nastiti berani mengakui kesalahan di waktu lalu. Sikap dia yang kasar terhadap Icang dan rasa tidak sukanya.
\"Sudahlah, itu cerita lalu. Aku senang sekarang kita baikan, walau hanya sahabat baik. Setidaknya aku masih bisa dekat denganmu. Bisa share, bisa menguatkan atau apapun yang kau perlu... Nastiti, hatiku selalu ada untukmu.\"
Nastiti tergugup, nyatanya Icang yang dibencinya malah menghadirkan rasa nyaman di hatinya. Waktu tujuh tahun merubah sikap dan pembawaannya, yang membuat Nastiti resah karena hati Icang pada dirinya masih sama seperti tujuh tahun lalu. Mencintainya sebagai cinta pertama dan sampai sekarang masih berharap untuk menjadi pelabuhannya.
Nastiti merasa tersanjung, jujur hatinya pun tidak kalah bergetar hanya saja terlalu malu kalau dia langsung menerimanya. Sementara keraguan juga menyelimuti apakah Icang tidak memiliki dendam di hati. Tapi yang ada selalu terpancar rasa perlindungan dari sorot mata Icang dan Nastiti dipenuhi rasa bimbang.
\"Hmm kamu sendiri tujuh tahun sudah berapa banyak cewek yang kamu pacari?\" Nastiti bertanya tanpa basa-basi.
\"Ada berapa ya… satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas... hahahaha percaya? Sebelas?\" Icang tertawa meledek Nastiti yang wajahnya sudah berkerut aneh.
Icang tahu kalau wajah dia berkerut aneh pasti sedang berpikir kalau ada yang salah.
\"Iih bisa ajalah! Kamu mahasiswa kedoktersan, pintar, agresif pasti gampang gaet cewek bahkan nggak cuma sebelas kale,e bisa sampai dua puluh,\" Nastiti nyerocos menanggapi jawaban Icang.
\"Ups… ups… ada yang kurang tuh selain pintar, agresif… dan aku ganteng, right!\" Icang makin menggodanya.
\"Wuihh cewek mana tuh yang bilang, lagi sakit mata pastinya!\" balas Nastiti tajam.
\"Oke jujur aku tidak pacaran dengan ke sebelas cewek, mereka hanya teman kampus dan pratikum di kelas. Ya kelasku ada sebelas cewek dan lima belas cowok sampai semester enam. Ada yang suka aku dan mengatakan aku ganteng. So mereka calon dokter dan mata mereka sehat Nastiti Sayang.\"
\"Gombal!\" tapi setiap Icang memanggil “Sayang” dadanya kembang kempis, bergemuruh tak karuan.
\"Satu-satunya cewek yang ada di hatiku, dia adalah cewek yang unik, keras kepala, baik hati, pintar, semua yang ada di dirinya aku suka. Termasuk kekurangannya yang adapun aku suka,\" Icang mengusap pipi Nasti dan menatapnya lembut.
\"Nasti I love you.\"
Nasti menundukkan kepala, ingin berseru kalau ada cinta di hatinya tapi semua tercekat tanpa berani berkata-kata. Rasa gengsi dan rasa bersalah atas sikap di waktu lalu masih membayangi.
Memang cinta buta bukan? Batasan benci dan cinta sangat tipis, bisa saja dari sangat membencinya berubah menjadi sangat cinta dan sebaliknya? Tapi malam itu setidaknya semua menjadi terasa indah, sedikit demi berharap dalam hati Faisal tidak hanya sekedar sahabat baik. Cinta mulai bersemi.
Other Stories
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...