Pra Wedding Escape

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

9. Decision

Kamis pagi menjelang, Nastiti terbangun menatap jam tangannya. Pukul empat seperempat. Dari kejauhan terdengar suara pengajian dari masjid terdekat dengan rumah sakit.
Nastiti tersenyum ada secarik kertas ditinggalkan. \"Sweet dream honey, always love.\"
Simple word tapi maknanya membuat senyum Nastiti mengembang.
\"Love ...\"
Nastiti mendesis ingat sakit hatinya dan kandasnya hubungan dengan Bram setelah empat tahun.
Hari ini ada presentasi dari salah satu dealer potensi pengambilan produk TV Flat dan banyak yang harus Nastiti siapkan.
Pukul lima seperempat Nasti menuju parkiran untuk memanasi mobilnya.
\"Aduh kempes bagaimana bisa ?\" Nastiti panik karena dua bannya kempes.
\"Ah sudahlah aku naik taxi saja,\" putus Nasti.
Nasti keluar dari parkiran rumah sakit, dan tak diduganya, \"Nasti ayo ke kantor bareng aku!\" Bram sudah memegang tangannya.
\"Apaan sih! Nggak usah aku bisa naik taxi!\" Nasti menghentak kasar.
Tapi Bram sudah memegang erat tangannya dan setengah memaksa menyeretnya ke mobil.
\"Please Nasti jangan buat keributan pagi-pagi,\" nada suara Bram berat dan mengancam. Cengkeraman tangan kokoh Bram menyakitinya dan tidak ada pilihan lagi dia harus menuruti kemauan Bram.
***
\"Nasti aku minta maaf atas kejadian Sabtu pagi, cewek itu bukan apa-apa aku Sayang,\" Bram memperlembut suaranya.
\"Bram, aku tidak butuh penjelasan panjang lebar! Yang jelas aku melihatnya sendiri.\"
“Nasti aku dijebak! Itu hanyalah taruhan dan aku sendiri bingung kenapa pagi-pagi ada dia di sampingku dan tertidur bareng,\" bela Bram.
\"Tertidur! Kamu tidak sadar habis ngapain? Mana mungkin Bram, kita bukan anak kecil lagi!\" Nastiti menatap tajam, kesal.
\"Ok aku salah! Nasti ada hal tentang aktivitas pria yang jadi rahasia pasangannya dan ini adalah sebuah taruhan,\" Bram bingung untuk menjelaskan awal accident mereka.
\"Taruhan apa Bram? Aku nggak ngerti!\"
\"Iya, memang taruhan, dan aku dianggap kalah walau aku juga tidak yakin!\"
\"Apaan sih kamu! Ngak jelas muter-muter!\" Nasti kesal.
\"Aku punya sahabat-sahabat dan club kami bernama The Only Man. Yah ada beberapa kamu kenal baik juga. Setiap di antara kita akan menikah kami lakukan semacam pesta bujang. Dan ada taruhan apakah kami kuat atau tidak dengan godaan beberapa penari-penari… eehh maaf tanpa busana dan selanjutnya apakah kita akan lanjut untuk lebih intim atau tidak.\"
\"Haah! Bram?\" Nasti menepuk wajahnya seakan tak percaya, tapi ini adalah pengakuan Bram akan sisi kelakian yang baru dia tahu.
\"Dan kamu kalah kan dengan gadis cantik itu! Kamu mengajaknya pulang ke rumah? Lalu… eeghhhh... Di mana otak kamu dan apa kamu tidak memikirkan pernikahan kita yang tinggal sebentar lagi?\" Nastiti nyerocos emosi.
\"Nggak Nas! Aku tidak mengajaknya hanya aku memang terlalu banyak minum. Yah jujur aku juga ada rasa stres menghadapi pernikahan kita. Setelah banyak minum aku tidak tahu apa-apa. Aku sadar saat kamu ke rumah dan di sampingku ada Saron.\"
\"Oh jadi cewek itu Saron namanya, kereen! Cantik! Dan cocok buat kamu!\" Nasti berkata kasar.
\"Nasti aku salah, tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk memperbaiki dan jangan kamu batalkan perkawinan kita,\" Bram memohon.
\"Nggak Bram, maaf keputusan aku sudah bulat. Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita ke arah perkawinan.\"
\"Nasti please, kamu tega melukai perasaan mama dan papa? Mereka sayang banget sama kamu. Demi mereka Nasti, juga orang tua kamu. Apa kamu nggak mikirin perasan mereka?\"
\"Orang tua kita urusan masing-masing untuk menjelaskan Bram,\" Nasti berkata ketus.
\"Nasti kamu yakin membatalkan penikahan kita?\" Bram putus asa, ternyata gadis yang tampaknya rapuh sebenarnya sangat keras dalam kemauan.
\"Nasti Please...”
“Seharusnya sebelum kamu bertindak harus berpikir apakah yang kamu lakukan hal benar atau tidak. Bagaiamana aku akan menggantungkan sisa hidupku dengan lelaki yang ternyata mempunyai dunia lain dan aku tidak pernah tahu. Bisa saja kamu mempunyai banyak rahasia yang aku tidak tahu.\"
\"Nasti, kesalahan aku cuma sekali saja tidur dengan seseorang yang tidak berarti apa-apa dalam hatiku, tapi membuat kamu sangat antipati! Saron itu bukan apa-apa!\"
\"Sekali atau berkali-kali itu sama saja! Aku tidak mau juga mempertaruhkan hidupku bersamamu Bram. Mungkin memang ini takdir kita! Tuhan menunjukkan padaku sebelum terlanjur melangkah jauh denganmu. Aku hanya ikuti kata hatiku kalau aku memilih putus!\"
\"Nggak, aku yakin ini karena kamu suka dengan dokter Faisal itu! Aku mengamati sejak kamu bertemu di rumah sakit, setelah itu kalian selalu bersama. Iya kan?\"
“Jangan bawa-bawa Icang dalam masalah kita.”
“Oh, jadi nama kesayangannya Icang. Heh sudah berapa lama kamu kenal dia dan selama empat tahun tak sekalipun kamu bercerita tentang dia?\" nada sinis meluncur dari mulut Bram.
\"Bram, dia bukan siapa-siapa makanya aku tak pernah bercerita tentang dia, bahkan aku dulu sangat membencinya. Puas?\"
\"Dan sekarang setelah menjadi seorang dokter, kamu tidak lagi membencinya kan? Kamu suka dengannya. Aku bisa lihat semalam bagaimana dia berusaha melindungimu!\" Bram emosi.
\"Bram sudahlah, putus kita bukan karena dia!\" Nastiti malas membahas kemarahan Bram yang berubah menjadi memojokkan dirinya.
\"Hah aku tidak percaya. Jangan-jangan kamu bermain di belakangku selama ini dengan dia!” Bram mencecar.
\"Terserah! Whatever lah. Aku cape! Lagi pula keputusan aku sudah bulat! Kita putus!\" Nastiti mempertegas keputusannya.
“Lihat saja kalau kamu jalan dengannya! Aku tidak akan tinggal diam!” Bram mengancam Nastiti yang tampak cuek.
Sisa perjalanan menuju bilangan Sudirman baik Nastiti dan Bram terdiam. Nastiti memilih menatap jalanan. Bram konsentrasi di tol dalam kota yang belum terlalu macet dan sesekali menghempaskan napas panjang.
Sampai di depan lobby kantor, Nastiti cepat-cepat turun tanpa mencium pipi seperti yang lalu-lalu dilakukan. Bram hanya bisa melara hati.

Other Stories
Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Download Titik & Koma