17. Its\'s Seen Back To Normal
Selasa pagi Bram sudah menjemputnya, Nastiti tergesa-gesa memasukkan oleh-oleh sepulang dari Medan buat teman-teman di kantor.
Bram paham pasti Nastiti masih kecapean kalau harus menyetir sendiri, kali ini Bram ingin menunjukkan lebih perhatian dari sebelumnya.
\"Banyak sekali Sayang bawaannya,\" Bram mencium pipi Nastiti. Tidak bisa dibohongi, mata Nastiti masih sembap.
\"Iya, oleh-oleh buat Mbak Nenny, Avi, Indah, dan Bu Yanti.\"
\"Ok, gak masalah kok.\"
Sepanjang jalan tak ada pembicaraan, tiga bulan menciptakan kekakuan dan rasa jauh.
\"Nasti makasih ya ...\" Bram berkata halus.
\"Buat?\"
\"Buat kesediaan kamu meneruskan hubungan kita, Mama dan Ibumu hari ini berencana meneruskan apa saja yang kemarin telah kamu cancel. Gedung, undangan dan catering. Mereka sangat bersemangat mengurus semuanya,\" Bram tersenyum senang.
\"Oh...\"
\"Kamu nampak tidak bersemangat?\"
\"Aku... yah aku masih cape Bram,\" Nastiti mengelak atas kalimat bernada kecewa yang barusan Bram lontarkan.
\"Gimana presentasi di Medan? Sukses?\" Bram mengalihkan ke arah pekerjaan.
\"Yah biasa aja Bram,\" Nastiti biasa saja menanggapi pertanyaan Bram.
Bram jujur merasa miris, Nastiti berubah banyak sekali. Mana Nastiti yang selalu antusias dalam segala hal? Yang hangat, perhatian, dan sesekali mengelus kepalanya, mencubit bahkan sengaja bersandar manja? Bram mendesah, Nastiti yang berada di sampingnya bagai benteng kaku menjulang tak terjangkau untuk didaki.
\"Maafkan aku Bram, sungguh aku selalu mengikuti kata hati, sungguh aku bukan lagi Nastiti pun yang tersakiti. Hampir seluruh hatiku terbawa Icang. Tatapan, sentuhan, ciuman dia selalu membuat dada ini memanas dan menggelepar rasa sakit.\"
Sisa kemacetan pagi dilewati dengan diam, suara radio Jakarta FM di acara ROTI yang lucu dan ramai sedikit menghibur hati Nastiti untuk bersemangat ke kantor.
\"Makasih Bram, aku pulang kantor naik taxi aja atau bisa ikut Esther juga.\"
\"Kamu nggak mau aku jemput ?\" Bram lemas dengan suara dingin Nastiti.
\"Aku takut harus lembur, Bram. Yah sudahlah santai saja, kita lihat nanti...\" Nastiti membalikkan badan mengalungkan nametag-nya dan melangkah memasuki gedung pusat perputaran uang di daerah Distrik Sudirman.
***
\"Bram, gimana sudah ngomong ama Nastiti kalau acara pernikahan kalian waktunya, tidak berubah lho,\" dari hp Mama Linda menyapa anak kesayangannya.
\"Belum Mah. Aku belum ngomong sampe ke situ. Nastiti berubah banget Mah, dia belum seratus persen memaafkan aku.\"
\"Hmmm dasar tuh cewek keras kepala! Ya udah kamu yang sabar Bram. Ini juga karena kelakuan kamu yang sembrono!\"
\"Iyaa Mah, maafkan Bram. Tapi berulang kali Bram jelaskan kalau itu jebakan!\"
\"Iyaa, tapi kan Saron juga meneror terus, kata dia kamu harus bertanggung jawab kehamilannya. Mama sudah tawarkan sejumlah uang agar dia tutup mulut dan gugurkan saja! Sepertinya nggak mempan. Mama jadi pusiiing Bram kalau wanita jalang itu buat ulah!\"
\"Mah, kita sudah bagi tugas, Bram urus Nastiti dan Mama Papa urus Saron. Nanti Bram coba omong ke Nastiti masalah waktu perkawinan.\"
\"Ya udah Bram, ini Mama juga mau mikir gimana caranya singkirin Saron, pusing-pusing deh!\" Mama Linda mengeluh tak ada habisnya.
***
Nastiti mencoba memfokuskan segenap tenaga dan pikiran untuk pekerjaan kantor. Ada sedikit kegembiraan terselip karena membaca email promosi dan dirinya mendapat promosi untuk menjadi Asisten Manager, sesuatu yang menghibur saat hatinya remuk dengan keputusan Icang. Tapi sayangnya kegembiraan ini tidak ingin juga dibagi pada Bram ataupun sekitarnya.
Nastiti terlalu lara hati, semuanya menjadi hal yang biasa. Mungkin jika Bram tidak berkhianat, saat ini yang ada adalah kegembiraan menjadi orang paling beruntung karena akan menikah dengan lelaki sempurna dan keluarganya yang welcome, karier yang menanjak cepat, pasti saat ini setidaknya ada pesta kecil antara dia dan Bram. Nastiti hanya tersenyum hambar.
***
Hari seakan berjalan tanpa salah, seminggu ini Bram selalu antar jemput Nastiti ke kantor, tapi rasa diam masih belum mencair. Bram merasakan Nastiti yang beku, sepertinya dia hanya bersikap seadanya, tak peduli pada setiap arah pembicaraan yang ingin Bram bawa. Nastiti tidak bersemangat pada setiap topik yang Bram ajukan.
Seharusnya Bram sadar, Nastiti sudah tidak bisa seperti waktu lalu. Bram menarik napas dalam, harus dia katakan hari ini tentang keputusan untuk pernikahan mereka. Bram saatnya harus bisa bersabar menghadapi kenyataan yang ada. Nastiti bukan anak kecil yang seperti Saron di awal kira akan kembali dalam pelukan seorang Bram yang sempurna.
***
And time walk so slowly…
\"Nasti aku jemput jam tujuhan ya, ada meeting mendadak nih,\" Bram menelepon dari kantornya, sementara jam dinding ruangan Nasti menunjukkan pukul empat sore.
Sebenarnya jam pulang kantor Nastiti pukul lima, tapi daripada musti cari taksi dan macet karena hujan mengguyur Jakarta, Nasti putuskan menunggu Bram. Seminggu ini tidak ada kabar apapun dari Icang, Nastiti merasa sangat bodoh sempat berharap Icang menjadi pengganti setelah Bram.
Ternyata Icang pun punya pilihan entah atas dasar apapun. Rasanya tidak percaya saja Icang yang teguh memutuskan dirinya harus menikah dengan seseorang yang tidak dicintai. Sungguh Nastiti tidak mengerti.
Tapi kadang hidup harus berkompromi dengan keadaan. Suka atau tidak suka harus memperhitungkam perasaan orang-orang terkasih di sekeliling. Nastiti berpikir mungkinkah Icang terpojok seperti hal dirinya, dalam posisi seakan tidak ada pilihan? Walau jujur bisa saja dia tetap menolak memaafkan Bram dan tetap melanjutkan hidupnya tanpa Bram maupun Icang.
Namun dihadapkan dengan keinginan orang tua mereka membuat Nastiti yang anak tunggal orang tua satu-satunya yang menjadi prioritas kebahagiaan tidak mungkin bisa diabaikan begitu saja.
\"Ya Allah... biarlah waktu yang putuskan, aku pasrah,\" Nastiti melamunkan Icang yang sekan mengabaikannya dan mencoba memaklumi.
Nastiti menatap layar hp-nya, tertera nomor asing.
\"Hallo...\"
\"Maaf, ini Nastiti?\"
\"Iya benar, siapa ya?\"
\"Bisa ketemuan nggak? Sekarang?\"
Nastiti melirik jam, 15 menit lagi jam pulang kantor dan Bram jemput pukul 07.00. Masih ada waktu dua jam menunggu. Pekerjaan juga sudah kelar.
\"Bisa sih, tapi maaf ini siapa ya?\"
\"Aku Saron, aku bingung harus ngomong dengan siapa lagi?\"
\"Saron?\"
\"Iya, aku selingkuhan Bram, maaf ya. Tapi aku harus ngomong sama kamu Nastiti.\"
Ada rasa marah menyeruak, benci, jijik, dan males ketemu. Tapi ada dorongan hati untuk kembali berkompromi. Nastiti menarik napas berhadapan dengan perempuan yang jelas menghancurkan kebahagiaan dirinya dan keluarganya. Bisakah?
\"Ok, kamu di mana? Di gedung kantorku ada kedai Dark Coffe di lantai dasar. Bisa kita ketemu di sini di gedung Jakarta Sudirman Center?\"
“Aku sudah deket kantor kamu kok, aku sengaja menunggu kamu dari siang.\"
\"Oh... ok, aku segera turun.\"
Pukul 17.00 kedai Dark Coffe cukup ramai dengan orang-orang melepas penat seharian kerja, tapi ada juga sekelompok orang yang masih presentasi dalam beberapa kelompok.
Nastiti melintasi sekat pertama, di dekat sekat kedua pas ruang pojok menghadap jalan di pinggir jendela tampak wanita blasteran Timur Tengah tampak menyesap minumannya.
Entah kekuatan dari mana Nastiti bahkan bisa bersikap bersahabat, sejenak tidak ada lagi rasa amarah untuk mendaprat wanita yang tampak kaku tersenyum itu.
\"Sudah pesan?\" Nastiti menyambangin Saron.
Sekilas Nastiti melihat hot green tea late yang dipesan, minuman favorit dirinya kalau nongkrong bersama teman-teman kantor di lantai bawah.
Terpikir kalau Saron memang sedang hamil karena tidak memesan kopi dan memilih area no smoking, padahal jelas Nastiti ingat detail saat dia memergoki tengah tidur dengan Bram, ada beberapa puntung rokok di asbak dekat tempat tidur mereka, dan Bram telah empat tahun ini tidak menyentuh rokok.
\"Pesan apa Mbak?\" tanya waitress kedai Dark Coffe.
“Hot green tea latte medium, non fat dan manisnya sedang.\"
\"Mau coba varian baru? Green tea latte special?\"
\"Bedanya dengan yang biasa?\"
\"Sedikit dipadu kopi tapi tidak banyak, jadi ada wangi kopinya.\"
\"Ok, boleh specialnya,\" Nastiti berpikir juga butuh sedikit caffein untuk menyegarkan otaknya.
Saron tampak murung saat Nastiti datang dengan pesanannya. Dan Nastiti sudah siap dengan apa yang akan diomongkan Saron.
\"Kamu pasti sudah tahu aku hamil kan?\" tanpa banyak basa-basi Saron langsung menembak Nastiti.
Nastiti ingat omongan dengan Naon sebulan lalu kalau Saron hamil, tapi terus disangkal Bram kalau bukan dirinya ayah biologis yang dikandung Saron.
\"Iya aku tahu, so?\"
Tiba-tiba tatapan Saron tajam menatap Nastiti.
\"Kamu masih mau menikah dengan Bram?\"
\"Entahlah, sejujurnya aku tidak terlalu ingin! Bahkan, maaf… menolak memaafkan Bram karena jelas berselingkuh dengan kamu. Tapi dari pihak keluarga Bram dan Bram sendiri yang terus meminta maaf, aku tidak ada pilihan juga.\"
\"Tapi aku hamil dan itu adalah hasil hubungan aku dengan Bram?”
Nastiti merasa tertohok, harga dirinya serasa jatuh, Nastiti mencoba tegar, \"Heh, akupun seperti orang kebanyakan tidak bisa langsung percaya begitu saja kalau benih di kandunganmu adalah anak Bram. Maaf, mengingat profesi kamu yang berganti-ganti.\" kali ini Nasti bernada sinis.
\"Yah siapapun berhak menghujat aku seperti kamu barusan, tapi sejak aku jatuh cinta dengan Bram setengah tahun lalu, aku jaga diri dan tidak mungkin hamil! Hanya saja dengan Bram aku sengaja tidak menjaga. Kamu pasti tahu maksudku,\" suara Saron terdengar pongah.
Nastiti gerah tapi bertahan, kesabaran sudah teruji beberapa bulan ini dan ini adalah satu per satu masalah yang terkait muncul mengikis hatinya akan rasa cinta terhadap Bram.
\"Tapi sayangnya Bram pun tidak mau mengakui dan masih saja mengemis-ngemis cintaku Saron. Maafkan aku tidak bisa menolong kamu,\" Nastiti berkata sadis, walau dalam hatinya remuk redam dan sisi nalurinya menyisakan maaf jika Saron tidak bersikap angkuh dan seakan menjadi seorang pemenang.
\"Saron, perlu kau tahu, sebenarnya sejak aku memergoki kalian berdua, aku sudah langsung rela melepas Bram untukmu. Kamulah yang berhak untuk dirinya,\" Nastiti menatap nanar.
Saron terdiam, perlahan rasa angkuhnya menurun. Mimiknya berubah lebih pasrah, sejujurnya memang yang dia ingin adalah Nastiti melepaskan Bram untuk bertanggung jawab atas anak dalam kandungannya.
\"Bram menjemputku, kalau memang kamu mau bertemu dengannya, silakan!\"
\"Nggak Nas, Bram sangat membenciku! Dia tidak mau mengakui anak biologisnya. Maaf Nasti, aku terlalu menyebalkan ya? Aku putus asa sebenarnya,\" Saron malah menangis.
Nastiti jadi luluh, kesalahan Saron dan Bram semua sudah terjadi. Nastiti pun berharap ada akhir dari masalahnya dengan baik.
***
\"Nas, kamu sudah ambil keputusan kalau kita akan melanjutkan pernikahan kita tiga bulan ke depan?\" Bram menanyakan pada Nastiti yang diam membisu sejak dijemput dari pelataran lobby gedung kantor.
Nastiti menarik napas panjang, \"Bram, rasanya berat! Aku masih trauma dan jujur aku belum bisa terima kamu sepenuhnya, ada hal yang mengganjal di hatiku.\"
Nastiti teringat Saron, yang awalnya angkuh dan sombong tapi akhirnya dia mengakui bahwa dirinya pun putus asa dan sangat tidak bernilai.
Nastiti juga menyadari sepenuhnya dirinya adalah wanita, setegar apapun wanita pasti menjadi rapuh bila sudah berhadapan dengan rasa cinta yang terabaikan, sementara dirinya butuh pertanggungjawaban dan pengakuan yang jujur.
\"Bram, aku butuh waktu untuk menenangkan hati dan meyakinkan diri kalau kaulah yang terbaik buat hidupku.\"
\"Kamu masih saja mengulur waktu. Baiklah, berapa lama aku harus menunggumu? Fine karena semua berawal dari salahku, aku harus menunggu berapa lama?\" Bram tampak kecewa dengan waktu penundaan Nastiti, tapi dia tidak ada pilihan lain.
\"Aku ingin penambahan waktu selama enam bulan dari tiga bulan ke depan saat kita tentukan waktu menikah awal.\"
\"Baiklah, terhitung dari sekarang aku harus menunggu sembilan bulan?\"
\"Ya Bram, aku butuh kepastian semua.\"
\"Kepastian dr. Faisal juga akan melamarmu, iya kan Nas?\" nada suara Bram sinis.
\"Apa maksudmu Bram?\"
“Nasti, kamu pikir aku tidak mengawasi kamu selama di Medan? Hmmm... kalian seperti remaja dimabuk asmara.\"
\"\'Kamu!\" Nastiti menatap tajam.
\"Sudahlah, aku tidak mau membahas, cukup aku tahu. Dan Nas, kamu harus tahu kalau Icang bulan depan akan menikahi pacarnya! Kasihan kamu kalau masih menunggu cinta lelaki itu!\" Bram menginformasikan dengan tetap nada sinis.
Nastiti terdiam, hatinya terasa teriris-iris karena berita yang Bram sampaikan. Betapa bodohnya dirinya harus tahu kabar kalau Icang menikah dari mulut orang lain.
Sementara ini dia tidak mau memberi kabar apapun dengan dirinya. Hp dan WA semua masih aktif tapi tampaknya Icang sengaja bisu seribu bahasa, tidak ada niat untuk mengklarifikasi apapun.
\"Aku sudah tak peduli apapun Bram, hatiku mati rasa buat cinta dan ini berlaku untuk hubungan kita. Biarlah sembilan bulan ini berjalan dan saatnya kita memang bersatu.\"
Bram tersenyum, ada secercah harapan yang tak ingin disia-siakan.
\"Aku akan bilang pada Mama kalau perkawinan kita mundur sembilan bulan agar mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk mempersiapkan apa saja yang sempat kamu batalin,\" Bram tersenyum dan menggenggam tangan Nastiti.
Nastiti berusaha tersenyum tipis dan mencoba lebih tegar melangkah. Walau sisi hati berkecamuk hal-hal yang absurd.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...