18. The Wedding Time
Waktu yang berjalan, masih mencoba mengikis lara hati. Menerima cinta dengan tulus atas salah dan khilaf tercipta.
Kedua oarang tua Nastiti dan besannya berjanji ketemuan. Nastiti memilih tidak terlibat urusan perkawinan, merekalah yang antusias mengurus semuanya, sementara Nastiti terima informasi saja. Dia merasa ini bukan hal yang membahagiakan, bahkan dirinya merasa seperti mayat hidup saja mengikuti apa yang mereka rencanakan.
Apa kemauan pilihan orang tua dan besannya, Nastiti sudah memasrahkan semua pilihan acara penikahan dirinya dan Bram kepada mereka.
Sementara dia dan Bram konsentrasi pada pekerjaan dan hubungan mereka yang tengah coba ditata selepas prahara.
Saron juga sudah tidak meneror keluarga Bram, demikian juga terhadap Nastiti. Sepertinya Saron lebih pasrah memercayakan semua kebijaksanaannya terhadap Nastiti dalam percakapan mereka beberapa bulan lalu di kedai Dark Coffee.
Tanpa pernah Nastiti tahu, Saron menolak sejumlah uang yang ditawarkan orang tua Bram untuk menggugurkan kandungannya dan tutup mulut. Saron mencintai Bram tulus dan akan membesarkan bayi yang ada dalam kandungannya.
Menunggu sembilan bulan bukan waktu yang pendek, tapi ternyata waktu cepat sekali meraja. Dan hati belum sepenuhnya tertata tapi Nastiti tidak bisa ingkar lagi.
Bram dalam sembilan bulan ini menjaga hatinya dan mencoba melakukan apapun dengan lebih sempurna. Memang Nastiti sedikit bahagia bahkan yakin kalau Icang pun pasti sudah bahagia dengan Luna. Sudah tidak ada apa-apa lagi yang diharapkan.
Susunan acara dibuat rapi dan detail. Dengan adat Jawa diawali pengajian, malam midodareni, akad nikah upacara adat, dan terakhir adalah resepsi.
Satu per satu acara berjalan lancar sampai pada akad nikah yang direncanakan di masjid An-Nur inilah sebenarnya inti acara terpenting. Dimana secara agama mereka sah! Nastiti mengenakan baju brokat broken white, tampak memesona dengan berkerudung payet-payet silver. Wajahnya bercahaya dengan make up yang natural pas. Keduanya dikawal ke depan berhadapan dengan penghulu.
Saksi-saksi yang hadir adalah saudara-saudara terdekat kedua belah pihak.
***
Pukul 08.00 dan acara akad dimulai.
Saatnya Bram mengucapkan, “Saya terima nikahnya Nastiti binti Harjo Suseno...” tiba-tiba suara tangisan bayi memecah kekhusyukan.
Semua mata langsung mencari sumber tangisan. Dan ternyata Saron dengan bayi di gendongannya. Semua tertuju pada adegan Nastiti yang mendekati Saron dengan balutan busana muslim tampak anggun.
"Saron, kamu sudah melahirkan?"
"Sudah dua bulan lalu, Nasti. Lihatlah Arka," Saron menunjukkan bayi laki-laki yang baru saja menangis.
Nastiti terdiam, wajah laki-laki itu mirip sekali dengan Bram. Dirinya sadar dan harus memenuhi janji hati kalau memang dirinya tidak seharusnya kembali pada Bram. Jelas tanpa harus test DNA pun orang awam bisa lihat kemiripan di antara Bram dan Arka.
Nastiti berlari meninggalkan masjid dan menyisakan orang-orang yang hadir dengan terbengong-bengong. Suara seruan Bram, mertua, dan orang tuanya kali ini tidak bisa menghentikan larinya.
Sebuah taxi melintas dan Nastiti langsung menghilang dengan taxi yang entah akan membawanya ke mana.
***
Sopir taxi merasa bingung karena sudah empat jam berputar-putar sepanjang jalanan Jakarta tanpa jelas dan argo terus saja berjalan. Tapi tampaknya si wanita masih lengkap dengan dandanan kebaya dan wajah kacau karena make up-nya lumer belum juga memberikan kepastian mau turun di mana.
Tiba-tiba hp Nastiti berbunyi dan nama Icang tertera dalam layar.
"Hallo Nasti, kamu di mana? Aku susul ya!” suara Icang tampak tegang.
"Untuk apa? Kamu peduli aku?" isak Nasti.
“Aku sangat peduli dan sangat mencintaimu selamanya."
"Kamu pembohong Icang!"
"Nasti, beri kesempatan sekali ini saja, setelah itu aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi."
Kalau menuruti ego, Nastiti akan menolak. Tapi dirinya kini kalut tanpa arah. Nastiti melirik angka argo sudah melewati angka juta.
“Pak, tolong berhenti di depan Cafe Anomali, saya nunggu teman dan akan membayar tagihan argo Bapak.”
Nastiti membalas WA atas pertanyaan Icang menanyakan di mana lokasi dirinya sekarang.
Dua jam kemudian Freed putih sampai, Icang keluar dengan tergesa menuju taksi yang parkir di depan Anomali cafe.
"Nasti..." Icang membimbing Nasti yang berkebaya ke mobilnya kemudian menghampiri taksi untuk membayar semua tagihan argonya.
Sejurus saling terdiam.
Ingin rasanya Icang memeluk gadis yang sekarang tengah kacau balau tak karuan ini. Maskara lumer mengotori wajahanya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, Icang mengendarai mobilnya berkeliling untuk memberi jeda dan membiarkan Nastiti tenang.
"Mungkin banyak tamu yang hadir lalu kecewa pulang karena pengantin perempuannya kabur," tiba-tiba Nastiti berkata.
"Hmmm Nasti… Nasti, aku tidak mengira kamu akan senekat ini. Kabur dari perkawinan! Sementara tamu-tamu datang ingin melihat mempelai yang sempurna," Dr. Faisal mencoba menetralkan dengan pandangan kalau ini hal biasa saja.
"Aku harus lakukan, Icang! Melihat wajah bayi Saron mirip sekali dengan Bram, aku tersadar telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup bila melanjutkan pernikahan ini."
"Kadang kesadaran datang satu langkah sebelum kita masuk dalam sebuah kesalahan besar, sesuatu yang sebenarnya sudah kita tahu bila kita jujur dengan kata hati kita apa yang sebenarnya kita inginkan dari awal," Icang melanjutkan falsafahnya.
"Luna tiba-tiba membatalkan pernikahan saat akad juga. Saat itu aku tidak ada pilihan juga! Posisi kita sama, Nasti. Luna sempat amnesia setengah bulan karena kecelakaan yang dialami. Kedua orang tua kami langsung ingin menyatukan kita dalam pernikahan sebulan kemudian. Aku merasa bersalah juga atas andil penyebab Luna kecelakaan. Sehari dia memergoki kebersamaan kita di hotel, dia mengendarai mobil sendirian dan kecelakaan hebat menimpanya.”
Nastiti mendengarkan seksama.
“Beberapa menit dari kita akan sah seharusnya, Luna malah menolak menjadi istriku. Dia keberatan. Kamu tahu semuanya bengong, termasuk aku yang mereka rasa dipermalukan. Aku dikasihani orang-orang, padahal aku dalam hati sangat lega, karena aku tidak pernah berharap Luna menjadi istriku, aku sudah menganggapnya adik.”
Nastiti terbelalak, selama ini dia mengira Icang telah menikah dan berbahagia bersama Luna.
“Sejalannya waktu akhirnya aku tahu ternyata Roy, pacar Luna menghubungi dan meminta maaf atas semua. Luna bimbang dan dengan berbagai alasan dia memilih Roy yang di awal mengejar cintanya. Menurut Luna, lebih nyaman dicintai daripada dirinya harus mengejar cintaku yang jelas tidak bisa tergantikan. Cinta sejatiku tetap kamu, Nastiti."
"Icang, kenapa kamu tidak menghubungi dan bercerita jujur sampai-sampai aku mengira dirimu telah menikah dan bahagia hingga detik aku akan melangsungkan akad nikah?”
"Aku sangat egois bila merusak apa yang telah kalian rancang, Nasti. Aku sudah memasrahkan kembali kalau waktu yang akan menyelesaikan akhir cerita kita."
"Icang, ini untuk kedua kalinya aku seperti pelarian dan selalu bersama kamu," Nastiti tersenyum lega.
Rasanya bahagia karena ada harapan terpancar di mata Icang. Harapan untuk membuka hatinya kembali untuknya.
***
"Nasti, lebih baik kita mampir ke rumahku dulu ya..."
Nasti menurut saja, omak dan bapak Icang menyambut Nasti dengan diam. Tampaknya kedua orang tua Icang pun sudah pasrah kalau akhirnya putra kesayangan mereka harus menikah dengan Nastiti.
Mereka pun telah cape, apalagi penolakan langsung terucap dari mulut Luna. Menantu yang diharapkan. Jelas sudah Icang tidak bersalah bila perjodohan batal.
Nastiti mandi dan menghilangkan semua make up. Icang meminjamkan baju omaknya yang sedikit kebesaran.
"Nas, makan seadanya ya," Icang menawari Nastiti dan disambut Nastiti dengan senyum.
Hari ini seharusnya hari istimewa, tapi sebaliknya aku malah jadi pelarian."
"Sudahlah, habis ini aku antar kamu pulang."
***
Rumah tempat tinggal Nastiti tampak sepi, bekas pesta pun sudah tak ada. Ibu langsung memeluk Nastiti, demikian juga ayah. Mereka terisak dalam rasa bercampur aduk. Tapi di balik punggung Nastiti, ayah dan ibu tersenyum pada Icang.
Other Stories
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Hompimpa Alaium Gambreng!
Dalam liburan singkat di sebuah vila pegunungan, Jibon dan teman-temannya berniat menghidu ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...