1. But First Love Never Dies
Rasa cinta itu masih bersemayam erat di hati. Walau Zita telah mencoba berlari jauh bahkan bermil-mil untuk menghapus segala kenangan yang pernah dirajut bersama.
Tapi Zita tidak bisa! First love terlalu kuat mengakar dalam hati dan mengunci semua getaran yang akhirnya membuat dirinya terpuruk. Zita mati rasa.
Apa yang barusan Zita tulis adalah kenyataan. Kenyataan bayang-bayang Fauzi memang masih sangat melekat dekat. Tatapan matanya, hangat tangannya saat menggenggam, pelukan, dan ciuman bahkan aroma tubuhnya pun Zita masih lekat dalam dirinya.
Dua tahun Zita berusaha lari dari kenyataan. Kenyataan karena dia tidak bisa memiliki diri Fauzi lagi. Segala teori-teori ilmu ekonomi telah dipelajari serius. Semua bukan demi karier sebagai dosen untuk bisa mentransfer ilmu yang dia peroleh di Universitas Independence Australia buat mahasiswa-mahasiswanya. Tapi demi bisa melupakan Fauzi. Fauzi lagi, fauzi lagi! Cinta pertama yang terlalu memengaruhi kehidupannya.
Seharusnya dua tahun ini adalah hari perkawinan dirinya dengan Fauzi, bukan wisuda Strata Dua di negeri orang sendirian. Bapak dan ibu tidak bisa menghadiri wisuda Strata Dua Zita besok di Australia mengingat kesehatan ibu yang tidak memungkinkan untuk terbang ke negeri kanguru.
Bapak terlalu sayang untuk meninggalkan ibu sendirian, tidak pernah mereka pergi sendiri-sendiri dari dahulu. Keharmonisan bapak dan ibunya membuat dirinya iri, andai bisa seperti mereka mencinta hingga usia senja, Zita berharap.
Zita tidak terlalu peduli lagi kebahagiaan ini, yang dirasa hampa dan sepi. Keindahan Australia memang menghipnotisnya, tapi saat pulang ke asrama dan malam menjelang, tetap hati ini merindu pria yang tadinya bisa diharapkan menjemput impian.
“Zita, how to prepare your graduation tomorrow?” tiba-tiba Angel, sahabat satu asrama sudah masuk tanpa ketuk pintu.
“Well, everything already prepared,” kata Zita tidak semangat.
Buku harian yang lama sekali tidak dibuka segera ditutup. Terlalu banyak nama Fauzi diukir dalam tulisan tangannya. Dahulu semua selalu tertulis rapi tentang mereka. Setelah berakhir Zita serasa mati dan pena untuk menulis kisah mereka pun sirna. Buku harian menjadi seonggok buku yang tak berpenulis lagi.
Zita lebih lega bercerita tentang Fauzi dengan Angel. Angel cukup tahu kenapa dia bisa sampai ke Australia. Semua bukan karena beasiswa yang dia dapat dari kampus, tapi lebih jelasnya Zita lari dari sakit hati seorang lelaki.
“Ah, besok aku diwisuda dan moment yang harusnya membawa aku bahagia tapi hati ini mellow sekali. Sungguh berbeda dengan wisuda Strata 1, aku sangat bahagia. Aku dan Fauzi sama-sama meraih cumlaude. Kami pasangan yang serasi,” lirih pedih dalam hati.
Mengingat masa pacaran yang sudah terjalin hampir delapan tahun. Fauzi the first man. Zita terlalu banyak berharap setelah lulus S1 dan kita sudah sama-sama bekerja sebagai dosen langsung bisa melangkah ke jenjang pernikahan.
Kita memang hanya bisa berharap dan merencanakan, tetapi Tuhan jugalah yang akhirnya mengeksekusi apa yang menjadi harapan dan rencana kita.
Walau Fauzi telah meninggalkan Zita dengan sangat menyakitkan, kebersaamaan mereka yang hampir delapan tahun benar-benar membuat Zita terpuruk! But First Love Never Die!
Other Stories
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...