10. Cinta Lama Bersemi Kembali
“Zita bagaimana pernikahan kamu dengan Fikri?” bagai mempunyai indra keenam, Fauzi menangkap ada ketidak beresan dengan mantannya. Mantan yang diam-diam dirindukan dan menyesal dirinya telah gegabah memutuskan sepihak.
“Aku biasa-biasa saja dengan Fikri, bagaimana dengan kamu Zi? Aku dengar kamu dengan Riska bercerai?“ tanya Zita.
“Iya, aku tidak bisa mengendalikan rasa possessif-nya Zit, kupikir aku bisa bertemu dengan wanita dewasa yang membuat aku tenang berkarier dan berumah tangga. Nyatanya setiap hari yang ada rasa cemburu dan teror jebakan-jebakan, dia selalu khawatir aku akan bermain dengan wanita lain! Ya memang karma ada Zit.”
“Maksudnya?” Zita mencoba memahami permasalahan masa lalu yang dihadapi Fauzi, tapi sekali lagi buat apa? Apakah ini menjadi kajian study untuk ke depannya dia bisa menjadi wanita yang paling tepat di sisi Fauzi. Always a wish dan a wish! Tapi harapan apa lagi, Fauzi masa lalu Zita! Masa sekarang adalah Fikri! Celakanya sepertinya Fauzi menangkap sinyal ganjil di raut wajahnya, tentang binar yang mungkin tertangkap karena menemukan Fauzi sudah tidak bersama dengan Riska. Dan sorot mata yang tiba-tiba meredup atau biasa saja saat mengungkapkan perkawinan yang sebenarnya sebuah sandiwara bagi diri Zita. Fauzi masih sangat hafal isyarat dalam dirinya antara bahagia dan tidak bahagia yang ada.
Sebenarnya Zita berusaha untuk menutupi semua gundahnya, tapi bukan hal yang mudah. Selama ini dia paling tidak bisa menyembunyikan apa pun dalam dirinya saat berhadapan dengan Fauzi.
“Zit… bahagiakah kamu dengan Fikri?” dalam keremangan Warm Drink Café tiba-tiba Fauzi meraih tangan dan menggenggamnya lembut. Mengusap-usap punggung tangannya seperti yang dia lakukan masa-masa bersama.
Zita mencoba menariknya tapi Fauzi menahannya, Zita menyerah membiarkan genggaman itu untuk meredakan amarah yang tersimpan. Fauzi seutuhnya seperti membuka semua kebersamaan, kebiasan, dan semua masih melekat saat bersama.
Tumpahlah air mata kemarahan yang terpendam dua tahun setelah diputus dan ditinggal menikah oleh Fauzi.
Zita memukul dada Fauzi, “Teganya kamu Zi memutuskan aku begitu saja lalu kamu menikahi Riska! Hampir delapan tahun kita bersama! Itu tidak ada artinya sama sekali! Kamu jahat! Dua tahun aku merantau ke negeri orang mencoba menutup luka hati kegagalan menikah dan menghapus rasa malu atas kegagalan cinta ini. Tapi sekarang kamu ada! Dan aku, aku masih saja mendengarkan omongan-omongan kamu!” Zita menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Maafkan aku Zit, aku salah dan aku akan menebus semua kesalahan ini, aku janji Zita! Tapi aku tidak yakin sekarang karena kamu juga bukan lagi Zita yang sendiri. Kamu sekarang milik orang lain,” Fauzi memeluk Zita yang masih sesenggukan.
Wram Drink Café yang tenang dan memberi kelegaan sepasang insan yang tengah berkompromi dengan masa lalu dan sekarang.
Fauzi sadar ternyata tidak ada cinta yang sebesar dan setulus Zita yang telah dia sia-siakan.
Zita yang tidak bisa membohongi dirinya atas sakit hati yang hilang begitu saja saat segala amarah ditumpahruahkan terhadap mantan yang seutuhnya masih mengkristal dan tidak bisa tergantikan siapa pun, termasuk Fikri! Walau pria ini perlahan dengan kelembutan mencoba mengikis batu kristal itu. Nyatanya saat dekat dengan Fauzi, semua yang Fikri lakukan terasa hanya sia-sia.
Hangatnya remang café menjadi saksi bertautnya dua hati yang saling merindu. Semua kesedihan, sakit hati, penyesalan, dan pernikahan seakan hanya aksesori yang bisa dilupakan saat akhirnya klik hati bertemu kembali.
Fauzi dan Zita seakan lupa dengan sakral perkawinan yang pernah mereka lewatkan, walau pernikahan Zita memang hanya sandiwara. Tapi Zita sadar tetap ‘sah’ adanya.
Memang Fauzi telah bercerai dengan Riska, tetapi Zita yakin semua ritual sakral pernikahan bersama Riska tetap termemori walau sampai akhir hidup.
Tidak ada satupun insan yang melupakan masa-masa janji sehidup semati dalam ikatan perkawinan, hanya saja ketika rasa benci hadir, keduanya saling siap memaki semuanya berubah sia-sia. Tapi dalam lubuk terdalam itu tidak pernah hilang.
Ketika cinta lama bersemi kembali setelah badai menghancurkan semuanya. Perlahan tunas-tunas itu meranggas dan bertahan dalam kehidupan walau lara pedih, tumbuh, dan akhirnya bersemi dengan bunga-bunga yang indah.
Dalam genggaman saling memadu tawa, sesekali terseling kerut alis menunjukkan kelupaan masa-masa terlewati dan kembali tertawa. Rindu yang terbendung dan sekarang membuncah dengan bebas. Dua hati yang masih saling mencinta membuat gairah hidup yang padam kembali bersinar.
Other Stories
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...