8. The Wedding
Tidak ada pilihan Zita harus menikah dengan musuh di masa kecilnya, karena Ibu Ratih mengancam memilih untuk sakit daripada melihat anak gadisnya menjadi perawan tua.
Meminta pertolongan bapaknya juga tidak bisa, bapak ternyata menyetujui rencana ibu dan keluarga Fikri yang telah sepakat menjodohan Fikri dan Zita.
Zita merasa bagai boneka yang mengikuti kemauan orang tuanya dan Fikri pun sepertinya tidak mempunyai kekuatan untuk melawan apa yang telah diputuskan juga.
Sebenarnya jujur, bagi Fikri perjodohan ini sangat membuatnya bahagia, tapi Fikri tidak mau mengumbar dalam senyuman. Fikri tahu Zita masih sangat tidak suka dan dendam dengan kenakalan dirinya semasa kecil.
Keluarga Fikri dengan bahagia melamar Zita, suasana begitu khidmat, tidak ada yang bisa menduga kalau calon mempelai wanita masih tidak bisa menerima perjodohan ini dalam lubuk hati terdalamnya. Hanya saja Zita takut kalau dia mencoba menentang, yang ada akan membawa ibunya ke ruang ICU lagi.
Zita juga tidak tega melukai orang tuanya yang sangat bahagia anak gadis kesayangannya akhirnya akan melepas lajang di saat angka tiga puluh semakin merambat dekat.
Dengan balutan kebaya hijau pupus dan kain batik yang menjuntai, rambut lurusnya disanggul cepol simple berhias bunga melati tertata. Zita tampak anggun.
Sesekali Fikri mencuri wajahnya yang anggun memesona. Bertahun-tahun hanya mendengar dari cerita dari mama dan foto yang Zita kirim ke ibundanya tentang Zita. Fikri hanya bisa membayangkan musuh masa kecilnya yang terus meroket dalam karier tapi tidak dengan percintaannya. Fikri ingin memuaskan ilustrasi bayangan selama ini dalam wujud nyata. Zita yang semasa kecil selalu dia jahilin dan dia nakalin, sekarang nyata berdiri di depannya.
“Zita kamu selalu yang tercantik… selamanya…” bisik hati Fikri.
***
Dari pertemuan keluarga, ditetapkan tiga bulan ke depan akad dan resepsi. Zita mencoba mengulur waktu, tapi mengingat kesehatan ibunya, pernikahan harus segera dilaksanakan. Zita tidak bisa berdaya apa-apa.
Semua gerak-gerik Zita terekam dalam pandangan Fikri yang menjadi tidak enak. Tapi Fikri pun tidak bisa berbuat apa-apa. Persahabatan kedua orang tua mereka yang terbina dari mereka masih anak-anak hingga sekarang tidak ada retaknya.
Keluarga Fikri yang kaya raya dan keluarga Zita yang cukup berada juga status Fikri sebagai manajer di perusahaan papanya telah menuntunnya menjadi laki-laki mapan yang telah meraih Strata Dua, walau bukan lewat jalur beasiswa seperti yang diraih Zita.
***
Akhirnya waktu yang mendebarkan terjadi, nightmare itu datang. Di mana Zita akhirnya menerima Fikri untuk jadi suaminya secara sah.
Sebulan persiapan telah maksimal dilakukan dari gedung, undangan, catering, souvenir dan berbagai aktivitas untuk memeriahkan pernikahan bisa terlaksana dengan cepat. Jujur semua karena bantuan keluarga besar kedua belah pihak yang seolah menanti acara pernikahan mewah ini.
Fikri dan Zita sama-sama anak tunggal dan kalau orang awam melihat mereka pasangan yang serasi. Fikri yang berwajah bagus, tenang dalam pembawaan, kesan seorang lelaki yang lembut dan mengimbangi Zita yang lembut tapi terdominasi sebuah garis tegas yang mengesankan dia wanita agak galak tetapi anggun. Pasangan serasi dalam perbedaan yang terpadu.
“Saya terima nikahnya Zita Maharani binti Ramadan Suseno dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai!” dengan lantang Fikri mengucap ijab kabul.
“Sah… sah… semuanya para saksi?” kata Pak Penghulu.
“Sahhh!” disambut dengan gembira oleh tamu-tamu yang hadir.
Dari balik kerudung putih gading, Zita tampak cantik memesona. Kecantikan inilah yang membuat Fikri berdebar sedari kecil. Tapi Zita tidak pernah menyadari kenakalan-kenakalannya adalah untuk mencari perhatiannya, tetapi sebaliknya malah membuat Fikri jadi sangat dibencinya, bahkan tidak termaafkan.
Pesta resepsi yang digelar sangat meriah. Para dosen teman-teman Zita, pejabat, mahasiswa-mahasiswi, dan rekanan kedua orang tua mereka datang tumpah ruah menikmati pesta yang cukup mewah.
Sesekali Zita mencuri pandangan ke wajah Fikri yang tampak sumringah menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Zita akui wajah Fikri yang bersih dan santun pastilah banyak menarik kaum hawa, apalagi tutur katanya yang lembut dan sikapnya yang tenang bukan hal yang sulit baginya untuk mencari pendamping hidup.
Harus Zita akui Fikri jelas berubah seratus persen dari Fikri kecil yang membuat masa kecilnya beberapa tahun kelabu sekarang jauh tenang dengan pembawaannya yang dewasa.
Ah memang sudah bertahun-tahun dan seharusnya Zita melupakan kenakalan Fikri di masa anak-anaknya dan meyakinkan dia sekarang suami sahnya. Unbelieveble tapi inilah kenyataan, lelaki masa kecil yang dibencinya menjadi lelakinya.
Tapi dendam tetap dendam, Zita memang tidak ada hati untuk kaum pria siapa pun termasuk suaminya sekarang. Semua hanya formalitas demi menyelamatkan nyawa ibu yang dicintai.
Tentu saja Zita tidak mau melakukan kesalahan konyol gara-gara menolak permintaan ibunya maka akan berakibat kematian sang ibu. Membayangkannya pun Zita sudah merinding. Akan menjadi masa kelabu di sisa umurnya bila ini terjadi. Zita akan merasa sebagai pembunuh ibunya!
“Hai Fik… kamu jangan bahagia dulu ya walau sekarang kamu telah berhasil menjadi suami buat aku. Ingat Fik, ini hanya sandiwara kita. Ini hanya ‘bohong putih’ yang kita lakukan agar ibuku selamat dari maut! Bukan cinta. Tidak ada cinta sedikit pun di hatiku untukmu. Ingat!” Zita akhirnya bisa berkata judes pada Fikri, yang sempat terperangah dengan kekasaran Zita.
“Iya Zit, aku juga tidak akan pernah memaksamu untuk apa pun. Ya aku terima jika pernikahan ini kamu anggap bohong putih, walau aku sebenarnya tidak berharap seperti itu.”
“Maksud kamu apa Fik? Kamu memang menghendaki perkawinan ini. Jadi acara ini bukan bohong putih buat kamu tapi hanya aku?!? Karena kamu memang ingin menikahi aku? Begitukah?” Zita melotot tajam pada muka Fikri, mata bulatnya yang berhias maskara lentik membulat dengan cantik, bibirnya yang merah merekah meruncing kesal.
Bukannya tambah jelek, tetapi di mata Fikri malah kelihatan sebaliknya, Zita tetap memesonanya. Sepanjang hidupnya.
Fikri tidak bisa menahan senyumnya melihat istrinya yang manyun habis, “Iya Zita aku mencintaimu, bahkan semenjak kita kecil. Bahkan aku tidak pernah bisa jatuh cinta pada perempuan selain gadis kecil yang telah aku aniaya dengan pemainan ular-ularanku, permen karet yang aku pasang di baju roknya, buku Snow White kesayangannya yang aku pinjam diam-diam, PR matematika yang aku contek tapi aku kumpulkan juga, topi upacara yang aku sembunyikan tapi aku juga tidak tega kamu dihukum membersihkan kelas sendiri sepulang sekolah dan…,” Fikri belum sempat mengurai panjang semua kesalahan yang pernah dilakukan di masa kecil mereka.
“Cukup! Banyak! Banyak sekali kenakalan kamu yang membuat aku dendam dan suatu saat akan aku balas tapi kamu keburu pindah. Walau hati aku panas karena gagal membantai kamu dengan pasukan Herder yang bersedia membantu aku untuk mengoyak kamu yang berusaha merebut es krim! Dan saat aku menghindar malah membuat bibir kamu mencium pipiku. Semua teman-teman bersorak tidak peduli, aku menangis sejadinya karena malu dengan mulut kamu mengenai pipiku. Kamu tahu nggak aku sampai mandi tujuh kali semua gara-gara kamu, aku nggak terima kamu mencium pipiku!” Zita mencaci maki dengan puas setelah sekian lama rasa amarahnya hanya terpendam.
“Wah sampai segitunya ya, baru tahu kalau kamu menyewa pasukan Herder untuk menyerangku. Tapi aku nggak yakin mereka akan melawanku karena anak-anak geng Herder itu juga teman-teman dekatku,” Fikri bersikap cool menanggapi amarah Zita.
Pembelaan Fikri membuat Zita tambah kesal saja. “Tentu saja, gang Herder kan pasukan anak nakal yang hampir sama nakalnya dengan kamu!” Zita menepuk jidat.
“Pokoknya kamu sudah tahu sejelas-jelasnya ini hanya perkawinan mainan, aku tetap membencimu, lagian kenapa sih kamu kok maksain banget bersedia dijodohin denganku? Sebel!”
Fikri hanya bisa berteriak dalam hati, “Karena aku cinta kamu Zita, dari dulu sekali!” tanpa ada niat terucap karena hanya akan membuat si cantik mengamuk lagi. Cukup amukan dia hari ini di acara perkawinan mereka.
“Maaf Zit, aku juga tidak punya pilihan karena Mama sangat ingin sekali bermantu dengan Ibu Farida. Kamu tahu kan kedua orang tua kita seperti saudara. Aku juga sama seperti kamu Zit, tidak tega mengecewakan mereka yang telah membesarkan aku, merawat aku yang sak... eh maksudku memberikan aku kerjaan. Semuanya Zit, aku nggak ada apa-apanya tanpa mereka dengan kondisi aku yang terbatas.”
“Benci aku! “Zita membentak Fikri.
“Yah aku juga tidak ada pilihan...” ucap Fikri pasrah.
“Pokoknya setelah perkawinan ini dan jika besok-besok Ibu sehat, kita harus bicara jujur pada mereka kalau kita hanya bersandiwara. Tidak ada cinta secuil pun di hati kita. Dan kamu memang secara hukum dan agama memang suami aku. Tapi ingat jangan macam-macam! Awas! Aku pukul kamu!” Zita mengancam sambil mengepalkan tangannya.
Tapi setiap ada tamu menyalami atas pernikahan, mereka menghentikan pertengkaran dan mengamini setiap doa tamu-tamunya.
“Selamat… semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohma ya…”
Zita dan Fikri tersenyum.
“Aamiin...” jawab mereka serempak.
Tapi setelahnya Zita memandang galak kembali!
Akhirnya acara resepsi yang melelahkan selesai. Zita sudah melepas semua baju resepsi yang membalut tubuhnya yang ramping. Zita mengambil baju tidur katun panjang kesayangannya.
Saat mengganti pakaian tiba-tiba matanya terbelalak karena tahu-tahu Fikri nyelonong masuk saja tanpa ketuk pintu.
“Aiiissh apaan sih… ketok pintu dulu dong! Tidak sopan!” Zita segera memakai baju tidurnya yang sempat melorot karena kaget. Fikri pun kaget! Terbelalak tapi lalu berbalik.
“Udah belum!?!” Fikri berseru.
“Awas jangan ngintip!” Zita mengancam dan memakai tergesa-gesa. Jantungnya berdebar tidak karuan, seumur-umur baru pertama kali ini sebagian tubuhnya dilihat bebas lawan jenis. Wajah Zita memanas, tubuhnya bergetar.
Tanpa menyuruh Fikri membalik Zita sudah naik ke tempat tidur dan memakai selimut Hello Kitty tebal menutup tubuh sampai kepala-kepalanya.
Rasanya lega bisa memakai baju tidur katun kesayangannya yang adem.
“Udah belum Zit? Lama amat pakai bajunya!” Fikri masih membelakangi Zita. Karena tidak ada jawaban Fikri membalikkan tubuhnya dan kesalnya dia ternyata dikerjain Zita yang sudah tidur tertutup selimut tebalnya. Tapi tidak ada amarah apa pun pada diri Fikri.
“Zit…” Fikri akan membaringkan tubuhnya di sebelah Zita.
Tapi serta merta Zita bangun dan menumpuk beberapa bantal juga guling untuk menyekat badan mereka.
“Ini batas kita ya! Jangan sampai kaki, tangan, dan badan kamu melanggar batas guling ini! Sekarang kita tidur dengan tenang, aku capek banget. Aku juga nggak mau cuti lama-lama buat honey moon karena aku sudah menyiapkan berbagai presentasi buat mahasiswaku. Oh tepatnya No Honey Moon! Titik!” Zita langsung menutup kepala dan tubuhnya lalu memunggungi Fikri.
“Iya deh silakan Tuan Putri…” Fikri pun memunggungi Zita.
Ternyata capek seharian karena acara pernikahan tidak bisa membuat Zita terpejam, apalagi sedikit demi sedikit gulingnya jatuh menimpanya karena kaki panjang Fikri menerjangnya. Tampaknya kaki Fikri sudah mulai melanggar batas.
“Hmmm dasar!” Zita menyungut.
“Plak!”
“Aduuh… ihhhh ini tangan, jelek! Sana kembali!” Fikri mengulet dan tangannya menimpa muka Zita yang susah terpejam.
“Oh iya aku lupa, mendingan aku pakai masker wajah bengkoang deh biar mukaku terasa dingin dan aku bisa tidur nyenyak,” Zita berjingkat ke toilet dan mulai membalur wajahnya dengan masker bengkoang.
“Hmmm perfect! Yup saatnya tidur cantik, tapi eits… bantal-bantal pembatas harus diperbaiki.”
Zita membetulkan bantal-bantal penyekat, Fikri tampak pulas dengan mimpi honey moon-nya yang hanya dalam mimpi.
Zita senyum-senyum sendiri, saatnya pembalasan buat naughty boy yang berpuluh kali membuatnya menangis di masa kecil yang seharusnya bahagia. Sekarang naughty boy harus merasakan tidak enaknya honey moon sendiri. Kalau dia tidak nakal di masa kecilnya mungkin cerita agak berbeda, walau perkawinannya dengan cara perjodohan.
“Pembalasan setimpal! Fikri harus menebus kesalahan masa kecil! Harus!” batin Zita. Zita segera menutup dua matanya dengan potongan timun agar cahaya lampu tidak mengenai retinanya.
***
Zita tengah pulas dan bisa tidur akhirnya, tapi sekitar pukul dua terbangun karena jeritan Fikri, “Aghhhhhhh hantu! Ehhh maaf…” Zikri langsung menutup mulutnya dengan bantal pembatas.
Muka Fikri tepat di hadapan wajah Zita.
“Apaan sih hantu? Mana?” Zita ikut terlonjak. Sambil membuka potongan timun kedua matanya.
“Ya ampuuun Zita, kamu pakai apa toh? Malam-malam kok ya pakai topeng monyet sih! Ihh kaya nggak ada hari siang aja!” Fikri menggerutu melampiaskan kekagetan.
“Sialan topeng monyet! Kamu tuh monyetnya!” Zita balik marah.
Walau dalam hatinya geli ingin tertawa karena masker bengkoangya membuat Fikri histeris di malam hari. Memang enak dia bisa tidur nyenyak, sementara dirinya malah yang merasa nggak karu-karuan karena ini sebenarnya bukan yang seharusnya Zita lewati. Untuk pertama kali tidur di sebelahnya ada makhluk asing yang membuat tidak nyaman. Seharusnya sih, ini adalah malam terindah buat sepasang pengantin kalau saling mencintai, akan menjadi malam pertama yang paling romantis.
Dahulu Zita sesekali membayangkan malam pertama bersama Fauzi, pria cinta pertamanya dan sampai sekarang pun masih tersimpan dalam hatinya, bahkan ikut mengkristal bersama beku hatinya.
Sehingga membuat Zita menerima pria lain yang seharusnya menggantikan posisi Fauzi yang telah menjadi pualam dan hiasan hati Zita. Entah sampai kapan patung pualam Fauzi ini akan mencair atau berlalu dari hatinya? Hanya waktu.
“Aduuh aku tidur di sofa saja ah! Aku gak tahan lihat muka kamu yang kaya...”
“Apa! Awas kamu bilang topeng monyet lagi! Nih!” sebuah bantal melayang mengenai wajah Fikri.
“Ihh kamu tuh!” Fikri sudah siap-siap ngeloyor pergi tapi…
“Eh mau ke mana?” Zita menahan kaki Fikri.
“Aku mau tidur di sofa depan saja.”
“Eitts jangan dong! Nanti Ibu dan Bapak curiga! Malam pertama mosok kamu tidur dengan televisi. Nanti Ibu kambuh lagi deh jantungnya,” Zita memohon pada Fikri.
Sudah terlanjur basah bersandiwara hingga menikah pun dijabani, tapi harus gagal hanya gara-gara Fikri tidak tidur bersamanya satu kamar di malam pertama. Bagaimana kalau ibu dan bapak bertanya keganjilan ini?
“Well… kalau begitu aku tidur di sini saja deh,” Fikri membuka gulungan karpet palembang dan beberapa bantal lalu tidur terlelap hingga subuh membangunkan untuk salat.
***
“Zit bangun, sudah waktunya salat subuh, berjemaah yuk,” Fikri mengusap pundak Zita yang tidur menyamping tubuh, tangan, dan kakinya memeluk erat gulingnya.
Jujur Zita sangat cantik saat tidur, untung semalam langsung dihapus maskernya sehingga pagi ini Fikri bisa melihat wajah orang yang sebenarnya paling dikasihi sepanjang hidupnya.
“Zita, Zita bangun Sayang…”
Dari balik gulingnya sebenarnya Zita dengan suara lembut Fikri, hatinya berdegup kencang, bulu kuduknya meremang saat sebuah tangan menyentuh dan membelai pipinya. Tangan yang dingin karena telah terguyur air wudu.
Zita mencoba bertahan dalam sensasi degup jantungnya, tapi ada perasaan aneh ketika tangan Fikri berhenti, bahkan Fikri menyelimutinya dan menunaikan salat subuh sendiri. Zita tetap berpura-pura terlelap dan semakin terbuai dengan bacaan ayat-ayat suci yang tengah dilantunkan.
Tiba-tiba menyusup rasa bersalah, tetapi rasa ego dan rasa bukan cinta akan perkawinan bersama Fikri membuat Zita menjelma menjadi wujud yang jutek.
Andai dia bisa mengerem emosi hatinya, mungkin dia bisa menerima Fikri dengan suka cita. Tapi di hatinya Fauzi bagai batu pualam yang membuat hatinya tertutup untuk pria siapapun, termasuk Fikri yang telah sah menjadi suaminya.
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Gm.
menakutkan. ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...