11. One Find Day
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam ketika Zita diam-diam mengendap-endap masuk ke dalam rumah yang sudah gelap.
“Stak!”
Lampu ruang yang gelap mendadak terang. Zita kaget melihat sosok ibunya yang menyalakan lampu saklar ruang depan saat dirinya diam-diam sampai rumah.
Terbata Zita mengucap, “Ibu...”
Ibu Ratih memandang tajam anak perempuannya yang kepergok jam setengah dua belas tengah berjingkat-jingkat menjinjing sepatu high heel-nya.
“Zita kamu habis melakukan apa saja dengan Fauzi?” Ibu Ratih langsung bertanya yang membuat Zita tidak bisa berkutik.
“Eee… siapa bilang Zita dengan Fauzi Bu?” Zita mencoba mengelak.
“Kamu pikir Ibu tidak melihat dengan siapa kamu pulang barusan, pakai cium-cium segala! Untung Fikri sudah terlelap sedari jam sembilan! Kalau dia lihat kamu pulang diantar mantan kamu yang tidak bertanggung jawab pasti dia akan marah sekali!”
“Ibu, Zita bukan anak kemarin sore. Fauzi memang mantan Zita, tadi kita hanya sekedar makan malam sambil mendiskusikan kurikulum yang diterapkan di kampus. Zita dan Fauzi bertemu hanya karena rekan kerja. Kalau Ibu keberatan berarti Zita harus mencari pekerjaan lain agar tidak bertemu dengan dia,” Zita mencoba membela diri.
“Yah kalau memang pekerjaan lain itu bisa menjauhkan kamu dengan Fauzi, mungkin lebih bagus kamu jangan mengajar di kampus yang sama!” suara Ibu Ratih tajam.
Hati seorang ibu tidak bisa didustai kalau Zita masih menyimpan hati untuk Fauzi, sementara Ibu Ratih sangat menyayangi Fikri. Buatnya Fikri adalah lelaki terbaik untuk putrinya yang keras kepala. Hanya saja memang cinta belum menyentuh seutuhnya, karena semua perjodohan yang dilakukan atas rundingan dirinya dengan Farida.
“Zita… beruntung Fikri tidak tahu kalau kamu ketemuan dengan mantanmu! Awas kalau kamu sengaja-sengaja ketemuan lagi. Ingat Zit! Fauzi itu sudah menyakiti dan mengkhianati kamu, bisa saja kalau sekarang dia bercerai dengan Riska maka ke depannya dia juga dengan gampang akan menceraikan pasangan-pasangannya. Ibu tidak rida Nak, meskipun dia berpendidikan tinggi seperti kamu, tapi hati adalah segalanya. Cobalah kamu berbicara dengan hati, bukan dengan egois dan nafsu semata!” setelah puas menasihati Zita, Ibu Ratih masuk ke dalam kamar dengan memegang dadanya.
“Ibu… Ibu tidak apa-apa?” Zita menjadi khawatir dengan ibunya yang tiba-tiba menjadi sesak napas. Tapi Ibu Ratih mengacuhkannya dan masuk ke kamar.
***
Fikri tampak terlelap, Zita masuk ke kamar mandi dan mengucurkan tubuhnya dengan air hangat dari pemanas yang menyala. Berarti Fikri sengaja telah menyiapkan air panas dengan menyalakannya terlebih dulu sebelum tidur.
Pertemuan dengan Fauzi menghadirkan debar kembali, debar yang sama di awal jatuh cinta padanya. Tanpa sadar rona merah wajahnya terguyur hangat air panas, sensasi kebahagiaan walau baru saja ibunya mengingatkan atau menyindir hatinya yang mungkin diliputi egois dan nafsu semata.
Fikri membuka matanya, mendengarkan senandung yang tengah disenandungkan Zita dengan riang yang pelan, seakan takut ada yang mendengar riangan hatinya.
Ada rasa sakit terasa, Fikri bisa melihat sinar mata Zita yang berbinar saat tadi Fauzi mencium tangannya. Ah sinar mata itu begitu ingin Fikri miliki dan salah jika Ibu Ratih menganggapnya tengah tertidur lelap sementara istri yang menganggap pernikahan sandiwara sedang bercengkerama dengan mantannya.
“Zita sepertinya aku harus bisa bersabar, ah pedihnya cinta ini. Di saat kamu bahagia seharusnya aku bahagia, tapi apakah juga termasuk kebahagiaan kamu bila bersama dengan Fauzi?”
Harum wangi kamar mandi terbuka, Fikri dalam remang memperhatikan Zita yang membasahi rambutnya yang tergerai.
Zita asyik mengeringkan rambut dengan handuknya, baju tidur yang dikenakan agak transparan. Zita sepertinya mulai terbiasa dengan kehadiran Fikri, walau ada tapi dianggap tak ada. Zita tidak pernah menganggap ada orang yang selalu satu kamar dan menemani tidurnya di malam-malam selama satu bulan ini. Masih Zita bersenandung.
“Cantik sekali istriku. Kapan aku bisa memilikimu tanpa syarat Zita? Kapan kamu juga bisa merasakan cinta ini dan membalasnya dengan tulus? Bukan karena paksaan, aku akan bersabar untuk kamu Zit, sampai kapan pun tidak ada yang berhak atas diri kamu kecuali aku, walau Fauzi mulai memasuki zona perkawinan kita. Aku akan melindungimu,” Fikri bersikeras dalam hati.
Zita adalah candu dan Fikri akan terus mencandunya.
Hingga wanginya semakin merebak tepat di hidungnya, Fikri tidak bisa berkutik apa pun. Zita tetap menyusun sebuah benteng pembatas dengan bantal-bantal dan gulingnya.
“Zita… Zita… aku tidak akan pernah memaksamu, Sayang,” walau pedih tapi masih sempat Fikri merasakan geli atas kelakuan Zita yang dianggap kekanak-kanakan.
Kalau mau dan tentu saja sah bisa saja Fikri melakukan kewajibannya walau Zita memasang bantal dan guling lima kali lipat bertumpuknya.
“Zita... Zita… aku kan bersabar,” dan Fikri memutuskan untuk membelakangi tubuh Zita yang rebah di sebelahnya.
**
*
Zita memandang punggung Fikri, tercium aroma maskulin. Sebenarnya ingin Zita mengusap punggung itu, tapi selalu Zita menariknya. Setengah bulan sudah Zita selalu menyaksikan punggung suaminya tanpa menyentuh dan mencoba meresapi sensasinya yang terasa aneh.
Rasa benci, tidak cinta, kasihan, dan mungkin nafsu menjadi campur aduk. Zita menjadi bingung dengan sikapnya, selama ini dia selalu bersikap menyerang dan memang sengaja memasang sikap kontroversi pada Fikri agar Fikri tidak tahan dengannya lalu dia juga yang akan menyerah dan meninggalkannya.
Tapi Fikri dengan kesabaran luar biasa menyikapinya dengan senyum, bahkan kadang malah tertawa keras saat Zita marah, uring-uringan tidak jelas dan mengamuk-ngamuk saat diajak untuk salat bersama walau akhirnya menurut juga karena bapak dan ibunya memergoki kemalasannya.
“Fikri memang aku dendam karena kamu keterlaluan di masa kecil kita, tapi bukan itu semata. Aku tidak mencintai kamu. Hatiku masih memilih Fauzi, maafkan aku. Kamu tidak seharusnya menjadi korban sandiwara ini, kalau orang tua kita tahu sandiwara ini pasti mereka akan kecewa sekali dan aku paling takut bila ibu anfal kalau harus tahu hubungan ini. Fikri aku berharap kamu segera menemukan wanita yang tepat yang kamu cintai, bukan aku! Aku akan sabar menunggu sampai engkau tersadar kalau cinta tidak bisa dipaksakan dan aku memang tidak ingin dimilikimu.” Zita terpejam karena rasa lelah sekaligus sukacita hari ini menghabiskan dengan lelaki yang tidak bisa tergantikan. Zita tertidur dengan senyum tersungging, teringat ciuman dan pelukan Fauzi yang dirasakannya tidak berubah. Selalu menghadirkan deburan dan gemuruh dalam hatinya.
Other Stories
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Horor
horor ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...