Saat Cinta Itu Hadir

Reads
3K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

12. Remembering Last Time

Zita tergesa memasuki gedung Cut Nyak Dien, hari ini rencana meeting untuk acara simposium di Universitas Prima Indonesia.
“Maaf… maaf…\" setelah tarik napas dan memperbaiki duduknya, Zita mengedarkan pandangan dan deg! Fauzi sedang senyum-senyum memperhatikan dirinya sambil geleng-geleng kepala.
Zita tersipu malu sambil membetulkan kacamatanya yang tidak melorot. Selalu saja berdebar dan alhasil sepanjang meeting yang ada mereka saling pandang dan melepas rindu. Dua tahun kebersamaan yang hilang karena prahara.
Tanpa sadar akhirnya meeting selesai dengan hasil sepuluh dosen termasuk Zita dan Fauzi akan mengikuti symposium, temu keakraban juga menjalin kerja sama antar universitas.
Pas selesai jam makan siang.
“Zit, lunch yuk! Aku mau ke tempat special. Dan kamu pasti kangen juga. Ayooo!” Fauzi menarik tangan Zita dan berdua sekarang berada dalam mobil sedan milik Fauzi.
“Aduh padahal Fikri mau ngajak makan siang juga,” tiba-tiba Zita teringat tadi pagi sebelum mencegat taxi, Fikri sengaja berteriak, “Sayang nanti kita lunch bareng ya, nih Ibu minta dibeliin sate ayam kampung Mbok Blater.”
Saat itu Zita menggerutu dalam hati, “Apaan sih pakai Sayang segala! Norak!”
Tapi demi melihat binar di mata ibunya Zita tidak tega akan melakukan perlawanan, apalagi ingat dua malam yang lalu dia kepergok diantar Fauzi pulang ke rumah. Mengingat Fikri juga yang setia mengantarkan dia ke kantor dan juga menjemputnya. Fikri yang bertindak layaknya suami bertanggung jawab, yang menaruh amplop di meja riasnya berisi uang gaji lengkap dengan slipnya.
Sebenarnya Zita ingin mulai mencoba memahami keberadaan Fikri dan mencoba sekali saja untuk bisa mencintai, setidaknya ini adalah sesuatu yang dianggap adil karena selama ini Fikri telah menunjukkan kewajibannya sebagai seorang suami yang baik, walau selalu disakiti olehnya.
Tapi entah kenapa hari ini setelah dua malam lalu bertemu Fauzi rasa untuk mencoba mencintai pun terasa hambar, bahkan Zita ingin segera mengakhiri segalanya secepatnya, apalagi melihat kesehatan ibunya yang semakin membaik.
Tapi betapa naifnya bila langsung kembali ke pelukan Fauzi, lelaki yang secara tidak langsung telah menyeretnya pada perkawinan sandiwara. Kalau mau jujur semua pangkal permasalahan adalah diawali perselingkuhan Fauzi yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak Zita sebelumnya. Perselingkuhan yang sekali lagi menghancurkan harapan untuk bersanding dengan sempurna menjadi istrinya.
***
“Nah Zita, kita sampai,” Fauzi berbisik di telinga Zita.
“Uupps Bakso Bu Ndoko, kamu kangen juga ya dengan bakso masa SMA kita?” Zita seakan dibawa ke masa-masa awal mereka jadian.
“Iyalah… kan di sini aku mulai mengutarakan rasa cintaku padamu, Sayang. Kamu lupa? Atau memang semua kenangan kita telah kamu delete ya?” Fauzi menatap tajam Zita, membuat Zita grogi.
Ah serasa ABG dan memang sebenarnya walau sudah berusaha keras Zita melupakan semua kenangan dengan Fauzi ternyata semuanya masih tersimpan dan sewaktu-waktu bisa terbuka begitu saja. Pastilah Zita ingat saat menunggunya karena surat yang dititipkan Astuti supaya memintanya untuk menunggu sang Ketua OSIS yang tengah menghadap Pak Dirman dulu.
Rasa debar dan bahagia akhirnya Fauzi juga mengutarakan perasaannya. Semuanya masih tersimpan rapi. Ternyata Bu Ndoko masih ada dan tetap awet muda, merasa aneh juga karena biasanya ramai anak-anak SMA, sekarang yang datang sepasang manusia yang sudah mapan.
“Zit, kamu ada jam ngajar lagi? Kita balik ke kampus? Atau…”
“Aku nggak ada sih…”
“Asyiiik kalau gitu kamu duduk manis biar aku yang setir dan tentukan jalan-jalan kenangan ya, kamu mau kan?” tanpa minta persetujuan lebih lanjut Fauzi mengarahkan sedannya menuju pegunungan yang sejuk.
“Zit kamu sepertinya tidak bahagia dengan Fikri?” Fauzi mencoba mengorek tentang perkawinan Zita. Jujur Fauzi masih mencintai Zita, tapi bagaimanapun dia telah melukai hatinya. Fauzi tidak mau terlalu berharap banyak bisa mengembalikan harapan mereka di waktu lalu. Nyatanya Zita memang sangat sempurna baginya, memilih Riska adalah sebuah kesalahan. Rasanya waktu itu semua terlalu gegabah. Wanita yang ada di sampingnya jauh lebih dewasa dan membuatnya tenang.
“Zi, aku dan Fikri hanya menikah sandiwara, aku… aku… merasa berdosa melakukan semua ini. Karena aku menikah untuk menyelamatkan Ibuku, Fikri adalah putra Bu Farida, sahabat orang tuaku. Kami dulu bertetangga di masa kecil. Kamu tahu nggak? Fikri masa kecilnya sangat nakal! Dia selalu membuat aku menangis dan sampai perjodohan ini aku masih membencinya!”
“Zitaaa!” Fauzi terperangah dengan apa yang dialami Zita. Tidak disangka mantannya bisa berbuat senekat itu, mempertaruhkan perasaannya demi seorang lelaki yang dibencinya.
“Aku tidak ada pilihan Zi, Ibuku sedang sekarat waktu aku menyanggupi menikah dengan Fikri. Kalau aku menolak mungkin Ibu sekarang sudah tiada. Ibuku menderita jantung dan tidak boleh mendapat tekanan yang berat. Dia sangat menyayangi Fikri dan yakin kalau Fikri adalah pria yang paling pantas menjadi pendamping hidupku.”
“Zit… tapi sampai kapan kamu akan bersembunyi dalam pura-pura. Zita aku masih sangat mencintaimu, bahkan papa dan mama saat aku ceritakan bertemu denganmu mereka sangat antusias dan sangat berharap kita ada kesempatan untuk bersatu. Zitaaa, aku berjanji tidak akan mengecewakan hatimu lagi,” Fauzi menghentikan mobil dan membimbing Zita keluar memandang lepas pegunungan yang sejuk.
Rasa dingin sejuk menerpa tubuh Zita, dan kondisi badan yang kurang fit membuat Zita agak menggigil.
“Kamu kedinginan, Sayang?” Fauzi berlari dan mengambil jaket dalam mobilnya lalu melingkarkan pada tubuh Zita yang menggigil.
Sesaat wajah mereka sangat dekat dan Fauzi memeluk Zita, mengalirkan kehangatan. Zita melayang kembali, rasa yang hilang hampir sembilan tahun lalu pernah dia rasakan. Zita tidak ingin kehangatan ini tergantikan, tapi wajah Fikri atas ikatan perkawinan nan sakral menyadarkan Zita untuk melepas pelukan Fauzi.
“Zi sudah mau sore, kita pulang ya… aku tidak bisa pulang malam-malam lagi. Tiga hari lalu saat kamu mengantarku dan Ibu memergokinya, aku kena marah. Ibu benar-benar menentang hubungan kita kembali, karena bagaimanapun statusku adalah istri orang. Walau aku belum bisa menerima Fikri. Jujur aku menjadi galau dengan perasaanku. Dia lelaki yang sangat baik sebenarnya, di luar kebencian aku pada masa kanak-kanak kami,” Zita berusaha jujur mengungkapkan hatinya. Bagaimanapun terbersit rasa tidak adil telah dia lakukan atas diri Fikri.
Bagaimana perasaan Fikri kalau seandainya dia tahu istrinya sudah untuk kedua kalinya pergi dengan Fauzi? Bukan itu saja, semakin dekat dengan Fauzi rasa untuk cepat lari dari dirinya semakin kuat.
Zita merasa kasihan sementara rasa cinta belum ada untuk Fikri. Hatinya masih tertuju pada pria masa lalunya. Hanya Fauzi yang masih menggetarkan hatinya walau beradu dengan kesalahan yang dia torehkan. Getaran itu masih sangat kuat, sebagian sisi hatinya masih tetap ingin meraihnya kembali.
Sepanjang sisa perjalanan pulang tidak banyak kata yang terucap lagi, Fauzi juga tidak mau memaksa Zita untuk melakukan tindakan menjauhi Fikri mengingat dirinya juga yang telah membuat hidup Zita berantakan. Penyesalan selalu datang terlambat.
Pikiran Zita kusut setelah tahu nyata-nyata Fauzi masih mencintainya dan berjanji menebus kesalahannya. Kembali semangat untuk mewujudkan impian bersanding dengannya, bersanding dengan kondisi yang telah mapan. Sama-sama dosen yang lulus sempurna meraih Stara Duanya.
Masa depan sudah terbentang di hadapan mereka. Kesukaan, profesi yang sama mengeratkan mereka saling link dalam diskusi.
Sementara dengan Fikri walau seorang pengusaha, rasanya Zita tidak bisa menjamin dia bisa mengimbangi diskusi dalam keseharian. Terbayang pasti Fikri hanya memperhitungkan rugi dan laba perusahaannya yang sangat membosankan. Tidak fair juga! Karena Zita tidak ada usaha mencobanya.

Other Stories
Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Kk

jjj ...

Download Titik & Koma