13. Three Months After The Wedding
Tanpa terasa tiga bulan terlewati, Fikri masih saja bersikap sebagai pria yang bertanggung jawab. Kehidupan seperti berjalan tanpa masalah. Sandiwara yang sempurna, Ibu Ratih juga semakin sehat dan berharap segera bisa menimang cucu dari Zita.
Fikri menyerahkan semua penghasilan bahkan sampai slip gajinya kepada Zita. Walaupun Fikri tahu amplop tersebut pada akhirnya Zita kembalikan di laci almari tanpa diutak-atik, Fikri tidak peduli.
Laci bagai tabungan saja, uang dan slipnya teronggok rapi tanpa ada yang mengutak-atik. Zita sendiri wanita mandiri yang tidak memerlukan uang Fikri, lelaki yang bertahan atas permainan perkawinan.
Tiga bulan dengan pernikahan sah tapi sandiwara sangat menyiksa Zita, perasaan cinta dan sayang tidak bisa dipaksakan, walau sebenarnya Zita merasa kasihan terhadap Fikri yang begitu menerima kondisi suami bohongan. Tapi sepertinya belum ada pilihan dan keberanian untuk memutuskan berpisah dan berkata jujur pada keluarga mereka. Semua menjadi dibiarkan mengalir apa adanya.
Masih tetap Zita dengan kekerasan hatinya saat Zita menjumpai Fikri yang menaruh slip gaji dan uangnya, “Fik, tidak usah berpura-pura deh, aku tidak butuh uangmu dan kamu harus sadar aku tidak suka kamu! Apalagi mencintaimu! Aku sudah coba tapi tetap! Tetap tidak bisa!” hardik Zita kasar.
Sabtu malam itu rasanya Zita ingin marah saja. Rumah senyap, ibu dan bapak sepertinya sudah terlelap walau jam masih menunjukkan pukul 21.00.
“Kenapa sih kamu masih bertahan saja Fik? Tunggu saja aku juga yang akan menyudahi pernikahan sandiwara ini dengan caraku,” masih dengan kesal Zita mengumpat.
“Aku tidak memaksakan diri Zita, aku hanya ingin bersikap selayaknya laki-laki yang telah beristri. Aku mau menjalankan kewajibanku memberikan nafkah lahir dan batin! Terserah kamu suka atau tidak, suatu hari kamu akan mengerti,” Fikri menjawab dengan tenang.
Ketenangan Fikri menjawab dan keyakinan Fikri semua pasti akan menjadi normal layaknya suami istri yang menikah dengan dasar mau sama mau, malah membuat Zita kesal.
Sekesal apa pun Zita juga tidak mungkin mengambil risiko yang membuat ibunya akan sakit kembali bahkan lebih jauh bisa membawa kematian.
Ibunya sangat membanggakan Fikri, apalagi ketidakacuhan Zita membuat Fikri mencurahkan perhatian pada kedua orang tua Zita.
Beberapa kali Fikri, bapak dan ibu jalan-jalan ke tempat wisata atau sekadar ke restoran bersama mertuanya, sementara Zita malah asyik menghabiskan waktu di kampus atau jalan dengan Fauzi.
Terbersit rasa salah dan iri dengan kekompakan mereka, tapi Fauzi juga membutuhkannya dan Zita masih ingin menjadi Zita yang dulu. Saat Fauzi membutuhkan diapun akan selalu ada.
“Hahh susah ngomong dengan orang keras kepala! Nggak usah sok baik! Nggak usah kasih aku uang bulanan lagi! Nggak usah berpura-pura menjadi suami yang sangat care! Aku tidak butuh kamu antar dan jemput!” Zita melemparkan buku Eat, Pray and Love yang tengah dibacanya dengan keras dan berlalu ke ruang keluarga, memencet-mencet channel TV dengan hati yang kesal.
“Derrtt…” HP Zita bergetar.
“Hanya kamulah yang bisa menghantarkan tidurku dan menemaniku hingga terlelap, my sweet heart…” WA dari Fauzi membuatnya bahagia.
“Tidurlah… jadi Senin kita akan bertemu?” balas Zita.
Hati berbunga-bunga masih seperti waktu lalu saat sebelum terjadi prahara antara dia, Fauzi dan mahasiswinya.
“Pastinya… I miss u…” balas Fauzi.
Zita tersenyum bahagia, rasanya tidak sabar menunggu hari Senin akan berjumpa dengan Fauzi setelah mengajar mata kuliah Manajemen Perusahaan.
***
Senin siang setelah mengajar mata kuliah Manajemen Perusahaan, Zita segera menyusul Fauzi yang sudah menunggu di mobilnya.
Kali ini Zita ingin tampil semodis mungkin, baju pink menjadi pilihan hari Senin yang cukup cerah. Penampilan kalem Zita membuat Fauzi berdecak kagum.
“Siap Tuan Putri, Zita kamu cantik sekali,” Fauzi tanpa sungkan mengagumi Zita.
Zita masih tersipu malu, semburat merah jambu merona di wajahnya yang putih ayu.
Mobil sudah meluncur membelah jalanan kota yang cukup lengang. Fauzi kembali memilih restaurant Delicous Kitchen yang comfort untuk ngobrol.
“Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya Zit, aku bercerai dengan Riska karena aku tidak tahan dengan sifatnya yang possessif, apalagi dengan profesi kita yang menuntut untuk berinteraksi dengan banyak mahasiswi atau sesama dosen, ke manapun aku pergi selalu dimata-matai,” curhat Fauzi mengulangi apa yang pernah diceritakan saat perjalanan di mobil.
“Menurut aku Zi, Riska wajar bersikap seperti itu karena kamu juga tidak bisa di percaya! Kenapa kita putus? Karena kamu berselingkuh dengan dia,” Zita mengingatkan masalah mereka waktu lalu.
“Sayang, sudahlah jangan kamu ungkit masalah kita yang lalu,” pinta Fauzi seperti anak kecil.
“Berkali-kali aku bilang, ternyata hanya kamu yang bisa mengerti aku,” bisik Fauzi sambil menggenggam tangan Zita.
“Zita, aku mohon cepat ambil keputusan. Mintalah cerai dengan Fikri, aku akan melamarmu, Papa dan Mama sudah sangat menanti kehadiranmu di tengah keluarga kami.”
“Kamu tahu? Mama sangat bahagia ketika aku bercerita tentang kamu dan sangat mendukung kita untuk memulai semua dengan yang baru. Apalagi kita sudah sama-sama mapan dan inilah saatnya kita tebus kesalahan-kesalahan masa lalu,” Fauzi tidak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya.
Sungguh Zita bergetar, lorong waktu lalu perlahan menguak kembali menghantarkan hembusan kehangatan yang ternyata masih Zita harapkan. Mama dan Papa Fauzi yang amat menyayangi saat mereka masih berpacaran. Tidak pernah terbersit ketakutan akan mertua yang galak. Hanya saja, ah… andai tak ada cacat akan hubungan mereka.
“Zi… beri waktu aku berpikir, betapa dulu aku mencintaimu, tetapi aku bukanlah wanita bebas lagi. Kita bertemu dalam kondisi yang salah,” jawab Zita.
“Aku mohon, pikirkan baik-baik. Inilah the one chance for us to be happy Sweet Heart,” Fauzi mengelus rambut Zita yang panjang.
Sungguh Zita ingin menjawab “I do!”
Tapi bayangan Fikri dengan senyum yang tulus, kesabaran menghadapinya saat dia marah-marah, wajahnya yang terlelap di malam hari sepertinya mulai terekam tanpa dia berusaha menyimpan atau menghapusnya dalam pikirannya.
Tiga bulan kedekatan dalam sandiwara berjalan dan membuat Zita terbiasa. Apakah benar kalau dalam pepatah Jawa yang mengungkapkan “Tresna jalaran soko kulina,” apa mungkin akan menjadi karma baginya?
Tapi tidak! Aku masih membenci Fikri dan aku tidak mencintainya. Yang tersisa rasa kasihan karena dia baik, tapi bukankah baik dan cinta dua hal yang berbeda?
“Zit… kamu sedang tidak mempertimbangkan Fikri kan? Kamu sedang tidak memikirkan laki-laki yang telah membuat masa kecilmu menangis dan menikah tanpa cinta kan?” Fauzi memberondong berbagai pertanyaan saat melihat Zita yang resah.
Zita terdiam. Selalu Fauzi bisa menebak apa yang tengah dia pikirkan. Sial!
“Atau jangan-jangan kamu jatuh cinta pada lelaki bodoh itu! Dan kamu sudah melakukan hubungan layaknya suami istri? Jawab Zita!” siang itu Fauzi malah terbakar api cemburu atas kediaman Zita.
Fauzi yang di awal sangat bahagia karena mempunyai kesempatan untuk kembali balik padanya mendadak diliputi rasa takut. Saat dia ingin memperbaiki semuanya dan Zita memberi kesempatan tapi mengapa setelah tiga bulan dari awal pertemuan, sekarang yang ada jadi keraguan.
Bayangan-bayangan kebersamaan Zita dan Fikri yang setiap hari bersama, melewati malam dalam satu kamar sangat tidak mungkin kalau tidak terjadi apa-apa antara mereka.
“Zita kamu mendengarkan aku kan? Kamu mau kan kita memulai semua dari awal? Zita hatimu masih hanya untukku kan? Aku masih tetap cinta pertama dan terakhir bukan? Zita kenapa aku jadi takut kamu akan merubah semuanya setelah aku yakin kita bisa bersama-sama,” Fauzi memandang sendu karena Zita tidak seperti kemarin-kemarin, yang berekspresi dan membalas semua sentuhan hangatnya.
“Baiklah Zi, aku akan mempertimbangkan kelanjutan hubungan kita. Zi kamu tahu aku masih mencintaimu walau kamu telah mengkhianati aku. Tapi Zi, aku juga ingin bersikap adil buat Fikri. Masih banyak yang harus aku pertimbangkan karena bila aku mengambil keputusan yang salah, maka yang ada adalah penderitaan tak termaafkan sampai akhir hayat,” Zita mencoba bijak.
Di dalam taxi sepanjang perjalanan pulang Zita memikirkan perbincangan barusan dengan Fauzi, betapa dia mencintainya sekaligus pernah sangat membencinya. Tapi rasa cinta membara masih menyala dalam hatinya mengalahkan luka yang pernah dia torehkan.
Other Stories
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Dentistry Melody
Stella ...