Saat Cinta Itu Hadir

Reads
3K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

15. Pregnant

Di sisi hati begitu kuat rasa benci pada Fikri, sisi hati lain ingin memaafkan Fauzi untuk mengarungi hidup baru yang dulu didambakan, tapi hati kecilnya timbul rasa iba terhadap Fikri. Entahlah! dari mana rasa itu datang?
Hari ini Zita pulang cepat, entahlah rasa mual dan pusing tiba-tiba mendera dari pagi. setelah mengajar Metodologi Penelitian, Zita merebahkan sebentar ke ruang kesehatan untuk sekedar check up.
“Bu Zita, mungkin masuk angin biasa, tapi saya sarankan bu Zit test pack kehamilan,” saran dr Aulia.
“Kehamilan Dok,” kata Zita bingung.
“Iya, soalnya dari keterangan Ibu datang bulan terakhir dua bulan lalu. Buat seorang wanita kalau bukan karena ada yang tidak beres dengan rahimnya pastilah hamil,” dr. Aulia senyum-senyum.
Sambil menyetir mobil pikiran Zita terngiang dengan prediksi dr. Aulia akan kehamilannya.
“Bagaimana kalau hal ini benar dan bagaimana aku harus menerangkan ke Fikri? Lelaki yang masih belum bisa aku cintai, walau, walau… aghhhhh bodohnya aku!” Zita merutuk kebodohannya dua bulan lalu. Remang malam, galau, dan sentuhan-sentuhan pertama kali yang Fikri lakukan dan kerelaannya tanpa ada paksaan walau rasa belum bisa menerima Fikri. Semua terjadi begitu saja.
***
Tiba-tiba sorot lampu mobil tajam, menyilaukan pandangan Zita. Setelahnya...
Braaak!!! Zita tidak sadarkan diri kembali. Semua terasa gelap.
Samar Zita mendengar doa-doa di sekitar tempat dirinya terbaring, kepalanya terasa berat dan pandangan sangat gelap walau mata sudah dibuka lebar-lebar.
“Zita… syukurlah Nak, kamu sudah sadar. Kamu baik-baik saja Sayang?” suara Ibu Ratih terdengar sangat khawatir akan kondisi putri tunggal kesayangannya.
“Ibu… Zita tidak bisa melihat apa-apa, gelap sekali,” tangan Zita meraba-raba sekitar.
“Alhamdulillah… sabar ya Nak. Kamu masih belum pulih. Bersyukur Nak, Allah sayang kepadamu dan anak di kandunganmu. Ibu bahagia akhirnya Ibu akan mempunyai cucu,” ucap Ibu Ratih.
“A... anak…” Zita teringat saat terakhir sebelum mengalami kecelakaan, seperti yang dikatakan dr. Aulia akan kemungkinan dirinya hamil.
“Fikri sangat bahagia, dia selalu menjagamu siang dan malam. Ibu tidak pernah menyesal menjodohkanmu dengannya,” suara ibu tampak terharu.
“Nak Fikri sekarang biar Ibu yang jaga Zita ya, dari kemarin kamu nggak sempat istirahat.”
Ternyata Fikri tidak jauh dari tempat Zita terbaring.
“Tidak Ibu, sudah tanggung jawab Fikri. Alhamdulillah Zita sudah sadar dan anak kita masih bisa selamat. Aku sangat bangga denganmu, kamu wanita yang kuat Zit!” ucap Fikri dengan rasa bahagia.
Meskipun Zita tidak bisa melihat, dia dapat merasakan kebahagiaan Fikri atas keselamatannya dan janin dalam kandungannya.
Ternyata kecelakaan itu membuat Zita mengalami kebutaan. Zita ingin sekali mengutuk apa yang telah terjadi, putus asa dan merasa terpuruk tapi Zita tidak bisa melakukan apa pun.
***
Hampir satu bulan Zita dirawat, kebutaan yang dialami semakin membuat Zita merasa menjadi wanita yang sangat tidak berguna. Kandas kariernya untuk bisa berkarier di dunia pendidikan.
Pupus sudah cita-cita bisa meraih S3 dan S4 yang masih menjadi salah satu planning hidupnya. Dan terutama pasti Fauzi juga akan kecewa karena dia adalah wanita cacat sekarang. Apakah Fauzi masih akan mengejarnya lagi setelah kehamilan dan kebutaannya?
“Aku lebih baik mati, daripada jadi manusia yang tidak berguna. Aku buta jadi untuk apa aku hidup, lebih baik mati!” tangis Zita.
“Astaghfirullah Nak, kamu harusnya tidak boleh mengucapkan seperti itu,” Ibu Ratih mengingatkannya putrinya agar bersabar.
“Semua orang mengira engkau harusnya tidak selamat, tetapi Allah masih memberi kesempatan kamu dan bayimu untuk hidup, kamu tidak kasihan dengan Fikri yang selalu setia menjagamu?” nasihat Ibu Ratih terus menerus diucapkan untuk menguatkan Zita.
“Zita, setiap orang pasti akan mendapat cobaan. Betapapun cobaan itu harus kita jalani bersama-sama ya, aku janji akan menjagamu selamanya,” ucap Fikri.
“Grrrhhhh, rasanya kalau badan ini sehat pasti aku udah lawan omongan Fikri barusan. Akan aku tolak semua ajakannya. Aku tidak akan pernah menurut dengannya, semua ini gara-gara dia juga! Tapi sekarang apa dayaku? Aku… aku sangat lemah, aku sangat tidak berguna,” batin Zita menjerit dan menangis.
“Meski mata tidak bisa melihat lagi! Cobalah bicara dengan mata hatimu. Tidak selamanya apa yang dilihat itu selalu bagus. Aku memercayai mata hati lebih indah bila kita mau menerima dengan ikhlas. Zita apapun keadaan kamu, aku selalu mencintaimu,” tulus Fikri ucapkan.
Zita terdiam, tapi tak tahan juga menahan tetesan air matanya yang sudah menggantung mendengar kata-kata lembut Fikri yang menyentuh hatinya. Betapa dia wanita yang sangat egois, yang mementingkan kepuasan dirinya.
Dan hangat peluk Fikri yang tiba-tiba membuat Zita bebas untuk menumpahkan air matanya. Untuk pertama kalinya juga Zita menangis di dada Fikri yang selama ini selalu dimaki-maki dan dilecehkan juga dikhinati dengan pertemuan-pertemuannya dengan Fauzi.
Ternyata pelukan Fikri memberinya kenyamanan, “Ah ke mana aku selama ini?” Bisik lembut hatinya.
***
“Akhirnya kita boleh pulang Princess!” suara girang Fikri mengagetkan Zita yang tengah menyisir rambutnya yang panjang.
Tiba-tiba Fikri menciumi pipinya dengan perasaan girang karena Zita sudah diperbolehkan pulang besoknya. Fikri geli melihat wajah Zita yang memerah.
Princess panggilan yang manis dari Fikri untuk Zita. Dan Zita menyukainya.
“Aku ingin jalan-jalan, sore ini segar sekali anginya…” pinta Zita.
“Tentu saja Princess, hamba selalu siap mengantar ke manapun Princess ingin pergi,” Fikri dengan kocak meledek Zita.
Tanpa canggung dibopongnya Zita ke kursi ronda dan dibimbingnya dengan penuh kasih sayang.
Sore yang hangat Zita merasakan kenyamanan dengan seorang Fikri, menikmati mata hatinya. Dan berusaha kompromi dengan apa yang telah dia alami. Fikri yang tidak mengutak-atik kesalahan kemarin-kemarin dan selalu menyanjungnya. Zita merasa nyaman. Benar kata ibu, bukankah lebih baik dicintai sepenuh hati daripada mengejar cinta yang tidak pasti?

Other Stories
People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Download Titik & Koma