Saat Cinta Itu Hadir

Reads
3K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

17. Happy Mom

Kehamilan yang tidak pernah terbayangkan sama sekali. Seperti mimpi saja akan menjadi seorang ibu. Zita kerap tersenyum sendiri kalau ingat semuanya dari awal, betapa Zita menolak Fikri lalu accident yang membuahkan buah cinta.
Semua begitu cepat dan tanpa terasa kandungan Zita semakin mendekati prediksi kelahiran. Ternyata sangat membahagiakan menjadi calon ibu.
Apalagi Fikri sangat memanjakan dia dengan hadiah-hadiah baju hamil yang cantik-cantik dan semua pernak-pernik kebutuhan bayi yang diprediksi laki-laki itu.
Ibu Ratih sampai berdecak, “Belum puas juga beli baju hamil dan perlengkapan buat si kecil Nak Fikri. Sudah hampir sekamar penuh lho.”
Zita hanya bisa membayangkan kamar yang didesain Fikri dengan membayar ahli designer kamar baby. Nuansa biru, ada box bayi putih, dan almari kayu juga senada. Fikri berusaha mendeskripsikan detail setiap sudutnya.
Tidak hanya kamar bayi tetapi semuanya Fikri berusaha menjelaskan dengan sabar saat ke dokter kandungan tentang berapa centimeter pertambahan si kecil dalam rahim Zita dan berapa berat kenaikan si bayi.
Zita merasa menjadi calon bunda yang sangat bahagia. Tanpa harus menuntut meminta perhatian suami, semuanya telah Fikri lakukan dengan sempurna.
Semakin besar kandungan yang ada semakin tumbuh rasa cinta terhadap bayi dalam kandungan dan juga Fikri. Bahkan sama sekali tidak lagi terlintas memikirkan Fauzi. Mungkin dengan cara seperti ini Tuhan menunjukkan mana yang terbaik.
Setelah menyusun beberapa mianan di kamar bayi, Fikri menghampiri Zita yang duduk di ruang keluarga, ada ibu juga bapak yang menemani Zita saat Fikri ke kantor.
Sementara Zita mengambil cuti besar karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk mengajar.
Fikri hanya senyum-senyum sambil membelai perut Zita yang semakin membuncit setelah Ibu Ratih selesai mengkritik atas keroyalan dia membeli perlengkapan buat calon puteranya.
“Nak Fik, kamu keliatan pucat, istirahatlah! Oh iya, tadi Mamamu menelepon. Katanya kangen sekali denganmu. Pasti Mamamu sangat kehilangan anak tunggal kesayangannya. Zita ditinggal sesekali nggak apa-apa kan Zit? Biar Nak Fikri menengok Mamanya? Biarlah Zita bersama Ibu, kamu pulanglah ke rumah. Kayanya Mama kamu sangat mengkhawatirkanmu. Atau besok sehabis menemani Zita senam hamil mampirlah ke rumah,” saran Ibu Ratih.
“Iya Ibu, nanti Fikri sempetin menengok Mama dan Papa,” janji Fikri.
***
“Fik, kata Suster yang mengajar senam hamil posisi si baby sudah turun nih,” kata Zita bahagia sehabis mengikuti senam hamil.
“Hmm oh iya, wah… Nak, kamu udah nggak betah ya tinggal di perut Bunda,” Fikri mencandai bayi yang ada dalam rahim Zita sambil mengelus perut Zita.
“Ihhh dia bergerak! Lihat! Dia tahu kalau kamu mengajaknya bicara. Padahal aku kira dia kecapean abis ikutan senam hamil,” seru Zita girang.
Setelah mencandai si bayi, Fikri banyak diam dalam perjalanan. Zita merasa sepi dengan diamnya Fikri.
“Fik… kok kamu banyak diam sih? Biasanya rame sepanjang jalan.”
“Ha... ha... Princess, aku tuh diam karena sedang ngebayangin kaya apa nanti ya anak kita wajahnya. Apakah ganteng kaya aku?”
“Ihhhh GR, emang siapa yang bilang kamu ganteng?” protes Zita cemberut.
“Ada ya wanita lain yang bilang kamu ganteng?” Zita cemburu dengan wajah yang tambah dimanyunkan.
“Ha... ha... ha... my Princess bisa juga cemburu ya? Nggak ada wanita yang suka denganku, walau aku ganteng! Kalau pun ada, hatiku sudah tidak bisa dibuka lagi buat yang lain soalnya sudah di-password. Dan yang tahu password-nya cuma wanita tercantik yang ada di sampingku.”
Zita mencoba meraba-raba mencubit Fikri, tapi yang ada sebaliknya Fikri menangkap tangannya dan menciumnya dengan dalam.
Hati Zita berdesir hangat.
Untuk mengusir rasa grogi karena tiba-tiba ciuman Fikri yang lembut, “Serius Fik gak ada yang bilang kamu ganteng?”
“Ada lah… Mama Farida dan kamu Princess, hayo ngaku!” Fikri masih menggoda Zita.
“Iya sih, ganteng kalo dilihatnya dari London,” Zita membalas ketus, kegalakannya keluar lagi.
“Ha... ha... ha…” Fikri tertawa lebar, walau…
Bersama Fikri, Zita bisa melewati masa-masa kebutaannya, entah sampai kapan. Hanya saja tidak perlu ada rasa curiga seperti yang dirasakan saat bersama Fauzi. Hati selalu was-was akan kepercayaan.
Tanpa sepengetahuan Zita, di belakang setir keringat dingin mulai membasahi sekujur bajunya. Ada rasa sakit yang tengah Fikri tahan dengan candaan yang dia gulirkan.
“Kapan-kapan aja ya mampir ke rumah Mama, aku harus mempersiapkan data-data untuk meeting dua hari ke depan Zit. Dan maaf aku mungkin akan meninggalkan dirimu barang satu minggu. Sebentar lagi akhir tahun banyak data closing tahunan yang akan di bahas di kantor,” ucap Fikri sambil menahan sakit yang bukan untuk sekali dua kali dia alami.
Zita tidak pernah terpikir ini candaan sore terindah dan terakhir dengan Fikri. Senda gurau yang hangat. Semua rahasia terjawab sudah dalam catatan harian Fikri.

Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Download Titik & Koma