2. Jatuh Cinta Itu Bagai Roller Coaster
Ini cerita beberapa tahun lalu, saat aku menceritakan kisah Tiara sahabatku, usia kita sudah menjelang tiga puluh lima.
Usia delapan belas tahun, aku dan Tiara kerap ngobrol via chatting di internet. Biasanya Tiara hanya cerita tentang kegiatan kuliahnya yang padat dan kegiatan dia di Unit Kegiatan Mahasiswa. Dan Tiara yang pintar semester empat mulai ditawari kedudukan sebagai salah satu pengurus Senat.
Tiara yang tadinya lebih aktif di UKM Koperasi Mahasiswa, tiba-tiba jadi tertarik di Senat dan aku merasa ini karea adanya sosok Bagas yang mulai diceritakannya sedikit demi sedikit.
Chat Tiara:
“Uniq, jadi Bagas yang tadinya hanya suka main ke markas KPMA suka beli teh botol, roti tawar dan salah satu mahasiswa yang suka nitip berbagai kudapan jadi suka share aktivitas Senat.”
Chat aku (Uniq):
“Ra, kayaknya kamu sudah cerita beberapa kali Bagas deh! Ada yang menarik ya dari ketua senat .”
Aku mulai ingin menanyakan lebih jauh tentang Bagas, karena sebelum-sebelumnya chat aku perhatikan sudah ada beberapa kali nama Bagas disebut oleh Tiara. Jelas ini ada yang tengah berubah dalam hati Tiara. Ya, sepertinya Tiara ada sedikit atau banyak menyukai Bagas yang menurutnya cakap, pintar, dan juga suka menolong.
Chat Tiara :
“Emang iya ya, aku ada nyebutin nama Bagas beberapa kali J hiii? Pasti kamu berpikir aku suka sama dia ya Niq?”
Chat aku (Uniq):
“Hmmm sepertinya... soalnya kamu kan hampir tidak pernah suka dengan cowok dari SD sampai lulus SMU, yang ada semua buat kamu patah hati Ra J.”
Chat Tiara:
“Gitu ya, takut nih aku jadinya ....”
Chat Aku:
“Takut apa?”
Aku jadi penasaran kenapa Tiara bilang jadi takut. Memang ada yang salah dengan Bagas?
Chat Tiara:
“Iya takut karma, soalnya waktu lalu aku suka buat cowok patah hati. Takut aja... kalau aku yang harus patah hati jika punya cowok.”
Chat Aku:
“Ya enggaklah, kan kamu enggak mempermainkan para cowok yang suka kamu di waktu lalu. Mereka saja yang suka berlebihan dan tak sadar diri kalau kamu memang belum mau pacaran. Hmmm jadi sekarang siap pacaran nih ceritanya... ehem... ehem... coba kirim foto Bagas! Kaya apa sih?”
Aku jadi penasaran dengan cowok yang namanya Bagas yang sepertinya mampu mencairkan “si gunung es” julukan buat Tiara di waktu lalu yang dilabelkan para cowok yang menaksirnya.
Chat Tiara:
“Tunggu ya, aku punya yang rame-reme pas dia lagi di Kopma.”
Tak selang berapa lama, Tiara mengirim foto sosok cowok yang memang tampan, duh mirip dengan Dimas Anggara, bintang film yang banyak membuat kaum hawa jatuh hati, pantesan si gunung es perlahan mencair hatinya.
Chat Tiara:
“Niq gimana menurut kamu? Jelek ya?”
Aku memang agak menjeda lama karena sepertinya terpesona dan mengamati detail si Dimas… eh si Bagas yang membuat sahabatku jadi berubah hatinya.
Seingatku Tiara pernah bilang tidak akan pacaran sampai lulus kuliah dan dapat pekerjaan, syukur bisa langsung S2 dan baru dapat cowok yang benar-benar pas di hatinya. Tapi sepertinya keberadaan Bagas membuat Tiara mulai goyah dengan prinsip akan laki-laki.
Tiara bilang tidak akan pacaran lama-lama setelah bertemu yang cocok suatu hari nanti, tentu saja setelah mapan bekerja baru akan memikirkan hidup rumah tangga.
Dan sesaat sepertinya aku harus dilupakan karena Tiara lama tidak sempat lagi berbicang denganku, apakah yang terjadi dengan Tiara? Dengan perasaannya terhadap cowok bernama Bagas yang menghadirkan sebuah pengalaman baru dalam hidupnya.
Pengalaman mulai mengenal cinta yang Tiara pernah bilang dalam chat agak lama kita, “Niq jatuh cinta itu bagai roller coaster, hatiku penuh berdebar-debar. Ada saja yang membuatku berdebar-debar.”
***
Tiara dan Bagas
Tiara agak malu denganku karena ternyata dia tidak bisa menepati janji kalau dirinya akan dekat dengan cowok bila aku sudah siap menikah dan tak perlu lama berpacaran. Tapi sejak kehadiran Bagas yang tidak banyak berbicara tapi simpatik, kok hati Tiara jadi deg-degan gak karuan ya?
Apalagi Bagas diam-diam penuh perhatian dengannya. Bagas juga asyik diajak ngobrol, wawasannya sebagai Ketua Senat dengan program-programnya membuat Tiara suka terkesima memandang wajahnya.
Bagas kakak kelas selisih 2 tahun, anak Fakultas Sosial Politik pas dengan jabatannya Ketua Senat yang ternyata banyak diidolakan mahasiswi. Tiara cukup tersanjung karena Bagas bukannya menanggapi mahasiwi-mhasiswi yang menyukainya, terutama Yunita, anak Fisipol seangkatan yang juga menyukainya terang-terangan.
Yunita beberapa kali menyambangi Bagas yang suka duduk-duduk lama di kantin Kopma yang memang tempatnya enak untuk menunggu jam kuliah berikutnya, jika dalam hari itu ada beberapa mata kuliah yang harus dilewati.
Daripada harus pulang ke kostan lebih baik menunggu di kantin Kopma yang tersedia buku bacaan, minuman dan kudapan harga ala mahasiswa sambil membaca buku mata kuliah atau buku-buku yang disediakan pengurus Kopma, rasanya nyaman.
Awalnya Bagas tidak terlalu perhatian dengan Tiara, anak semester empat fakultas Ekonomi Manajemen yang hampir setiap hari nongol di Kopma. Ternyata selidik punya selidik, Tiara rajin merapikan buku-buku yang habis dibaca anak-anak pengunjung kantin Kopma, dan memang tugasnya sebagai pengawas toko dan kantin Kopma Universitas Panca Sakti membawahi dua karyawan yang dipekerjakan untuk menjaga toko dan kantin Koperasi Mahasiswa.
Dan Tiara dipilih sebagai pengurus Kopma yang menempati posisi divisi Usaha membawahi toko dan kantin, karena kostan Tiara juga di samping kampus jadi dengan mudah sewaktu-waktu dia bisa pulang ke kostan yang hanya beberapa meter dari toko dan kantin Kopma, juga dekat dengan kampus ekonomi.
“Eh boleh gak saya pinjam buku NS Budiana Tips Menulis Artikel ini?” tanya Bagas yang terusik dengan sifat rajin Tiara merapikan buku-buku dan sesekali menyapa anak-anak yang tengah menikmati makan dan minum di kantin Kopma.
“Hmmm sebenarnya tidak diperbolehkan Mas meminjam buku-buku yang ada di sini, karena sebagian adalah buku-buku pribadi saya, kebetulan buku yang Mas... maaf siapa ya?” tanya Tiara polos.
Bagas sebenarnya gemas dengan pertanyaan Tiara yang sepertinya memang tidak tahu siapa dirinya? Bagas mendadak panas wajahnya, sepertinya dirinya merasa semua orang mengenalnya.
Siapa yang tidak tahu dirinya Sang Ketua Senat yang dibanggakan universitas karena kecerdasan dan IPK nyaris sempurna, serta sederet presatasi penulisan artikel politik dan tulisan-tulisan yang dimuat di media massa?
Tiara menatap bingung dengan Bagas yang mendadak tersenyum kecut, “Ada yang salah ya omongan saya?” tanya Tiara bingung karena wajah cowok di depannya sepertinya agak kesal.
“Oh tidak, maaf kita belum berkenalan... namaku Bagas... kamu?” Bagas balik bertanya.
“Tiara, panggil saja Rara... Bagas? Oh I see… jadi kamu Bagaskoro Putra ya? Eee Ketua Senat?” tanya Tiara ragu.
Tiara baru sadar kalau cowok yang 1 mingguan ini kerap duduk-duduk sambil membaca itu cowok penting di universitas. Dirinya memang terlalu cuek dengan cowok, sampai enggak mau tahu juga siapa orang-orang penting yang ada di universitas Panca Sakti ini.
Padahal Jaka, ketua Kopma suka ngomongin Bagas. Terutama untuk minta acc setiap kegiatan Kopma.
Berhubung Tiara lebih ke pengurus operasional dan dirinya juga tidak terlibat berurusan sampai ke ketua Senat, maka dirinya juga tidak terlalu paham. Ditambah dirinya juga tidak pernah terlibat rapat-rapat yang berurusan dengan program-program, semua sudah di-handle oleh pengurus-pengurus utama Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Humasnya Kopma.
“Iya, jadi sekarang baru tahu kan kalau aku ketua Senat dan sudah hampir seminggu ini duduk-duduk di sini tanpa kamu sapa...” kata Bagas dingin.
“Maaf ya, bukan bermaksud tak menyapa, rasanya sih... aku sudah bersikap adil dengan semua pengunjung kantin. Ya aku hanya menyapa seperlunya dan termasuk barusan kalau Mas Bagas bertanya untuk meminjam buku, karena pas itu buku koleksi saya pribadi, bukan inventaris Kopma. Saya perbolehkan meminjam asalkan dibalikin kalau sudah selesai membacanya ya,” kata Tiara pelan berusaha mencairkan kekakuan dan rasa sedikit bersalah karena tidak terlalu mau tahu siapa para pengunjung kantin Kopmanya lebih jauh.
“Wah, terima kasih ya sudah diizinkan meminjam buku kamu Ra. Saya sebentar lagi ada kuliah lagi, jadi langsung cabut ya. Besok saya ke sini lagi karena ada cukup waktu satu jam menunggu setelah mata kuliah pertama ke mata kuliah kedua,” Bagas segera merapikan beberapa buku yang tergeletak di meja dan memasukkan buku cukup tebal yang barusan dipinjam dari Tiara.
Tiara menatap kecekatan Bagas merapikan buku-buku tanpa sempat ikutan membantu, dirinya jadi sibuk memperhatikan cowok yang kerap diperbincangkan para pengunjung mahasiswi yang suka duduk-duduk di kantin Kopma sembari merumpi itu.
“Ternyata ini yang namanya Bagas, yang suka diobrolin mahasiswi sebagai ketua Senat yang ganteng,” hanya dalam hati Tiara berani mengakui kalau Bagas memang ganteng. Anehnya kemarin-kemarin dia beranggapan biasa saja dan tidak terlalu ingin melihat lama-lama, karena memang semua pengunjung di mata Tiara semua sama saja.
Kalau tadi Bagas tidak memperkenalkan diri dan tidak bertanya apakah boleh meminjam buku yang dirinya sengaja sediakan atas inisiatif agar mahasiswa di kantin tidak hanya ngobrol tapi juga belajar, pasti besok-besok dan seterusnya Tiara juga tidak akan berinistiaf berbicara lebih banyak seperti barusan.
Besoknya memang Bagas datang lagi dan buku teori menulis yang dipinjamnya masih dibaca di jeda menunggu jadwal kuliah berikutnya.
“Ra, jadi sebagian buku-buku di sini punya kamu?” tanya Bagas tertarik ingin tahu. Sejujurnya semalam dirinya mulai memikirkan cewek yang sekarang ada di depannya sambil membawa kue donat yang barusan dipesan. Biasanya bukan Tiara yang menghidangkan, tapi sepertinya mbak-mbak yang biasa menghidangkan sedang tak ada, jadi Tiara yang mengantar ke mejanya.
“Iya, karena aku suka baca dan waktuku juga banyak habis di sini, maka gak apa-apa aku bawa beberapa buku-buku koleksiku ke sini, asalkan tidak dibawa pengunjung dan sepertinya aman-aman saja kok,” jawab Tiara tenang, sejujurnya juga berusaha tenang karena sejak tahu kalau yang akhir-akhir ke sini ternyata Sang Ketua Senat yang suka diobrolin mahasiswi, ada perasaan lain di hatinya.
Other Stories
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...