6. Falling In Love
Rasa pelukan dengan Aksan tidak bisa membuat Tresa tidur, berulang kali mencoba memejamkan mata padahal rasa lelah yang merajam tetap saja membuat dirinya bergairah setiap teringat wajah dan tatapannya.
\"Bodohnya, sepertinya aku menyukainya. Oh Tuhan kenapa denganku? Begini rasanya jatuh cinta? Ya ampun aku nggak bisa tidur. Sepertinya Mas Wisnu tahu aku suka pada Aksan, yah Mas Wisnu sudah menggagap aku adik, dia sepertinya jadi selalu mengawasi aku.”
***
\"Wis, kamu tadi asyik banget dengan Tresa, sepertinya kamu hanya manfaaatin aku saja!\" Nindita mulai membuka rasa emosi yang ditahan setelah Tresa diantar mereka sampai asrama putri.
\"Kamu kenapa lagi sih Nin? Bukannya kamu yang meninggalkan aku tadi selama pertunjukan. Dan Tresa ada di sisiku bukan faktor kesengajaan juga karena dia urus konsumsi dan harus dekat dengan tamu-tamu undangan. Kamu jangan cemburu gitu,\" Wisnu mencoba berdalih, padahal dalam hatinya memang tidak ingin dekat dengan Nindita.
\"Wis aku kenal kamu bukan satu atau dua bulan, tapi bertahun-tahun sejak kita kecil dan terpisah SMA karena papa tugas di Jakarta, aku tahu kamu sangat suka dengan Tresa! Kamu takut aku melukai dia kan? Maka kamu melindungi dan berkorban mati-matian!\" Nindita membentak penuh emosi.
\"Nin kamu bisa nggak sih bicara tanpa harus marah-marah, aku cape dengar kamu marah terus. Iya aku suka Tresa, tapi Tresa menolakku! Puas! Jadi kamu jangan berbuat yang macam-macam dengannya seperti kamu melukai Lola! Kalau kamu sampai nekat melakukannya, maka kamu kehilangan aku selamanya, paham!\" Wisnu benar-benar kesal dengan perilaku Nindita yang sangat posesif.
Nindita terdiam, sepertinya memang dia tidak bisa berbuat apa pun pada Tresa karena membuat dirinya susah mendapatkan Wisnu. Dia juga akan sengsara karena Wisnu akan meninggalkannya.
***
\"Jadi gimana penampilan kamu tadi? Barapa banyak cewek kamu buat pingsan? Seorang gadis dengat rambut bob berwarna merah menyapa Aksan yang duduk di sebelahnya.
\"Nggak ada kok Quin, kalo ada pun aku nggak tahu,\" Aksan menjawab kalem.
\"Kamu sendiri gimana? Penampilan fashion show tadi?\" Aksan balik bertanya acara kekasihnya yang berbarengan dengan penampilan band-nya.
\"Yah menurut Om Rona banyak sih peminat yang beli baju yang kami peragakan. Sebenarnya aku ingin melihat penampilan kamu tadi Sayang,\" Quin mengerling matanya pada Aksan yang memilih duduk santai memandang jalanan.
Malioboro di pukul 02.00 pagi menjelang Minggu pagi. Masih lengang walau sesekali lalu lalang mobil ber-plat daerah dari luar Yogyakarta.
\"Quin ganti aku yang setir, aku antar pulang ya. Aku takut papa dan mama kamu khawatir,\" Aksan menawarkan diri,
Aksan tidak mengerti kenapa Quin harus menyambanginya di kampus dan menolak dia yang pegang setir.
\"Aksan aku sangat mencintaimu, walau kita sibuk dengan aktivitas kesukaan kita tapi aku ingin malam Minggu kita sempatkan bersama.\"
“Tapi Quin kamu kan cape dan aku juga, besok Minggu kita masih bisa ketemuan kan?\" saran Aksan.
\"Jadi kamu anggap aku bodoh melakukan ini? Kamu tidak suka aku menjemput kamu? Kamu berubah! Kamu tidak suka aku lagi!\" tiba-tiba Quin membawa mobil jazz sport-nya dengan kecepatan tinggi.
\"Quin, Quin kamu apa-apaan sih! Berhenti!\" Aksan kali ini benar-benar marah dengan kelakuan Quin yang kolokan.
Aksan tidak berani bicara lagi, Quin menepikan mobil dan menelungkupkan wajahnya di setir. Punggungnya terisak-isak.
Aksan paling tidak bisa marah bila gadis manjanya telah menangis. Aksan mengelus rambut Quin dan memijat punggungnya.
\"Quin aku menyayangi kamu, jadi yakinlah aku tidak akan lari ke mana-mana. Kamu tidak perlu mengawasi aku dan mencurigai segala aktivitasku seperti sekarang.”
\"Aksan aku takut kehilangan kamu, aku… aku tidak mau kamu meninggalkanku seperti Doni yang sudah, sudah ...\" Quin semakin tergugu.
\"Sudahlah Quin, lupakan kenangan buruk kamu dengan Doni. Aku sudah berjanji menjagamu pada mama dan papa, tapi tolong Quin beri aku sedikit ruang ya,\" Aksan memeluk Quin,
Setiap memeluknya selalu terkelebat bayangan mantan Quin yang telah merenggut kegadisannya dan tidak bertanggung jawab saat Quin hamil. Bahkan Doni menemani Quin melakukan aborsi setelah itu memutuskan meninggalkan Quin dengan gadis lain.
Masih jelas setahun lalu ketika Aksan yang mengisi acara dengan grup band-nya dan berkolaborasi dengam fashion show, pertama kali mereka saling berkenalan dan berlanjut.
Sampai Aksan merasa kasihan akan kondisi Quin yang tampak sukses dengan dunia glamournya dari luar.
Ketika papa dan mama Quin mengundangnya makan malam, di sinilah kondisi Quin yang pernah aborsi dibahas. Aksan seperti tidak diberi kesempatan menolak untuk tetap menjadi pacar Quin.
Aksan tidak mau dikatakan sebagai lelaki yang bersikap tidak jantan bila meninggalkan Quin setelah tahu kondisi sebenarnya. Inilah sebuah perjanjian Aksan dengan mama papa Quin, putri tunggal mereka.
Mama dan papa Quin memohon agar Aksan menjaga Quin selamanya, sementara hati Aksan masih tersisa 25 persen keraguan. Semenjak dinner ini Quin sangat mem-protect-nya. Bisa dalam satu jam tidak bertemu Quin meneleponnya. Ruang gerak Aksan semua menjadi sangat terbatas.
Aksan tidak bisa ngumpul lama-lama dengan teman-teman band kecuali untuk latihan. Tidak bisa menikmati sembarang jalan seperti dulu kerap sekedar ke pantai Parangtritis di tahun baru Suro, berboncengan dengan teman cowok atau cewek dan ber-backpacker.
Quin selalu menjemput ke manapun dia berada, kadang menyetir sendiri mobilnya, kadang bersama Mang Karma, sopir keluarganya.
Other Stories
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...