Tiada Cinta Tertinggal

Reads
4.4K
Votes
0
Parts
23
Vote
Report
tiada cinta tertinggal
Tiada Cinta Tertinggal
Penulis Nenny Makmun

4. The Wrong Promises

Tresa ragu untuk masuk ke kantor Kopma yang terletak setelah melewati toko koperasi yang tampak sepi. Memang jam istirahat baru saja berlalu.
Tresa tahu ada Mbak Nindita di dalam ruangan. Tresa ragu untuk ketemu, perasaan tidak enak, takut, kesal bercampur jadi satu. Tapi Tresa yakin dirinya tidak bersalah apapun maka tidak ada yang perlu ditakuti.
Baru saja mau memasuki markas Kopma, tiba-tiba Nindita menyapa ramah. Tresa jadi bingung, “Hai Tres… siniin proposalnya, besok kita ke Bank Duta Indonesia ya! Kebetulan aku punya kenalan orang dalam dan mereka mau mensponsori pergelaran musik kita. Mas Wisnu semalam ngobrol panjang lebar di telepon kalau kamu hanya dianggap adik dan tentu saja sebagai calon Mbak eh… eh… ehem… Mbak akan mengajari kamu bagaimana bisa mendapat sponsor, me-lobby dan lain-lain deh,” Nindita berkata dengan senyum merekah.
“Ooo, baik-baik Mbak,” Tresa jadi tergagap tidak karuan. Pikirannya sedang menerjemahkan kata-kata mbak Nidita barusan.
“Sebagai calon Mbak? Apa maksudnya ya? Dan Mas Wisnu sudah berkata pada Mbak Nindita kalau aku dianggap adik. Oh My God apakah Mas Wisnu semacam membuat perjanjian dengan Mbak Nindita agar aku bisa banyak belajar dari Mbak Nindita? Ataukah karena pendapatku yang mengatakan mereka serasi kalau jadian membuat Mas Wisnu berpikir ulang untuk memulai hubungannya dengan Mbak Nindita? Ataukah karena dia sedang bersedih karena penolakanku dan membuat Mbak Nindita sebagai pelarian? Oh Tuhan semoga Mas Wisnu sedang tidak melakukan perjanjian yang hanya akan membuat semua orang bersedih,” jerit hati Tresa tidak karuan.
Resmi sudah dirinya hanya dianggap sebagai adik, ada rasa berat sebenarnya hanya sebagai adik, tapi juga tidak bisa menerima begitu saja saat bersamaan menjadi kekasih seperti permintaan Mas Wisnu senja kemarin.
“Tresaaa udah kok malah bengong! Maafin Mbak ya kemarin-kemarin jutek abis dengan kamu! Soalnya Mbak kira kamu naksir sama Mas Wisnu! Dan ternyata Mbak salah sangka. Semalam Mas Wisnu menembak Mbak dan berjanji akan memulai hubungan kita dengan lebih baik. Tresa… papa dan mamaku di Jakarta ingin sekali bermantukan dia. Oh finally!” Nindita tidak ada sedikit niatpun untuk tidak mengumbar kebahagiaannya. Akhirnya Wisnu menyerah untuk menjadi miliknya.
“Waahhh selamat ya Mbak, aku ikut senang. Hmmm semoga menjadi pasangan yang langgeng sampai aki nini hehehehe…” kali ini Tresa berani tertawa karena yakin semuanya sudah jelas, Mas Wisnu memang mencoba memulai hubungan kasihnya dengan Mbak Nindita.
***
Gelak tawa dua gadis berhenti ketika suara bariton menyapa, “Permisi nona-nona, saya Aksan. Mau tanya katanya audisi untuk mengisi acara Meet Great Evening Campus Anniversary.”
“Oh Aksan, iya benar, ngapain kamu ikutan audisi? Kamu nggak usah ikut audisi udah pasti diterima deh!” Nindita nyerocos penuh semangat.
“Hai Nin, kamu masih saja setia dengan Kopma, nggak cape dihujat-hujat!” cowok dengan gelang tali, celana jeans beberapa bolong, dengan kaos yang dibalut hem selengan jeans agak belel plus sepatu kets, ternyata sudah saling mengenal dengan Nindita.
Merasa tidak terlalu penting dan juga tidak ditanya apa-apa dalam percakapan mereka, Tresa lebih asyik mengutak-atik komputer yang menyediakan game.
“Aksan-Aksan… kamu tahulah alasan aku kenapa masih saja setia dengan Kopma,” Nindita menjawab jujur, tanpa ada pernah menyembunyikan sebuah perasaan.
“Iya lah… Wisnu! Wisnu yang selalu ada di kepalamu! Nggak cape ya ditolak? Hehehehe just kidding!” Aksan mulai melindungi kepalanya yang siap dipukul oleh Nindita dengan proposal di tangannya.
“Hai hia…. enak saja kamu ngomong! Kamu kalah bertaruh San! Semalam Wisnu menembak aku! Siap-siap kamu mentraktir aku dan Abel! Eh juga adikku nih… kenalin… Tresa! Anak Kopma baru! Aku dan dia di Sie Kehumasan.”
Tresa yang tadinya tidak mau terlibat dalam urusan pertaruhan mereka, mau tidak mau jadi mendongak dan menjulurkan tangannya.
“Aksan,”
“Tresa,”
“Eh kamu fakultas apa?”
“HI,” Tresa menjawab pendek, Tresa menundukkan kepala ketika mata tajam Aksan memandangnya tajam. Alis tebalnya saling mengait saat wajahnya yang ganteng mengerut.
“Oh anak Hubungan Internasional, hmmm aku anak Perminyakan. Nggak tahu deh mau jadi apa kalau lulus, bingung! Jadi penjual minyak wong minyak juga gak ada, udah pada abis! Mau jadi kuli lepas pantai uhuuuuum… nggak tau juga konon bisa gila hidup berhari-hari di lepas pantai, kapan aku nge-band!” Aksan berkata kocak, beda banget dengan penampilannya yang semi metal.
Mau tidak mau Tresa jadi tertawa, memamerkan rangkaian giginya yang putih dan sangat rapih.
Aksan tertegun memandang kecantikan gadis yang polos tanpa make-up tersenyum sumringah. Pikirannya melayang pada Quin, yang selalu lengkap dengan make-up di wajahnya.
“Gadis ini manis, sederhana dan memikat,” bisik hati Aksan tanpa ada niat untuk membohongi sebuah ketertarikan.
“Ehem ehem San, udah jangan memandang Tresa berlebihan gitu! Entar Quin marah lagi!” Nindita melambaikan tangannya ke muka Aksan.
***
Wisnu diam-diam ternyata sudah berdiri di depan pintu masuk, ada rasa tidak suka sebenarnya saat Aksan sempat mencuri pandang dan lama bengong menatap Tresa. Tatapan itu bukan tatapan biasa, tatapan seperti dirinya pertama kali jatuh hati pada gadis kalem yang tampaknya terlalu cuek dengan pria-pria yang terpana dengan kecantikannya.
“Nin ada apa, ramai sekali?” Wisnu menyapa semua dengan menyapa Nindita pertama kali.
Yang disapa langsung senyum sumringah dan langsung menggelanyutkan tangannya ke tangan Wisnu. Tanpa pedulikan wajah Wisnu yang merah padam karena keagresifan Nindita.
Tresa dan Aksan senyum-senyum, entahlah apa yang ada dalam pikiran mereka, sepertinya sama kalau Wisnu merasa tidak nyaman dengan perilaku Nindita. Tapi semuanya kompak untuk menjaga perasaan Nindita yang Tresa tahu sedang berbunga-bunga tidak karuan.
“Cieee yang udah jadian, bikin kita iri aja!” Aksan senyum-senyum jahil.
“Iya dong, harus! Iya gak Wis?” Nindita minta kepastian Wisnu yang tampak garuk-garuk kepala.
“Wis!” Nindita merajuk sambil mencolek pinggangnya.
“Ih Nin apa-apaan sih! Iya iya!” Wisnu tidak bisa berkutik. Baru tersadar ternyata janji semalam menyiksa dan Wisnu sadar dia melakukan kesalahan terbesar.
“Ah biarlah demi Tresa, yang penting Nindita tidak akan berbuat jahat pada Tresa dan mau berbagi ilmu selama sama-sama menjadi panitia acara yang mempertaruhkan nama baiknya sebagai Ketua Umum Kopreasi Mahasiswa,” Wisnu menghibur dirinya sendiri dalam hati.
Bukankah mencintai seseorang butuh pengorbanan dan Wisnu mengabdikan dirinya kepada Nindita demi Tresa.
Wisnu tidak mau Tresa terluka seperti yang pernah di alami Lola waktu lalu, karena Wisnu kerap berhubungan dengan mantan sekretarisnya dalam berorganisasi.
Nindita melabrak bahkan memukul dan menjambak Lola sampai akhirnya Lola menyerah untuk keluar dari organisasi Kopma dan tidak mau bersentuhan sama sekali dengan Wisnu.
Saat itu Wisnu sudah hampir suka dengan Lola, sampai sekarang ada rasa bersalah karena meninggalkan Lola yang luka akibat pukulan Nindita tanpa Wisnu bisa membelanya waktu peristiwa itu terjadi. Saat kejadian Wisnu sedang di luar kota.

Other Stories
Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Download Titik & Koma