Tiada Cinta Tertinggal

Reads
4.4K
Votes
0
Parts
23
Vote
Report
tiada cinta tertinggal
Tiada Cinta Tertinggal
Penulis Nenny Makmun

7. Feeling Blue

“Ini dia cewek HI yang buat Vokalis kita terbengong-bengong gak jelas hari ini,” Bara tanpa ada apa-apa berteriak di tengah anak-anak Fakultas Perminyakan yang sedang santai sehabis kuliah.
\"Apaan sih!\" Aksan memukul pundak Bara yang selalu tergantung kamera DSLR.
“Cie! Cie! ini foto siapa ya mesra banget pelukannya?\" Bara memperlihatkan sebuah foto candid.
\"Aduh gila loe, Bar! Ini seperti bukan ketidaksengajaan!\" Aksan langsung ngomel melihat foto dirinya, ada getar terulang saat seperti kejadian malam lalu accident yang tergambar di foto jepretan Bara terjadi.
\"Ini salah satu jepretan aku, kereen banget kan?\"
Bara sepertinya puas dengan hasil jepretan yang tampak natural.
\"Iya Bar, nggak sia-sia kamu ikut workshop fotografi di mana-mana,\" Aksan tanpa sadar memasukkan dalam tasnya.
Bara tidak complain dan membiarkan sahabatnya menyimpannya. Foto barusan menyisakan kenangan dalam benaknya dan mendorong kaki dia melangkah ke markas Kopma.
Saat ini dia ingin bertemu Tresa. Gadis itu pasti sedang asik ngendon di sekertariat Kopma.
\"Eh, San mau ke mana?\" Bara menahan pundak Aksan yang siap-siap berlalu.
\"Ke laut, suntuk!\" jawab Aksan sekenanya.
\"Ciee kalau kamu suntuk gitu biasanya kamu sedang ribet dengan cewek! Wah yang mana San? Quin atau… ehem cewek yang malam Minggu dalam pelukan?\" Bara memandang penuh curiga sahabatnya.
\"Bara kamu kebanyakan nonton sinetron! Udah aku cabut dulu! Cape!\" rambut gondrong Aksan bergerak tertiup angin.
***
\"Bin aku ambil teh botol dan cake coklat, bentar ya bayarnya,\" Tresa menyeka peluh yang bercucuran. Lumayan jalan dari Fakultas Hubungan Internasional ke sekertariat Kopma.
Tresa langsung menyesap teh botol dinginnya sampai tandas, sementara kue yang diambilnya belum termakan.
\"Wah boleh kuenya bagi Tres?\" Aksan tanpa basa-basi mencomot dan memasukkan dalam mulutnya.
Tresa speechless saat sisa setengah cake cokelat dicomot dan dikunyah Aksan lahap.
Gigi putih Aksan berlapis cokelat ke mana-mana, tapi senyuman jahilnya tak urung membuat Tresa tertawa. Apalagi ketika cream cokelatnya belepotan di sekitar bibirnya.
\"Nih, cokelat ke mana-mana tuh!\" Tresa memberikan selembar tisu.
\"Mana! Mana! hapusin dong! Aku gak liat!\" Aksan memajukan wajahnya.
Tresa ragu tapi otomatis tangannya maju mengusap bibir Aksan dengan tisu di tangan kanannya.
\"Udah,\" rona wajah Tresa memanas.
\"Makasih ya Tresa,\" Aksan tersenyum hangat.
\"Ehem iya.\"
Percakapan santai bergulir begitu saja. Menurut Tresa, pribadi Aksan menarik. Aksan asyik diajak ngobrol. Pengetahuan musik terutama lagu-lagunya sangat luas.
Aksan juga tidak menertawakan hobi dia yang sesekali suka menulis dan tulisannya hanya tersimpan dalam laptopnya. Juga kesukaan membaca buku-buku novel.
“Nanti sekali-kali kita jalan bareng ya, aku temani kamu cari novel sampai puas tapi kamu sesekali lihat penampilan band Zeus saat pentas di luar kampus,” Aksan mengajukan usul.
“Ok San,” Tresa tidak bisa menyembunyikan kalau hatinya senang. Cowok vokalis yang sekarang di depannya benar-benar memikat hatinya.
Entah kenapa merasa clik dan nyaman bercerita apa saja. Aksan tidak menertawakan kemelankolisannya karena suka menangis bila membaca novel yang sad ending.
\"Tres, kamu tinggal di mana?\"
\"Di asrama putri Condong Catur.\"
\"Wah dekat dong, aku juga di daerah Condong Catur. Kita tinggal dekatan dong. Aku ngekost di dekat lapangan Condong Catur-nya.\"
Tresa mengangguk-angguk.
\"By the way kamu selalu nunggu di sekertariat Kopma sampai sore? Lalu baru pulang ke asrama?\" tanya Aksan.
\"Nggaklah, ini aku istirahat saja tanggung jam tiga sore ada pelajaran Etika Politik, mau ke perpus sih, tapi Mas Wisnu jam satu ngajakin rapat. Sebentar sih katanya.”
\"Wah sama aku juga tanggung mau balik ke kostan, jam dua ini ada kuliah lagi.\"
\"Eh malam Minggu besok aku samper ya, nonton band aku.” Aksan mengajak Tresa yang tampak agak bingung.
“Eee serius…?”
Aksan ingin sekali mengajak Tresa malam Minggu ini nonton penampilan band-nya. Mereka ada undangan tampil di kampus Janabadra.
\"Serius?\" Tresa memastikan, sungguh hatinya bersorak bisa melihat penampilan Aksan lagi.
\"Iyalah!\"
\"Wah keren, iya aku suka penampilan band kamu kemarin. Tapi janji ya kamu anter aku pulangnya juga kan?\"
\"Hehehe terima kasih buat pujiannya. Ya iyalah Nona Manis, aku jamin kamu selamat deh!\"
Wisnu tercengung dari kejauhan, dia memperhatikan Aksan dan Tresa yang tengah duduk-duduk di bangku kayu berpayung salah satu sponsor minuman. Tampak akrab dan Tresa sesekali tertawa lebar kadang tersipu.
Sangat lepas tidak canggung saat bersama dirinya, walau Wisnu menegaskan telah menganggap adik. Tapi sepertinya Tresa tidak bisa bersikap luwes, padahal masih banyak yang ingin Wisnu tahu dengan gadis manis yang membuat dirinya terjebak dalam janji menjebaknya dengan Nindita yang menyiksa.
Wisnu selalu menghibur dirinya ini adalah pengorbanan, cinta selalu ada pengorbanan.
\"Hai Mas Wisnu, hmm telat ya janji jam satu. Ini sudah jam setengah dua,\" Tresa melirik jam yang melingkar di tangan kanannya.
\"Hai San, nggak biasanya kamu ke sini!\" ada nada sinis dari mulut Wisnu.
\"Ya alasan yang sama dengan Tresa, menunggu waktu jam kuliah selanjutnya.\"
Aksan tahu mata tidak suka terpancar dari sorot mata Wisnu, yang memancarkan isyarat dirinya jangan coba-coba dekati Tresa.
\"Ini aku juga mau balik ke kelas. Tres, makasih kue cokelatnya ya,\" Aksan mengedipkan sebelah matanya.
\"Iyaa,\" membuat Tresa tersenyum riang, begitu menyenangkan bisa ngobrol akrab dengan pria yang membuat dirinya jatuh cinta pertama kali, pria yang pertama kali menghadirkan debar dan gemuruh tidak jelas.
\"Oh iya nanti aku antar kamu pulang ya, kita satu arah kok pulangnya. Aku tunggu di sini… dagh,\" Aksan tanpa menunggu jawaban Tresa yang mendadak nggak enak dengan ajakan pulang bareng. Karena biasanya Mas Wisnu akan mengantarnya sampai asramanya.
Tresa tidak bisa komentar apa-apa, ajakan pertama Aksan mengagetkan. Bagaimana mungkin Mas Wisnu mengzjinkan dirinya diantar vokalis andalan Zeus. Nyatanya Mas Wisnu juga tidak berkomentar.
“Sepertinya Tresa mulai jantuh cinta pada vokalis playboy ini, awas saja kalau dia macem-macem!” dalam hati Wisnu menggerutu kesal.
“Sepertinya kamu senang ya diajak pulang Aksan?” Wisnu mencoba menetralkan hatinya yang bergemuruh kesal, nyatanya dirinya belum bisa terima dianggap hanya sekedar kakak.
“Hmmm, nggak apa-apa aku diantar Aksan?” dengan polosnya Tresa bertanya balik.
“Tentu saja bolehlah, Aku-kan juga tidak berhak melarang-larang? Kamu harus jaga diri ya. Aksan playboy lho.” Wisnu coba mengingatkan.
Saat Wisnu mengatakan playboy, Tresa merasa tidak enak hati. Tapi rasa suka telah menjalari semua pembuluh darahnya dan Tresa benar-benar jatuh cinta.
“Playboy…” Tresa mendesah.
“Bisakah dia menemukan dermaga terakhir?” Tresa melaras dalam hati.
The heart is so feeling blue.
Selesai mata kuliah Etika Politik, ternyata Aksan benar-benar menunggunya di motor Ninja merahnya.

Other Stories
Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Download Titik & Koma