17. Stupid Human
“Tresa … please …” Wisnu menahan Tresa yang akan kabur dari sekretariat.
Tresa melihat mata Mas Wisnu memerah sepertinya dia kurang tidur dua malam ini.
“Aku ingin ngomong, ini terakhir kali setelah ini terserah kamu. Ini tentang hati aku, aku yang seperti manusia bodoh! Sini ikut aku sekali ini.”
Tresa menurut karena melihat tatapan Mas Wisnu yang sangat berbeda. Mas Wisnu yang biasanya lembut dan memberikan ketenangan tiba-tiba menarik tangannya setengah mencengkeram dan memaksanya duduk di mobilnya.
“Tresa aku mau bertanya kenapa kamu tidak mau menjadi kekasihku? Kenapa Tresa? Aku kurang apa?” tanpa ada basa-basi Mas Wisnu langsung menembak Tresa dengan pertanyaan-pertanyaan yang bukan main-main.
“Karena cinta tidak bisa dipaksa Mas. Kita sepakat aku hanya bisa menganggap Mas Wisnu sebagai kakak.”
“Aaaaaghhhh kakak! Kakak lagi!”
Tresa mencoba bertahan menekan ketakutan dengan Wisnu yang mempercepat laju mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Tresa kamu tidak jujur! Kamu tidak jujur! Selama ini aku kurang baik apa? Aku melindungi kamu dari Nindita, Quin wanita-wanita psikopat yang mengagungkan rasa posesif agar kamu baik-baik saja, juga dari playboy yang kamu bilang kelas coro. Tapi nyatanya apa? Kamu balik ke pelukannya kan? Jujur!” bentak Wisnu kesal.
Tresa terhenyak, ternyata Mas Wisnu tahu kalau dua bulan terakhir ini dia diam-diam tetap jalan dengan Aksan.
Tresa terdiam, rasa ngeri menyelimuti ketika Wisnu semakin ugal-ugalan mengendarai mobil sepanjang ring road.
“Tresa kamu tidak bisa mencintai aku karena playboy itu kan? Iya kan? Kamu keterlaluan Tresa. Kamu bermain api di belakangku!”
Bersamaan dengan kalimat itu Wisnu menepikan mobilnya. Tresa menarik napas dalam.
“Iya aku memang mencintai Aksan, dari pertama kita bertemu. Dua bulan terakhir ini kita diam-diam jalan Mas, aku tidak mau ada yang terluka, maaf! Maka kita memilih diam,” Tresa berusaha membela diri.
“Aku melihat semuanya Tres, saat kamu kembali dalam pelukan Aksan. Aku menguji apakah kamu akan jujur padaku bercerita, tetapi heh… kamu selalu bohong dan aku merasa menjadi manusia paling bodoh di
dunia ini. Mati-matian mendekatkan hatimu agar bunda mau menerimamu. Nyatanya aku yang sangat bodoh! Cinta tidak ada setitikpun bersemayam dalam sudut hatimu.”
“Maafkan aku Mas Wisnu.”
“Sudahlah!”
Wisnu memutar mobilnya sepanjang perjalanan mengantar Tresa ke asrama, sudah tidak ada sepatah katapun terucap dari mulut mereka. Sampai Tresa turun dan berlalu tak ada yang mengalah memulainya.
Other Stories
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...