Tiada Cinta Tertinggal

Reads
4.4K
Votes
0
Parts
23
Vote
Report
tiada cinta tertinggal
Tiada Cinta Tertinggal
Penulis Nenny Makmun

16. The Challenge

WA Aksan:
“Bisa aku ketemu di sekretariat Kopma?”
Tresa sedang mengikuti rapat Kopma saat SMS Aksan masuk dan bersamaan Mas Wisnu menatapnya curiga.
WA Tresa:
“Jangan di sekretariat lagi ya, aku takut MW akan mengusir kamu, apalagi aku belum cerita kita baikan. Bukan apa-apa pasti dia kecewa kalau tahu.”
Membaca jawaban WA Tresa, Aksan menarik napas, memang benar hubungan mereka terlalu berisiko. Banyak orang-orang terdekat mereka yang tidak suka.
Aksan sadar diri jika Quin tahu dia berhasil baikan dengan Tresa pasti perang dunia ketiga yang ada, Mas Wisnu juga bisa membunuhnya.
Mungkin memang hubungan mereka harus lebih hati-hati agar tidak ada pihak yang terluka. Jujur ini menimbulkan seperti tantangan, tantangan tanpa perhitungan sepertinya.
Demi cinta, baik Tresa dan Aksan mereka benar-benar sembunyi-sembunyi menjaga hubungan yang seperti terlarang.
Hanya dengan WA dan sesekali Aksan mengajak Tresa makan di warung nasi angkringan Bu Rus sekedar share mata kuliah, perceraian yang akhirnya benar-benar terealisasi di antara orang tua Tresa, musik dan band Zeus.
Dua bulan menjalani pacaran diam-diam yang penuh tantangan, Aksan berusaha menutup hubungan ini agar tidak menimbulkan kecurigaan Quin dan membahayakan Tresa.
Sebaliknya Tresa juga menjaga perasaan Mas Wisnu walau harus berbohong-bohong bila Mas Wisnu bertanya hubungan dia dengan Aksan masihkah berjalan?
Tresa bersikeras sudah tidak ada hubungan apa-apa semenjak tragedi salah paham dan penganugerahan dirinya menjadi wanita murahan dari Quin.
“Tres, sore teman Mas Wisnu ama Bunda belanja ke Mirota Gejayan, bisa?” Wisnu bisa melihat ada resah di wajah Tresa dan tangannya membolak balik hp-nya.
“Dengan Bunda ya?”
Wisnu bersikap legawa dan tidak berusaha memaksakan diri lagi untuk bisa merebut hati Tresa dan mengusir posisi Aksan di sudut hatinya.
Nyatanya Tresa sudah mempermalukan dirinya yang membela mati-matian tapi dengan mudahnya kembali ke pelukan Aksan. Sebenarnya bukan kesalahan Tresa karena kalau dipikir lebih lanjut Tresa tidak pernah meminta dirinya untuk mati-matian membelanya dan menjauhkan dari Aksan.
Ego dan rasa cinta yang menautkan pada Tresa, hingga dengan cara memperkenalkan Tresa pada bundanya yang selama ini tidak pernah dilakukan terhadap teman wanitanya akan membawa pengaruh pada Tresa untuk berubah pikiran. Itu harapan Wisnu.
Wisnu berharap rasa nyaman yang ditawarkan saat Tresa berkunjung ke rumahnya akan membuat Tresa berpikir ulang tentang keputusannya yang menganggap hanya seorang kakak, bergeser menjadi seorang kekasih.
Tapi dua bulan lalu hatinya benar-benar hancur seirama dengan kilat yang menyambar dan halilintar yang menderu-deru. Sementara di sana Tresa dan Aksan kembali menyatu.
Sekali ini saja Wisnu coba menguji Tresa untuk kembali bertemu dengan bundanya. Sekaligus menyadarkan bundanya kalau dalam hati Wisnu bukan Nindita tapi Tresa.
“Tresa are you ok menemani aku sore jam empat ya? Aku jemput ya.”
“Mas ini malam Minggu lho, kamu dan Mbak Nindita nggak nge-date?” Tresa mencoba mengingatkan kalau ini malam Minggu.
“Kamu lupa, Nindita kan sedang pulang ke Jakarta, liburan semester memang dia suka pulang,” jawab Wisnu tenang.
Sepertinya memang tidak ada pilihan, Tresa harus mengiyakan atau dia akan ketahuan jalan lagi dengan Aksan. Padahal sebenarnya malam ini Aksan janji mengajaknya nonton di bioskop Tweenty One.
WA Tresa:
“San maaf batal ya acara nontonnya, Mas Wisnu minta aku temanin belanja di Mirota Gejayen.”
WA Aksan:
“Yahh Sayangku, hmmm ok tapi bulan depan pas ulang tahun kamu. Time is us ok.”
WA Tresa:
“Ok, I Hope So.”
WA Aksan:
“Always love you.”
WA Tresa:
“Me too.”
***
Mirota Gejayan di JL. Affandi Depok, Yogyakarta tampak lengang, maklum masih jam lima sore. Keramaian terjadi jelang jam tujuh di malam Minggu banyak juga yang menghabiskan waktu untuk berbelanja di sini.
Tresa memilih memakai rok panjang cream bercorak bunga mawar oranye salem dan atasan kaos pas badan yang mungil tanpa kerah.
Tresa tahu Mas Wisnu sempat tertegun dengan tampilannya yang tidak pernah memakai rok. Sesekali bernuansa feminine apalagi bertemu dengan orang tua rasanya lebih sopan dibandingkan dirinya berpakaian tiga perempat jeans yang sudah belel dan kaos gombrang.
Tidak enak saja kalau dikomentari tidak tahu memakai baju yang pas. Apalagi sepertinya Bunda Ratih sangat menjaga penampilan. Geli mengingat Mbak Nindita yang tidak beda jauh dengan calon mertuanya. Mbak Nindita yang suka kegiatan kehumasan sesuai jurusan Komunikasi Massa.
Bu Ratih mencium Tresa dan tampak tidak ada masalah apa-apa. Sempat terbersit pikiran liar kalau punya ibu mertua seperti Tante Ratih kayanya dia gak bisa pakai sembarang baju. Harus rapi dan serasi.
Di awal Tresa mendampingi Tante Ratih, tapi melihat ada tumpukan buku-buku novel di sudut supermarket, Tresa minta izin untuk menuju rak buku.
Lumayan juga buku-bukunya, jelas tidak selengkap Gramedia tetapi ada buku novel dari pengarang kesukaannya yang nangkring di sini bukunya. Tresa menimang-nimang bukunya dan mencari Mas Wisnu dan bundanya.
Dari seberang rak Tresa curiga dengan mereka berdua yang sewaktu ditinggalkan happy-happy aja, tapi pemandangan di depan sekarang sepertinya mereka tengah meributkan sesuatu.
Mengikuti kata hati Tresa mendekatkan telingaya dan menyembunyikan tubuhnya yang mungil pada rak terdekat mereka berdiri.
“Wis, pokoknya kamu berusaha mendekatkan Ibu dengan Si Tresa! Ibu tidak akan mengubah rencana perjodohan kamu dengan Nin!” suara Tante Ratih terdengar judes.
Tresa tersadar inilah sikap asli Tante Ratih yang ditutup topeng wajahnya seolah tidak ada masalah putra kesayangannya mendekatkan hatinya padanya.
“Bunda, aku sangat mencintainya,” jawab Wisnu putus asa.
“Tapi dia kan juga tidak mencintai kamu. Kamu ini aneh! Udah jelas Nindita bobot,bibit dan bebetnya! Lha dia jangan-jangan orang tuanya penyakitan atau cacat! Derajat sosialnya orang biasa lha kamu kan darah biru, darah bangsawan! Nindita juga! Papa dan mama Nindita pejabat, kaya sama dengan kita! Kamu malah aneh-aneh cari gadis nggak jelas gitu.”
Tresa benar-benar sakit hati, semakin terasa perih mengingat memang dia berasal dari keluarga yang broken home. Apalagi dibilang wanita nggak jelas sangat menyakitkan.
Kalimat alasan Tante Ratih rasanya benar-benar menohoknya, bukan hanya bobot, bibit dan bebet yang akan dipeributkan. Tresa tahu buku yang dibaca tentang mencari jodoh, “kacang mangsa ninggal lanjaran,” artinya perilaku anak tidak jauh dari perilaku orang tuanya, bagaikan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Bagaimana kalau Tante Ratih tahu dia anak broken home. Orang tua bercerai karena ibu tidak tahan dengan siksaan fisik dan hati ayahnya.
Setengah mati Tresa menahan air mata yang sepertinya bisa saja tumpah. Tresa memilih menjauh dan menghindar dari ibu dan anak yang tidak sadar perseteruan mereka di dengarnya.
Tresa keluar dari Mirota Gejayan dan segera menyetop taksi.
Seperempat perjalanan layar hp berbunyi dan nama Wisnu dalam layar hp.
“Ya Mas Wis…” Tresa mencoba tenang.
“Tres! Kamu di mana? Kamu kamu kenapa?”
“Maaf Mas Wis, aku nggak akan pernah mau lagi berurusan dengan Mas Wisnu. Aku mau diajak semata aku menghormati Mas Wisnu dan menganggap Mas Wisnu kakakku, bukan untuk menjadi bagian dari keluarga Mas Wisnu.”
“Kamu ngomong apa sih Tres?” sepertinya Wisnu mulai sadar kalau mendengar Tresa perseteruan dirinya dengan bundanya.
“Aku dengar semua tadi, saat Tante Ratih menentukan bobot, bibit, dan bebet yang tepat buat Mas. Jelas
aku tidak sedikitpun masuk kriteria kalian,” Tresa bicara tegas.
“Tresa… maaf… maafkan Bunda. Aku tidak sependapat Bunda…” suara Wisnu tampaknya putus asa, buyar semua rencananya untuk mendekatkan hati dua wanita yang sama-sama penting dalam hidupnya.
Tresa memutuskan mematikan telepon. Taksi dibiarkan meluncur ke kostan Aksan. Saat seperti ini hanya Aksan yang bisa menenangkan hatinya.
***
“Tresa?” Aksan kaget ketika membuka pintu tenyata Tresa dengan mata sembapnya.
“Hai bukankah kamu menemani Wisnu dan bundanya belanja?”
“Heh ternyata Mas Wisnu memang berusaha mendekatkan aku dengan bundanya San, tapi aku tadi dengar Tante Ratih menentang keras kalau dia memilih aku dan bukan memilih Mbak Nindita. Sejujurnya aku tidak masalah, karena aku memang tidak mencintai Mas Wisnu. Tapi penghinaan tentang status istri dicari yang berdasar bibit, bebet, dan bobot. Kamu tahu kan aku berasal dari keluarga berantakan. Rasanya itu sindiran halus yang sengaja untukku.”
Aksan menghembuskan napas panjang, sejak ayah ibunya resmi bercerai Tresa lebih sensitive tentang status keluarga.
Aksan membelai rambut Tresa dan membiarkan menghangat dalam pelukannya tanpa mau mengusiknya.
“Lapar? Sudah nangisnya?” Aksan meregangkan pelukannya.
“Iya lapar banget! Huh malam Minggu yang sial! Harusnya kita nonton film, yang ada aku menangis!” Tresa menggerutu sambil mengusap air matanya.
“Ha ha ha, kita masih punya banyak hari untuk selalu bersama, Sayang,” Aksan menyentuh hidung Tresa yang mancung.
Menyeruput teh manis panas nasi angkringan Bu Rus selalu mengalirkan kehangatan.

Other Stories
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Download Titik & Koma