22. Membayar Karma
“Bagaimana dengan Vicky Permana apakah dia memang memakai? Dan apakah wanita yang bersamanya juga pemakai?” tampak dalam layar LCD ruang tamu berita Vicky Permana yang sedang di gelandang ke Badan Narkotika bersama beberapa teman dan Ayu terperangah karena ada Mbak Gadis juga yang digelandang.
“Mas Pras!” Ayu lari ke tingkat atas.
Dan mereka saling berpandangan, Mas Pras ternyata sudah mengetahui berita info entertainment yang semuanya menyiarkan berita satu lagi aktor muda yang terjaring dalam pesta shabu-shabu.
“Gadis?” Pras nanar melihat sosok Gadis yang menutup wajahnya separuh dengan sapu tangan. Ada juga Boy dan yang lainnya Pras tidak tahu.
Sungguh betapa sakit pedih di hati karena Gadis telah memilih laki-laki lain dan berita tentang dirinya yang tersebar di beberapa tabloid yang menampakan kecacatannya dan keluarganya yang tidak peduli pada dirinya, Pras sangat prihatin dengan apa yang barusan dia lihat dan dengar. Rasanya ingin segera melindungi Gadis, tapi semuanya terlambat. Pras merutuki dirinya, ada rasa salah menyelinap dalam relung hatinya.
“Ayu aku sangat pengecut, semua yang terjadi pada Gadis semata-mata bukan kesalahan dia sepenuhnya. Aku juga yang pengecut, aku tidak memperjuangkan cinta kami bahkan memilih lari dari kenyataan. Tapi apa yang harus lakukan?” Kepala Pras berdenyut, sisa-sisa pengaruh alkohol semakin menambah ruwet dirinya.
“Sabar Mas Pras pasti ada jalan, ini namanya cobaan cinta Mas Pras dan Mbak Gadis, kalau kalian berjodoh pasti ada masa yang akan mempertemukan kalian dalam kondisi yang lebih baik. Mendingan Mas Pras sekarang mandi dan coba menengok Mbak Gadis, mau Ayu temanin?”
Pras mengikuti saran Ayu dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya, “Terima kasih Yu … kamu tidak apa-apa menemani aku menemui Mbak Gadis ?”
“Buat Mas Pras apa pun akan Ayu lakukan,” tatapan Ayu tulus menguatkan lelaki yang sebenarnya hampir seratus persen merebut semua hatinya, mengalirkan rasa cinta yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya. Perasaan cinta, sayang, tulus, dan ingin memiliki sepenuhnya terhadap lelaki yang dianggapnya sebagai malaikat.
Tanpa bantuan Mas Pras, Ayu tidak akan bisa sekolah lagi sekaligus bekerja. Sebuah cita-cita sederhana yang terwujud, ketika semua tidak ada harapan. Mang Seno tidak bisa memenuhi apa yang diharapkan Ayu karena keterbatasannya, tetapi Mang Seno dan Bibi Karti sangat menyayangi dia selepas kematian bapak ibu kandungnya.
***
Sore hari Pras baru diijinkan untuk menengok Gadis. Gadis tampak sangat kuyu dengan kaos oblong bergambar Jhon Lenon dan celana jeans selutut, rambutnya yang biasa tergerai cemerlang hanya di kuncir seadanya.
Wajahnya dingin memandang Mas Pras, entahlah perasaannya beku. Gadis tidak tahu lagi apa yang harus diomongkan. Dirinya merasa hampa dan mengutuk dirinya, seakan kejadian semalam dan eksekusi hukuman adalah karma yang satu persatu harus dia bayar.
“Gadis …” Pras tak kuasa untuk tidak memeluk wanita yang sesungguhnya amat dicintai.
Tapi Gadis hanya diam seribu bahasa, entah kemana menguapnya rasa cinta debar-debar hatinya yang beberapa bulan lalu saat dekat lelaki bermata teduh ini mulai di dekatnya.
“Semua sudah terlambat Mas, aku bukan Gadis yang seperti kamu harapkan. Aku telah kotor dengan obat-obatan dan lelaki! Aku memang layak mendapat perilaku seperti ini. Aku orang yang telah banyak mempermainkan lelaki bahkan Papamu. Jangan berharap apa pun denganku karena aku juga tidak berharap apa pun lagi darimu! Aku tahu ada yang lebih baik telah menggantikan posisiku. Selamat tinggal Mas…”
Gadis langsung dipegang petugas wanita dan memutuskan untuk tidak mendengar sepatah katapun dari Pras. Karena beretemu dengannya adalah hal yang menyakitkan seperti sebuah kekalahan dalam hidupnya yang baru dirasakan.
Gadis memutuskan untuk melewati semuanya kalaupun harus bersandar dia akan kembali pada ibu, kakak dan adiknya yang melegakan mereka akan tetap mendukung dan membantu selama di penjara.
***
Pras gontai, apa yang terjadi dengan wanita pujaannya adalah kesalahan dia juga.
“Ayu, Mbak Gadis sudah memutuskan semuanya bahkan dia sudah tidak mau bertemu denganku lagi.”
“Sabar Mas Pras, Mbak Gadis sedang melewati hal terberat dalam hidupnya. Semua karir yang dikejarnya dipertaruhkan bahkan bisa jadi Mbak Gadis dipecat dengan tidak hormat. Ini sangat berat baginya jadi bersabarlah. Mas Pras masih bisa terus memantau perkembangannya.”
Ayu menuntun mas Pras dan berlalu dari Gedung Penanggulangan Narkotika yang kokoh angkuh berdiri.
“Bagaimana dengan Vicky Permana apakah dia memang memakai? Dan apakah wanita yang bersamanya juga pemakai?” tampak dalam layar LCD ruang tamu berita Vicky Permana yang sedang di gelandang ke Badan Narkotika bersama beberapa teman dan Ayu terperangah karena ada Mbak Gadis juga yang digelandang.
“Mas Pras!” Ayu lari ke tingkat atas.
Dan mereka saling berpandangan, Mas Pras ternyata sudah mengetahui berita info entertainment yang semuanya menyiarkan berita satu lagi aktor muda yang terjaring dalam pesta shabu-shabu.
“Gadis?” Pras nanar melihat sosok Gadis yang menutup wajahnya separuh dengan sapu tangan. Ada juga Boy dan yang lainnya Pras tidak tahu.
Sungguh betapa sakit pedih di hati karena Gadis telah memilih laki-laki lain dan berita tentang dirinya yang tersebar di beberapa tabloid yang menampakan kecacatannya dan keluarganya yang tidak peduli pada dirinya, Pras sangat prihatin dengan apa yang barusan dia lihat dan dengar. Rasanya ingin segera melindungi Gadis, tapi semuanya terlambat. Pras merutuki dirinya, ada rasa salah menyelinap dalam relung hatinya.
“Ayu aku sangat pengecut, semua yang terjadi pada Gadis semata-mata bukan kesalahan dia sepenuhnya. Aku juga yang pengecut, aku tidak memperjuangkan cinta kami bahkan memilih lari dari kenyataan. Tapi apa yang harus lakukan?” Kepala Pras berdenyut, sisa-sisa pengaruh alkohol semakin menambah ruwet dirinya.
“Sabar Mas Pras pasti ada jalan, ini namanya cobaan cinta Mas Pras dan Mbak Gadis, kalau kalian berjodoh pasti ada masa yang akan mempertemukan kalian dalam kondisi yang lebih baik. Mendingan Mas Pras sekarang mandi dan coba menengok Mbak Gadis, mau Ayu temanin?”
Pras mengikuti saran Ayu dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya, “Terima kasih Yu … kamu tidak apa-apa menemani aku menemui Mbak Gadis ?”
“Buat Mas Pras apa pun akan Ayu lakukan,” tatapan Ayu tulus menguatkan lelaki yang sebenarnya hampir seratus persen merebut semua hatinya, mengalirkan rasa cinta yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya. Perasaan cinta, sayang, tulus, dan ingin memiliki sepenuhnya terhadap lelaki yang dianggapnya sebagai malaikat.
Tanpa bantuan Mas Pras, Ayu tidak akan bisa sekolah lagi sekaligus bekerja. Sebuah cita-cita sederhana
yang terwujud, ketika semua tidak ada harapan. Mang Seno tidak bisa memenuhi apa yang diharapkan Ayu karena keterbatasannya, tetapi Mang Seno dan Bibi Karti sangat menyayangi dia selepas kematian bapak ibu kandungnya.
***
Sore hari Pras baru diijinkan untuk menengok Gadis. Gadis tampak sangat kuyu dengan kaos oblong bergambar Jhon Lenon dan celana jeans selutut, rambutnya yang biasa tergerai cemerlang hanya di kuncir seadanya.
Wajahnya dingin memandang Mas Pras, entahlah perasaannya beku. Gadis tidak tahu lagi apa yang harus diomongkan. Dirinya merasa hampa dan mengutuk dirinya, seakan kejadian semalam dan eksekusi hukuman adalah karma yang satu persatu harus dia bayar.
“Gadis …” Pras tak kuasa untuk tidak memeluk wanita yang sesungguhnya amat dicintai.
Tapi Gadis hanya diam seribu bahasa, entah kemana menguapnya rasa cinta debar-debar hatinya yang beberapa bulan lalu saat dekat lelaki bermata teduh ini mulai di dekatnya.
“Semua sudah terlambat Mas, aku bukan Gadis yang seperti kamu harapkan. Aku telah kotor dengan obat-obatan dan lelaki! Aku memang layak mendapat perilaku seperti ini. Aku orang yang telah banyak mempermainkan lelaki bahkan Papamu. Jangan berharap apa pun denganku karena aku juga tidak berharap apa pun lagi darimu! Aku tahu ada yang lebih baik telah menggantikan posisiku. Selamat tinggal Mas…”
Gadis langsung dipegang petugas wanita dan memutuskan untuk tidak mendengar sepatah katapun dari Pras. Karena beretemu dengannya adalah hal yang menyakitkan seperti sebuah kekalahan dalam hidupnya yang baru dirasakan.
Gadis memutuskan untuk melewati semuanya kalaupun harus bersandar dia akan kembali pada ibu, kakak dan adiknya yang melegakan mereka akan tetap mendukung dan membantu selama di penjara.
***
Pras gontai, apa yang terjadi dengan wanita pujaannya adalah kesalahan dia juga.
“Ayu, Mbak Gadis sudah memutuskan semuanya bahkan dia sudah tidak mau bertemu denganku lagi.”
“Sabar Mas Pras, Mbak Gadis sedang melewati hal terberat dalam hidupnya. Semua karir yang dikejarnya dipertaruhkan bahkan bisa jadi Mbak Gadis dipecat dengan tidak hormat. Ini sangat berat baginya jadi bersabarlah. Mas Pras masih bisa terus memantau perkembangannya.”
Ayu menuntun mas Pras dan berlalu dari Gedung Penanggulangan Narkotika yang kokoh angkuh berdiri.
Other Stories
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Hikayat Cinta
Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...