Terlupakan

Reads
5.3K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

5. Interview

Pras menatap Gadis dari balik kaca dengan berdebar, debaran yang sama saat dia harus mengintip-intip sosoknya dari lantai kamarnya yang nomor dua.
“Mas Pras, mau saya panggilkan Mbak Gadis kemari? Dia ingin sekali menulis tentang Mas Pras. Tadi pas saya papasan dia sedang mencoba meminta izin Mas Randy agar bisa mewawancari Mas Pras buat majalahnya.”
“Tapi Mang, saya malu. Saya takut dia kecewa setelah melihat fisik orang di balik foto-foto yang dia anggap mengagumkan ternyata hanyalah orang yang cacat,” Pras terlihat resah.
“Mas Pras, jangan berkecil hati ya! Bukannya Mas Pras ingin sekali mengenal Mbak Gadis? Ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali Mas Pras. Sudahlah kalau jodoh atau bukan yang penting kita berusaha, iya tho Den,” goda Mang Seno.
“Stop! Jangan panggil aku Aden-Aden lagi Mang. Kan kita sudah sepakat setelah umur aku 24 tahun tidak ada lagi panggilan Aden, Aden, apalagi di depan Gadis! malu.”
“Nah gitu tho Mas Pras, wong ganteng kok minder… monggo kita samperin aja Mbak Gadis,” goda Mang Seno.
“Jangan sekarang Mang, aku kasih kartu nama aja biar besok kita atur ketemu di mana.”
Mang Seno turun dari mobil dan menemui Gadis.
“Mbak Gadis, ini kartu nama Mas Pras, maaf saat ini dia masih harus mengurus beberapa hal jadi belum bisa diwawancara, tapi Mas Pras nanti akan menghubungi untuk buat janji dengan Mbak,” kata Mang Seno.
Dari jauh Pras bisa melihat Gadis berbinar-binar menerima kartu nama yang ia titipkan Mang Seno. Terlihat Gadis yang mengepalkan tangan sembari berucap “Yess!”.
Pras jadi ikutan tersenyum menyaksikan gadis yang ia kagumi diam-diam setelah sekian lama bertingkah seperti itu.
Mungkin ini jalan awal yang harus dia lewati untuk mengenalnya, tidak ada cara lain. Pras harus berani menghadapi dengan kondisi fisik yang dia punya untuk menghadapi gadis idamannya.
***
“Hallo malam…” bergetar suara Pras untuk pertama kali menyapa Gadis.
“Maaf dengan Gadis?”
“Ya Gadis di sini, hmmm siapa ya?”
“Saya Pras, maaf tadi siang saya sangat sibuk buat persiapan pameran besok jadi tidak bisa menemui Anda.”
“Oh Mas FA ya, sip sip gak apa-apa. Kapan saya bisa menulis profil Anda? Majalah saya ingin menulis tentang Anda, terus terang karya-karya Anda sangat indah,” suara ringan Gadis terdengar ramah di telinga Pras.
“Biasa saja Mbak Gadis, kebetulan saya bisa memotret dan Mbak pintar merangkai kata, jadi biasa sajalah,” entahlah kekuatan dari mana Pras jadi pandai berkata-kata.
“Wah Mas Pras jangan merendah gitu dong! Asli 100% karya Mas sangat indah dan hidup,” puji Gadis dengan girang, dalam pikirannya terbersit promosi untuk menjadi Asisten Manager berkelebatan.
Gadis bertekad akan membuat Pras berita yang spektakuler, karena selama ini belum ada media yang berhasil menulis tentang si FA yang misterius.
“Ok besok kita ketemu setelah pembukaan pameran, di Trainz café, Mbak Gadis pasti suka makanan di situ, semua organic dan non msg, juice-nya juga buah alami.
“Wow ok Mas Pras, saya sudah lama menunggu pertemuan dengan Anda. Ini sangat luar biasa, terima kasih. See you tomorrow on lunch ya,” Gadis menutup hp-nya.
Dan malam ini membuat Pras tidak bisa tidur, sekali dalam hidupnya ia merasakan debar yang luar biasa bisa berbicara dengan lawan jenis.
Sementara Gadis tersenyum membayangkan pria inisial FA yang menyentil hatinya.
“Pasti pria itu menawan, semenawan hasil bidikan-bidikannya yang laris manis oleh penggemar foto-foto. Hmm Mas Pras, kamulah yang akan membukakan jalan mulus untuk karier aku.”
Trainz Café
Pras ditemani Mang Seno, setelah sejenak menyaksikan pembukaan pameran foto-foto para fotografer ternama, Pras memilih untuk lebih dahulu menunggu Gadis di pojokan Café Trainz di atas kursi rodanya.
Mang Seno dapat menyaksikan ketegangan yang sedang dialami momongan-nya.
“Sudah Mas Pras, gak apa-apa,” Mang Seno meyakinkan
Pras melihat datangnya Gadis dan lelaki yang kerap dilihatnya dari kamar tingkatnya.
Gadis langsung menuju meja yang telah di-reserve Pras. Tanpa susah Gadis mengenali Pras karena ada Mang Seno yang sudah bertemu beberapa kali.
Gadis mengulurkan tangan dengan senyum mengembang, “Gadis ...”
Pras diam sejenak, sedetik kemudian membalas dengan tetap duduk di tempat, “Pras,” jantung Pras tidak hentinya berdegup kencang dan tangannya dingin.
Gadis agak kaget lelaki di hadapannya sangat ganteng. Menelusuri kesempurnaan wajahnya hingga tersadar, “Oh kaki sebelah kanan Pras tidaklah sempurna, mulai dari lutut sampai ke jari-jari kakinya mengecil, pada punggung kakinya menggelembung karena tonjolan tulang yang berkembang tidak pas. Mas Pras mengenakan sepatu khusus yang pastinya harus dipesan pada pembuat sepatu untuk orang-orang cacat.”
Gadis cepat merekam seluruh wujud fisik lelaki ganteng yang sekarang ada di hadapannya. Terjawablah mengapa lelaki berinisial FA dalam karya-karyanya ini anti publikasi.
Mang Seno menangkap kekagetan juga kekakuan yang tiba-tiba menyerang Gadis dan tuannya.
Sesaat masing-masing terdiam …
Masing-masing tenggelam dengan kesan pertama.
“Oh Iya Mas Pras… ini Boy, partner saya. Nanti kalau Mas Pras tidak keberatan, Boy-lah yang mengambil gambar Mas Pras,” Gadis sudah menguasai diri dan mencoba bersikap netral.
“Ok. Kalian pasti lapar, kita makan siang dulu aja ya,” kata Pras.
“Wah boleh-boleh, kita santai aja Mas Pras. Kebetulan nih teman saya sudah dari tadi ngeluh lapar,” ledek Gadis ke Boy.
“He he he… ayolah pesan, di sini yang menjadi favorit saya fried rice noodle-nya, ini percampuran nasi goreng dan kwetiau. Gadis bisa coba fried rice vegetarian yang kebanyakan disukai bagi pencinta sayuran, atau mau coba tomyam-nya juga enak.” Pras bernapas lega ternyata bisa tidak setegang yang dia perkirakan.
“Kalau Mang Seno siih pasti Soto Ayam, iya kan Mang?”
“Ha ha ha… Mas Pras sudah pasti tahu makanan kesukaan saya,” Mang Seno tertawa lega. Ternyata tuan yang amat disayanginya berani menghadapi orang, ini awal bagus untuk mengikis rasa minder yang bertahun-tahun bersemayam pada diri Pras.
Sembari makan, sesekali Pras mencuri-curi wajah Gadis.
“Ternyata Gadis lebih cantik kalau aku pandang dari dekat,” bisik lirih hatinya.
“Mas Pras sungguh ganteng, andai dia tidak harus cacat… ah pasti sudah banyak wanita yang dia pacari. Mas Pras mapan, genius, apakah dia sudah punya pendamping? Hmmm andai aku bisa memikat pria ini, aku tidak sulit untuk mengalirkan berita-berita up to date tentang perkembangan kariernya,” pikiran Gadis ke mana-mana.
“Wow, memang benar-benar lezat tomyam-nya. Mas Pras ternyata selain pintar memotret juga ahli soal makanan ya,” puji Gadis.
“Nanti kapan-kapan kita makan bareng lagi ya, aku akan tunjukkan tempat makan juga tempat-tempat yang indah,” lanjut Pras.
“Wah mau sekali, asyik kan Boy mewawancarai Mas Pras?” Gadis girang sementara Boy tidak bisa banyak komentar.
Apa yang Boy takutkan adalah Pras menyukai Gadis, tetapi Gadis masih dengan ambisi hati yang belum tahu kapan berujung. Bagi Boy, Gadis kadang sangat tidak berperasaan, karena selama ini pun Boy harus membunuh rasa cintanya setelah jelas-jelas Gadis menolaknya. Sakit hati itu masih terasa, tapi sebagai partner kerja, Boy berusaha mati-matian untuk tidak mencampuradukan urusan hati dan kerjaan.
Profesional kerja membuat Boy bertahan dan seiring waktu mencoba memupuskan rasa cinta Boy kepadanya. Hanya saja Boy merasa kasihan dengan pria yang kerap terjebak dengan perilaku gadis yang jinak-jinak merpati. Gadis yang dengan gampang kesana-kemari, meninggalkan satu pria ke pria lain tanpa ada rasa bersalah.
Beberapa pria yang di awal dia anggap susah ditaklukkan, ternyata gampang saja dia raih. Paling hanya bertahan beberapa bulan. Setelah Gadis bosan akan ditinggalkan begitu saja, tanpa peduli pria-pria itu merana dibuatnya.
Boy merasa berdosa mengikuti kemauan Gadis, tapi mau bagaimana lagi? Belum ada pilihan yang bagus bagi dirinya.
Sebagai sahabat, Boy kerap menasehati Gadis untuk merubah sikap yang seenaknya terhadap pria-pria yang sudah menyukainya tapi ditinggalkan begitu saja.
Tapi usaha Boy selalu mental. Gadis masih semau gue, “Maaf Boy… aku masih belum bisa terikat dengan pria manapun!” Selalu itu yang Gadis ucapkan dengan ringan.
Dan firasat Boy, pasti Gadis akan mempermainkan Mas Pras juga. Apalagi Boy bisa menebak Mas Pras jatuh hati pada Gadis. Terlihat tatapan mata lelaki yang sedang kasmaran!
“Kita mulai ya Mas Pras, jadi profil Mas nanti untuk edisi minggu ketiga, Boy akan ambil wajah Mas yang akan jadi sampul exclusive anniversary majalah kita yang ke-15.”
Wawancara menjadi diskusi dua arah yang menyenangkan, Mang Seno baru pertama kali ini melihat tuannya berbicara terbuka dengan orang lain. Mungkin ditunjang kepintaran Gadis yang mendorong Pras untuk bisa terbuka dengan santai. Selama ini boro-boro mau ketemu wartawan, sekedar ngobrol dengan orang lain saja males. Sementara hanya Mang Seno yang bisa paham, karena Gadis memang special di mata Pras sejak pertama kali Pras menemukan sosoknya dari balik jendela kamar tingkatnya.
“Jatuh cinta yang aneh…” pikir Mang Seno
“Tapi sudahlah itu urusan hati Mas Pras. Yah semoga Mas Pras berjodoh sesuai harapan,
” lanjut Mang Seno lagi. \"Satu pertanyaan terakhir, kenapa Mas Pras selalu memakai inisial FA, apakah kepanjangan dari inisial ini?” tanya Gadis. Pras diam sesaat.
\"Gadis untuk satu pertanyaan ini, belum saatnya saya jawab karena ini hanya sebuah perumpamaan yang tidak penting untuk dipublikasi,\" jawab Pras santun, tanpa menyinggung.
\"Hmmm oke, rasanya cukup Mas Pras. Lain waktu saya boleh mengenal lebih banyak?” “Tentu Gadis, saya sangat senang berjumpa denganmu,” kata Pras menatap lembut.
Gadis sempat tersipu. Gadis akui tatapan matanya yang lembut itu membuat getar halus di hatinya. Pipi Gadis merona merah. Memang jantung Gadis berdegup, tapi degup itu tidak sekencang untuk menagih janji PemRed Bapa Santo yang menjanjikan promosi bila dia berhasil menjadikan wawancara exclusive-nya dengan fotografer kelas tinggi di tanah air. Gadis berharap target untuk meniti kariernya terbuka lebar, Mas Pras adalah jalan untuk mencapai ambisinya
. “Kalau gitu kita pulang dulu ya Mas Pras, saya harap Mas tidak kapok dengan wawancara kami dan masih mau menerima kami.”
“Ya, pasti Gadis! Kita bisa kok pulang bareng, kita searah,” tawar Mas Pras.
“Wah saya ingin sekali, tapi Mas Pras saya harus menyelesaikan hasil wawancara ini. Ini akan jadi headline, bukan begitu Boy?” Gadis mencolek Boy yang telah selesai bebenah.
“Iya Mas Pras, Gadis sudah ditunggu PemRed kita, lain waktu kami akan mewawancara Mas lagi. Terus berkarya Mas Pras. Terima kasih atas waktunya,” Boy menjabat tangan Pras.
“Ok, kapan-kapan kita ketemu lagi. Senang berkenalan dengan kalian,” Pras tersenyum ramah di kursi roda penyangganya.

Other Stories
Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Download Titik & Koma