Suara Dari Langit

Reads
4.2K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
suara dari langit
Suara Dari Langit
Penulis Nina Rahayu Nadea

1. Nola And Family

Nola Amalia. Bersekolah di SMAN 3, kelas XII, dan kini sedang deg-degan menunggu pengumuman hasil kelulusan. Tahukah kawan, Nola adalah orang yang patut berbangga. Karena di sekolah, Nola adalah salah satu penerima jalur khusus. Salah satu ciri bahwa dia berotak encer. Hem... maaf kalau sombong. Yah, begitulah kata semua orang, Nola adalah orang yang pintar. Memang, setiap tahun Nola selalu mendapatkan peringkat 1 di kelas, peringkat 1 juara umum. Karena prestasinya itu, Nola layak mendapatkan kesempatan mengikuti jalur khusus.
Dan kalian tentu akan berdecak kagum kalau tahu jurusan yang diambilnya. Kedokteran. Ya, sedari kecil memang Nola berniat menjadi seorang dokter. Entahlah, jika anak kecil lain takut sekali berhadapan dengan dokter, apalagi dengan jarum suntik. Tapi Nola begitu suka. Kerap Nola melakukan permainan dokter-dokteran atau juru rawat ketika bermain bersama teman ketika kecil. Alat kedokteran mungkin sudah menjadi bagian darinya sejak kecil. Semenjak neneknya divonis dokter menderita penyakit jantung, Nola kerap menyaksikan nenek berhubungan dengan beragam alat kedokteran.
Tidak hanya di rumah sakit, pun di rumah. Seisi rumah kiranya sudah tahu tentang penyakit yang diderita nenek. Beruntunglah mereka merupakan orang yang berada. Hingga sakitnya nenek tak membuat cemas keluarga dalam hal keuangan. Pak Kusuma, ayah Nola dengan sigap memberikan peralatan yang mewah di kamar pribadi nenek. Menyediakan beragam alat yang dibutuhkan untuk kesembuhan nenek. Tak hanya itu, seorang perawat setelah itu menjadi penghuni tetap rumah mereka. Itulah mungkin yang menyebabkan Nola pada awalnya begitu menyukai dunia kedokteran.
Kata semua orang, Nola adalah orang yang paling beruntung. Pantaslah jika mereka menganggap seperti itu. Karena Nola terlahir dari orang kaya yang pasti takkan membuatnya menderita. Perusahaan ayahnya tak terhitung lagi jumlahnya. Sekolah Pak Kusuma yang tinggi dan dari jurusan Manajemen Bisnis membuatnya selalu handal dalam membaca peluang perusahaan. Investasi yang diikuti di beberapa perusahaan senantiasa berhasil dengan gemilang karena kepiawaiannya dalam banyak hal. Pendidikan Pak Kusuma memang sangat mendukung terhadap kelancaran perusahaan.
Pun istrinya yang sama-sama bersekolah tinggi, ikut menyokong kegiatan Pak Kusuma dalam kariernya. Bahkan istrinya rela melepas pekerjaan tetapnya waktu itu. Padahal sudah menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan. Tapi demi mewujudkan sebuah keluarga dan mewujudkan cita-cita dari suami, maka diputuskan untuk berhenti bekerja dan total bekerja di perusahaan suaminya. Istri Pak Kusuma memang memiliki obsesi yang sama dengan suami. Menjadikan perusahaan semakin besar dan besar.
Tak disangka jika kemudian perusahaan milik Pak Kusuma berkembang pesat dengan kehadiran istrinya. Pak Kusuma memang kerap memuji sang istri. Berkat istri, perusahaan milik Pak Kusuma berkembang cepat. Berbeda sekali sebelum istrinya terjun ke dalam perusahaan. Kini Pak Kusuma dapat tetap memegang keyakinan itu. Bahwa sang istri adalah pembawa keberuntungan. Pembawa berkah. Tak heran jika Pak Kusuma begitu sayang pada istrinya. Selama mereka bersama, belum pernah melihat mereka bertengkar. Sungguh mereka adalah orang yang sangat berbahagia.
Nola adalah anak bungsu dari 5 saudara. Kakak-kakaknya dari pertama sampai ketiga adalah cowok semua. Yang pertama adalah Doni, kemudian Yuki, dan Andre. Mereka bertiga sudah menikah. Mungkin karena mereka cowok dan telah menikah, Nola begitu jauh dari mereka, tidak sedekat dengan kakak berikutnya. Mia. Ya, dia adalah kakak perempuan yang sangat dekat sekaligus sebagai teman Nola.
Mungkin karena Pak Kusuma termasuk orang yang sangat kaya. Didikan yang diajarkan pada anak-anak adalah melulu hanya uang dan uang. Semua anak, bekerja di perusahaannya dengan fasilitas semua diberikan. Lucu juga kalau membayangkan mereka sebenarnya. Bayangkan, agar tidak terjadi perselisihan, Pak Kusuma selalu menyamaratakan apa yang diberi. Kalau satu anak ganti mobil maka semuanya akan ganti mobil. Hanya Nola dan Mia yang belum mendapat jatah seperti itu. Mungkin mereka menganggap karena belum menikah, jadi belum layak mendapatkan fasilitas seperti yang diberikan pada yang lain.
Tak hanya itu, fasilitas anak-anak mereka, yang berarti cucu Pak Kusuma adalah menjadi tanggung jawabnya. Kalau dipikir, memang terlalu berlebihan. Tapi demikian adanya dan mereka seolah begitu menikmatinya. Menikmati kucuran dana dari orang tua yang memang begitu besar. Gajinya dalam seminggu yang besar cukup mereka depositokan di bank untuk masa depan mereka. Atau mungkin mereka gunakan untuk kesenangan saja.
Nola sebenarnya tidak menyukai pola pikir orang tua dalam mengatur anak-anaknya. Karena ajaran yang diberikan cenderung mengekang dan tidak memperbolehkan anaknya keluar dari lingkungan keluarga, pun lingkungan perusahaan. Hal ini pernah terjadi pada Andre, yang bersikeras untuk belajar mandiri. Mandiri dengan cara bekerja sendiri, bermodalkan sendiri. Tapi apa yang terjadi? Pak Kusuma marah besar dan menganggap Andre tidak tahu diuntung.
“Andre ingat. Ayah mengumpulkan uang sebanyak itu bukan dari cara yang gampang. Tapi harus merangkak dari nol hingga akhirnya bisa sukses seperti sekarang.”
“Ya. Andre mengerti. Dan Andre ingin mengikuti jejak Ayah. Bekerja dari nol, merasakan pahit manisnya hidup. Berbisnis sendiri.”
“Apa? Berbisnis sendiri? Memangnya uang yang Ayah beri masih kurang? Jabatan di perusahaan Ayah tidak cukup? Tidak tau diuntung kamu. Orang lain mengiba mengharap pekerjaan dari Ayah. Sementara kamu? Seenaknya sendiri ingin keluar dan bekerja di bidang lain. Ayah mau tanya. Apa keahlianmu?”
Andre terdiam. Tak berani menatap wajah Pak Kusuma yang begitu marah besar. Ya, ini kali pertama dirinya menentang ayahnya. Ingin berusaha menjadi yang lain yang menurutnya akan membuat orang tua senang. Tapi apa jadinya? Malah kemarahan dan kebencian yang diterima.
“Tidak. Sungguh Andre bersyukur dan berterima kasih pada Ayah yang telah memberi semuanya untuk Andre.”
“Lantas?”
“Andre hanya ingin berusaha mencari yang lain.”
“Mencoba-coba menghamburkan uang Ayah?”
Perkataan ayahnya begitu menohok hati. Sungguh suatu perbedaan pendapat yang sukar untuk dicarikan penyelesaiannya. Dan Andre memang mengakui. Ia ingin berbisnis hanya berdasarkan ajakan teman-temannya. Ia pun belum bisa membuktikan apakah nantinya akan berhasil atau tidak. Tapi semua itu harus dilakukan, batinnya. Maka diam-diam Andre berbisnis tanpa sepengetahuan orang tua. Bergabung dengan orang lain, menginvestasikan deposito bernilai ratusan juta rupiah.
***

Other Stories
Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Download Titik & Koma