4. Somebody Help Me Please
“Sudah lama?” Mia menghentikan mobil.
“Enggak, baru saja.”
“Ya. Masuklah. Kamu yang nyetir deh,” Mia keluar dan masuk kembali lewat pintu mobil belakang. Duduk persis di belakang Alex.
“Bagaimana kabarmu, La?”
“Alhamdulillah, Kak.”
“Mi. Gimana udah kau hubungi event organizer untuk acara pernikahan kita?”
“Sudah Sayang, tenang saja,” Mia menjawab. Kepalanya menyender ke kepala Alex. Sesekali tangannya membelai mesra kepala Alex yang sedang tenang menyetir mobil.
“Siap kau menikah denganku?” Alex mengambil tangan Mia. Mengecupnya perlahan.
“Siap seratus persen dong Sayang.”
Sesaat hening. Nola terjerembab dalam kesenyapan. Ada yang bergemuruh dalam dadanya, menyaksikan kehangatan dan kemesraan mereka, serasa ada yang menggores hati. Cubitan dan goresan yang kerap datang ketika melihat kebersamaan dan kebahagian mereka yang dilanda cinta. Betapa mereka begitu mabuk kepayang dalam cinta. Saling memperhatikan dan memuja.
Tuhan, segeralah Kau pertemukan aku dengan seseorang yang mampu membawaku berlayar. Berlayar dalam lautan dan keindahan cinta. Jangan Kau biarkan diri ini begitu tandus dan gersang. Mengapa Kau biarkan anganku melambung sendiri tanpa seorang pun kasih yang menemani. Andai aku tercipta menjadi seorang yang begitu cantik jelita. Mungkin aku akan seperti yang lain. Seperti kakakku. Menautkan cinta dalam sebuah kebersamaan. Segera mendapat cinta yang utuh, merasakan nikmatnya dengan kekasih tercinta. Batin Nola.
“La, kenapa kau diam saja? Melamun pacar yah? Haha...” goda Alex.
“Siapa yang bayangin pacar? Aku hanya takut saja, takut tidak lulus lewat jalur khusus,” segera dihapus layar yang tergambar dalam ingatan Nola. Menyimpannya untuk sesaat. Tak boleh seorang pun tahu tentang hatinya yang begitu galau dan senyap.
“Akhirnya sampai juga.”
“Iya nih, udah keroncongan,” suara Mia dari belakang. “Ayo La, cepetan.” Mia membukakan pintu untuk Nola.
“Makasih, Kak.”
****
Double steak cafe menjadi pilihan mereka. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi selalu ramai didatangi pengunjung. Suasana alam masih terasa di tempat ini. Para pengunjung dapat merasakan cumbuan angin dan segarnya udara karena kafe ini dikelilingi oleh pepohonan besar dan kecil. Meja yang diduduki para pengunjung pun berada di bawah rindangnya pepohonan besar. Jangan takut kalau hujan datang, karena tetap saja kalian akan terlindungi dari sang hujan. Tak usah takut kebasahan. Karena tempat ini dilindungi oleh kanopi besar yang terpasang sebagai langit-langit.
Tempat yang cocok untuk para muda mudi. Romantis, sangat pas untuk jiwa mereka. Jiwa anak muda. Untuk Alex dan Mia, tentunya. Tapi sebenarnya untuk Nola tidaklah cocok, karena yang datang ke sini kebanyakan adalah pasangan. Para kekasih, walau ada beberapa yang sudah tua. Kalaulah Nola datang berdua bersama seseorang yang menjadi belahan hati, mungkin tempat ini akan begitu membahagiakan dan menjadi cerita yang lain.
Double Sirlion Steak dengan saus berbeque menjadi pilihan Alex dan Mia saat itu.
“La, pesan apa?”
“Apa yah? Bingung. Semua berlemak. Entar badanku tambah melar.”
“Kali-kali aja, nggak apa-apa,” Mia berkata sambil melihat-lihat daftar menu.
“Samain aja, kaya Kakak deh.”
“Ok. Deh,” Mia menambah daftar pesanan.
Hanya menunggu kurang lebih 10 menit, makanan akhirnya datang. Dua iris daging sirlion disajikan lengkap dengan kentang goreng. Tak lupa irisan wortel dan buncis menghiasi daging sirlion. Pokoknya, maknyuuuus. Dagingnya yang empuk serta bumbu yang meresap, terasa pas dilidah. Tak mau berlama, Alex dan Mia langsung menyantap hidangan yang sudah ada di depan mata.
Nola pun sama, segera mengambil pisau dan garpu. Memotong dan menyuapi sedikit-sedikit daging. Nola yang biasanya rakus, langsung melahap. Kali ini begitu berbeda. Pantaslah, karena kali ini Nola tidak merasakan keenakan makanan yang dimakannya. Rasa lapar yang sedari tadi mampir, musnah sudah melihat Alex dan Mia yang begitu mesra dan romantis. Hambar menyeruak di hati, membuat makanan yang dinikmati tiada terasa kenikmatannya.
Ya, hati Nola memang tak bisa dibohongi. Rasa iri diam-diam hadir di batinnya. Membuat suasana makan yang seharusnya mengenyangkan perut, malah membuat sakit saja. Yang dirasakan Nola, melulu adalah rasa kepedihan hati. Melihat keasyikan dan kemesraan Mia dan Alex yang begitu indah. Setiap suapan adalah penderitaan, perutnya serasa mulas. Hatinya berderit nyeri.
Berulang kali dengan mesra Alex menyuapi Mia dengan cintanya, tak sungkan dan tak malu walau Nola berada di depannya. Ada kecewa yang begitu dalam mampir di hati Nola. Keberadaanya seolah dianggap angin lalu saja oleh mereka. Sesekali bisik halus Alex mampir di telinga Mia. Mia tersenyum, menggelitik Alex genit. Entah apa yang mereka ucapkan. Nola mungkin terlalu kecil untuk mengetahui apa yang akan dilakukan. Dan pula apa berhak Nola mengetahui rencana mereka? Pasti tidak.
“Kak, aku ke toilet dulu,” Nola bangkit dari tempat duduk.
“Ya,” Mia mengangguk tanpa sedikit pun menoleh pada Mia, karena terlalu asyik bercakap dengan Alex.
***
Nola masuk ke toilet khusus perempuan. Dua buah toilet ada di sana. Saat mendorong pintu toilet, tapi keluar lagi ketika mengetahui toilet itu rusak, pintunya tak bisa ditutup. Bayangan kemesraan Alex dan Mia berulang menjadi layar di depan mata Nola, diusahakan terhapus. Di -delete dari memori, tetapi bandel. Ia tetap datang tanpa pernah diundang. Semakin membuat Nola menderita. Dan di toilet ini Nola tumpahkan kekesalannya. Ada air mata yang diam-diam keluar dari matanya. Berulang dihapus, tapi berulang pula datang. Hingga beberapa lama Nola menangis, berdiri di depan wastafel, membiarkan air matanya menganak sungai di sana.
Dipandanginya kaca yang berdiri di depannya. Terlihat seraut wajah yang tak asing lagi. Benci. Melihat wajah yang lebar dengan hidung pesek dan mata lebar pula. Diperhatikan dengan teliti. Seperti siapa aku? Apakah mungkin aku bukan anak ayah dan ibu? Apakah aku bukan keturunan Kusuma? Mengapa aku begitu jelek, begitu berbeda dengan semua saudara? Terlebih dengan Kak Mia. Tiada sedikit pun kesamaan yang dimiliki.
Bruug.
Nola terkejut. Lamunan menyingkir sesaat mendengar pintu toilet sebelah samping ditutup orang dengan paksa. Suara air keran dibuka terdengar jelas.
Kembali wajahnya melihat cermin. Lihatlah hidung pesek yang berulang kali melakukan shading make up. Eyeshadow yang sengaja diulaskan sepanjang garis tulang hidung, agar terlihat seperti bayangan hingga memuculkan kesan mancung. Kalau dari jauh mungkin ya, ada sedikit kesan mancung. Tapi kalau ditelisik dari dekat. Mana ada kesan mancung? Yang ada malah melebarkan hidung ke pinggir karena guratan eye shadow. Hm memuakkan.
Nola memegang perut yang penuh dengan lemak. Tak pernah berhasil menurunkan berat badan. Lemak ini begitu betah berada di perut. Membuat Nola semakin membenci diri. Kenapa aku tidak terlahir cantik? Kenapa Kak Mia begitu banyak pesona yang dikasih Tuhan hingga Alex dan laki-laki sebelumnya begitu lengket? Begitu menikmati kecantikan. Tuhan tidak adil. Bukankah manusia telah diciptakan untuk hidup berpasangan? Tapi mana pasanganku, Tuhan? Mana?! Kenapa ia tidak pernah hadir di hatiku. Nola menangis tersedu.
Gejolak jiwanya yang sama penuh dengan birahi, menikmati indahnya cinta hanya bersemai di hati saja, tanpa pernah ada seseorang yang menikmati kebersamaan merasakan nikmatnya cinta dalam kenyamanan sebuah asmara. Ya Tuhan, aku memang begitu ingin cintaku berbagi dengan seseorang yang sama mencinta. Tuhan, apakah aku sudah ditakdirkan untuk menyendiri tanpa pernah ada kasih yang menemani? Mana calon suamiku? Kini kenapa Kau ambil Mia dari sisiku? Di saat aku begitu mendamba. Di saat hati ini begitu butuh. Kenapa tidak Kau pertemukan Alex dan Mia nanti saja. Nanti di saat aku ada yang mendamba. Ya, nanti di saat aku telah memiliki penggenap yang dapat meramaikan suasana hatiku menjadi ceria. Tak sadar Nola semakin sesenggukan di toilet.
“Nola... Nola...” suara pintu toilet diketuk. Berbarengan dengan berhentinya suara air dari keran sebelah. “Nola, kamu di dalam kan?”
Nola segera menghapus air mata yang jatuh, lalu membasahi wajah dengan air dan mengusapnya dengan tisue.
“Duh bentar, Kak. Aku sakit perut nih,” Nola menghela napas panjang dan menghembuskannya. Mengenyahkan sesak didada, mengenyahkan gejolak yang masih menghimpit dada. Nola tak mau sedihnya diketahui orang lain.
“Benar tidak apa-apa? Alex mengkhawatirkanmu!”
“Nggak apa-apa. Kakak ke sana dulu aja. Malu aku ditungguin. Kasihan tuh Kak Alex. Beneran aku sakit perut. Nggak tahannnn.”
“Cepet ke dalam yah.”
“Iya, Kak,” Nola tetap berdiri mematung. Menghadap cermin besar di depannya. Nola ingin menyaksikan sendiri bahwa dalam wajahnya tidak terlihat guratan sedih.
Bruug.
Kembali pintu toilet di samping terdengar. Suara air dari keran kembali terdengar. Nola merinding, rasa takut tiba-tiba merayapi hatinya.
Setelah Nola yakin bahwa semua sudah membaik. Perasaan yang ada di hati mulai sedikit lega. Nola segera menarik pintu kamar mandi.
Deg. Nola terkejut. Kembali menarik pintu kamar mandi. Tak bisa dibuka. Beberapa saat termangu. Mendengarkan suara gayung yang dipermainkan orang di kamar sebelah.
“Tolong. Tolong aku…” teriak Nola
Tak ada yang menjawab. Hanya suara air yang semakin keras terdengar. Seperti sengaja dilakukan seseorang, agar suara Nola tidak terdengar.
“Tolong! Somebody help me, please…” Nola berteriak semakin keras.
Nola menangis. Kali ini menangis karena takut.
“La, kamu lagi ngapain sih? Lama amat.”
“Kak. Bukain pintunya cepat. Aku terkunci,” Nola bahagia mendengar suara kakaknya.
“Beneran?”
“Bener.”
Mia membuka pintu. Engsel pintu bergerak dan kemudian terbuka.
“Ah, tidak dikunci juga.”
“Beneran, Kak. Aku nggak bohong.”
“Sudah, ayo cepetan!”
Nola menguntit Mia, menolehkan kepalanya ke belakang. Ke arah toilet yang rusak, pintu terbuka sedikit. Ada seseorang membelakangi terlihat di sana. Berdiri tegak. Di jaketnya terlihat tulisan ‘GoodBoy’.
***
Other Stories
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...