Suara Dari Langit

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

5. The Doubt

Hari yang ditunggu keluarga besar Kusuma akhirnya datang jua. Hari yang begitu bahagia. Terutama untuk Mia. Ya, hari ini adalah hari perikahannya. Seminggu sebelumnya Mia dipingit tidak boleh ke mana-mana. Walau sempat sebenarnya Mia merasa ragu. Ada sesuatu yang sebenarnya tersimpan di hati. Sangat ragu.
Nola tersenyum sendiri ketika mengetahui rencana gila itu. Beruntung Pak Kusuma tidak mengetahui kelakuan anaknya. Beruntung pula tepat di hari pernikahan Mia, tidak terjadi hal yang ditakutkan. Semua berjalan lancar. Kalau sesuatu hal yang buruk terjadi, pastilah Nola yang disalahkan. Disalahkan atas ketidak beresan yang menimpa Mia.
Nola sempat menolak habis-habisan ketika Mia memintanya untuk menemani jalan bareng ke luar rumah. Dengan alasan mencari angin segar.
“Antar aku yu, Nola!”
“Ke mana, Kak?”
“Jalan-jalan lah ke luar, nyari udara segar.”
“Nggak, ah. Entar aku diomelin Ibu.”
“La, please… sebentar deh.”
“Yang bener saja, Kak. Kakak kan sedang dipingit. Kalau mau makanan enak atau apa tinggal bilang ke aku. Dengan senang hati aku beliin,” Nola menatap Mia yang begitu kusut. ”Aku nggak mau Ibu nanti marah padaku.”
“La, kamu nggak sayang Kakak? Aku tuh jenuh banget di rumah. Pake ada acara dipingit segala, kaya zaman dulu saja. Ah, Ibu memang ada-ada saja. Ini kan zaman modern, zaman globalisasi, teknologi. Masa harus tinggal terus di rumah. Sebeeel!” Mia menghempaskan badannya di kasur. Nola dapat melihat muka Mia yang kusut masai. Pantaslah, Mia orangnya kan tak pernah mau diem, selalu sibuk. Ke mana pun pastilah ada aktivitas yang dicarinya. Kini ia harus menunggu di rumah seminggu tanpa ada pekerjaan. Pastilah suntuk, memang. Padahal kalau menurut Nola begitu berharga. Waktu yang sangat bermanfaat untuk hal lain.
“Ooh… aku punya ide,” Nola meninggalkan Mia, ketika sebersit ide datang bertandang.
“Ke mana, La?”
“Membantu Kakak agar tidak suntuk.”
Nola mencari sesuatu di kamarnya, dan kemudian kembali dengan muka yang bahagia ketika sesuatu yang dicarinya ada. Berharap pasti Mia akan bahagia dan senang dengan yang dibawanya.
“Nih. Pasti Kakak akan senang dan tidak akan lagi jenuh di rumah,” Nola memberikan sesuatu.
“Apa ini, La?”
“Itu dapat menghilangkan stres Kakak. Pasti, Kak. Cobalah!” Nola tersenyum.
“La. Kamu nyindir Kakak. Yah?”
“Lho, kok marah. Aku tidak menyindir. Kakak kan tadi minta tolong padaku. Nah itulah yang selalu aku lakukan jika stres mendera,” Nola melihat wajah Mia yang tambah kusut. “Kalau Kakak nggak suka maafkan aku yah. Kak.”
“La. Makasih yah atas perhatianmu. Kamu kan tau aku nggak suka baca. Beda denganmu. Maaf yah. Simpanlah di lemarimu,” Mia memberikan buku berjudul Tahajud Cinta, novel terbaru yang baru saja Nola beli dan plastiknya masih utuh. “Kalau kau tak mengantarkanku, biarlah aku akan pergi sendiri jalan-jalan.”
“Hah. Sendiri?” Nola nyaris loncat dari tempat duduknya. Tak bisa dibayangkan. Mia yang 3 hari lagi mau melangsungkan pernikahan, jalan-jalan sendirian di malam beginian. “Ya... ya. Nanti aku antar deh.”
“Ya. Gitu dong, La. Kamu juga kan suka Kakak antar ke mana pun,” Mia tersenyum.
“Ehm. Kakak kok malah nyinggung soal itu. Ngak rela yah selama ini nganter Nola?”
“Rela sih, sangat ikhlas untuk adikku tersayang. Makanya ayo antar Kakak sekarang. Ke mana lah, yang penting Kakak bisa merasakan udara indah di luaran. Tau tidak semakin dekat acara pernikahan, Kakak semakin stres. Deg-degan melulu.”
“Ya. Aku mengerti, Kak. Bentar aku ngambil jaket dulu.”
Maka malam itu menjadi malam yang menyenangkan bagi mereka. Betapa tidak. Mereka harus mengendap saat melewati kamar orang tuanya. Tiada yang lain sebenarnya. Hanya putar-putar mengelilingi Kota Bandung yang begitu senyap. Melihat indahnya malam yang sepi. Kali ini Nola yang bertugas menyetir mobil. Nola ingin Mia rileks, dibiarkannya Mia dengan lamunannya sendiri. Pastilah pernikahan begitu membuatnya stres. Mia pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Alex. Berbagai kecamuk di hatinya, berbagai perasaan dan kendala atau ketidaksamaaan prinsip pastilah kini menjadi perdebatan panjang dalam naluri.
“La, kok Kakak jadi ragu untuk menikah yah. I doubt, very serious,” suara Mia pelan nyaris tak terdengar. Dipandanginya langit Kota Bandung yang dipenuhi dengan bintang. Bintang berkelip memberikan sinarnya begitu indah. “Aku ingin seperti bintang, yang begitu berguna buat banyak orang. Tetap berkedip, tetap tersenyum dinikmati orang. Pun aku.”
“Ah, Kakak. Ada-ada saja. Jangan gila dong, Kak. Ingat 3 hari lagi. Sudahlah, Kakak pasti berpikir yang macam-macam deh. Be calm! Eliminate and go away of the doubt.”
“Entahlah, kenapa Kakak jadi begini, yah?”
“Itu karena Kakak mikirin terus. Takut dan takut. Nola percaya, Kakak bisa menjadi istri Alex. Pasti, Kak.”
“Iya. Tapi kamu tau kan, gimana Kakakmu ini. Tiap hari jalan-jalan melulu, jangankan nanti untuk menikah yang lamanya sampai seumur hidup. Beberapa hari saja tidak jalan-jalan, dunia menjadi sumpek.”
“Haha. Iya. Aku ngerti deh. Pasti Kakak mikirin nanti kalau sudah menjadi istri Alex, kan?”
Mia mengangguk pelan. Matanya melihat ke luar jendela. Tetap melihat bintang yang bertebaran.
“Kak. Kakak harusnya lebih beruntung ada yang memperhatikan dan menyayangi,” suara Nola datar termakan pembicaraannya sendiri. “Kak, Alex itu pasti akan mengerti Kakak. Kan, Kakak sudah berhubungan lama dengan Alex. Jadi Nola yakin, Kakak pasti bisa melaluinya. Tiada yang sempurna kok, Kak. Pastilah sepanjang perjalanan nanti akan semakin membaik. Walau masalah pasti muncul dalam kehidupan kita.”
“Kakak takut nanti kalau sudah menikah, tidak bisa jalan-jalan. Tidak bisa ngurus anak. Aduh. Kamu kan tau, La. Aku benci anak kecil. Ribet, berisik.”
“Haha. Tenang, Kak. Kalau Kakak nanti lahiran. Aku akan senang hati merawat anak Kakak.”
“Ah, Nola. Kakak serius malah bercanda. Beneran, La. Belum lagi nanti kalau Alex nuntut ini nuntut itu. Aduh, Kakak jadi takut pokoknya.”
“Nola malah tambah bangga pada Kakak.”
“Apanya yang bangga, La? Ah, kamu malah aneh.”
“Iya Kakak menjadi stres begini, karena Kakak begitu memikirkan hari yang akan dilalui. Begitu ingin terlihat sempurna melaksanakan apa yang akan terjadi nanti. Dan Nola begitu bangga pada Kakak. Secara, banyak orang yang nggak pernah mikir ke arah sana. Cuek menghadapi pernikahan. Sehingga mereka begitu terkejut ketika menghadapi kenyataan yang tidak diharapkan.”
“Hm... Nola... Nola... Memang Kakak ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. Kamu tau kan, La. Alex itu lelaki yang sangat Kakak cintai. Kakak takut nantinya ia akan mengecewakan Kakak.”
“Sudahlah, Kak. Yang penting niat Kakak baik. Berusaha untuk menjadi yang terbaik. Berusaha mempertahankan cinta Kakak yang sudah di depan mata. Atau jangan-jangan Kakak senang yah kalau Alex nikah dengan wanita lain?”
“Tidak. Alex adalah lelaki terbaik. Ia untukku sampai akhir hidup.”
“Ya. Berarti kan...”
“Oke... oke.... Akan kupertahankan cinta,” Mia menghela napas. Seraut senyum hadir di wajahnya.
“Jadi gimana nih, udah mantap nikahnya, Kak?”
“Insya Allah… Nola adikku sayang. Makasih atas obrolannya malam ini. Ah, aku lega sekarang.”
“Kita pulang sekarang ya, Kak? Atau mau ke mana lagi? Puter-puter lihat suasana di malam hari sudah. Makan jagung bakar sudah. Nangkring di kafe sudah. So, ke mana lagi nih, Kak? Sekarang udah jam 3. Nanti Ibu keburu bangun dan ketahuan kalau kita nggak ada di kamar.”
“Ya. Kita pulang saja, La. Lagian aku udah ngantuk nih,” Mia membetulkan jok. Merebahkan posisinya menjadi rileks. “Kemarin-kemarin aku kurang tidur, La.”
“Ya sudah, Kakak tidur saja. Nanti kalau udah nyampe rumah aku bangunin”.
“Thanks honey.”
Nola menatap sesaat Mia yang terpejam. “Tuhan, lindungilah kakakku ini. Bahagiakanlah ia selamanya, Nola membatin. Nola memandangi seputar jalan yang begitu lengang. Sesekali ke arah trotoar. Ehm, malang benar para perempuan itu. Demi hidup mereka rela gadaikan cinta, mata Nola melirik ke arah wanita yang berdiri dengan pakaian yang agak seronok mengumbar berahi para lelaki.
Ada perih yang menghunus hati Nola ketika dilihat seorang lelaki yang mendekat ke arah wanita itu. Tanpa sungkan ia menjawil pipi perempuan itu. Entahlah apa yang mereka perbincangkan karena mobil ini kemudian telah berlalu meninggalkannya. Tapi dari balik spion Nola lihat kemesraan itu berlanjut dengan secepat kilat.
***

Other Stories
Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Download Titik & Koma