Suara Dari Langit

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

7. I Am Crazy For Love

Pak Kusuma berusaha untuk melarang kepergian Mia ke tempat yang jauh. Betapa tidak, ia telah menyiapkan rumah megah untuk Mia tempati. Rumah yang berada tak jauh dari lingkungan keluarga. Masih dalam satu kompleks. Rumah yang sengaja dibuat Pak Kusuma untuk Mia tempati setelah menikah. Tapi kiranya Pak Kusuma tak bisa menolak ketika Alex berniat mengisi rumah yang baru dibeli dan memboyong Mia, dengan dalih ingin mandiri.
Yang sangat menderita karena kepergian Mia selain Nola, adalah Bu Kusuma. Berulang kali merayu Mia agar mau menempati rumah yang telah tersedia. Tapi tetap saja tak membuahkan hasil.
“Bu, minta doanya saja agar aku dengan Alex bahagia.”
“Baiklah, Nak. Ibu hanya bisa mendoakanmu,” Bu Kusuma memeluk Mia erat.
“Jangan sungkan untuk kembali ke sini Mia,” Pak Kusuma berkata. “Rumah itu sepenuhnya milikmu. Juga milikmu, Alex,” pandangannya beralih ke Alex.
“Baik, Yah. Minta restu,” Alex tersenyum. Senyum yang serasa lain terlihat oleh Nola. Senyum kemenangan ada di sana. Ah, Nola takut melihatnya. Dipandanginya Mia yang tertunduk, tak berani pandangi wajah orang tua, pun dirinya. Ada sebersit rasa takut terlihat dari wajah Mia yang tersembunyi.
“Semoga Kakak sehat selalu, yah.” Nola memeluk Mia. “Nanti aku akan datang selalu ke rumah baru Kakak. Rutin.”
“Makasih adikku cantik. Ingat kuliahmu yah. Harus sampai beres,” Mia tersenyum getir sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Oh ya, jaga kucing kesayangan Kakak. Si Pushi. Mulai hari ini Kakak hadiahkan untukmu,” kembali Mia memeluk Nola. “Jaga Ayah dan Ibu, yah,” bisiknya halus di telinga Nola. “Kau harus bisa membahagiakan mereka.”
“Ya, pasti Kakak,” Nola berusaha tegar dan menghapus air mata yang berderai. “Pokoknya aku akan laksanakan amanat, Kakak. Tos dulu, dong.”
“Aw,” suara Mia tertahan ketika secara tak sengaja Nola menekan tangan Mia seperti biasa. Menempelkan kedua tangan di udara. Dengan girang. Tanda sebuah kesepakatan yang akan dilakukan seperti yang sudah-sudah.
“Duh maaf ya, Kak.”
“Nggak apa-apa,” dengan terburu Mia menurunkan tangannya. Refleks. Tapi ada sesuatu yang Mia tak sadari. Nola melihat sesuatu di tangan kanan sebelah atas. Ada goresan merah di sana. Entahlah seperti terlihat cakaran. Nola tak bisa mengira karena melihat beberapa detik. Tapi gambaran tersebut sudah cukup baginya. Bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Mia.
“Kak Mia sebaiknya di sini saja. Aku nggak mau Ayah dan Ibu sedih,” ucap Nola tiba-tiba. Mendekat dan merangkul Mia sangat erat.
“Tadi kan udah sepakat. Kamu mau jagain Ayah dan Ibu?”
“Aku nggak sanggup, Kak. Kakak harus di sini. Tetap.”
“Ih. Kamu tuh apa-apaan sih?”
“Nggak... nggak... Kak Mia harus di sini!” Nola menjerit. Meraung dan tetap memeluk Mia. Bayangan kejadian bergumul di hati. Perbincangan Mia di malam itu, kemudian sosok laki-laki yang dilihatnya dengan perempuan nakal berkelebat di malam itu, pun pertengkaran Mia dengan Alex semua memenuhi benaknya. Terlebih ketika Nola melihat tanda aneh di tangan Mia. Semua membuatnya tersadar bahwa Mia dibawa oleh orang yang tidak tepat. “Kak Mia jangan pergi. Aku ingin bersama Kakak.”
Semua panik melihat Nola histeris. Pun Mia. Kaget.
“Nola... Nola, sabarlah Sayang.”
“Aku ingin Kak Mia di sini. Jangan tinggalkan aku.”
“Nola... kamu ini kenapa. Kak Mia kan bersamaku?” Alex berusaha meredam emosi Nola yang tidak terkontrol.
Alih-alih menjawab, Nola malah memandang jalang Alex. Entahlah, kali ini yang dilihat bukan Alex yang lembut. Bukan lagi Alex yang penyayang. Yang berdiri dihadapan Nola, seperti setan yang mengganas yang sangat dibenci.
“Kau laki-laki jahat. Kau jahaattt,” teriak Nola histeris. Suaranya menguar membelah langit.
“Nola... Nola sadarlah. Sayang,” Bu Kusuma memeluk Nola.
“Ibuuu... jangan izinkan Kak Mia pergi dengan laki-laki itu. Aku tak mau. Aku ingin Kak Mia di sini. Kakak... jangan pergi, Kak.”
Suasana mencekam sesaat, apalagi ketika kemudian tetangga mulai berdatangan. Karena teriakan Nola yang begitu keras. Dan yang menyakitkan hati Nola adalah ia dianggap kesurupan.
“Bawa saja ke dukun, Pak,” usul seorang tetangga.”Nola pasti kesambet.”
“Ya. Atau suruh Ajengan Samhuri ke mari.”
“Tidak aku tidak gilaaaa. Laki-laki itu yang gila. Aku tidak kesurupan,” ucap Nola menjadi. Tangannya menunjuk ke Alex yang terdiam kaku. Ia seperti terpojok oleh ucapan Nola.
Nola merasa menang. Nola melihat Alex yang bimbang. Dan semua tak disia-siakan melakukan acting yang lebih oke. Berpura menjerit dan menjerit.
“Lebih baik urungkan dahulu niat kalian untuk pergi,” ucap Pak Samhuri. Tangannya mengusap kepala Nola dengan air doanya.
“Tapi anak saya tidak apa-apa, Pak?” tanya Bu Kusuma.
“Tidak apa-apa. Dia hanya butuh ketenangan. Perlu seseorang di dekatnya. Seseorang yang mengerti Nola. Dan orang itu adalah Kakaknya. Jadi pertimbangkanlah kepergian kalian.”
“Sudahlah Sayang. Kamu harus tenang, nggak boleh teriak-teriak,” Bu Kusuma kembali memeluk Nola. “Mia, Alex… lebih baik urungkanlah keinginan kalian untuk pergi dari rumah ini.”
“Tapi, Bu...” Alex berusaha mengelak.
“Lex, mengertilah. Kau kan tau, Nola begitu dekat dengan Mia, dengan kalian. Dan Ibu tak mau sesuatu terjadi pada Nola. Bukankah kau juga sayang sama Nola?” Bu Kusuma menatap lekat Alex.
“Iya, Lex. Kita tinggallah di sini,” seperti mendapat angin dan celah, Mia berkata pada Alex.
“Tapi rumah itu...”
“Jangan kau pikirkan rumah yang baru kalian beli itu. Toh tidak akan hilang. Sudahlah, bukankah Ayah tadi sudah bilang, rumah yang baru dibangun itu adalah rumah kalian,” Pak Kusuma berkata.
“Baiklah Ayah, Ibu, untuk sementara Alex akan tinggal di sini,” Alex menghela napas.
“Alhamdulillah...” Pak Kusuma tersenyum. “Nola, bersyukurlah Kakakmu tetap ada di sini. Dekat kita.”
Nola tak menjawab, tapi hatinya begitu bahagia. Hatinya lega karena perbuatan yang tadi dianggap gila orang lain, membuahkan hasil. Mia tetap dengannya, walau beda rumah. Tapi setidaknya Nola dapat menelisik kedaan Mia lebih dekat. I am crazy for love.
“Makasih ya, Kak,” ucap Nola lirih ketika Mia mendekat, lalu mengecup kening Nola perlahan. “Aku melakukannya karena aku sayang Kakak. Aku tak mau Kakak menderita.”
“Sudahlah, jangan berlebihan,” Mia berkata. Nola pun tersenyum melihat senyum Mia yang hilang kini kembali.
“Aku ingin menjaga Kakak,” Nola berbisik.
“Makasih adikku cantik. Kau memang terlalu peka. Kakak akan baik-baik saja.”
“Dan luka itu?”
“Luka mana?” Mia terkejut. Matanya memandang ke luar kamar. “Sstt... jangan kau katakan pada siapa-siapa, apalagi di hadapan Alex,” bisik Mia ketakutan.
“Nola... Nola... kamu ini seperti anak SMP saja. Masa kakakmu mau pindah rumah saja sampai histeris,” Alex masuk kamar.
Sebenarnya Nola tak mau menjawab. Nola benci laki-laki ini, tapi ia akan berpura tidak tahu, demi menyelamatkan Mia. Ya. Hanya inilah caranya agar Mia bisa dekat.
“Aku kan sayang Kak Mia.”
“Hm… kamu itu seperti anak kecil saja, Nola.”
“Biarin. Pokoknya aku sayang kalian. Aku tak mau jauh....” Nola merajuk. “Pokoknya kalau Kak Alex bawa Kak Mia jauh. Aku tidak rela.”
“Iya. Nola centiiil....” Alex berkata keras. “Senang yah. Nggak jadi pindah rumah?” kata Alex ke arah Mia.
“Ya… mau bagaimana lagi. Lex.”
Nola tersenyum memandang mereka. Karena ulahnya akhirnya Mia tak jadi menempati rumah pembelian Alex. Tetap di sini walau beda dari rumah. Dengan begitu Nola akan bisa melihat perkembangan Mia selanjutnya. Ya, Nola memang terlalu khawatir akan terjadi apa-apa dengan Mia. Ada banyak misteri di balik pernikahannya yang Nola sendiri tidak tahu apa dan bagaimana itu.
Tapi dua bulan semenjak pernikahan Mia dan tak lepas dari pantauannya, semua ternyata baik-baik saja. Tak ada hal yang mencurigakan yang dilihat atau Nola dengar. Padahal Nola seringkali berpura masuk ke rumah Mia. Semuanya tetap oke, tak ada situasi mencurigakan.
***

Other Stories
After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Tes

tes ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Download Titik & Koma