9. Apei Is My Love
Selepas kuliah, Nola menyempatkan diri mendatangi pet shop. Sengaja. Nola sengaja sendirian mengunjungi tempat ini. Biasanya kan Mang Maman yang membelikan makan spesial buat Si Pushi. Nola ingin kedatangan Mia ke rumah nanti akan diberi kejutan dengan adanya Si Pushi yang montok dan lincah berada dalam perawatannya. Ada sedikit rasa penyesalan ketika Mia menanyakan tentang keadaan Pushi, selalu Nola jawab Pushi it’s okey. Padahal beberapa hari ini Nola tidak menyentuh Pushi.
Nola memasuki pet shop, membeli beberapa dry food dan wet food. Kemudian mendekat ke arah pegawai agar tahu banyak informasi tentang kucing angora. Sekaligus mau banyak bertanya agar keindahan bulu Si Pushi tetap terjaga.
Setelah ngobrol panjang lebar tentang kucing, si Pushi, Nola baru mengerti kini bahwa pada dasarnya kucing mempunyai perasaan yang sama juga dengan manusia. Ingin diperhatikan dan disayang.
“Ih. Manja banget yah. Aku saja nggak ada yang merhatiin,” celetuk Nola pada sang penjaga toko.
“Masa orang secantik Mbak ngak ada yang merhatiin?”
“Haha… beneran aku cantik? Kali ini baru ada yang ngomong aku cantik,” setengah bergurau Nola berkata. “Oke deh, makasih atas pujiannya yah,” Nola mengeluarkan uang. Membayar barang-barang yang sudah masuk kantong belanjaan.
“Oke. Makasih ya, Mbak. Ditunggu kedatangannya kembali.”
Nola tersenyum dan berbalik arah menuju pintu dengan mata tetap melihat ke pinggiran etalase yang berderet aneka makanan kucing. Dilihat dari kemasan dan warnanya begitu menggiurkan. Kalau tidak tahu, pastilah makanan ini disangka makanan untuk manusia juga. Nola tersenyum sendiri membayangkannya.
“Aw…” Nola terkejut, belanjaan yang dibawanya jatuh berhamburan.
“Aduh. Maaf, Mbak. Aku tak sengaja menabrak,” ujar laki-laki itu sambil memunguti barang yang berserakan. Dan Nola hanya terkesima memandang laki-laki itu tanpa kedip. Nola mengenal laki-laki di depannya.
“Apei?”
“Nola.”
Sesaat pandangan mereka berserobok. Ada getar halus yang merambati hati Nola saat itu. Apei, laki-laki yang telah menyemai rasa cinta di hati. Dan Nola senang bahwa laki-laki yang menabraknya tidak sengaja itu adalah Apei, laki-laki yang mulai didamba sejak kali pertama bertemu.
“Sorry ya, La aku menabrakmu. Sure… aku nggak sengaja.”
“Aku malah yang minta maaf. Jalan tidak fokus ke depan.”
“Haha. Iya kita sama-sama tidak konsen,” Pei berdiri. “Gimana kabarmu? Juga Mia?”
“Aku baik-baik saja. Kak Mia? Aku pun tak tau.”
“Sama Kakak sendiri kok nggak tau?”
Nola terdiam. Perasaan bersalah mulai merayapi hati. Terpukul dengan pertanyaan Pei.
“La. Kamu malah diam gitu? Aku jadi khawatir. Kita makan dulu yu, biar bisa ngobrol banyak.”
Nola mengangguk. Ajakan Pei pastilah tak akan ditolak. Berharap ada pertemuan terus setelah ini. Hm, semoga.
“Bentar, hampir lupa aku juga mau nyari makanan buat Si Puput.”
“Kucingmu?”
“Iya.”
“Nama yang lucu. Pei, aku tunggu di mobil ya.”
“Oke,” Pei mengedipkan mata.
Pertemuan kedua ini sekaligus memancangkan dan membuat persahabatan dalam arti lain. Pei menjadi seorang yang begitu berharga di mata Nola. Nola dan Pei semenjak itu menjadi lebih banyak bertemu. Pertemuan rutin menyebabkan mereka saling mengenal, saling mengerti dan terlebihnya adalah saling membutuhkan. Apei begitu memberi perhatian lebih. Ia seolah menjadi bagian hidup terindah Nola. Pei kini adalah orang yang begitu dinanti. Nama yang menghuni rapat di dada dan senantiasa dirindu menggebu. Apei mengajari Nola bagaimana dicinta dan mencintai. Mengenal banyak laki-laki yang baik dan buruk. Nola begitu mabuk kepayang.
“Kamu jangan terlalu percaya pada orang di sekeliling, La. Harus bisa menelisik diri. Pakai rasamu dengan orang-orang apakah dia baik atau tidak?” ucap Pei di suatu hari ketika mereka ngobrol banyak tentang Mia dan Alex. Tentang masalahnya. Dengan Apei, tidak ada yang disembunyikan. Semua Nola ceritakan, tiada yang terlewat, tiada yang disembunyikan.
“Jadi menurutmu, Kak Mia mendapatkan orang yang tidak tepat?”
“Aku tidak bisa menyimpulkan,” Pei tersenyum. “Pakai logikamu. Bertemu wanita di malam hari, tak mau bertanggung jawab. Apakah itu lelaki baik?”
“Sepertinya kamu mengenal banyak tentang Alex.”
“Begitulah. Aku memang sudah tau tabiatnya. Sejak kecil.”
“Pantaslah kalau begitu. Dan aku merasa menyesal.”
“Menyesal?”
“Ya. Kamu tau? Beberapa hari menjelang pernikahan berlangsung, Kak Mia meminta waktuku untuk berbicara. Memberikan pendapat tentang Alex. Berbicara dari hati ke hati. Dan aku secara tidak langsung memberi peluang pada Alex untuk selamanya mendapatkan Kakakku. Ah, sungguh aku merasa bersalah. Sangat,” air mata Nola berurai.
“Sudahlah, tak usah kamu pikirkan. Yang penting kamu nikmati hidupmu sekarang. Mia sudah memilih jalan hidupnya. Jangan kau salahkan dirimu. Itu bukan kehendakmu,” Pei membelai rambut Nola, menyimpan kepala Nola dalam dada bidangnya. Terasa sekali tenteram dan damai Nola berada di sana. Dalam pelukan yang lembut dari seorang yang begitu mengasihi.
***
Pak Kusuma dan Ibu begitu bahagia ketika melihat Nola mempunyai teman dekat, Pei. Mereka mendukung sepenuhnya. Dan Nola begitu bahagia atas penerimaan orang tuanya. Tapi ternyata jalan cintanya tak semulus yang dibayangkan. Banyak sekali hambatan dan membuatnya menjadi tertekan. Betapa tidak, kakak-iparnya tidak merestui tentang pilihan Nola. Mereka bilang Apei bukan dari orang kaya, dari golongan biasa saja yang hanya ingin mengincar harta. Pedih terasa.
Yuki sebagai kakaknya ikutan latah, dan mengikuti pendapat istrinya.
“La. Beneran kamu jadian sama Pei?”
“Mungkin.”
“Pikirkanlah, masa kamu mau dapetin dia? Ingat, dia kuliahnya saja tidak beres. Kakak punya calon untukmu. Dia mempunyai masa depan cerah, mempunyai jabatan lagi di sebuah perusahaan. Besok kakak kenalin sama kamu,” tanpa menunggu persetujuan Nola, Yuki berdiri melangkah ke luar. Sesaat kemudian terdengar cakapnya di telepon.
“Jangan lupa besok. Nanti kukabari lagi,” hanya itu yang Nola dengar.
Muak sekali Nola mendengarnya. Memangnya ia barang yang bisa dibeli? Memangnya Nola tidak punya hak untuk dicinta dan mencinta? Egois sekali! Dulu mereka berlomba memamerkan calon istrinya pada orang tua, tanpa pernah ada seseorang yang comblangin. Dan Nola pun tak pernah protes pada istri-istri mereka. Tak peduli sikap mereka, walau kalau harus jujur Nola katakan mereka itu sama dari orang biasa. Hanya kecantikananya saja memang selangit. Tapi ekonomi? He... he. Jauh sekali, bahkan mereka cenderung kamseupay. Tidak tahu apa-apa. Maklumlah tidak mengenyam bangku kuliah. Tapi Nola tidak protes. Membiarkan keinginannya.
Bu Kusuma sendiri sebenarnya pernah bercakap dengan Nola, bahwa sebenarnya ia tidak setuju pada calon mantunya. Tapi pada akhirnya Bu Kusuma tetap menerima mereka, memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Harta bukanlah pilihan terakhir. Yang penting cinta dan mampu mnyelami bahtera rumah tangga selamanya dalam suka dan duka. Itu saja.
Kelakuan mereka dalam berumah tangga kerap membuat Bu Kusuma hanya mengurut dada saja. tanpa pernah mau berkata lebih. Bu Kusuma sadar bahwa mereka adalah mantunya yang wajib dilindungi, sama halnya dengan anak-anaknya yang lain. Hanya kepada Nola lah Bu Kusuma curhat, membicarakan Desi dan Ane. Mereka cenderung berlebih dalam menghamburkan uang.
Bukan hanya itu yang membuat Bu Kusuma menjadi tidak enak bahkan kesal, mereka kini ikut-ikutan mengurus perusahaan. Para karyawan disuruh patuh pada perintahnya. Otoriter, berlaku seperti seorang pemimpin yang selalu ingin disanjung dan dihormati. Keterlaluan. Apa mereka tak lagi menghargai dirinya dan suami, sebagai pemilik perusahaan? Itulah kemudian yang membuat ketenteraman perusahaan menjadi terpecah. Ada yang pro pada Desi dan Doni. Pun ada yang pro ke Ane dan Yuki. Ah, benar-benar situasi yang sulit.
Bu Kusuma sebagai orang tua tak bisa berjalan lebih lanjut, karena keduanya adalah mantu dan anak. Bu Kusuma tak punya pilihan lagi. Lebih banyak mengurut dada ketika melihat anak-anaknya menjadi seorang STSI (suami takut sama istri). Manakah keadilan seorang pemimpin? Tidak ada. Anak-anaknya kini telah menjelma sebagai seorang laki-laki yang manut pada istri-istrinya tanpa pernah menghardik atau menyalahkan mereka jika berlaku kesalahan.
Pun ketika Bu Kusuma memberi pepatah pada anak laki-lakinya agar dapat menjadi seorang pemimpin. Membimbing dan memberi pepatah pada istri-istrinya. Apa yang Bu Kusuma terima kemudian? Doni dan Yuki marah pada Bu Kusuma. Menganggap ibunya terlalu ikut campur urusan keluarga. Sebagai seorang Ibu yang begitu cinta pada anaknya, Bu Kusuma kerap mendapat perlakuan tak adil dari anaknya. Padahal ia telah berkorban banyak, menyembunyikan segala perasaan yang tersimpan di dada. Pun menyembunyikan tingkah anak-anaknya di hadapan suaminya.
Tak mau perbuatan dan laku anak diketahui suami, Bu Kusuma tak mau suaminya berperilaku kejam seperti halnya yang telah dilakukan pada Andre. Suaminya memang selalu bersikap keras. Dan Bu Kusuma tak mau kejadian ini terulang pada anak-anaknya. Cukup Andre yang menghilang dari pelukan keluarga tanpa pernah diketahui lagi bagaimana nasibnya. Kini, Bu Kusuma menyimpan semua dalam kegelisahan yang kemudian menjadi tamu rutinnya.
***
Other Stories
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...