10. Between Two Loves
Nola sudah siap berangkat ke kampus saat itu. Ketika Yuki datang ke kamarnya, tanpa ada ketukan, ia langsung masuk ke kamar.
“Ke mana, La? Udah siap-siap.”
“Biasa, kuliah,” ucap Nola pendek.
“Nggak usah bawa mobil sekarang. Tuh ada Beno, temen Kakak. Kebetulan ia satu jalur.”
“Kakak ini, apaan sih?” Nola marah.
“Lho, kok marah? Kakak hanya membantumu untuk mendapat calonmu yang lebih bagus. Bukan seperti lelaki yang kau bawa. Siapa tuh namanya, Pei. Ingat, Beno tuh seorang yang kaya.”
“Kak Yuki!”
“La. Hargai dong kakakmu. Temuilah dia, setelah itu terserah kamu.”
“Ya... ya...” demi menghindari perdebatan, Nola mengiyakan saja. Nola tak mau masalah ini menjadi perdebatan yang panjang. Dan kemudian membuat polemik yang lebih besar dalam keluarga.
“Gitu dong Nola cantiiik.”
Dengan muka cemberut, Nola akhirnya menuruti permintaan Yuki untuk pergi bersama dengan Beno. Hm, Yuki memang pandai memilih calon. Beno itu orangnya cakep, juga intelek. Pantas karena memang ia adalah anak yang pintar. Jujur ada ketertarikan muncul di hati Nola. Tapi Nola tak mau terlarut dalam rasanya. Bukankah ia sudah memiliki Apei, laki-laki yang baru saja membuat hati temaram menjadi berbunga-bunga. Apei adalah cinta pertamanya. Dia adalah laki-laki yang telah mampu membuat kepercayaan dirinya lengkap. Walau Pei tak sekaya dan tak sepintar Beno. Tapi setidaknya dengan Pei, Nola merasa nyaman dan enjoy.
Beno. Laki-laki kedua yang mulai merambati jantung hati Nola. Beno adalah pilihan Yuki. Kendati rasa suka selalu timbul di hati Nola ketika bertemu, tapi Nola tak mau cintanya menjadi terbelah. Bercabang antara Pei dan Beno. Nola tak mau menyakiti Beno. Biarlah keduanya menjadi bagian dalam hidupnya. Nola menjalani keduanya, between two loves.
Beno terlalu cakap untuk menjadi pendampingku. Dan aku? Aku yang hitam, berbadan pendek juga berhidung pesek. Nola mencerca dirinya sendiri. Apa sebenarnya yang Beno suka darinya? Sama sekali tidak ada. Dan kini, Nola tak pernah berpikir macam-macam. Yang penting, bisa jalan bareng tanpa ada ikatan.
Sebagai seorang perempuan, normal saja jika Nola mengharap sanjungan atau apalah yang menbuat hidungnya menjadi mengembang. Candaan atau sedikit rayuan karena cinta diperlukan olehnya. Beno? Dia bukan lelaki seperti itu. Berhadapan dengannya Nola harus berbicara dengan hal-hal yang berbau sedikit ilmiah. Serius. Tanpa pernah ada guyon atau rayuan padanya. Walau dari dalam hati Nola ada yang disukai. Di mana pun, Beno selalu tak lupa untuk melakukan salat. Ah, Nola jadi begitu malu bersamanya, secara ibadah Nola kan masih bolong-bolong.
Beda sekali dengam Apei. Dia adalah lelaki yang begitu Nola suka. Dia kerap menyanjung dan memujinya. Apei memang lelaki yang top baginya. Dia membuat perasaan nyaman dan berbunga karena sanjungan. Dia juga yang mengajari Nola untuk peka terhadap orang-orang yang kecil, orang yang berekonomi lemah. Bersama Pei, mereka kerap menyambangi panti asuhan, menyambangi yayasan. Di depan matanya sendiri Pei kerap memperlihatkan bagaimana berperilaku pada yang miskin, mengajarinya cara menyumbang. Itulah bedanya. Dari segi agama Beno cenderung acuh... sementara Apei begitu terbuka padanya, cenderung memamerkan ibadah.
Jika Nola sedang sibuk, Apei dengan suka mengantarkan sumbangan yang Nola berikan pada mereka. Begitu senangnya Nola mempunyai Apei yang tak lelah untuk mengingatkan bahwa hidup di dunia ini bukan untuk selamanya, harus ada amal saleh yang dikerjakan. Apei selalu ada di saat yang tepat. Ia seperti malaikat bagi Nola. Ketika Nola sakit hati karena ucapan Yuki atau Doni yang mencemooh hubungan mereka, ia memberi kekuatan dan pelukan erat. Mengatakan dengan cintanya.
“La. Aku memang orang tak punya. Miskin. Tapi jujur aku begitu mencintaimu. Cintamu telah membuat hidupku bersemangat dan terus bersemangat. Dan aku bisa membuktikan bahwa dengan cinta kita bisa menghalau segala masalah. Pun masalah dengan kakakmu yang tak setuju. Aku sanggup menghadapinya. Asal aku yakin bahwa kau juga nencintaiku. Apakah kau benar mencintaiku, La?”
Nola hanya mengangguk.
“Jika kau benar mencintaiku, jangan pedulikan mereka. Ingat, aku adalah bagian dari hidupmu. Aku adalah lelaki yang sanggup bersamamu dalam suka dan duka. Aku mengerti perasaanmu. Begitu sedih. Ayo, cerialah. Aku tak mau kau selalu bersedih. Yang penting tunjukkan pada mereka bahwa kita saling mencinta. You is my everything,” Pei mencium bibir Nola mesra. Menghilangkan sesaat sesak di dada.
Apei memang selalu ada di saat Nola berduka. Ia selalu mampu membuat hati Nola yang lara bergairah kembali. Kesedihan yang mampir di hati, lambat laun musnah dengan adanya Pei.
Pun ketika suatu hari Nola begitu bersedih. Pushi, kucing kesayangannya ternyata sudah mati terkapar di kandangnya.
“Pushi, kenapa kau?” Nola sesunggukan di dekat kandang.
“Sudahlah. Tak baik meratap seperti itu, apalagi itu hanya kucing.”
“Kau bilang ‘hanya’? Pushi itu adalah sahabatku.”
“Iya aku mengerti. Tapi kau harus ingat, semua yang hidup ini pasti akan berpulang pada-Nya. Kehilangan Pushi justru harus menyadarkanmu. Bahwa kau, aku dan semua manusia ini akan tiada. Ingat, semua makhluk di dunia ini akan berpulang pada-Nya.”
“Aku tau Pei,” Nola masih sesenggukan. “Aku hanya merasa bersalah saja. Aku mungkin lupa tidak memberinya makan. Padahal sudah kusuruh Bi Ina untuk memberinya makanan. Ah, Pushi.”
“Bi Ina juga manusia yang pasti lupa. Sudahlah jangan kau salahkan Bi Ina,” Pei memeluk mesra. Mengusap kepala dengan sayang.
Perasaan bersalah tiada terkira, karena Pushi adalah titipan Mia. Pushi adalah kesayangan Mia. Dan segera Nola mengabarkan berita tersebut pada Mia. Walau Mia tidak menyalahkan, bahkan ia mengingatkan Nola agar tidak terlarut dalam kesedihan.
***
Jalan dengan Beno, tak kalah menarik. Dengannya secara tidak langsung mengajarkan bahwa seorang wanita itu harus tangguh, jangan percaya pada orang lain. Menjadi diri sendiri itu penting. Beno memang asyik juga, walau selama jalan bersama cenderung kaku. Tak pernah sedikit pun Beno berkata hal romantis atau apalah pada Nola. Dan satu lagi, selama ini, selama jalan bareng dengannya, belum ada kata cinta yang terucap pada Nola. Jadi Nola tak mau GR sendiri. Mengira bahwa Beno adalah mencintai, ternyata tidak. Bagi Nola, Beno adalah sahabat. Begitu saja. Dan Beno begitu suka jika Nola mengajak ke beberapa tempat untuk sekedar jalan-jalan.
Kini Nola melihat Beno mulai menjaga jarak ketika Nola menceritakan tentang Apei.
“Siapa Apei?”
“Pacarku.”
“Oh…” hanya itu. Kepalanya menunduk sambil memijit HP yang dipegangnya. “Apa dia nggak marah kalau kita jalan bareng berdua? Kan nggak boleh.”
“Apei itu laki-laki bebas. Dia percaya padaku.”
“Pernah kau bilang tentangku?’
Nola mengangguk.
***
Ada sepi dan kangen merayapi jantung hati Nola, ketika hampir 1 minggu Beno tak pernah lagi berkunjung ke rumah. Jangankan berkunjung, telepon atau SMS pun tak pernah dibalas olehnya. Ah, Beno... ada apa denganmu? Apakah kau marah ketika aku mengatakan tentang keberadaan Pei? Apakah kau cemburu? Bukankah kita tidak pernah ada hubungan apa-apa? Pertanyaan itu bergumul di hati Nola.
Nola bersorak ketika ada SMS masuk. Pastilah Beno, pikir Nola. Karena baru saja dikirimnya SMS pada Beno.
“Lagi apa Sayang? Ingat besok sumbangan ke Yayasan Ma’arif menunggu. I love you.”
Hm ternyata dari Pei. Nola membaca pesan yang masuk. Yang ditunggu Nola adalah balasan dari Beno. Dan ini? Dari Apei.
“Ya,” jawabnya pendek.
Tak lagi diindahkan berkali SMS atau dering telepon yang masuk. Pastilah dari Apei, yang isinya adalah pujian atau rayuan saja. Entahlah, kali ini Nola begitu bosan dengan rayuan Apei. Yang diharap hanyalah Beno. Beno dapat mengobati rindu.
Hingga akhirnya Nola terlelap dalam tidur. Entah jam berapa saat itu ketika Bi Ina mengetuk pintu kamar.
“Ada apa, Bi?” dengan malas Nola menjawab suara Bi Ina.
“Maaf, Non. Menganggu.”
“Ada apa, Bi?”
“Dipanggil Tuan.”
“Ada apa sih?“ Nola bangun. Sejenak duduk di pinggir kasur.
“Non.”
“Iya, Bi.” Nola bangkit.
“Ditunggu cepat.”
Nola menuruni tangga menuju lantai dasar, bertemu Ayahnya.
“Ada apa Yah malam-malam gini memanggilku? Nola membuka pintu kamar. “Ibuuu...” Nola terkejut ketika di kamar menyaksikan Pak Kusuma memijit kaki Bu Kusuma.
“Bu... sadar Bu.”
“Kenapa, Yah?”
“Ibumu pingsan.”
“Kenapa?”
“Kakakmu, Mia katanya di rumah sakit. Sudahlah. Bantu dulu Ibumu agar siuman.”
“Ya...” dengan sigap Nola mengatasi keadaan. Melonggarkan badan yang dipakai Bu Kusuma serta membaringkan badan Bu Kusuma dengan kaki sedikit ditinggikan. Kemudian meneteskan air pada wajah Bu Kusuma.
“Miaaaa...” jerit Bu Kusuma kemudian.
“Ini aku, Bu. Nola.”
“Mia... Mia.”
“Ssst. Sabar ya, Bu,” Nola memeluk ibunya.
“La. Kakakmu...”
“Sudah, Bu. Nola sudah tau. Yang penting Ibu tenang dulu. Baru kita ke rumah sakit.”
***
Other Stories
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...