18. Cinta Tak Terbalas
Begitulah, kesenangan yang didapat dengan jalan yang tidak halal menyebabkan orang tercinta menjadi terluka. Perbuatan menyimpang merugikan banyak orang. Di tengah kegetiran hidup. Di tengah caci dan olokan yang mampir, Pei berusaha bangkit. Ia terus berusaha agar sekolahnya tidak putus, sambil menyimpan pedih dan getirnya hinaan dalam dirinya sendiri.
Tak terasa masa SMA pun dilaluinya. Sebagai seorang remaja, tak urung ia merasakan benih-benih cinta mulai bermekaran di hatinya. Perasaan yang begitu mendalam, perasaan cinta yang utuh itulah yang menyebabkan Pei lebih bersemangat untuk ke sekolah. Selalu bersekolah rajin. Yang diharapnya hanya satu, gadis yang diimpikannya mampu menjadi tambatan hatinya. Wanita yang telah membuat hatinya begitu berbunga itu adalah Mia. Mia yang cantik dan putih. Mia yang anggun selangit.
Pei, si kutu buku. Begitulah teman-teman memanggilnya. Pei yang kaku dan begitu grogi berhadapan dengan banyak orang. Maka tak heran ia menjadi guyonan banyak orang ketika tahu bahwa Pei jatuh cinta pada Mia. Mia yang merupakan primadona SMA Nusantara. Pei begitu menyalahkan dirinya sendiri mengapa buku diary-nya bisa dibaca teman-teman sekelasnya? Tulisan yang semuanya mengisyaratkan cinta dan kasihnya pada Mia pujaan hati. Tak urung, seluruh siswa di sekolah mencemoohnya ketika tahu bahwa Pei bisa jatuh cinta. Pei tahu gadis yang cantik.
Bermula ketika Amar bertugas sebagai piket, dan menemukan sebuah diary berwarna pink di bawah bangku Pei.
“Hei… ini punya siapa yah?”
“Di bangku siapa ketemunya?”
“Di bawah bangku Pei. Apakah punya Pei?”
“Masa laki-laki punya diary? Warna pink lagi! Ih lebaay banget.”
“Lantas punya siapa yah?”
“Biar tau, ayo kita baca isinya.”
Maka beramai-ramai buku diary punya Pei itu dibaca banyak orang. Dari satu tangan ke tangan lain buku itu berpindah terus. Hingga akhirnya bocorlah rahasia Pei. Tempat curahan hati, diary kesayangannya berpindah pada orang yang tidak bertanggung jawab.
“Pei, kalau kau cinta pada Mia, bilang dong pada orangnya. Beraninya cuma nulis saja. Nggak zaman tuh. Sekarang zamannya telepon,” goda Amar.
Pei terdiam tak berusaha menjawabnya. Mana berani ia berkata pada temannya. Bukankah temannya selama ini hanya buku?
Tapi suatu kali kesempatan itu datang, kesempatan berdua dengan Mia, gadis pujaannya. Seluruh tubuhnya bergetar dan berpeluh. Antara senang dan takut bercampur aduk dalam hatinya.
“Hai, Pei...” ucap Mia biasa ketika melihat Pei duduk di taman sedirian. Ia sepertinya tidak terpengaruh dengan berita di seluruh sekolah yang membicarakannya dengan Pei.
“H...hai... Mia,” Pei tergagap.
Mia memang orang yang supel. Selalu mau berbicara dengan siapa saja, pun dengan Pei. Tanpa sungkan ia ngobrol panjang lebar dengan Pei, teman beda kelasnya. Pei seperti mendapat angin. Ia yang selama ini tak pernah ngobrol dan mendapatkan Mia begitu respect, begitu terbuka dengan Pei, seolah memberi peluang padanya. Maka mulai itu Pei memberanikan diri mengungkapkan perasaannya yang telah disimpan dan dianyam dalam hatinya. Dengan penuh perjuangan Pei merangkai kata. Berusaha membentuk kalimat yang indah agar bisa tersampaikan pada Mia. Kata-kata yang bisa menautkan, bisa membuatkan perasaan hatinya plong karena dihinggapi rasa cinta pada Mia.
“Mia....”
“Ya, Pei, kenapa? Kamu sakit?” kata Mia. Matanya mengarah pada Pei yang menatapnya. Dua mata bertemu. Dan Pei begitu dagdigdug melihat mata Mia yang begitu bening, membuatnya semakin cinta. “Aduh keringatnya makin banyak gitu. Kamu kayaknya tak sehat Pei,” Mia mengeluarkan tisu dan menghapus peluh di wajah Pei. Pei begitu terbuai. Serasa terbang angannya diperlakukan seperti itu.
“Mia... a... ku, men... cintaimu. Bolehkah aku menjadi kekasihmu?”
“Pei?” Mia hampir tak percaya dengan yang diungkapkan Pei. Betapa tidak, laki-laki yang selama ini diasingkan oang-orang, dianggap aneh karena tidak pernah bersosialisasi karena dianggap sinting, selalu menyendiri. Begitu berani mengungkapkan cinta padanya.
“Pei? Kamu serius?” Mia berucap tak percaya.
“Betul. Mau kan Mia?”
“Pei... maafkan aku. Kau terlambat datang,” Mia berusaha untuk tidak menyakiti Pei.
“Maksudmu?”
“Aku sudah ada yang punya. Tuh kebetulan orangnya datang. Sengaja menjemputku.”
“Maafkan ya, Mia. Membuatmu lama menunggu.”
“Nggak apa-apa. Oh iya, kenalkan temanku.”
“Pei.”
“Alex.”
Keduanya berjabat tangan. Saling memandang tanpa pernah ada kata yang ke luar.
Pei memendam marah. Melipat hatinya sendiri. Menyimpan kesedihan tiada terkira. Hatinya begitu tersakiti. Begitu perih sekali. Ternyata Mia yang tadi berbicara banyak. Menemaninya ngobrol bareng, ternyata memilih pria yang lain. Memilih cintanya hanya untuk orang lain.
Pei begitu frustasi, begitu putus asa. Ada dendam yang diam-diam membara. Beranak, berakar dalam dirinya. Hatinya begitu murka. Mia yang dicinta, Mia yang selama ini mengisi relung hatinya ternyata telah menjadi pilihan orang.
Kalaulah laki-laki yang beruntung mendapatkan Mia adalah orang lain, mungkin hatinya tidak terlalu sakit. Tidak akan memendam kecewa hingga berakar. Bara di dadanya mungkin akan cepat padam. Tapi ini? Alex. Saingannya. Keluarga yang telah membuatnya terampas dalam kebahagiaan. Dan semuanya membuat bara di dada semakin menggenap. Semakin banyak, bahkan berakar, mendarah daging dalam dirinya. Dan takkan dibiarkan bara dan dendam itu hilang sesaat. Terus akan terus dipupuknya hingga keinginannya terpenuhi. Tak rela hati cintanya, belahan jantungnya menjadi milik orang lain.
Alex, laki-laki yang telah mendapatkan Mia, suatu saat harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Bagaimana rasanya pedih hidup. Bagaimana menjadi orang yang selalu disingkirkan. Hingga hidup selalu menyendiri dan menyendiri. Suatu saat Alex harus merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang yang sepi. Menjadi seorang selalu sendiri. Sendiri itu pedih, sendiri itu tak indah. Alex... harus kau rasakan itu. suatu saat. Batin Pei menggertak.
Maka mulai itu, beragam cara dipikirkan, beragam harapan dan asa yang dipupuk adalah hal yang selama ini ada dalam hatinya. Keinginan yang tak wajar. Keinginan yang tidak biasa dan sangat tidak biasa dilakukan oleh manusia yang normal. Dan Pei ternyata mampu membuktikannya. Bertahun-tahun ia membuat rencana, mengumpulkan informasi sedetail mungkin agar keinginan dan nafsunya terpenuhi. Nola adalah keinginannya. Gadis manis yang ternyata mempunyai masalah yang sama dengannya. Merasa tidak cantik, merasa tidak ada yang mencinta. Sasaran yang empuk. Itulah jalan satu-satunya agar ia bisa dekat dengan keluarga Mia. Menjelma menjadi orang yang alim. Mengajari tentang banyak ilmu agama pada Nola serta memberinya cinta adalah salah satu cara agar dendam yang membara dalam dadanya dapat terlaksana.
***
Other Stories
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...