Bab 6 – Langkah Kecil Bersama
Mentaya pagi itu tenang. Matahari menyembul perlahan di balik kabut tipis, cahayanya memantul lembut di permukaan sungai. Angin membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam.
Di dermaga kayu, beberapa anak kecil duduk berderet dengan mata berbinar. Di tangan mereka, ada buku bekas yang Nayla kumpulkan dari rumah ke rumah. Beberapa masih lusuh, sebagian sudah sobek, tapi cukup untuk menjadi jendela dunia.
“Baik, siapa yang mau membaca dulu?” tanya Nayla dengan semangat.
Seorang bocah laki-laki mengangkat tangan, lalu mulai terbata-bata membaca kalimat sederhana. Teman-temannya tertawa kecil, tapi Nayla segera menenangkan. “Pelan-pelan saja, tidak apa-apa salah. Yang penting berani mencoba.”
Arga berdiri agak jauh, memperhatikan semua itu dengan perasaan campur aduk. Ia masih belum terbiasa berada di tengah banyak orang, apalagi anak-anak yang berisik. Tapi melihat cara Nayla membimbing mereka dengan sabar membuat hatinya hangat.
“Ayo, Arga, jangan cuma nonton.” Nayla menoleh padanya dengan senyum menggoda. “Bacakan ceritamu untuk mereka.”
Arga tersentak. “Apa? Sekarang?”
“Ya, sekarang.” Nayla mengangguk mantap. “Kamu kan penulis. Mereka butuh mendengar cerita dari kamu.”
Anak-anak ikut bersorak, “Ayo, Kak Arga! Cerita! Cerita!”
Arga terdiam, merasa gugup. Tangannya bergetar saat membuka buku catatannya. Tapi tatapan penuh harap dari anak-anak itu, ditambah senyum hangat Nayla, memberi keberanian kecil.
Ia mulai membaca kisah sederhana yang ia tulis: tentang seekor burung kecil yang takut terbang, hingga akhirnya menemukan keberanian karena melihat langit yang luas. Suaranya semula pelan, tapi perlahan menjadi lebih tegas.
Anak-anak mendengarkan dengan serius, bahkan ada yang menatap tanpa berkedip. Saat cerita selesai, mereka bertepuk tangan riuh. Senyum merekah di wajah mereka, membuat Arga tertegun.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tulisannya benar-benar hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain.
“Lihat? Mereka suka,” kata Nayla sambil menepuk bahunya. “Tulisamu bukan hanya untuk disimpan, Arga. Itu bisa jadi cahaya buat orang lain.”
Arga menunduk, menahan senyum yang mulai muncul di bibirnya. Ada rasa asing, tapi menyenangkan, seolah beban di dadanya sedikit demi sedikit terangkat.
Hari itu, di bawah sinar mentari Mentaya, lahirlah sebuah langkah kecil. Komunitas sederhana di tepi sungai dengan buku lusuh, tawa anak-anak, dan mimpi besar yang baru saja dimulai.
Arga menyadari, mungkin inilah cara semesta menyembuhkannya: dengan membawanya kembali ke sungai, bukan untuk mengingat luka, melainkan untuk menanam harapan baru.
Di dermaga kayu, beberapa anak kecil duduk berderet dengan mata berbinar. Di tangan mereka, ada buku bekas yang Nayla kumpulkan dari rumah ke rumah. Beberapa masih lusuh, sebagian sudah sobek, tapi cukup untuk menjadi jendela dunia.
“Baik, siapa yang mau membaca dulu?” tanya Nayla dengan semangat.
Seorang bocah laki-laki mengangkat tangan, lalu mulai terbata-bata membaca kalimat sederhana. Teman-temannya tertawa kecil, tapi Nayla segera menenangkan. “Pelan-pelan saja, tidak apa-apa salah. Yang penting berani mencoba.”
Arga berdiri agak jauh, memperhatikan semua itu dengan perasaan campur aduk. Ia masih belum terbiasa berada di tengah banyak orang, apalagi anak-anak yang berisik. Tapi melihat cara Nayla membimbing mereka dengan sabar membuat hatinya hangat.
“Ayo, Arga, jangan cuma nonton.” Nayla menoleh padanya dengan senyum menggoda. “Bacakan ceritamu untuk mereka.”
Arga tersentak. “Apa? Sekarang?”
“Ya, sekarang.” Nayla mengangguk mantap. “Kamu kan penulis. Mereka butuh mendengar cerita dari kamu.”
Anak-anak ikut bersorak, “Ayo, Kak Arga! Cerita! Cerita!”
Arga terdiam, merasa gugup. Tangannya bergetar saat membuka buku catatannya. Tapi tatapan penuh harap dari anak-anak itu, ditambah senyum hangat Nayla, memberi keberanian kecil.
Ia mulai membaca kisah sederhana yang ia tulis: tentang seekor burung kecil yang takut terbang, hingga akhirnya menemukan keberanian karena melihat langit yang luas. Suaranya semula pelan, tapi perlahan menjadi lebih tegas.
Anak-anak mendengarkan dengan serius, bahkan ada yang menatap tanpa berkedip. Saat cerita selesai, mereka bertepuk tangan riuh. Senyum merekah di wajah mereka, membuat Arga tertegun.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tulisannya benar-benar hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain.
“Lihat? Mereka suka,” kata Nayla sambil menepuk bahunya. “Tulisamu bukan hanya untuk disimpan, Arga. Itu bisa jadi cahaya buat orang lain.”
Arga menunduk, menahan senyum yang mulai muncul di bibirnya. Ada rasa asing, tapi menyenangkan, seolah beban di dadanya sedikit demi sedikit terangkat.
Hari itu, di bawah sinar mentari Mentaya, lahirlah sebuah langkah kecil. Komunitas sederhana di tepi sungai dengan buku lusuh, tawa anak-anak, dan mimpi besar yang baru saja dimulai.
Arga menyadari, mungkin inilah cara semesta menyembuhkannya: dengan membawanya kembali ke sungai, bukan untuk mengingat luka, melainkan untuk menanam harapan baru.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Rest Area
Hidup bukan tentang menemukan tempat tanpa luka, tetapi bagaimana tetap hidup untuk esok d ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...